Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 13

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 13

Dan kehadiran putra Adipati Ranggalawe bersama gurunya di Kademangan itu adalah untuk mengangkat kembali nama kehormatan dan kebesaran keluarga Adipati Ranggalawe di hati orang-orang Tuban.

Gending pamungkas terdengar mendayu-dayu dibawakan oleh para waranggana, sebagai pertanda bahwa pagelaran langen tayub akan segera berakhir.

Satu-dua orang sudah mulai beranjak dari tempatnya.

Terlihat pula Gajahmada telah menyelinap di antara kerumunan para penonton yang masih enggan meninggalkan pagelaran langen tayub itu.

Suara gamelan gending langen tayub sudah terdengar sayup-sayup manakala Gajahmada sudah keluar menjauhi kademangan itu.

"Saatnya untuk mengamati Kadipaten Tuban lebih dekat lagi," berkata Gajahmada dalam hati membayangkan suasana di Kadipaten Tuban pasti tidak berbeda jauh dengan suasana di beberapa kademangan yang telah diamati, tengah menyusun kekuatan para prajurit dalam latihan-latihan yang keras.

Matahari terlihat sudah condong lebih ke barat ketika Gajahmada telah memasuki Kadipaten Tuban yang berdekatan dengan pesisir pantainya.

Ternyata dugaan dan bayangan Gajahmada tentang suasana di Kadipaten Tuban sangat jauh dari yang diperkirakan, tidak ditemukannya seorang prajurit pun yang tengah berlatih sebagaimana di beberapa kademangan.

"Mungkin aku datang pada saat matahari sudah condong ke barat," berkata Gajahmada dalam hati.

Terlihat Gajahmada mencoba menyusuri jalan Kadipaten Tuban yang telah mulai sepi itu, melewati istana Kadipaten Tuban yang tampak megah dan kokoh di antara bangunan sekitarnya.

Tidak seorang pun yang memperhatikan langkah pemuda itu, mungkin pakaian yang dikenakan seperti pakaian para pengembara umumnya.

Hingga akhirnya langkah Gajahmada telah membawanya ke bandar pelabuhan Tuban yang ternyata masih sangat ramai.

Terlihat beberapa perahu dagang tengah merapat di dermaga, beberapa buruh panggul tengah membawa barang mengisi sebuah pedati.

"Nanti malam aku akan menilik keadaan barak prajurit," berkata Gajahmada dalam hati sambil melangkahkan kakinya ke sebuah kedai yang masih buka di ujung bandar pelabuhan Tuban.

Ketika memasuki kedai itu, sudah ada beberapa pengunjung.

Seorang pemilik kedai datang menghampirinya, menanyakan pesanan makanan kepada Gajahmada.

Terlihat pemilik kedai itu kembali ke dalam untuk menyiapkan makanan dan minuman pemuda itu.

Di dalam kedai, Gajahmada mencoba mencuri dengar pembicaraan beberapa pengunjung kedai itu, namun tidak didapat apa pun dari mereka selain cerita tentang kecantikan para waranggana sebuah kelompok Langen Tayub yang dua hari ini akan manggung di sebuah acara perayaan perkawinan seorang juragan besar di Kadipaten Tuban.

Akhirnya Gajahmada telah memutuskan untuk menunggu malam di bandar pelabuhan Tuban itu.

Dan senja perlahan mulai redup menyelimuti pantai laut Tuban.

Terlihat Gajahmada tengah menyusuri pantai Tuban, menatap cahaya kuning keemasan memancar di ujung batas lengkung laut yang menghitam.

Indah, teduh, dan damai suasana di pantai Tuban dalam tatapan mata Gajahmada di penghujung senja itu.

Semilir angin laut yang dingin mengurai rambut pemuda itu yang tengah menatap beberapa nelayan yang tengah mengayuh perahu sampan mereka menuju tengah laut.

"Peperangan dan perebutan kekuasaan silih berganti, tidak akan mengubah apa pun kehidupan mereka. Yang mereka ketahui adalah musim badai dan musim melaut, mengais kehidupan malam di tengah laut berharap ikan masuk memenuhi jala-jala mereka sebagai kabar gembira buah tangan manakala kembali ke rumah menemui istri dan anak-anak mereka yang menunggu dan berdoa sepanjang malam untuk pahlawan hati mereka," berkata Gajahmada dalam hati sambil memandang sebuah perahu nelayan yang semakin menjauh bergoyang di atas ombak laut malam.

Perlahan cahaya kuning di ufuk barat bumi telah mulai menghilang, wajah lautan telah menjadi hitam kelam di bawah langit malam.

Titik-titik cahaya lentera milik para nelayan terlihat seperti bintang berkelip di tengah laut bersama riak deru ombak berkali-kali datang dan pergi membentur bibir dermaga kayu yang kusam mulai rapuh.

Lama Gajahmada duduk di bawah sebuah pohon kelapa yang tumbuh di pinggir pantai Tuban itu, jauh dari keramaian bandar pelabuhan Tuban yang terlihat semakin sepi manakala malam sudah semakin larut.

Terlihat Gajahmada telah bangkit dari duduknya, perlahan anak muda itu melangkah menuju ke arah jalan Kadipaten Tuban yang tidak begitu jauh itu.

Jalan Kadipaten Tuban di malam itu sudah terlihat begitu sepi, beberapa oncor menerangi regol-regol bangunan di sepanjang jalan utama Kadipaten Tuban.

"Bangunan barak prajurit Tuban," berkata Gajahmada ketika melewati sebuah bangunan yang sangat besar dengan pintu gerbang yang telah tertutup rapat.

Gajahmada masih tetap melangkah melewati pintu gerbang bangunan barak prajurit itu yang diterangi sebuah oncor besar minyak jarak.

Namun ketika dirinya berada di ujung pagar bangunan itu, terlihat pemuda yang memiliki kesaktian ilmu sangat tinggi itu telah melenting melompati sisi pagar dan merapat tenggelam di kegelapan bayangan malam.

Pemuda itu hanya melihat ada tiga orang prajurit di dalam gardu penjagaan.

Setelah merasa yakin bahwa kehadirannya tidak diketahui oleh siapa pun, terlihat pemuda itu telah melesat dan merapat di dinding bangunan utama barak prajurit Tuban.

Bayangan malam telah melindungi Gajahmada yang tengah merapat di dinding bangunan utama.

Hanya dengan sedikit ayunan kaki, tubuh Gajahmada sudah seperti anak panah meluncur ke atas wuwungan bangunan utama itu.

Terlihat anak muda itu kembali merapatkan tubuhnya sejajar dengan wuwungan dan melebur menjadi satu dengan bayangan malam.

Setelah memastikan keadaan aman, kembali anak muda itu telah bergerak cepat dan ringan berpindah ke atas wuwungan bangunan lain.

"Sepi!" berkata Gajahmada dalam hati manakala telah membuka sedikit atap dan melihat ruang bawah dalam barak prajurit.

Terlihat Gajahmada telah melesat berpindah dari satu wuwungan bangunan ke bangunan lainnya, ternyata Gajahmada tidak menemukan seorang prajurit pun di dalam barak-barak mereka.

Malam sudah semakin larut, tanpa sinar bulan menjadikan malam itu begitu pekat dan gelap.

Terlihat Gajahmada sudah kembali merapat di dinding utama bangunan barak prajurit.

Setelah memastikan bahwa ketiga orang prajurit yang berada di gardu penjagaan tidak melihatnya, maka anak muda yang telah memiliki ilmu meringankan tubuh dengan sangat sempurna itu telah seperti terbang melesat cepat mendekati dinding pagar dan melenting melompati pagar dinding itu.

Tidak seorang pun berada di jalan dan melihat anak muda itu melompat keluar dinding bangunan barak prajurit itu.

Jalan Kadipaten Tuban malam itu begitu sepi, Gajahmada terlihat telah melangkah kembali ke arah pesisir pantai.

"Ke mana para prajurit Tuban saat ini?," berkata dalam hati Gajahmada ketika tengah duduk bersandar di sebuah batang pohon kelapa yang menghalangi terpaan angin malam di tepian pantai Tuban.

Tidak terasa semilir angin di tepian pantai Tuban telah membuatnya tertidur.

Namun sebagaimana jiwa seorang ksatria pengembara, pancaindranya masih tetap terjaga, masih mendengar suara deru ombak tiada henti, masih mendengar suara pelepah kelapa yang kering jatuh ke tanah, juga mendengar suara langkah kaki menginjak pasir pantai yang lembut tengah mendekatinya.

Perlahan mata Gajahmada terbuka, dibiarkannya dua orang lelaki yang terlihat tengah mendekatinya.

"Berdirilah anak muda, kami ingin membawa kamu ke istana Kadipaten," berkata salah seorang di antara mereka setelah berada di dekat Gajahmada yang masih bersandar di batang pohon kelapa.

Terlihat mata Gajahmada memandang ke arah kedua orang lelaki itu, daya ingatnya yang sangat kuat seperti pernah melihat kedua lelaki itu; seorang masih muda sebaya dengannya, sementara lelaki lainnya sudah cukup umur.

Gajahmada masih ingat bahwa salah seorang di antaranya adalah putra Ranggalawe yang dilihatnya dalam pagelaran Langen Tayub di sebuah kademangan kemarin hari.

Dan orang tua di sebelahnya itu sudah pasti adalah gurunya.

Namun di depan mereka berdua Gajahmada seperti belum pernah menjumpainya.

"Mengapa aku harus dibawa ke istana Kadipaten?," berkata Gajahmada sambil mengerutkan keningnya dan berdiri.

"Kami berdua telah melihat kamu keluar masuk barak prajurit secara diam-diam," berkata orang tua guru putra Ranggalawe itu yang diketahui bernama Ki Ajar Pelandongan.

Terkejut Gajahmada mendengar perkataan orang tua itu, ternyata mereka berdua telah melihat dirinya masuk ke barak prajurit Tuban.

Namun di depan mereka berdua, terlihat Gajahmada seperti tidak merasa bersalah apa pun.

"Mau seribu kali keluar masuk barak prajurit, itu urusanku," berkata Gajahmada dengan sikap acuh tak acuh.

Sikap Gajahmada itu ternyata telah membuat anak muda putra Ranggalawe itu naik pitam.

"Guru, orang ini tampaknya tidak perlu diajak bicara. Sudah pasti orang ini adalah orang Majapahit yang tengah mengamati kita," berkata putra Ranggalawe itu seperti tidak sabar.

"Anak muda, tampaknya kami harus membawamu ke istana dengan cara kekerasan," berkata Ki Ajar Pelandongan mengambil alih pembicaraan tidak berbuat gegabah kepada orang muda di hadapannya itu yang menurut perhitungannya pasti bukan orang sembarangan, terutama ketika dilihatnya memasuki barak prajurit menggunakan ilmu meringankan tubuh yang sudah sangat sempurna.

Dan dirinya tampaknya tidak ingin muridnya maju menghadapi Gajahmada.

"Orang tua, jangan berkata berputar-putar, katakan saja kalian akan menangkapku. Berdirilah di situ, saksikanlah muridmu sendiri maju menangkapku," berkata Gajahmada seperti dapat membaca jalan pikiran orang tua itu.

"Guru, orang ini memang harus disumpal mulutnya," berkata Kuda Anjampiani maju selangkah merasa perkataan Gajahmada telah menantang dirinya.

"Angger Kuda Anjampiani, biarlah aku sendiri yang menghadapinya."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment