Chapter 40
Rumput liar dan tanaman merambat tumbuh subur menutupi hampir setiap tempat. Namun, ketika Raden Wijaya merebut kekuasaan dari tangan Raja Jayakatwang dan membangun Kerajaan Majapahit yang baru, roda pemerintahan di Kotaraja Singasari dipercayakan kepada Tumenggung Mahesa Pukat. Ia adalah mantan senapati Singasari yang sangat setia, sekaligus salah satu guru Raden Wijaya saat masih berada di Padepokan Bajra Seta.
Tumenggung Mahesa Pukat berhasil membangun kembali Kotaraja Singasari, memberikan jaminan keamanan, dan keberanian para warganya untuk kembali dari pengungsian demi bersama membangun kotaraja tersebut. Namun, ia belum berani membangun kembali istana Singasari karena belum ada mandat dari Raja Majapahit untuk menunjuk seseorang yang akan menjadi raja muda di sana.
Pagi itu, langit di atas istana Singasari telah terang. Setelah beristirahat sejenak, Ki Putut Prastawa mengajak Gajahmada melihat-lihat suasana di sekitar istana. "Inilah Pasanggrahan Ratu Anggabhaya, satu-satunya bangunan yang tidak terjamah oleh amuk para prajurit Jayakatwang," ujar Ki Putut Prastawa kepada Gajahmada, seolah membaca pikiran pemuda itu saat melihat sebuah bangunan utuh yang tidak terbakar, berbeda dengan bangunan lainnya di lingkungan istana.
"Ratu Anggabhaya dan putranya yang bernama Lembu Tal berhasil mempertahankan dan melindungi keluarga istana di pasanggrahan mereka hingga datangnya pasukan Raden Wijaya kembali ke istana Singasari," tambah Ki Putut Prastawa, seolah mengingat kembali suasana peperangan di masa lalu, di mana dirinya menjadi bagian dari pasukan Raden Wijaya bersama Empu Nambi, yang kala itu dikenal sebagai Guru Suci dari Lamajang dengan nama samaran Ki Sandikala.
"Ratu Anggabhaya dan Pangeran Lembu Tal pastilah orang yang sakti mandraguna," batin Gajahmada, membayangkan suasana peperangan dan amuk para prajurit Jayakatwang yang tidak dapat menembus pertahanan Pasanggrahan Ratu Anggabhaya untuk waktu yang cukup lama.
"Gusti Kanjeng Ratu Gayatri yang masih belia saat itu dapat selamat dari amuk pasukan Jayakatwang karena berlindung di pasanggrahan ini," ujar Ki Putut Prastawa lagi. Mendengar Ki Putut Prastawa menyebut nama Gusti Kanjeng Ratu Gayatri, pikiran Gajahmada menerawang, membayangkan wanita perkasa yang telah berganti nama menjadi Nyi Ajeng Nglirip itu pastilah memiliki ilmu kanuragan yang cukup tinggi, sehingga mampu menyeberang dan menerobos pagar hidup pasukan Jayakatwang untuk bergabung di Pasanggrahan Ratu Anggabhaya.
Lamunan Gajahmada akhirnya terhenti ketika ia melihat dari kejauhan seorang lelaki yang sudah cukup berumur, dengan wajah dan tubuh yang masih terlihat gagah, menghampiri mereka berdua. Dari cara berjalannya yang ringan dan teratur, terlihat bahwa lelaki gagah itu adalah seorang ahli kanuragan yang terlatih.
"Mengapa hanya berdiri di muka regol pasanggrahan?" tanya lelaki itu kepada Ki Putut Prastawa sambil tersenyum ramah.
"Saya belum berani masuk sebelum ada izin dari Ki Tumenggung," jawab Ki Putut Prastawa, seolah mengenal lelaki gagah itu yang ternyata adalah Ki Tumenggung Mahesa Pukat.
"Mari kita masuk bersama. Saya bukan pemiliknya, hanya kebetulan diberi kepercayaan untuk menjaganya," kata Tumenggung Mahesa Pukat.
Mereka bertiga masuk ke Pasanggrahan Ratu Anggabhaya dan langsung naik ke pendapanya. Tumenggung Mahesa Pukat merasa sangat gembira ketika Gajahmada diperkenalkan sebagai putra angkat Mahesa Amping. Wajah tampan itu terlihat ramah dan senang menatap Gajahmada dalam-dalam.
"Sejak menjadi seorang Patih di Kediri, saya tidak pernah lagi bertemu dengan ayah angkatmu itu," kata Tumenggung Mahesa Pukat kepada Gajahmada.
"Beliau hanya sebentar berada di Kotaraja Majapahit di saat penobatan para Dharmaputra," balas Gajahmada, bercerita tentang pertemuannya dengan Patih Mahesa Amping, ayah angkatnya.
"Melihat dirimu, saya seperti melihat kembali Mahesa Amping di masa mudanya. Bahagia diri saya melihat cambuk pendek itu melingkar di pinggangmu," ujar Tumenggung Mahesa Pukat sambil menatap cambuk yang terikat di pinggang Gajahmada.
"Cambuk pendek ini pemberian dari ayah angkat saya sendiri," kata Gajahmada sambil melepas cambuk pendeknya dan menyerahkannya kepada Tumenggung Mahesa Pukat, seolah membaca keinginan lelaki berumur itu.
"Saya mengenal cambuk ini, karena memang buah tangan saya sendiri. Jaga dan peliharalah cambuk ini," kata Tumenggung Mahesa Pukat sambil menyerahkan kembali cambuk itu kepada Gajahmada.
Langit senja melingkupi tanah berbukit yang hijau. Senja di Kotaraja Singasari sangatlah elok, terutama ketika pandangan tertuju ke arah gunung biru di sebelah barat kotaraja itu, yang menjulang tinggi ke langit bagai lukisan alam yang indah memanjakan mata.
Saat senja itu, terlihat empat kereta kencana diiringi pasukan berkuda memasuki Kotaraja Singasari. Warga yang sudah menunggu sejak petang bersorak gembira melihat rombongan raja dan keluarganya muncul. Kedatangan raja dan keluarganya menanamkan kebanggaan bagi warga Kotaraja Singasari, karena kerajaan Majapahit yang besar itu diperintah oleh orang Tumapel. Hari itu, raja dan keluarga kebanggaan mereka datang berkunjung ke kampung halaman sendiri.
Iring-iringan rombongan Raja dan keluarganya semakin panjang. Warga Kotaraja berduyun-duyun ikut mengiringi di belakang pasukan berkuda menuju istana Singasari.
"Paman Guru Mahesa Pukat," ujar Baginda Raja Sanggrama Wijaya ketika turun dari kereta kencana. Ia langsung menghampiri dan memeluk Tumenggung Mahesa Pukat yang berdiri mematung. Sang Tumenggung terharu melihat salah satu cantrik bimbingannya telah menjadi penguasa agung yang dihormati di Tanah Jawa.
"Jangan permalukan dirimu di hadapan orang banyak, kamu adalah seorang Raja Agung," bisik Tumenggung Mahesa Pukat kepada Baginda Raja Sanggrama Wijaya.
"Saya tidak mempermalukan diri. Semua orang hari ini harus mengetahui bahwa berkat bimbingan Paman Guru lah saya ada seperti sekarang ini," jawab Baginda Raja Sanggrama Wijaya perlahan melepas pelukannya.
"Mari kuantar Tuanku untuk beristirahat," kata Tumenggung Mahesa Pukat sambil mengiringi Baginda Raja menuju Pasanggrahan Ratu Anggabhaya. Baginda Raja tidak kuasa menahan haru saat memasuki Pasanggrahan Ratu Anggabhaya. Terbayang masa-masa kecilnya dalam pelukan kakek dan ayah tercintanya, Ratu Anggabhaya dan Pangeran Lembu Tal.
Langit senja perlahan menghilang, wajah bumi pun mulai gelap. Namun, obor, oncor, dan pelita malam telah menerangi halaman dan pendapa Pasanggrahan Ratu Anggabhaya di istana Singasari. Menerangi suasana kegembiraan hati Raja dan keluarganya yang tengah beristirahat di pendapa pasanggrahan yang masih utuh, tidak terbakar amuk pasukan Jayakatwang beberapa tahun silam, utuh dan tidak berubah seperti ketika Baginda Raja Sanggrama Wijaya pernah berada di sana saat masa kecilnya.
"Saya melihat Kotaraja Singasari sudah mulai berkembang, sudah mulai menata kehidupannya kembali," kata Baginda Raja kepada Tumenggung Mahesa Pukat.
"Para warga Kotaraja Singasari telah menata kehidupannya kembali dengan kebanggaan bahwa pemegang kekuasaan tertinggi di Tanah Jawa ini telah diwarisi oleh pewarisnya yang sah, keluarga istana Tumapel ini," ujar Tumenggung Mahesa Pukat dengan wajah bahagia, melihat Baginda Raja langsung melihat suasana Kotaraja Singasari.
Pembicaraan mereka akhirnya meningkat ke permasalahan pembangunan istana Singasari. "Malam ini ada sembilan Akuwu yang ingin datang menghadap Tuanku Paduka," kata Tumenggung Mahesa Pukat.
"Adakah hal penting yang ingin mereka sampaikan kepadaku?" tanya Baginda Raja.
"Bila Tuanku berkenan, mereka berharap ada seorang Raja Muda yang dapat mengisi kekosongan istana Singasari," jawab Tumenggung Mahesa Pukat.
"Panggillah mereka, saya akan perkenankan permohonan mereka," kata Baginda Raja kepada Tumenggung Mahesa Pukat. Tidak lama berselang, kesembilan para Akuwu itu datang menghadap Baginda Raja Sanggrama Wijaya. Sebagaimana dikatakan oleh Tumenggung Mahesa Pukat, mereka memohon perkenan Baginda Raja Sanggrama Wijaya untuk mengangkat seorang Raja Muda di istana Singasari.
"Kuperkenankan permohonan kalian. Setiba di Kotaraja Majapahit, akan kubicarakan bersama Patih Mangkubumi siapa gerangan yang paling tepat duduk di singgasana Singasari ini," kata Baginda Raja Sanggrama Wijaya kepada kesembilan Akuwu yang datang menghadap.
Malam itu, perjamuan besar pun berlangsung hingga jauh malam. Tumenggung Mahesa Pukat puas melihat Baginda Raja dan keluarganya menikmati perjamuan. Kesembilan para Akuwu pun puas mendengar langsung perkenan Baginda Raja atas permohonan mereka untuk mengangkat seorang Raja Muda di istana Singasari.
"Tahun depan saya akan datang kembali ke istana Singasari ini, dan saya berharap istana Singasari ini dapat dibangun kembali seperti masa-masa jayanya dulu," kata Baginda Raja Sanggrama Wijaya.
"Mohon doa dan restu Tuanku Baginda, semoga kami dapat membangun istana Singasari ini sesuai dengan keinginan Tuanku Paduka," ujar Tumenggung Mahesa Pukat dengan penuh kehormatan.
Sementara itu, hari sudah mulai larut malam. Baginda Raja Sanggrama Wijaya terlihat berdiri untuk memasuki tempat peraduannya. Dengan penuh kehormatan, semua orang di panggung pendapa Pasanggrahan Ratu Anggabhaya terlihat ikut berdiri. Panggung pendapa yang terang benderang itu pun terlihat lengang, malam semakin senyap.