Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 03

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 03

Demikianlah, Gajahmada dan Pangeran ikut berlayar bersama jung Majapahit menyusuri Jawadwipa sebelah utara yang singgah di beberapa bandar pelabuhan pada saat itu, seperti Bandar Pragota, juga pantai Rembang dan Tuban.

"Mengapa paman tidak menjumpai Adipati Ranggalawe?" berkata Pangeran Jayanagara kepada Rakyan Argalanang manakala jung Majapahit tengah bergeser menjauhi pantai Tuban.

"Pamanmu ini pernah menemuinya ketika jung Majapahit ini merapat di Tuban. Namun, sahabatku itu sudah sangat berbeda jauh, menerimaku tidak sebagai seorang sahabat lagi. Pamanmu tidak tahu apa yang terjadi atas dirinya. Sejak saat itu, pamanmu ini tidak lagi ada keinginan datang menjumpainya," berkata Rakyan Argalanang bercerita tentang sikap Ranggalawe kepadanya.

Tidak terasa, jung Majapahit telah semakin menjauhi pantai Tuban meluncur membelah laut malam. Sementara itu, hati Gajahmada sudah seperti terbang di Kotaraja Majapahit. Sebuah tempat yang sudah lama ditinggalkan, di mana disana ada ibu kandungnya yang mungkin juga tengah merindukannya.

"Sedang apa gerangan saat ini kamu, wahai ibundaku?" berkata Gajahmada dalam hati sambil memandang wajah bulan yang terpotong terhalang awan hitam di malam itu.

Sementara itu, tujuh tiang kayu penyangga kain layar kadang berdenyit menahan angin barat yang berhembus kuat dan penuh mendorong jung terbesar di jamannya saat itu terus meluncur membelah ombak laut malam meninggalkan garis buih putih yang panjang.

Akhirnya, manakala langit malam perlahan berubah warna kemerahan, jung Majapahit telah mendekati Tanah Ujung Galuh.

"Turunkan layar!!" terdengar suara teriakan lantang dari atas anjungan. Terlihat beberapa orang pelaut Majapahit menaiki tangga tali tiang layar. Nampaknya mereka sudah begitu terbiasa dan sangat mahir sekali naik dan berjalan di antara tali temali itu.

"Pamanmu melihat kalian berdua seperti tidak sabar berharap segera sampai merapat di Bandar Tanah Ujung Galuh," berkata Rakyan Argalanang kepada kedua anak muda itu yang tengah berdiri di lambung jung Majapahit.

Mendengar perkataan Rakyan Argalanang, terlihat kedua anak muda itu saling berpandangan sambil tersenyum, merasa telik Rakyan Argalanang atas perasaan mereka berdua tidak meleset jauh.

"Bila melihat kalian berdua, pamanmu jadi teringat kepada Patih Mahesa Amping dan Baginda Raja Sanggrama Wijaya," berkata Rakyan Argalanang.

"Apa yang paman lihat dari kami berdua?" bertanya Gajahmada.

"Persahabatan kalian, seperti persahabatan mereka berdua," berkata Rakyan Argalanang menjawab pertanyaan Gajahmada kepadanya.

Pagi itu, jung Majapahit telah merapat di Tanah Ujung Galuh.

"Kita berpisah di sini," berkata Gajahmada di depan sebuah barak prajurit.

"Salam untuk ibumu," berkata Pangeran Jayanagara sambil terus melangkah menuju istana yang sudah tidak begitu jauh lagi.

Terlihat Gajahmada telah memasuki barak prajurit itu, sebuah barak pasukan khusus para prajurit wanita di mana Nyi Nariratih dipercaya sebagai pimpinan tertinggi pasukan khusus itu.

"Putraku!!" berkata Nyi Nariratih sambil menghampiri dan memeluk putranya itu.

Penuh kegembiraan kedua ibu dan anak itu setelah berpisah cukup lama saling bercerita.

"Jadi kamu telah bertemu muka dengan ayahmu sendiri?" berkata Nyi Nariratih penuh kegembiraan manakala Gajahmada telah bercerita tentang ayahnya.

"Ayah pula yang telah memercikkan air suci, mengembalikan nama asliku, Gajahmada," berkata Gajahmada.

Bukan main gembiranya Nyi Nariratih mendengar itu.

"Doaku ternyata dipenuhi oleh Gusti yang Maha Agung, namamu telah dipuput oleh ayahmu sendiri," berkata Nyi Nariratih dengan wajah penuh tangis suka cita mendengar semua cerita putranya selama dalam pengembaraan di Tanah Pasundan.

Dengan berat hati, Gajahmada bercerita juga tentang Pendeta Gunakara kepada ibundanya.

"Orang tua itu telah begitu penuh kasih menjadi pembimbingmu selama ini," berkata Nyi Nariratih mengenang Pendeta Gunakara sejak Gajahmada masih dalam pangkuannya.

"Pekan lalu, Kakang Putu Risang mu, telah kembali ke Balidwipa untuk menjadi pemimpin Padepokan Pamecutan yang dibangun oleh Patih Mahesa Amping dan Empu Dangka," berkata Nyi Nariratih bercerita tentang kembalinya Putu Risang ke tanah asalnya di Balidwipa.

"Bila saja Kediri tidak jauh, mungkin aku sudah berlari hari ini menemui ayah angkatku itu," berkata Gajahmada kepada ibundanya.

"Kediri memang jauh, namun ayah angkatmu itu sudah tiga hari ini berada di istana Majapahit," berkata Nyi Nariratih.

"Benarkah yang ibunda katakan?" berkata Gajahmada berharap ibundanya tidak tengah bercanda.

"Aku tidak bercanda, temuilah segera Tuan Patih Mahesa Amping di istana," berkata Nyi Nariratih kepada Gajahmada.

"Putramu akan menemuinya," berkata Gajahmada yang masih rindu kepada ibunya itu berkemas dan pamit diri untuk menemui Patih Mahesa Amping di istana.

Matahari di atas Kotaraja Majapahit sudah bergeser dari puncaknya, manakala Gajahmada tengah melangkahkan kakinya memasuki gerbang pintu istana.

"Aku ingin bertemu dengan Patih Mahesa Amping, di mana aku dapat menemuinya?" bertanya Gajahmada kepada seorang prajurit penjaga yang juga telah mengenalnya dengan baik.

"Aku akan mengantarmu, sahabat," berkata prajurit itu kepada Gajahmada.

Demikianlah, prajurit itu telah membawa Gajahmada ke sebuah pura khusus untuk para tamu agung bermalam di istana Majapahit.

Bukan main gembiranya Patih Mahesa Amping manakala melihat Gajahmada datang menemuinya.

"Baru tadi pagi, aku mendapatkan tentang kedatangan kamu dan Pangeran Jayanagara dari Tanah Pasundan, kupikir baru besok kamu datang menemuiku," berkata Patih Mahesa Amping kepada Gajahmada.

Dan mereka pun saling bercerita selama banyak waktu selama mereka saling berpisah.

"Berbahagialah bahwa kamu telah dipertemukan dengan ayah kandungmu sendiri, dan berbahagialah kalian, Prabu Guru Darmasiksa telah mewariskan ilmu adi luhung itu kepada kalian," berkata Patih Mahesa Amping ketika mendengar cerita Gajahmada tentang pengembaraannya di tanah Pasundan.

"Kapan ayahanda kembali ke Kediri?" bertanya Gajahmada kepada Patih Mahesa Amping.

Patih Mahesa Amping tidak langsung menjawab.

Sebagai seorang yang telah lama mengenal ayah angkatnya itu, Gajahmada dapat melihat bahwa Patih Mahesa Amping nampaknya tengah menghadapi sebuah masalah besar.

Wajah lelaki yang selalu riang itu dilihat oleh Gajahmada seperti terhalang sebuah kabut yang mengganggu keceriaan hatinya.

"Apakah putramu boleh mengetahui apa yang tengah mengganjal hati dan pikiran ayahandaku?" bertanya Gajahmada kepada ayah angkatnya itu.

"Aku memang tengah mencari seseorang untuk berbagi, wahai putraku," berkata Patih Mahesa Amping penuh senyum memandang Gajahmada bukan lagi sebagai seorang anak kecil, tapi seorang pemuda dewasa.

"Aku putramu, siap mendengarnya ayahandaku," berkata Gajahmada.

"Wahai putraku, aku mempercayakan dirimu," berkata Patih Mahesa Amping sambil mengeluarkan sebuah gulungan rontal dari balik pakaiannya.

"Rontal ini adalah surat tangan Ranggalawe kepada Baginda Raja Sanggrama Wijaya. Untuk inilah aku dipanggil datang di istana Majapahit ini. Kupercaya dirimu untuk ikut membacanya, wahai putraku," berkata Patih Mahesa Amping sambil memberikan gulungan rontal itu kepada Gajahmada.

Terlihat Gajahmada menerima gulungan rontal itu, membacanya kata demi kata.

Isi gulungan rontal yang tengah dibaca oleh Gajahmada isinya adalah seperti ini: "Kepada Baginda Raja Sanggrama Wijaya, junjungan dan sahabatku. Masih ingatkah tuan tentang sebuah cerita seekor anak harimau yang terluka, tersisih dari lingkungannya? Ayahku telah datang menyelamatkan harimau itu, membesarkannya agar dapat kembali mengenal padang perburuannya.

Ayahku telah datang kepadaku, tidak mempermasalahkan tentang jabatan Patih Amangkubumi di Majapahit, tidak mempermasalahkan tentang patih di Daha, ayahku juga tidak meminta separuh kekuasaan sebagaimana janji yang pernah tuan berikan kepadanya.

Ayahku hanya meminta tuan untuk memberikan kekuasaan daerah Tuban kepadaku, sedikit dari separuh kekuasaan Majapahit yang besar ini. Dari Ranggalawe, putra Arya Wiraraja."

Demikian Gajahmada membaca dalam hati sebuah rontal yang ternyata dari Ranggalawe untuk Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

"Wahai putraku, Baginda Raja telah berbagi hati tentang surat ini kepadaku. Dan aku telah berbagi hati kepadamu. Inilah tentang sebuah perasaan hati kebimbangan manakala lawan kita adalah sahabat sendiri. Aku, Baginda Raja dan Ranggalawe seperti tiga jariku ini, begitu dekat," berkata Patih Mahesa Amping kepada Gajahmada.

Terlihat Gajahmada terdiam, teringat akan cerita Rakyan Argalanang ketika mereka merapat di Bandar pelabuhan Tuban.

"Putramu pernah singgah di Bandar pelabuhan Tuban dalam pelayaran pulang," berkata Gajahmada.

"Tuban adalah sebuah daerah yang kecil, namun melepas kekuasaan Tuban sama artinya menutup pintu Majapahit, yang akan dapat mati secara perlahan karena Tuban ibarat sebuah batang leher dari Majapahit ini. Itulah yang ada dalam pikiran ayah Ranggalawe, pemikir ulung, ahli siasat perang yang tidak ada duanya di dunia ini, Adipati Sunginep, Arya Wiraraja," berkata Patih Mahesa Amping kepada Gajahmada.

Kembali Gajahmada terlihat terdiam, nampaknya tengah merenungi arti sebuah persahabatan dan kekuasaan.

"Tuan Jayakatwang selalu berkata kepadaku, tidak ada pertemanan abadi dalam kancah kekuasaan," berkata Gajahmada seperti berbicara kepada dirinya sendiri.

"Kamu benar wahai putraku, persahabatan harus di pisahkan dari kekuasaan," berkata Patih Mahesa Amping seperti menemukan sebuah jawaban dari perkataan Gajahmada itu.

Tidak terasa matahari di atas istana Majapahit telah terlihat bergeser mendekati ujung barat cakrawala.

Sementara itu terlihat dua orang prajurit pengawal berjalan memasuki pura peristirahatan Patih Mahesa Amping.

"Nampaknya Baginda Raja memerlukanku," berkata Patih Mahesa Amping ketika melihat dua orang prajurit pengawal itu mendekati pendapa pura.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment