Chapter 166
"Kalian masih dapat terus berlatih meningkatkan kemampuan yang kalian miliki. Hari ini kulepaskan kalian kembali ke kesatuan masing-masing agar dapat menularkan apa yang pernah kalian dapati di lingkungan kalian," ucap Patih Gajah Mada pada suatu hari, mengakhiri masa penempaan itu.
"Terima kasih atas semua petunjuk yang Tuan Patih berikan kepada kami. Bila ada waktu, kami masih ingin terus berada dalam bimbingan Tuan Patih," ujar salah satu prajurit perwira mewakili kawan-kawannya.
"Aku akan mendatangi kesatuan kalian masing-masing, melihat dan menilai sejauh mana perkembangan kemampuan di kesatuan kalian," jawab Patih Gajah Mada kepada kesepuluh prajurit perwira itu.
Demikianlah, hari itu Patih Gajah Mada telah melepas kesepuluh prajurit perwira itu kembali ke kesatuan masing-masing, dengan harapan mereka menularkan semua tempaan yang pernah mereka jalani kepada para prajurit mereka.
Sejak hari itu, Patih Gajah Mada melihat kesungguhan di setiap kesatuan prajurit yang ada di Kerajaan Kahuripan untuk meningkatkan kemampuan masing-masing.
Sesuai dengan yang pernah dikatakannya, Patih Gajah Mada di sela-sela tugasnya sebagai seorang patih di Kerajaan Kahuripan menyempatkan waktunya menyambangi kesatuan prajurit untuk melihat dan menilai perkembangan kemampuan mereka. Bahkan, dalam sebuah kesempatan, ia melakukan latihan gabungan yang melibatkan berbagai kesatuan, mulai dari mengenal ragam cara bertempur secara berkelompok, memahami berbagai jenis gelar peperangan, hingga memahami beragam siasat peperangan.
"Ternyata aku tidak salah memilih dirimu, wahai putraku," ucap Ibunda Ratu Gayatri kepada Gajah Mada, yang telah dianggap sebagai putranya sendiri saat melihat langsung latihan gabungan para prajurit yang dilakukan di tempat terbuka, di alun-alun Kotaraja Kahuripan.
"Hamba masih perlu bimbingan Nyimas Kanjeng Ratu," sahut Gajah Mada kepada Ibunda Ratu Gayatri.
"Ternyata suamiku, Baginda Raja Sanggrama Wijaya, benar perkataannya tentang dirimu. Kamu adalah anak muda yang sangat cakap. Pada suatu masa, aku akan melepasmu, meninggalkan kerajaan kecil ini untuk melaksanakan tugas yang jauh lebih besar lagi, menjadi seorang Patih Amangkubumi di pusat kerajaan ini, di istana Kerajaan Majapahit," ujar Ibunda Ratu Gayatri kepada Patih Gajah Mada.
"Hamba masih perlu banyak bimbingan dari Nyimas Kanjeng Ratu," ujar Patih Gajah Mada dengan penuh rasa hormat.
"Sebagaimana suamiku, aku juga berharap yang sama. Kami berharap agar dirimu menjadi penjaga dan penuntun putra-putriku di saat mata dan langkahku sudah tidak bisa lagi mengawasi mereka," tutur Ibunda Ratu Gayatri kepada Gajah Mada.
"Harapan Baginda Raja Sanggrama Wijaya dan Nyimas Kanjeng Ratu adalah titah yang akan hamba jalani dengan segenap hati, jiwa, dan raga hamba," jawab Gajah Mada.
JILID 13
Langit pagi di atas bumi Kahuripan bertabur cahaya kuning keemasan yang menebar merata dari matahari yang terlihat bulat penuh di ujung timur bumi. Terlihat lima orang penunggang kuda berpacu di atas jalan tanah, menjauhi Kota Tua Kahuripan menuju arah Gunung Penanggungan. Semilir angin pagi menyapu wajah dan menerbangkan rambut para penunggang kuda itu, sementara sang mentari di sebelah kiri mereka seolah terus mengikuti setiap gerak langkah kuda mereka. Cahaya mentari pagi menerpa wajah kelima penunggang kuda yang terdiri dari dua wanita dan tiga pria tersebut.
Menilik perlengkapan yang mereka bawa, mereka tampak seperti pemburu. Sementara pakaian yang dikenakan layaknya orang biasa pada umumnya yang berbahan kasar. Penilaian sebagai pemburu biasa itulah yang ingin mereka tunjukkan kepada setiap orang, hingga tidak seorang pun menduga bahwa mereka adalah penghuni istana Kahuripan. Dua wanita yang bersama mereka adalah Biksuni Andini dan Putri Dyah Wiyat, sementara pemuda tanpa pengikat kepala adalah Patih Gajah Mada. Dua orang lelaki yang selalu berkuda di belakang mereka adalah dua pelayan istana Kahuripan.
Sebagaimana kebiasaan para bangsawan pada umumnya saat itu, berburu adalah hiburan yang menyenangkan hati. Pagi itu, mereka memacu kuda menuju hutan di timur Gunung Penanggungan, sebuah hutan yang sangat baik untuk berburu karena masih liar dengan beragam jenis binatang buruan yang cukup banyak. Jarak hutan tersebut tidak begitu jauh dari Kotaraja Kahuripan; matahari pagi di sisi kiri mereka baru bergeser sejajar dengan bahu saat langkah kuda mereka mendekati kaki Gunung Penanggungan yang rimbun dan hijau.
Cahaya matahari tertahan rimbunnya hutan, dan kelimanya telah memasuki bagian dalam hutan liar itu. Semakin masuk ke dalam, semakin sukar perjalanan yang harus dilalui, sehingga memaksa mereka turun dan menuntun kuda masing-masing. Terlihat Biksuni Andini dan Putri Dyah Wiyat tampak sering dan terbiasa melintasi pedalaman hutan timur di kaki Gunung Penanggungan itu.
"Sebentar lagi kita sampai di rumah singgah," kata Biksuni Andini kepada Gajah Mada yang baru pertama kali memasuki pedalaman hutan tersebut.
Ternyata rumah singgah yang dimaksud Biksuni Andini memang terlihat, sebuah rumah sederhana yang sengaja dibangun sebagai tempat bermalam bagi keluarga istana Kahuripan saat melakukan perburuan.
Sore hari di hutan perburuan, Gajah Mada, Biksuni Andini, dan Dyah Wiyat menjelajahi hutan. Mereka terpisah dalam jarak yang tidak begitu jauh saat menyisir hutan mencari binatang buruan. Hari itu, keberuntungan berpihak pada Dyah Wiyat; seekor rusa jantan terlihat berada di tepi sungai dangkal. Sebagai putri istana yang sering diajak berburu, Dyah Wiyat memahami beberapa larangan, antara lain tidak boleh memanah binatang dari arah belakang dan dilarang membunuh binatang yang sedang minum. Terlihat Dyah Wiyat telah menarik busurnya, menunggu hingga rusa itu merasa dahaga dan meminum air sungai yang jernih.
*Jepp!*
Anak panah Dyah Wiyat meluncur dengan kencang, bersamaan saat rusa itu mengangkat kepalanya, tepat menembus pelipis atas kepala hewan tersebut. Gembira hati Dyah Wiyat membayangkan dirinyalah yang pertama kali mendapatkan hasil buruan sore itu. Gadis cantik itu berlari menyeberangi sungai dangkal berbatu untuk mendekati buruannya. Namun, saat sampai di seberang, ia terkejut melihat seorang pemuda juga tengah mendekati rusa tersebut.
"Rusa ini adalah milikku, panahku telah mematikannya," kata Dyah Wiyat kepada pemuda itu.
"Panahku telah menembus jantungnya, itu artinya rusa ini adalah milikku," sahut pemuda itu sambil menunjuk anak panah yang menancap tepat di jantung rusa yang sudah tidak berdaya.
Seketika itu juga, Dyah Wiyat melihat anak panah yang bukan miliknya tertancap di dada rusa itu.
"Panahku telah menembus kepalanya!" kata Dyah Wiyat tidak mau menyerah.
"Panahku juga telah menembus jantungnya!" balas pemuda itu tidak mau mengalah.
"Kita tentukan dengan adu kepalan," tantang Dyah Wiyat.
"Apa maksudmu dengan adu kepalan?" tanya pemuda itu kebingungan.
"Maksudku kita bertanding, siapa yang kepalannya pertama kali menyentuh tubuh, dialah yang berhak memiliki rusa ini," tegas Dyah Wiyat.
"Pantang bagiku memukul seorang wanita," kata pemuda itu dengan wajah penuh keraguan.
"Bila demikian, rusa ini milikku karena kamu tidak mau bertanding melawanku," kata Dyah Wiyat sambil mencoba melangkah mendekati rusa itu.
"Gadis keras kepala, aku akan memenuhi permintaanmu," ujar pemuda itu, khawatir rusa tersebut akan dibawa pergi.
Mendengar perkataan pemuda itu, Dyah Wiyat berhenti melangkah dan memandang ke arah pemuda itu.
"Bukankah kamu pantang memukul seorang wanita?" tanya Dyah Wiyat sambil tersenyum.
"Hari ini biarlah kulanggar pantanganku. Bukankah hanya memukul dengan kepalan tangan dan tidak sampai mencelakai dirimu?" balas pemuda itu sambil tersenyum, mengetahui perkataan gadis itu hanya untuk menyudutkannya.
"Dalam sebuah pertandingan, kadang kepalan tangan tidak bermata. Jangan salahkan bila kepalanku akan mencelakai dirimu," kata Dyah Wiyat sambil berdiri tegak dengan kuda-kuda siap bertanding.
"Gadis keras kepala, kuberi kesempatan dirimu menyerang lebih dulu," ujar pemuda itu bersiap menerima serangan.
"Hem," hanya suara itu yang terdengar dari Dyah Wiyat yang langsung menerjang pemuda tersebut.
Bukan main terkejutnya pemuda itu melihat serangan yang kuat dan cepat mengarah ke tubuhnya. Tampaknya Dyah Wiyat ingin menunjukkan bahwa dirinya bukan wanita biasa. Namun, pemuda itu ternyata juga bukan sosok biasa, terlihat dari gerakannya yang begitu gesit mengelak. Melihat serangan pertamanya dapat dengan mudah dihindari, Dyah Wiyat melanjutkan dengan serangan berikutnya. Kembali pemuda itu dapat menghindari serangan Dyah Wiyat untuk kedua kalinya. Serangan ketiga, keempat, dan seterusnya masih saja dapat dihindari oleh pemuda itu.
"Apakah kamu hanya bisa menghindar?" tanya Dyah Wiyat sambil terus menyerang.
"Hati-hati dengan seranganku," sahut pemuda itu yang kemudian melakukan serangan balasan untuk pertama kalinya.
"Bagus, ternyata kamu bisa juga menyerang wanita," kata Dyah Wiyat sambil tersenyum, merasa berhasil memancing pemuda itu melakukan serangan balasan.