Chapter 06
Berkat kedekatannya dengan beberapa abdi dalem istana Majapahit, akhirnya Gajah Mada mengetahui sebuah rahasia yang tidak banyak diketahui orang umum, hanya beberapa orang terdekat dari Ratu Gayatri sendiri.
Ternyata Ratu Gayatri telah mengasingkan diri menjadi seorang Bhiksuni.
Sementara di mana beliau mengungsi, tidak seorang pun dapat mengetahuinya.
Yang diketahui oleh Gajah Mada bahwa beberapa prajurit dan abdi dalem istana telah berangkat bersamanya.
Apa yang terjadi pada diri putri bungsu raja terakhir Singasari itu? Semula orang menganggap bahwa pengasingan diri Ratu Gayatri adalah akibat kekecewaannya kepada Baginda Raja Sanggrama Wijaya yang telah memilih Dara Petak sebagai seorang permaisuri raja.
Namun dugaan orang itu ternyata meleset jauh.
Ratu Gayatri mengungsi dan mengasingkan diri bukan karena kekecewaannya tidak terpilih menjadi permaisuri raja, tetapi jauh sebelum itu dirinya telah menemukan sebuah ajaran suci kebenaran, sebuah ajaran suci yang mengajarkan bahwa setiap insani berhak mencapai nirwana.
Sebuah ajaran suci baru yang mengajarkan bahwa tingkat tertinggi dalam mencapai makna hakikat ajaran suci bukan hanya milik seorang Brahmana.
Sebuah ajaran suci baru yang mulai meresap perlahan-lahan di lingkungan istana.
Semakin Ratu Gayatri menekuninya, semakin dirinya menemukan hakikat hidup yang sebenarnya.
Maka akhirnya tekadnya telah bulat untuk menjauhi maraknya dunia, menjauhi segala keinginan nafsu duniawi dengan pergi jauh mengasingkan diri menjadi seorang Bhiksuni.
Sebelum berangkat mengasingkan diri, Ratu Gayatri telah menitipkan kedua putrinya kepada Nyimas Turukbali yang masih saudaranya sendiri, sama-sama putri Raja Singasari.
Ratu Gayatri berharap Nyimas Turukbali dapat membimbing kedua putrinya itu. Demikianlah, setelah mengetahui hal-ihwal keadaan Ratu Gayatri itu, Gajah Mada merasa lebih sayang lagi kepada Dyah Gayatri dan adiknya itu.
Gajah Mada telah berniat mengangkat kedua putri itu menjadi orang yang berilmu tinggi dan mumpuni, meski lahiriah mereka adalah wanita.
Pagi itu kabut baru saja terkuak ditembusi sang fajar yang baru terbangun, namun titik embun seperti mutiara masih menjuntai di ujung pucuk daun muda.
Gerumbul hijau pepohonan seperti baru muncul setelah sepanjang malam terhalang kegelapan.
"Hari ini hamba minta izin untuk membawa Dyah Gayatri dan Dyah Wiyat ke perbukitan terdekat untuk melatih ketahanan mereka," kata Gajah Mada pagi itu kepada Jayakatwang di pendapa pura.
"Aku percaya mereka berada dalam pengawasanmu," jawab Jayakatwang memberikan izin kepada Gajah Mada.
Demikianlah, pagi itu terlihat Gajah Mada bersama Dyah Gayatri dan adiknya tengah berjalan keluar dari halaman pura Jayakatwang.
Seperti yang dikatakan kepada Jayakatwang, tampaknya Gajah Mada membawa kedua gadis itu menuju sebuah perbukitan yang tidak begitu jauh dari Kotaraja Majapahit.
Terlihat wajah Dyah Gayatri dan Dyah Wiyat memerah, keringat telah membasahi wajah dan tubuh mereka ketika langkah kaki mereka bertiga telah mendekati sebuah puncak perbukitan.
"Puncak bukit yang indah," kata Dyah Wiyat terlihat penuh gembira ketika telah berada di atas puncak bukit menatap alam sekitarnya yang nampak hijau.
"Beristirahatlah sejenak, setelah itu kalian dapat berlatih tanding di sini," kata Gajah Mada kepada kedua gadis itu.
Puncak bukit itu hanya sebuah bulakan kecil yang dikelilingi oleh hutan belukar. Dari atas puncak itu, Kotaraja Majapahit dapat terlihat.
Namun mereka bertiga sama sekali tidak menyadari bahwa ada sepasang mata tengah memperhatikan mereka dari balik gerumbul semak belukar.
Ternyata pemilik sepasang mata itu adalah seorang wanita.
Mungkin siapa pun yang kebetulan melihat wanita itu pasti akan tertegun terpesona menganggap bahwa seorang bidadari telah jatuh ke bumi.
Sebab tubuh dan paras wajah wanita itu begitu sempurna, layaknya sebuah lukisan bidadari yang biasa terukir menghias batu candi.
"Pantas, selama ini dia tidak pernah memikirkan diriku," kata wanita itu dalam hati.
Sekilas pemilik wajah rupawan itu terlihat seperti menarik napas panjang, menahan rasa sedih yang menghimpit.
Terlihat mata yang indah itu sudah mulai berkaca-kaca.
Akhirnya tanpa disadari, mengalirlah dua-tiga tetes air mata jatuh melewati kulit wajahnya yang kuning langsat itu.
Dan tiba-tiba saja wanita itu telah berdiri dan berbalik badan.
Ia menghentakkan kakinya dan berlari jauh menuruni bukit itu.
Wanita itu masih terus berlari sambil menangis.
Tampaknya ketahanan wanita itu begitu kuat, setelah sekian lama berlalu tidak terlihat kelelahan sedikit pun.
Sementara di wajahnya masih terlihat air mata yang tiada henti membasahinya.
Akhirnya daya tahan tubuhnya semakin melemah. Langkah kakinya tidak lagi berlari, namun masih tetap melangkah meski dengan tubuh yang sedikit goyah.
Sementara itu, isak tangisnya masih juga belum reda.
Hari demi hari wanita itu masih terus berjalan tanpa arah. Rambut dan pakaian wanita itu terlihat kusam dan kotor, mungkin sudah beberapa kali terjatuh tersangkut akar di hutan atau tersandung batu dan terjatuh di tanah kotor.
Hingga akhirnya, di sebuah tempat terlihat wanita itu berjalan dengan sedikit limbung, mungkin sudah beberapa hari tidak memikirkan kebutuhan tubuhnya untuk makan dan minum.
Di sebuah tanah sepi, tubuh wanita itu terlihat jatuh terkulai lemas tak sadarkan diri.
Lama tubuh wanita itu tergeletak di tanah sepi belum juga sadarkan diri.
Beruntung, dua orang wanita terlihat tengah berjalan di tanah sepi itu dan melihatnya.
"Nyi Ajeng Nglirip, wanita ini masih hidup," kata seorang wanita kepada seseorang di dekatnya yang dipanggil dengan sebutan Nyi Ajeng Nglirip.
Terlihat wanita yang dipanggil Nyi Ajeng Nglirip itu telah berjongkok memeriksa lebih teliti lagi.
"Benar, wanita ini masih hidup," kata Nyi Ajeng Nglirip kepada wanita di dekatnya. "Apakah kamu membawa madu?"
Wanita di dekatnya itu tidak menjawab, tapi langsung mengeluarkan sebuah bumbung bambu dari balik pakaiannya dan memberikannya kepada Nyi Ajeng Nglirip.
Perlahan Nyi Ajeng Nglirip meneteskan cairan hitam dari dalam bumbung itu ke bibir wanita yang masih tak sadarkan diri tersebut.
"Bawalah ke tempat teduh," perintah Nyi Ajeng Nglirip kepada wanita di dekatnya yang tampaknya adalah pelayannya.
Terlihat Nyi Ajeng Nglirip dan pelayannya menunggui wanita yang belum siuman itu di bawah sebuah pohon yang cukup rindang.
"Lihatlah, wanita ini sudah mulai bergerak," bisik Nyi Ajeng Nglirip kepada pelayannya.
Nyi Ajeng Nglirip dan pelayannya itu melihat bahwa wanita itu mulai bergerak dan kelopak matanya perlahan terbuka.
"Di manakah aku?" tanya wanita itu sambil memandang berkeliling.
"Kamu ada di tempat aman bersamaku," kata Nyi Ajeng Nglirip merasa kasihan.
"Siapa kamu?" tanya wanita itu sambil memandang tajam ke arah Nyi Ajeng Nglirip.
"Orang-orang di sekitarku memanggilku dengan panggilan Nyi Ajeng Nglirip," jawabnya.
"Apa yang terjadi atasmu, wahai anakku?" tanya kembali Nyi Ajeng Nglirip dengan penuh kelembutan.
Namun pertanyaan Nyi Ajeng Nglirip itu membuat wanita itu seperti menerawang, teringat kembali apa yang telah dilihatnya dengan mata kepala sendiri bahwa Gajah Mada tengah bersama dengan dua orang gadis di puncak bukit tidak jauh dari Kotaraja Majapahit.
Kembali wanita itu merasakan hatinya seperti teriris-iris sembilu, begitu pedih.
Dan kelembutan hati Nyi Ajeng Nglirip di dekatnya itu seperti melihat ibundanya sendiri.
Maka tanpa disadari, wanita itu memeluk Nyi Ajeng Nglirip begitu erat sambil menangis tersedu-sedu.
"Menangislah wahai anakku, tumpahkanlah seluruh perasaan hatimu," kata Nyi Ajeng Nglirip sambil membelai rambut wanita itu.
Benar apa yang dikatakan oleh Nyi Ajeng Nglirip, wanita itu merasa dadanya menjadi sedikit lega setelah memuaskan dirinya dalam tangis.
Tangis wanita itu sudah mulai reda, namun ia masih di dalam pelukan Nyi Ajeng Nglirip.
"Tengok dan tiliklah wajah Gusti Yang Maha Agung di relung hatimu yang terdalam. Pandang dan tataplah, kamu akan melihat kekuasaan-Nya, kamu akan melihat kebesaran-Nya, kemurahan-Nya yang tak terbatas," kata Nyi Ajeng Nglirip dengan suara begitu lembut seperti menembus hati dan perasaan wanita itu.
"Masuk dan berlindunglah kamu bersama-Nya. Dialah sumber lautan kasih, Dialah samudra tempat semua tertuju, wahai anakku," lanjut Nyi Ajeng Nglirip.
Nampaknya wanita itu telah mengikuti semua perkataan Nyi Ajeng Nglirip, merasakan kehadiran Gusti Yang Maha Agung dalam cermin hatinya.
"Tetap dan jagalah dirimu dalam wajah-Nya," kata Nyi Ajeng Nglirip melihat wanita itu seperti telah menemukan dirinya sendiri.
"Dia tidak akan pernah berpaling darimu di saat semua manusia berpaling darimu. Dia tidak akan pernah memusuhimu di saat semua manusia memusuhimu. Berjalanlah kamu kepada-Nya, maka Dia akan mendekatimu dengan berlari. Rasakan bahwa sesungguhnya Dia lebih dekat dari urat lehermu," kata Nyi Ajeng Nglirip kembali dengan suara penuh kasih sayang dan kelembutan seorang ibu kepada anaknya.
Terlihat wanita itu perlahan melepas pelukannya dan memandang ke arah Nyi Ajeng Nglirip.
"Bawalah aku bersamamu agar aku dapat tetap bertahan dari jeratan kepedihan luka ini. Bawalah aku bersamamu agar aku dapat tetap dalam penyinaran cahaya kasih abadi," kata wanita itu sambil memegang erat kedua tangan Nyi Ajeng Nglirip.
"Siapa namamu, wahai anakku?" tanya Nyi Ajeng Nglirip.
"Andini," jawab wanita itu menyebut namanya.