Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 37

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 37

Kita sudah berada di Tanah Ujung Galuh, berkata Gajahmada kepada mereka bertiga sambil tersenyum seperti dapat membaca apa yang ada dalam pikiran mereka.

Rombongan kecil Nyi Ajeng Nglirip terlihat telah bergerak berjalan menjauhi dermaga mengikuti langkah kaki Dyah Gajatri dan Dyah Wiyat yang berjalan di muka penuh riang gembira.

Penuh sukacita Jayakatwang dan Nyi Turukbali menyambut kedatangan rombongan itu.

Bercucuran air mata penuh kebahagiaan, kedua suami istri itu manakala Kertawardana memperkenalkan dirinya.

Kertawardana menghaturkan sembah sujud di hadapan kakek dan nenek, berkata Kertawardana bersimpuh di hadapan kedua suami istri itu.

Lengkaplah kebahagiaan sepasang suami istri itu yang selama ini telah mendengar bahwa masih ada garis keturunan mereka yang masih hidup, ternyata malam itu mereka telah dipertemukan kembali.

Melihat sendiri bahwa cucu mereka telah tumbuh dewasa sebagai seorang pemuda yang gagah menambah kebanggaan hati mereka.

Suasana hari-hari yang sepi di pura Jayakatwang sejak malam itu telah berganti menjadi penuh keriuhan dalam canda dan tawa.

Tidak terasa malam sudah semakin larut, sementara rembulan di atas langit malam seperti lentera penjaga di atas pura yang berdiri indah menghadap laut malam pantai tanah Ujung Galuh, memandang titik-titik lentera para nelayan di sepi laut malam.

Kulihat wajah kalian sudah begitu lelah, berkata Jayakatwang sambil tersenyum.

Mendengar perkataan Jayakatwang membuat semua yang hadir seperti baru menyadari bahwa hari memang telah larut malam.

Debur suara ombak di pantai Tanah Ujung Galuh terdengar seperti irama malam, mengantar langkah mereka naik ke peraduannya, mengantar malam dan mimpi mereka.

Tinggallah kalian bersama kami di pura ini, berkata Jayakatwang kepada Yudha Pramana.

Kami masih punya seorang Paman yang tinggal di Kademangan Maja, setelah dari sana kami akan memikirkan kembali tawaran tuan, dimana kami akan berdiam tinggal, berkata Yudha Pramana.

Kamu telah menjadi penunjuk jalan ketika kami di Jabung. Hari ini akulah yang akan menjadi penunjuk jalan untuk kalian, berkata Gajahmada kepada Yudha Pramana menawarkan dirinya.

Demikianlah, pagi itu Gajahmada telah mengantarkan Yudha Pramana bersama istrinya ke Kademangan Maja, sebuah Kademangan yang berada di ujung Kotaraja Majapahit.

Sebuah Kademangan yang tengah berkembang seiring perkembangan Kotaraja Majapahit.

Terlihat mereka bertiga telah menyeberangi Sungai Kalimas.

Sebuah Kotaraja yang sangat indah dan ramai, berkata Yudha Pramana manakala mereka bertiga telah menyusuri jalan Kotaraja Majapahit yang di sepanjang jalan dipenuhi bangunan rumah yang megah dengan pilar-pilar kayu yang tinggi berukir indah.

Akhirnya mereka bertiga telah memasuki sebuah padukuhan di Kademangan Maja.

Sejak Pangeran Jayanagara menjadi Raja Muda di Kediri, kalian tidak pernah kutemui memasuki padukuhan ini, berkata Ki Bekel yang telah mengenal Gajahmada.

Kakang Putu Risang sekarang telah kembali ke kampung halamannya di Balidwipa. Sementara aku sendiri belakangan ini banyak menetap di Tuban, berkata Gajahmada kepada Ki Bekel itu.

Mudah-mudahan aku dapat membantu kepentingan kalian, berkata Ki Bekel yang seperti sudah dapat menebak kedatangan mereka ke rumahnya itu pasti ada sebuah kepentingan.

Saudaraku ini tengah mencari seorang pamannya yang tinggal di sekitar Kademangan Maja ini, berkata Gajahmada kepada Ki Bekel.

Siapa nama pamanmu itu, hampir semua orang di Kademangan Maja ini aku mengenalnya, berkata Ki Bekel.

Namanya Ki Sayuti, berkata Yudha Pramana menyebut nama pamannya.

Ki Sayuti asli dari Bangkalan?, berkata Ki Bekel sambil menceritakan ciri-ciri orang yang dikenalnya itu.

Benar, pamanku memang seorang pandai besi, berkata Yudha Pramana membenarkan ciri-ciri yang disampaikan oleh Ki Bekel.

Terlihat Ki Bekel seperti terdiam, beberapa kali menarik nafas panjang.

Apa yang terjadi pada diri pamanku?, bertanya Yudha Pramana bercuriga melihat sikap Ki Bekel itu.

Aku mengenal pamanmu itu, seorang yang sangat berani, berkata Ki Bekel dan berdiam kembali.

Apa yang terjadi pada diri pamanku itu?, bertanya kembali Yudha Pramana.

Manakala kerajaan Majapahit belum berdiri seperti sekarang ini, telah datang para perusuh dari Kediri di Padukuhan ini. Pamanmu dan beberapa lelaki di Padukuhan ini telah menghadang para perusuh itu, berkata Ki Bekel kembali berhenti seperti tengah mengenang peristiwa yang sudah lama lewat itu di dalam ingatannya.

Apa yang terjadi atas diri pamanku?, bertanya kembali Yudha Pramana.

Pamanmu adalah satu-satunya lelaki yang masih selamat dalam kejadian itu, telah berhasil melarikan diri mencari bantuan para prajurit Raden Wijaya di hutan Maja, berkata Ki Bekel bercerita.

Para perusuh akhirnya dapat di pukul mundur meninggalkan padukuhan ini oleh para prajurit Raden Wijaya. Namun dalam pertempuran itu, pamanmu telah terluka amat parah. Hingga akhirnya kami tidak dapat menyelamatkannya, pamanmu telah menghembuskan nafas terakhirnya, berkata kembali Ki Bekel melanjutkan ceritanya.

Jadi, pamanku telah tiada?, berkata Pramana sambil menahan kesedihan hatinya.

Pamanmu telah tiada, menjadi bebanten padukuhan ini, berkata Ki Bekel sambil menarik nafas panjang, merasa kasihan memandang pemuda itu.

Beberapa hari kemudian, bibimu jatuh sakit dan menyusul suaminya dipanggil juga oleh Pemiliknya, berkata kembali Ki Bekel.

Bibiku juga telah tiada?, berkata Yudha Pramana seperti tidak percaya dengan apa yang didengarnya itu.

Kami ikut berduka atas semua yang menimpa paman dan bibimu itu, berkata Ki Bekel dengan suara perlahan.

Mari kuantar kalian ke rumah pamanmu itu, selama ini kami menjaganya semua barang peninggalannya berharap suatu waktu datang sanak keluarganya, berkata kembali Ki Bekel.

Maka tidak lama berselang, terlihat Gajahmada, Yudha Pramana, dan Kunti telah mengikuti langkah Ki Bekel menuju rumah pamannya Yudha Pramana yang telah tiada itu.

Mereka telah memeriksa dan melihat-lihat rumah milik paman Yudha Pramana.

Bolehkah aku membawa barang ini?, berkata Yudha Pramana sambil mengambil sebuah clurit pendek yang bergagang kayu hitam berukir kepala ular sangat halus buatannya.

Kamu adalah kemenakannya, semua barang di rumah ini telah menjadi milikmu, berkata Ki Bekel kepada Yudha Pramana.

Terima kasih telah menjaga isi rumah ini, aku hanya akan membawa clurit milik pamanku ini, selebihnya kuserahkan kepada Ki Bekel, berkata Yudha Pramana.

Demikianlah, Gajahmada, Yudha Pramana, dan istrinya akhirnya berpamit diri kepada Ki Bekel untuk kembali ke Tanah Ujung Galuh.

Ketika mereka sampai di pura Tanah Ujung Galuh, semua yang mereka dengar tentang peristiwa yang menimpa padukuhan Maja itu telah mereka ceritakan kembali kepada Jayakatwang.

Terlihat Jayakatwang menarik nafas dalam-dalam, matanya seperti berkaca-kaca.

Di dalam pikirannya seperti terkumpul semua kenangan semasa dirinya menjadi Raja Kediri, mengenang kekelaman jiwanya di masa lalu.

Diperjalanan kami telah membicarakan masak-masak, memutuskan untuk menerima tawaran tuan. Kami akan tinggal di Pura Tanah Ujung Galuh ini, berkata Yudha Pramana membuyarkan lamunan Jayakatwang.

Kami menyambut gembira keputusan kalian untuk tinggal bersama kami, berkata Jayakatwang sambil tersenyum kepada Yudha Pramana dan Kunti.

Tidak lama berselang dari pintu pliridan muncul Nyimas Turukbali dan Nyi Ajeng Nglirip diikuti oleh dua orang putrinya.

Nampaknya mereka ikut menyambut gembira mendengar keputusan Yudha Pramana dan istrinya untuk tinggal bersama di pura Jayakatwang.

Dimana Kertawardana?, bertanya Gajahmada yang tidak melihat Kertawardana ada di antara mereka.

Katanya ingin melihat-lihat suasana Majapahit, berkata Nyimas Turukbali.

Mudah-mudahan tahu jalan pulang, berkata Gajahmada sambil tersenyum.

Sementara itu, jauh di sebuah tempat di Lamajang di sebuah pemukiman baru di sekitar hutan Randu Agung, berita tentang rencana penobatan para Dharmaputra dan dua adipati di Bojonegoro dan Banger telah terdengar di telinga Arya Wiraraja dan Kuda Anjampiani, dua orang pelarian Majapahit yang telah berganti nama dan jati dirinya sebagai Ki Randu Agung dan putranya Randu Mas.

Majapahit seperti tengah mengayomi seluruh aliran agama lewat penobatan para Dharmaputra, berkata Randu Mas kepada Ki Randu Agung.

Sanggrama Wijaya seorang yang sangat cerdas, merangkul seluruh aliran agama di tanah Jawa agar tidak menjadi sebuah kekuatan baru yang dapat mengganggu roda pemerintahannya, berkata Ki Randu Agung memuji kecerdasan Raja Majapahit.

Sanggrama Wijaya seperti tahu, sudah mendahului kita melangkah, berkata Randu Mas dengan wajah putus asa.

Selalu masih ada jalan, janganlah membuatmu mudah putus asa, berkata Ki Randu Agung tersenyum melihat cucunya penuh keputus asaan.

Dulu kakeklah yang telah mengajarkan bagaimana Raja Jayakatwang menghancurkan Singasari. Kakek pula yang mengajarkan Sanggrama Wijaya merebut kembali tahtanya dari Raja Jayakatwang. Cucumu percaya bahwa kakek belum menjadi tua untuk membuat jalan menghancurkan Majapahit, berkata Randu Mas kepada kakeknya Ki Randu Agung.

Para Dharmaputra adalah manusia seperti kita, berkata Ki Randu Agung sambil tersenyum.

Cucumu belum dapat mengikuti jalan pikiran kakek, berkata Randu Mas dengan penuh penasaran.

Rakyan Kuti dan Rakyan Semi adalah dua orang putra Lamajang, kita dapat mendekati mereka berdua, berkata Ki Randu Agung.

Kita mendekati mereka berdua untuk berdiri bersama kita menghancurkan Majapahit?, bertanya Randu Mas mencoba membaca jalan pikiran kakeknya itu.

Benar, nampaknya kamu sudah dapat membaca apa yang aku pikirkan, berkata Ki Randu Agung.

Rakyan Kuti masih kemenakan Patih Mangkubumi, apakah kita dapat mendekatinya?, bertanya Randu Mas penuh keraguan.

Justru dengan mendekati Rakyan Kuti, kita seperti punya senjata bermata dua.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment