Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 84

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 84

Gajahmada bercerita tentang rencana mereka untuk meruntuhkan pusat pengendali kekuatan di timur Jawadwipa, sesuai saran Ki Banyak Wedi yang sampai saat ini masih bersembunyi di hutan Randu Agung.

"Aku akan mengutus beberapa orang untuk mengamati rumah itu dan kekuatannya agar kita dapat dengan mudah menghadapi mereka tanpa kesulitan," ujar Adipati Menak Koncar yang setuju untuk segera menghancurkan pusat kekuatan lawan di wilayahnya.

"Kakang Mahesa Semu mungkin dapat ditarik untuk membantu kita," usul Gajahmada.

"Aku setuju. Cantrik utama dari Padepokan Bajra Seta itu dapat diandalkan untuk memperkuat barisan kita," jawab Putu Risang yang mengenal Mahesa Semu sebagai salah satu murid terbaik di padepokan tersebut.

"Kehadiran Kakang Mahesa Semu sudah cukup untuk menandingi empat orang berilmu tinggi yang ada di rumah itu," kata Gajahmada sembari menyebutkan beberapa nama yang memiliki kesaktian tinggi di sana. "Aku pernah menghadapi Ki Banyak Ara, namun menurut penuturan Ki Banyak Wedi, ada seorang pendeta Brahmana yang kesaktiannya jauh melebihi Ki Banyak Ara."

"Bila disetujui, aku menawarkan diri untuk menghadapi orang itu," ujar Putu Risang.

Mendengar perkataan tersebut, Adipati Menak Koncar tersenyum. Ia yakin bahwa di antara mereka bertiga, adik iparnya itulah yang memiliki tingkat ilmu paling tinggi. Terbayang kembali bagaimana Putu Risang pernah mengalahkan banyak orang sakti dari berbagai pelosok Jawadwipa beberapa tahun silam, dalam peristiwa hilangnya keris Nagasasra dari istana Majapahit.

"Ki Jatiwangi dan Ki Banyak Ara sudah memiliki lawan tandingnya sendiri. Kini tinggal Ki Ajar Pelandongan dan Ki Gagakpati yang belum mendapatkan lawan," ingat Adipati Menak Koncar.

"Kakang Mahesa Semu mungkin dapat menghadapi seseorang seperti Ki Ajar Pelandongan," tutur Gajahmada yang sudah bisa mengukur tingkat ilmu lawan tersebut.

"Semua sudah mendapatkan lawan masing-masing, kecuali Ki Gagakpati dan diriku sendiri," sahut Adipati Menak Koncar sembari tersenyum memandang ke arah Gajahmada.

"Senjata cakra Kakang Adipati Lamajang pasti akan merepotkan Ki Gagakpati," balas Gajahmada kepada putra sulung Mahapatih Mangkubumi Majapahit itu. Adipati Menak Koncar hanya tersenyum menanggapinya.

"Sewaktu aku masih kecil, aku sering menyaksikan bagaimana Kakang melatih pasukan Majapahit di alun-alun. Aku yakin senjata cakra milik Kakang Adipati Menak Koncar bukan sekadar hiasan dinding di sanggar istana Kadipaten Lamajang ini," lanjut Gajahmada.

"Mudah-mudahan tanganku ini masih mampu memutar senjata cakraku," jawab Adipati Menak Koncar.

"Kakang Adipati Menak Koncar memang selalu merendah. Aku yakin kemampuan para prajurit pengawal kadipaten ini sama tangguhnya dengan prajurit Majapahit," timpal Putu Risang.

"Artinya, kita tidak memerlukan prajurit Majapahit yang ada di timur Jawadwipa ini," kata Gajahmada.

"Aku akan membawa prajurit terbaikku untuk menghadapi anak buah Ki Banyak Ara," tegas Adipati Menak Koncar.

Hari itu juga, Adipati Menak Koncar memanggil dua prajuritnya untuk mengamati lebih saksama kekuatan di kediaman Ki Banyak Ara di Kademangan Randu Agung. Sementara itu, Gajahmada meminta seorang prajurit Majapahit untuk menjemput Mahesa Semu yang masih bertugas di sekitar tanah Blambangan.

Perlahan, malam pun tiba di bumi Lamajang. Angin dingin berhembus melalui persawahan luas di kaki pegunungan Semeru, Bromo, dan Tengger. Di kegelapan malam, seorang prajurit Majapahit mengambil jalan ke arah timur di persimpangan Kadipaten Lamajang. Tidak lama berselang, dua prajurit pengawal kadipaten bergerak ke selatan menuju Kademangan Randu Agung sesuai perintah Adipati Menak Koncar untuk memata-matai rumah Ki Banyak Ara, saudara kembar Ki Banyak Wedi yang telah tersingkir tanpa sepengetahuan siapa pun, bahkan oleh orang-orang terdekatnya di kademangan tersebut.

Namun, bukan hanya mereka yang bergerak di kegelapan malam. Di antara canda tawa para prajurit di gardu jaga, dua bayangan berkelebat keluar melalui dinding pagar istana Kadipaten Lamajang. Mereka menghindari jalan utama dan berhenti di sebuah gumuk sepi di sebelah utara istana. Di balik tanah tersebut, di bawah cakrawala, tampak jelas bahwa kedua orang itu adalah Putu Risang dan Gajahmada.

"Apakah Kakang Putu Risang yakin bahwa Rangga Seta sudah tertidur?" tanya Gajahmada.

"Anak itu sudah terbiasa tidur sendiri di gandhoknya," jawab Putu Risang sambil tersenyum.

"Aku melihat kecerdasan luar biasa di dalam bola matanya," ujar Gajahmada sambil duduk bersandar pada tanah miring yang ditumbuhi rumput basah.

"Aku berharap dapat membimbingnya menjadi ksatria tangguh yang mewarisi ageman suci para leluhur kita," kata Putu Risang.

"Aku melihat kegelisahan Kakang Putu Risang atas masa depan Rangga Seta," tebak Gajahmada seolah bisa membaca pikiran gurunya.

"Pikiran dan perkataanmu masih seperti yang kukenal; selalu datang tak terduga dengan pertanyaan tentang apa yang kupikirkan, bukan apa yang kukatakan," ujar Putu Risang yang ikut duduk di samping Gajahmada.

"Apa yang Kakang risaukan?" tanya Gajahmada kembali.

"Ketika bertemu Adityawarman di Banyuwangi yang mengabarkan keberadaanmu di sekitar Lamajang, aku memang berharap menjumpaimu untuk menyampaikan rahasia yang selama ini mengganggu perasaanku," tutur Putu Risang sambil menarik napas panjang.

"Apa itu?"

"Ada orang asing yang selalu membayangi Rangga Seta. Orang itu berjubah layaknya para brahmana, namun aku tidak pernah bisa mendekatinya; dia selalu menghilang seperti tertelan bumi," ungkap Putu Risang.

Gajahmada mengerutkan kening. Ia berpikir keras siapa orang yang memiliki ilmu setinggi itu hingga orang setangguh gurunya pun tidak mampu mendekatinya. "Apa yang membuat Kakang risau dengan keberadaan orang itu?"

"Aku melihat kejadian yang sama dengan dirimu; ada seseorang yang membayangi Rangga Seta setiap waktu," jelas Putu Risang.

Mendengar itu, Gajahmada teringat pembimbing rohaninya, Pendeta Gunakara dari pegunungan Tibet, yang selalu menjaganya sejak kecil. "Bukankah Pendeta Gunakara datang dengan tugas sucinya?"

"Itulah yang mengganggu pikiranku. Orang asing itu akan mencuci hati dan pikiran putraku dengan ageman baru, bukan ageman leluhur kita," kata Putu Risang sambil memandang jauh ke arah pepohonan kelapa.

"Gusti Yang Maha Agung memberi cahaya kepada siapa pun dan di mana pun. Dialah yang tahu kapan saatnya bumi yang tua ini akan berganti; cara hidup, pandangan, serta perikehidupan yang terus berkembang dalam pembaharuannya," tutur Gajahmada layaknya pendeta arif. "Suatu masa nanti, mungkin saat kita sudah tiada, jarak lautan tidak lagi menjadi pembatas. Di saat itulah terjadi pelunturan warna pikiran dan pandangan hidup. Siapa yang paling kuat coraknya, dialah yang akan menjadi panutan sebagai corak baru di bumi ini."

"Ternyata tidak sia-sia aku menjumpaimu di Tanah Lamajang ini. Benarlah apa yang dikatakan Pendeta Gunakara tentang dirimu, bahwa Guru sucinya, Damyang Dalai Lama, telah menitis dalam dirimu," puji Putu Risang.

Gajahmada hanya tersenyum tipis. Kini, Putu Risang tidak lagi melihatnya sebagai seorang ksatria, melainkan sebagai guru suci yang memiliki penglihatan melampaui akal.

"Rangga Seta bukan milik kita, melainkan milik Sang Abadi yang sejatinya adalah gurunya."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment