Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 85

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 85

"Sebagaimana para orang tua yang mengajarkan anaknya berdiri dan berjalan, jiwanya juga akan dituntun untuk dapat berdiri dan berjalan, mengenal dan memahami kehidupan jiwani yang puncaknya akan mengenal jati diri gurunya sendiri, Sang Abadi," kata Gajah Mada, layaknya seorang pendeta suci yang sedang memberi sabda kepada para muridnya.

"Kamu benar, Rangga Seta memang bukan milikku, hanya kebetulan terlahir sebagai putraku," sahut Putu Risang seolah telah mendapatkan jalan terang di hadapannya.

"Apakah untuk ini semua Kakang Putu Risang jauh-jauh datang mencariku?" tanya Gajah Mada.

"Benar, hanya untuk inilah aku datang mencarimu, mencari jawaban atas kegelisahanku selama ini," jawab Putu Risang.

Tampak tangan Gajah Mada bergerak mengambil sebuah kerikil di dekatnya. Bukan main terkejutnya Putu Risang melihat jari-jemari Gajah Mada menjentikkan kerikil itu hingga meluncur cepat ke arah gerumbul semak belukar. Putu Risang terkesiap melihat sebuah bayangan melesat cepat dan menghilang di kegelapan malam seolah tertelan bumi.

"Sejauh Rangga Seta berjalan, sejauh itu pula orang ini membayanginya," ujar Gajah Mada kepada Putu Risang.

Diam-diam, Putu Risang mengakui ketajaman indra Gajah Mada yang ternyata telah jauh melampaui dirinya. Buktinya, selama ini ia tidak menyadari keberadaan orang berilmu tinggi yang bersembunyi di balik semak belukar tidak jauh dari mereka.

"Hari sudah mendekati pagi," kata Gajah Mada sambil memandang semburat merah di cakrawala, pertanda fajar akan segera menyingsing.

"Mari kita kembali ke istana Kadipaten Lamajang," ajak Putu Risang seraya berdiri.

Di keremangan awal pagi itu, dua bayangan terlihat berkelebat mendekati jalan utama istana Kadipaten Lamajang. Kecepatan gerakan keduanya luar biasa, sehingga tak satu pun prajurit pengawal menyadari kehadiran mereka di halaman istana.

"Ternyata dua orang tamuku sudah terbiasa bangun dan jalan-jalan pagi," sapa Adipati Menak Koncar yang sedang berjalan dari arah pringgitan saat melihat Gajah Mada dan Putu Risang memasuki pendapa agung.

"Berjalan dan memandang hamparan sawah yang luas di waktu pagi sangat menyenangkan," jawab Putu Risang dengan senyum ramah.

"Pendapa agung ini menghadap ke timur. Hampir setiap pagi aku duduk di sini mengikuti gerak sang fajar muncul di ujung bibir bumi," tutur Adipati Menak Koncar sambil duduk di lantai kayu pendapa.

Menunggu fajar memang tidak membosankan, apalagi diiringi canda dan gurau hangat dari mereka bertiga yang sudah lama tidak bersua. Saat sang surya telah menampakkan seluruh wajahnya, pembicaraan mereka menjadi semakin hangat dengan bergabungnya seorang pemuda yang ceria dan banyak bicara. Suasana di atas pendapa pun menjadi semarak.

Pagi di atas pendapa itu terasa sempurna ketika seorang anak lelaki hadir di tengah-tengah mereka. Anak kecil itu adalah Rangga Seta. Perlahan sang surya beranjak menaiki tangga cakrawala, sementara beringin kembar di halaman istana tampak seperti dua raksasa yang memayungi suasana agar tetap teduh.

Dua prajurit kepercayaan Adipati Menak Koncar datang menghadap untuk menyampaikan berita hasil pengamatan di Kademangan Randu Agung.

"Beristirahatlah, kalian telah melaksanakan tugas dengan baik," ujar Adipati Menak Koncar kepada kedua prajuritnya. "Ternyata tidak ada perubahan kekuatan di rumah itu sebagaimana yang dikatakan oleh Ki Banyak Wedi," lanjutnya kepada Gajah Mada dan Putu Risang.

"Aku belum begitu mengenal wilayah Kademangan Randu Agung. Kalau boleh tahu, apakah kita akan melewati banyak padukuhan untuk sampai ke rumah itu?" tanya Putu Risang.

"Rumah itu berada di padukuhan paling ujung ke arah hutan Randu Agung. Jalan terdekat adalah melewati beberapa padukuhan di Kademangan Randu Agung," jawab Adipati Menak Koncar.

"Nampaknya ada satu hal yang terlewatkan oleh Ki Banyak Wedi," ujar Putu Risang. Mendengar hal itu, Adipati Menak Koncar dan Gajah Mada saling berpandangan dengan kening berkerut.

Putu Risang tidak segera menjawab, ia hanya tersenyum tipis. "Aku akan menjawabnya, tapi perlu bantuan Supo Mandagri," ujarnya sambil memanggil Supo Mandagri yang sedang menemani Rangga Seta.

"Supo Mandagri, kamu besar di Tanah Lamajang ini. Apa yang akan kamu lakukan bila mendengar tetanggamu mendapat musibah?" tanya Putu Risang setelah Supo mendekat.

"Bagi kami, tetangga adalah saudara paling dekat. Kami akan datang memberikan bantuan sekuat yang kami miliki," jawab Supo Mandagri seketika.

"Itulah yang dilupakan oleh Ki Banyak Wedi. Kita belum mengetahui seberapa besar keberpihakan para warga penghuni Kademangan Randu Agung," kata Putu Risang.

"Keberpihakan warga Kademangan Randu Agung memang belum terpikirkan olehku," aku Adipati Menak Koncar.

"Kita harus menghindari benturan langsung dengan warga Kademangan Randu Agung," sambung Gajah Mada, mulai menangkap arah pemikiran Putu Risang.

"Kita dapat menghindari beberapa padukuhan dengan cara jalan melingkar," usul Adipati Menak Koncar.

"Jarak kadipaten ini menuju Kademangan Randu Agung tidak begitu jauh. Apakah kita tidak khawatir pasukan kita dapat terbaca oleh pihak lawan?" tanya Putu Risang.

Pertanyaan itu membuat Adipati Menak Koncar dan Gajah Mada terdiam. Mereka menyadari ada orang-orang di sekitar mereka yang mungkin membocorkan gerakan.

"Ternyata aku berhadapan dengan seorang senapati perang yang sangat kuat pikirannya," puji Adipati Menak Koncar.

"Aku hanya berpikir sederhana, menjaring seekor ikan besar di kolam sendiri tanpa mengeruhkannya," jawab Putu Risang sambil tersenyum.

"Jangan khawatir, beberapa ikan gabus besar sudah dapat kami tangkap tadi pagi," sahut Adipati Menak Koncar saat melihat dua orang pria membawakan makanan diikuti oleh Nyi Adipati Menak Koncar.

"Mudah-mudahan masakan orang Lamajang tidak berbeda lidah dan rasa," ujar Nyi Adipati seraya mempersilakan tamu untuk menikmati perjamuan.

Setelah perjamuan siang, pembicaraan berlanjut. "Untuk menghindari penglihatan pihak lawan, kita dapat bergerak hari ini juga di tengah malam nanti menuju hutan Mandeg di sebelah timur Hutan Randu Agung," usul Adipati Menak Koncar.

"Bagus. Artinya, kita masih punya banyak waktu di hutan Mandeg untuk menunggu saat tengah malam tiba, menyergap, dan mengepung pihak lawan," Putu Risang menyetujui.

Hari itu juga, Adipati Menak Koncar memanggil sekitar empat puluh prajurit terbaiknya. Ia juga memerintahkan para penjaga untuk melarang siapa pun keluar dari halaman istana Kadipaten Lamajang, apa pun alasannya. Perintah ini sempat membingungkan para abdi dalem yang biasanya pulang sore hari.

Sementara itu, pekatik tua telah memilih jalan lewat pematang sawah karena dapat mempersingkat jarak menuju Kademangan Randu Agung. Keringat membasahi tubuhnya, namun ia terus berjalan tanpa henti. Hingga suara kentongan dara muluk terdengar sayup, ia sudah sampai di jalan kecil menuju jalan utama Kademangan Randu Agung.

Meski menempuh perjalanan jauh, ia tetap menjaga langkahnya dengan teratur, pertanda ia pernah ditempa olah kanuragan semasa muda. Ia terus melangkah tanpa rasa lelah hingga tiba di depan pintu gerbang rumah kediaman Ki Demang Randu Agung yang terjaga ketat.

"Siapakah Kisanak?" tanya salah seorang prajurit pengawal dari atas panggung pengamatan.

"Izinkan aku masuk untuk menemui Ki Demang. Ada berita penting yang akan kusampaikan," jawab pekatik tua itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment