Chapter 50
"Terima kasih telah mengampuni jiwa hamba dan keluarga hamba. Semua perintah Tuanku akan segera hamba laksanakan," ujar Tumenggung Yasakala sambil bersujud di hadapan Gajah Mada, merasa gembira bahwa anak muda itu telah mengampuni dirinya beserta keluarganya.
"Ingatlah, aku akan selalu mengawasimu," kata Gajah Mada sambil berbalik badan dan berjalan menjauhi Tumenggung Yasakala.
Bukan main terkejutnya hati Tumenggung Yasakala manakala melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa anak muda itu berkelebat dengan sangat cepat seperti bayangan hitam yang menghilang dari pandangan.
Hebohlah para warga Kahuripan manakala mereka melihat sendiri puluhan gerobak berisi padi dan jagung memasuki padukuhan mereka. Dengan penuh sukacita, para warga padukuhan itu menerima bantuan yang ternyata berasal dari Tumenggung Yasakala.
"Tumenggung Yasakala telah bermurah hati dengan memberikan kembali apa yang telah diambil dari kita," kata seorang petani kepada istrinya.
"Kita tidak perlu lagi mencari kimpul untuk tambahan makanan anak-anak kita," sahut istri petani itu dengan wajah berkaca-kaca penuh kegembiraan.
Sementara itu, di sebuah jalan padukuhan yang masih berada di wilayah Kahuripan, seorang pemuda tersenyum di atas kudanya. "Tumenggung Yasakala telah memenuhi janjinya," ujar pemuda itu yang tidak lain adalah Gajah Mada. Hembusan angin siang itu menerbangkan rambutnya, menyejukkan hati dan perasaannya.
Rembulan tergantung di atas danau yang tenang tanpa angin. Kegelapan malam menebarkan sepi manakala Gajah Mada menambatkan tali kudanya di sebuah pohon yang baru tumbuh di tepi danau itu.
"Aku ada untuk apa?" ucap Gajah Mada sambil memandang bulan bulat terang di antara langit malam. Ia bersandar di batang pohon yang rindang, sementara lamunannya terbang jauh menyusuri perjalanan hidupnya; dimulai dari masa kecil bersama ibunya, Nyi Nari Ratih, ayah angkatnya Patih Mahesa Amping, hingga Pendeta Gunakara dari Tibet.
"Mereka semua telah memberiku cinta kasih yang utuh," batin Gajah Mada sambil menarik napas panjang. Ia membayangkan wajah tiga orang yang pernah ada di sisinya, yang dengan penuh kasih sayang telah membimbingnya mengenal kepelikan rahasia kehidupan. "Mereka telah memberiku cinta dan harapan. Semoga aku tidak mengecewakan mereka," tambahnya dalam hati, seolah kembali meneguhkan jati diri dan arah tujuan hidupnya. "Baginda Raja Sanggrama Wijaya telah memberikan kepercayaan yang tinggi kepadaku untuk membawa bahtera Majapahit ke lautan yang jauh," lanjutnya sambil meraba gagang keris Nagasasra yang terselip di pinggang.
Kesendirian Gajah Mada terjaga manakala ia mendengar suara lolongan anjing liar di sekitar hutan. Matanya memandang ke arah kuda yang gelisah. "Kegelisahan dan kegembiraan datang dan pergi dalam setiap jiwa. Itulah kesempurnaan cinta kasih Gusti yang Maha Agung agar setiap jiwa dapat menyadari kekerdilan dan kelemahannya menghadapi alam yang penuh rahasia," ucap anak muda itu sambil mencoba menembus kegelapan hutan dengan matanya yang tajam.
Namun, Gajah Mada tidak menemukan apa pun. "Anjing-anjing liar itu telah pergi jauh," batinnya melihat kudanya yang kembali berbaring. "Perjalananku ke tempat Ki Gede Bajra Seta masih sangat jauh," gumamnya, lalu memejamkan mata sambil berbaring di batang kayu besar di pinggir danau.
Malam berlalu dalam sepi. Saat matahari pagi menerangi kejernihan air danau, seekor ular air meliuk-liuk di tengah danau, dan kawanan burung kecil melintas terbang. "Pagi yang indah," sapa Gajah Mada sambil mengusap kepala kudanya. Tidak lama kemudian, ia berlalu meninggalkan danau di bawah perbukitan hijau tersebut.
Perlahan, angin mengusap wajahnya saat ia memasuki jalan utama yang biasa digunakan para pedagang dan pengembara menuju Kademangan Simpang, tempat persinggahan bagi mereka yang hendak menuju Kotaraja Singasari maupun Kediri.
Ketika matahari bergeser dari puncaknya, Gajah Mada telah memasuki wilayah Kademangan Simpang. "Masih ada kedai yang buka," batinnya melihat sebuah kedai di tengah pasar. Seorang pekatik muda menghampirinya untuk menjaga kuda tersebut.
Gajah Mada menyapu pandangan ke arah pengunjung kedai yang didominasi oleh para pedagang dan pengembara. Setelah memilih tempat duduk, seorang pelayan tua datang menghampirinya. Sembari menunggu pesanan, telinga Gajah Mada menangkap pembicaraan dua pedagang di dekatnya.
"Di Hutan Kemiri ada sekelompok perampok, namun sejauh ini tidak ada perhatian dari pihak kerajaan," ujar seorang pedagang.
"Mungkin karena lokasinya berada di antara Kediri dan Singasari, masing-masing merasa itu bukan wewenangnya," sahut kawannya.
"Setidaknya perihal keberadaan mereka seharusnya sudah didengar oleh Ki Gede Bajra Seta," ujar pedagang pertama.
"Menurutku, Ki Gede Bajra Seta sudah tidak lagi memikirkan masalah keamanan; ia terlalu sibuk menumpuk harta kekayaan," timpal kawannya.
Gajah Mada, yang mengenal Ki Gede Bajra Seta dari cerita ayah angkatnya, Mahesa Amping, merasa panas mendengar percakapan itu. "Seandainya Mahesa Darma mendengar ini, aku tidak tahu apa yang akan dilakukannya," batin Gajah Mada, teringat pada putra Ki Gede Bajra Seta yang menjadi perwira di Singasari.
Tiba-tiba, seorang pemuda tampan berdiri dan menghampirinya. Pemuda itu menatap dengan senyum ramah. "Bukankah kamu Gajah Mada yang datang ke Kotaraja Singasari bersama pemimpin pengawal pasukan Majapahit?"
Gajah Mada berdiri dan menatap pemuda itu. "Mahesa Darma," sapanya penuh kehangatan. Mereka pun menjadi akrab, mengingat keduanya memiliki garis perguruan dan kepribadian yang serupa. Mahesa Darma kemudian bergabung di meja Gajah Mada.
"Jika demikian, kita bisa bersama-sama menuju Padepokan Bajra Seta," usul Mahesa Darma saat mendengar tujuan perjalanan Gajah Mada. Gajah Mada merasa senang karena tidak perlu lagi bersusah payah mencari arah.
Ketika dua pedagang tadi pergi, Gajah Mada heran Mahesa Darma tidak bereaksi atas penghinaan terhadap ayahnya. "Apakah kamu memikirkan pembicaraan pedagang tadi?" tanya Mahesa Darma.
Gajah Mada terperanjat. "Benar, aku membayangkan tindakan yang seharusnya kamu lakukan terhadap mereka," jawab Gajah Mada.
"Apa yang dilakukan ayahku tidak bertujuan untuk mendatangkan pujian atau penghargaan. Yang dilakukannya hanya sebatas naluri kemanusiaan sebagai seseorang yang dikaruniai kelebihan dari orang kebanyakan."