Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 22

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 22

Sementara itu, langit malam masih menaungi para prajurit Majapahit yang telah siap menunggu perintah dari Patih Mahesa Amping.

Dada-dada mereka berdegup kencang membayangkan sebentar lagi mereka akan memasuki hutan Jatirogo dengan perang brubuh, tanpa gelar dan hanya satu aturan untuk tidak salah mengangkat senjata mengenai kawan sendiri.

Rupanya Patih Mahesa Amping sudah punya cara tersendiri menghadapi peperangan di dalam hutan Jatirogo yang gelap itu, yaitu dengan selalu mengucapkan beberapa kata logat dan dialek khas Kediri yang tidak akan dapat diikuti oleh para prajurit dari Sunginep.

Demikianlah, manakala langit malam mulai disapu cahaya kemerahan, terlihat pasukan besar pimpinan Patih Mahesa Amping sudah mulai bergerak berbalik arah menuju hutan Jatirogo.

Pasukan besar itu seperti sebuah pasukan hantu malam yang langsung menghilang terserap ke dalam kegelapan hutan Jatirogo yang pekat.

Kepekaan binatang hutan tampaknya telah terganggu dengan kedatangan pasukan besar itu yang terus menerobos lebih ke dalam lagi memasuki hutan Jatirogo.

Pekik beberapa binatang hutan terdengar riuh bersama kepakan beberapa burung yang terusik, menyadarkan beberapa peronda yang tengah berjaga untuk segera membangunkan kawan-kawan mereka dari sebuah ancaman yang belum mereka ketahui.

"Ada musuh datang!" teriak seorang peronda membangunkan kawan-kawan mereka yang masih tertidur.

Lapangan terbuka di tengah hutan itu tiba-tiba saja menggeliat, beberapa prajurit Sunginep telah keluar dari barak-barak masih dengan mata mengantuk.

Untungnya mereka masih sempat menyambar senjata masing-masing ketika suara gemuruh riuh seperti air bah datang dari berbagai penjuru.

Ternyata di keremangan pagi itu, pasukan besar Majapahit telah datang menyerang mereka.

Beberapa prajurit Sunginep yang tidak sempat mengambil senjatanya terpaksa menghadapi lawan dengan tangan kosong, menghindar ke sana kemari, namun akhirnya harus menyerah manakala sebuah pedang tajam mengancam di ujung lehernya.

"Menyerah, atau pedang ini menembus lehermu!" berkata seorang prajurit Majapahit kepada seorang prajurit Sunginep yang terjatuh di tanah.

"Aku menyerah," berkata prajurit Sunginep itu penuh harapan agar lawannya tidak akan menusuk pedangnya lebih jauh lagi dari kulit lehernya.

Namun di beberapa tempat, beberapa prajurit Sunginep telah hilang rasa kantuknya dan langsung menghadapi lawan mereka yang datang seperti hantu mimpi malam yang sangat mendebarkan hati.

Cahaya matahari pagi belum mampu menyentuh kegelapan lapangan terbuka di tengah hutan Jatirogo itu yang tengah berkecamuk perang brubuh tanpa gelar perang apa pun.

Mata prajurit harus jeli membedakan mana lawan dan mana kawan.

Di tengah amuk kecamuk perang brubuh itu, terlihat seorang lelaki dengan sebuah cambuk pendek di tangannya.

Ujung cambuknya itu seolah bermata, siapapun lawan di dekatnya pasti terjungkal jatuh tersentuh sasaran cambuknya itu.

Siapa lagi lelaki bercambuk yang sangat ahli melecut dan memutar cambuknya yang seolah bermata itu, kalau bukan Patih Mahesa Amping.

Rupanya Patih Mahesa Amping masih dapat mengendalikan dirinya, tidak terbawa amuk suasana peperangan.

Meskipun dengan ketinggian ilmunya yang sudah berada di puncak kesempurnaan, ia seorang diri dapat melumatkan pasukan lawan di hutan Jatirogo, namun semua itu tidak dilakukannya.

Cambuk di tangannya hanya melukai lawan dan tidak membinasakannya.

Demikianlah, cahaya matahari sudah mulai meninggi dan dapat menembus celah-celah daun serta ranting pepohonan, cukup memberi pandangan mata untuk dapat melihat sekitarnya.

Terlihat korban bergelimpangan di mana-mana, darah berceceran di tanah. Bunyi gemerincing senjata saling beradu masih terdengar di lapangan terbuka sisa reruntuhan bangunan istana di tengah hutan Jatirogo. Perang masih juga berlangsung, seolah belum diketahui kapan akan berkesudahan.

Bentuk tubuh kedua pasukan yang tengah berperang itu memang sangat sukar dibedakan, karena mereka masih satu rumpun, satu saudara dan satu keturunan. Pada dasarnya, mereka adalah satu kesatuan prajurit yang berada di bawah kedaulatan Majapahit Raya.

Sejak bertugas sebagai seorang Patih di Kediri, Patih Mahesa Amping mulai membangun kekuatan prajurit Kediri, meningkatkan tataran olah kanuragan individu dan membagi jenjang keprajuritan berdasarkan tingkat tataran tertinggi yang dimiliki setiap prajurit.

Itulah sebabnya, kemampuan olah kanuragan para prajurit Kediri dapat diandalkan, karena tingkat tataran dan kemampuan kanuragan mereka masih di atas prajurit di mana pun yang berada di bawah kedaulatan Majapahit Raya.

Dan di hutan Jatirogo ini kemampuan prajurit Kediri telah diuji.

Ternyata mereka memang dapat diandalkan menghadapi para prajurit Sunginep dalam perang brubuh itu, satu lawan satu.

Namun semangat para prajurit Sunginep seperti batu cadas, tidak mudah patah dan menyerah.

Meskipun demikian, lambat laun daya tahan dan kekuatan tubuh para prajurit Sunginep terkikis juga. Sementara itu, tempaan dan latihan para prajurit Kediri selama ini tidaklah sia-sia; napas dan tenaga mereka masih tetap bertahan menghadapi para prajurit Sunginep yang mulai menurun daya serangnya karena tenaga mereka sudah mulai terasa terkuras habis.

Ketika sinar matahari pagi sudah mulai menghangatkan lapangan terbuka di tengah hutan Jatirogo, satu per satu prajurit Sunginep terlihat roboh terkena tendangan dan pukulan lawannya.

Beberapa prajurit Sunginep bahkan terlihat terjungkal di tanah kotor akibat sabetan pedang di lambung mereka.

Salah satu kemampuan dan kemahiran bermain pedang telah diperlihatkan para prajurit Kediri.

Jumlah prajurit Sunginep sudah mulai surut tajam, dapat dikatakan tinggal setengahnya saja.

Namun para prajurit Sunginep yang sudah mulai susut tenaganya itu masih saja tetap bertahan.

Namun, apalah arti semangat bila tenaga sudah mulai mengendur? Kembali, satu per satu korban berjatuhan di pihak para prajurit Sunginep.

Akhirnya, manakala terik panas matahari telah berada di atas kepala mereka, daya serang individu para prajurit Sunginep sudah benar-benar runtuh, tidak mampu menegakkan pedang di tangan mereka.

"Menyerahlah!" berkata seorang prajurit sambil menendang pergelangan tangan seorang prajurit Sunginep yang membiarkan pedangnya terlepas terlempar jauh.

"Pilihlah bagian dari tubuh ini, lakukanlah dengan tepat agar aku tidak merasakan sakit saat nyawaku pergi melayang," berkata seorang prajurit Sunginep duduk lemah dengan tangan menahan tubuhnya di tanah agar tidak jatuh terbaring.

"Jangan kamu turuti perkataan orang itu, ikat saja kedua kaki dan tangannya!" berkata seorang lelaki di sebelahnya yang tidak lain adalah Patih Mahesa Amping.

Demikianlah, peperangan di lapangan terbuka di tengah hutan Jatirogo terlihat sudah mereda, satu per satu prajurit Sunginep sudah dapat dilumpuhkan.

"Untuk sementara kita beristirahat di sini, kirim seorang utusan untuk memberitahukan kepada Rakyan Kebo Arema bahwa pasukan kita telah meredam kekuatan lawan di hutan Jatirogo," berkata Patih Mahesa Amping kepada seorang prajurit penghubungnya.

Demikianlah, di bawah hembusan angin semilir sore yang cerah, terlihat seorang penunggang kuda telah memacu kudanya untuk berlari menjauhi hutan Jatirogo dan memasuki jalur jalan tanah yang biasa digunakan para pedagang menuju Kota Tuban.

Lelaki itu terus memacu kudanya, meskipun ketika memasuki jalan padukuhan, beberapa orang terpaksa harus menyingkir menjauh agar terhindar dari terjangan kaki kuda.

Lelaki itu terus memacu kudanya meskipun hari telah mulai gelap menjelang malam.

Akhirnya, di pertengahan malam, lelaki berkuda itu terlihat telah mendekati istana Kadipaten Tuban.

"Siapa kamu!" berkata seorang prajurit dengan suara membentak kepada penunggang kuda yang telah turun dari kudanya dan memasuki gerbang istana Kadipaten.

"Aku utusan Patih Mahesa Amping, bawalah aku kepada Rakyan Kebo Arema," berkata lelaki itu sambil menunjukkan sebuah pertanda khusus kepatihan Kediri yang hanya dimiliki Patih Mahesa Amping.

Mendengar bahwa lelaki itu adalah utusan Mahesa Amping, prajurit penjaga gerbang istana itu langsung membawa lelaki itu menuju pendapa kadipaten.

Ternyata Rakyan Kebo Arema di tengah malam itu masih berbincang-bincang dengan beberapa perwira tingginya.

"Bagus! Katakan kepada Patih Mahesa Amping agar membawa seluruh pasukannya merapat ke istana Kadipaten Tuban," berkata Rakyan Kebo Arema manakala telah mendengar berita yang dibawa oleh utusan itu.

Demikianlah, setelah menukar kudanya yang lebih segar, terlihat lelaki utusan Patih Mahesa Amping telah memacu kembali kudanya menuju hutan Jatirogo.

Malam dan semilir angin dingin tidak mengurangi laju kuda lelaki itu.

Ketika awal pagi sudah mulai menyingsing, kembali derap kudanya telah membuat beberapa orang merapat di pagar halaman, tidak ingin terkena terjangan kaki kuda lelaki itu yang terus dipacu di jalan-jalan padukuhan di Kademangan Singgahan.

"Prajurit edan!" berkata salah seorang yang tangannya berdarah terkena tajam pagar bambu.

Akhirnya lelaki penunggang kuda itu terlihat memperlambat laju kudanya manakala di hadapannya terbentang hutan Jatirogo seperti raksasa hitam.

Dan ketika telah berada di muka hutan, lelaki itu melompat turun dari kudanya dan langsung memasuki hutan itu.

Kerimbunan dan kerapatan pepohonan memperlambat langkah kaki lelaki itu yang harus memasuki hutan Jatirogo sambil menuntun seekor kuda.

"Beristirahatlah, kamu pasti sudah sangat lelah," berkata Patih Mahesa Amping kepada lelaki itu yang datang membawa berita dari Rakyan Kebo Arema di istana Kadipaten Tuban.

Kepada pasukannya, Patih Mahesa Amping telah mengabarkan bahwa besok pagi mereka harus bersiap-siap untuk berangkat menuju Kadipaten Tuban.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment