Chapter 193
Bayangan putih itu terlihat semakin jelas. Ternyata bayangan putih itu adalah sosok manusia yang berjubah layaknya seorang pendeta yang meluncur di atas air tanpa alat apa pun. Sungguh sebuah ilmu meringankan tubuh yang amat sempurna yang dipertunjukkan oleh pendeta berjubah putih itu.
Perlahan, Patih Gajah Mada berdiri dengan pandangan mata tak berkedip sedikit pun. Ternyata sang pendeta berjubah putih yang sangat sempurna ilmu meringankan tubuhnya itu memang tengah menuju ke arahnya.
"Selamat datang, wahai putra angkat Patih Mahesa Amping yang perkasa," ujar pendeta berjubah putih itu manakala telah berada di hadapan Patih Gajah Mada.
Mulut Patih Gajah Mada seperti terbungkam, matanya menatap wajah pendeta tua itu seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Kamu tidak tengah berada di alam mimpi, wahai kemenakanku yang perkasa," ujar pendeta tua itu dengan wajah dan senyum penuh ketulusan hati.
Setelah ditegur dua kali, Patih Gajah Mada masih terdiam seribu bahasa.
"Apakah wajahku ini begitu menakutkan dirimu, wahai ksatria penjaga Majapahit yang perkasa?" tanya kembali pendeta tua itu dengan wajah penuh senyum menyejukkan hati.
"Jadi, aku ini tidak tengah bermimpi?" hanya itu suara yang keluar dari mulut Patih Gajah Mada bertanya kepada pendeta tua itu.
"Benar, ini bukan mimpimu, Anak Muda," sahut pendeta tua itu sambil mengangguk perlahan dengan senyum yang menyejukkan.
Wajah pendeta tua dengan rambut tergulung rapi itu masih tersenyum memandang wajah Patih Gajah Mada yang terlihat masih tercengang. Pendeta tua dengan wajah jernih penuh kasih itu tetap terdiam manakala Patih Gajah Mada tiba-tiba saja langsung menubruk dan memeluknya rapat-rapat.
"Empu Nambi?" hanya itu yang terdengar lirih keluar dari mulut Patih Gajah Mada yang masih begitu erat memeluknya, seakan takut sosok itu hilang dari dekapannya.
Ternyata lelaki tua berjubah pendeta itu adalah Empu Nambi. Semula Patih Gajah Mada ragu karena tersiar kabar Empu Nambi telah tewas terbunuh oleh Dyah Halayuda.
"Aku tidak seperti yang dipersangkakan oleh semua orang. Bukankah kamu lihat sendiri bahwa hari ini aku masih dapat bercakap-cakap denganmu?" ujar Empu Nambi seolah dapat membaca pikiran Patih Gajah Mada saat itu.
Terlihat mereka duduk bersama di atas rumput hijau di tepian Ranu Pane. Semilir angin di siang itu begitu terasa sejuk menyapu wajah mereka berdua. Setelah puas bercerita tentang keadaan masing-masing, Patih Gajah Mada mengutarakan tugasnya untuk menghentikan gerakan kelompok Ki Sadeng.
"Sungguh Mahapatih Arya Tadah telah bertindak sangat tepat, memadamkan api saat belum menjadi besar," ujar Empu Nambi menyetujui langkah-langkah yang diambil oleh penerusnya tersebut.
"Kami para orang tua akan merasa bangga bahwa cara pandang kalian sungguh begitu jauh. Kami merasa yakin, kemapanan Majapahit ini akan menjadi langgeng dan kuat tak tergoyahkan di tangan kalian para generasi muda," lanjut Empu Nambi.
"Semua atas bimbingan kalian, para orang tua," balas Patih Gajah Mada penuh rasa hormat.
"Nampaknya Baginda Raja Sanggrama Wijaya tidak salah memilihmu, menitipkan keris Nagasasra di tanganmu," ujar Empu Nambi sambil memandang keris Nagasasra yang terselip di pinggang Patih Gajah Mada.
"Baginda Raja Sanggrama hanya menitipkannya kepadaku untuk diserahkan kepada putranya yang berhak," jawab Patih Gajah Mada.
"Apa yang dipesankan oleh Baginda Raja Sanggrama Wijaya manakala menyerahkan keris itu kepadamu?" tanya Empu Nambi dengan wajah berseri-seri.
"Baginda Raja Sanggrama Wijaya mengatakan bahwa keris Nagasasra adalah milik para raja di Jawadwipa ini. Siapa pun yang menguasai keris ini berhak mewarisi takhta singgasananya," ungkap Patih Gajah Mada.
"Ternyata Baginda Raja Sanggrama Wijaya begitu jernih hatinya, telah dapat membaca apa yang terjadi jauh melampaui masa depan kerajaan ini. Pilihan Baginda sangat tepat, engkaulah raja di bumi Majapahit ini," ucap Empu Nambi dengan pandangan mata penuh kesungguhan.
"Aku bukan raja, aku hanya seorang patih dari Daha," sanggah Patih Gajah Mada.
"Kamu akan menjadi seorang raja besar, melampaui kebesaran para leluhur raja-raja di Jawadwipa ini," tegas Empu Nambi.
"Aku bukan raja, aku hanya seorang patih dari Daha," ulang Patih Gajah Mada.
"Seorang raja besar adalah pengendali yang perkataan dan tindakannya melahirkan kedamaian, kedaulatan, dan kemakmuran yang merata kepada seluruh umat. Takhta dan singgasana adalah kekuatan diri yang memancarkan rasa penghormatan dan ketaatan. Dan engkaulah pemilik anugerah wahyu keraton itu," ujar Empu Nambi.
"Makna perkataan Empu Nambi begitu dalam, semoga aku dapat memegang amanat besar ini. Makna perkataan Empu Nambi semoga dapat menjadi pusaka yang akan terus kujaga," ucap Patih Gajah Mada dengan penuh penghormatan.
"Tengoklah sekumpulan bangau putih yang tengah berenang di kejernihan air Ranu Pane itu. Mereka tinggal dalam sarang yang sama, mencari makan bersama. Mereka saling melindungi dan saling menjaga," kata Empu Nambi sambil memandang sekumpulan bangau putih di permukaan air.
"Gusti yang Maha Agung telah banyak menurunkan ayat-ayat sucinya bagi pengajaran umat manusia lewat alam yang maha luas ini," ucap Patih Gajah Mada, ikut menyelami jalan pikiran sang pendeta suci yang dulu pernah menjadi pemimpin perguruan Teratai Putih tersebut.
"Sungguh, hari ini aku telah bertemu dengan seorang anak muda yang terbuka hati dan pikirannya. Engkau telah dapat membawa kitab Tatwa yang hanya dapat dibaca oleh para brahmana ke mana pun dirimu berada. Engkau telah dapat membaca kitab yang tak berhuruf itu, engkau telah dapat mendengar wahyu yang tidak berbunyi itu. Maha Suci Gusti Agung yang telah menjodohkan diriku hari ini bertemu denganmu di tempat yang indah ini," tutur Empu Nambi penuh sukacita.
"Perkataan Empu Nambi adalah pembenaran dari jalan hidup yang telah kujalani selama ini. Pembenaran Empu Nambi adalah penuntun tali jiwa yang akan kujadikan pedoman hidupku, hari ini dan selamanya," ujar Patih Gajah Mada dengan penuh rasa terima kasih yang tulus.
"Ternyata perjodohan pertemuan kita sampai di sini, bangau-bangau putih itu terlihat telah segar bermain di kolam besar ini," kata Empu Nambi sambil berdiri perlahan. Namun, hanya dalam hitungan satu kedipan mata, Empu Nambi sudah tidak berada di tempatnya.
Patih Gajah Mada tersenyum menyaksikan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi yang diperlihatkan oleh Empu Nambi. "Dalam kesendiriannya, orang tua itu telah meningkatkan ilmunya semakin tinggi," batinnya.
Patih Gajah Mada kemudian melangkah menjauhi Ranu Pane menuju arah Lamajang. Matahari terlihat sudah merayap turun ke barat manakala langkah kakinya tiba di ujung Kademangan Pronojiwo, kademangan pertama di Kadipaten Lamajang.
"Di kademangan inilah kabarnya pasukan gabungan Empu Nambi membantai pasukan Majapahit yang dipimpin langsung oleh Dyah Halayuda," pikir Patih Gajah Mada saat memasuki Kademangan Pronojiwo. Jalan utama kademangan terlihat masih cukup ramai, namun Patih Gajah Mada tidak berniat singgah dan terus melangkah.
Akhirnya, manakala sang surya telah bersembunyi di punggung Gunung Semeru, langkah kaki Patih Gajah Mada telah mendekati istana Kadipaten Lamajang. Tidak seorang pun prajurit pengawal yang tidak mengenal Patih Gajah Mada. Begitu ia muncul di gerbang istana, dua orang prajurit segera menyambutnya.
"Selamat datang di istana Lamajang," sapa salah seorang prajurit.
"Tuan tidak berkuda?" tanya prajurit yang lain.
"Berkuda dapat mengurangi keindahan bumi Lamajang," jawab Patih Gajah Mada.
Demikianlah, Patih Gajah Mada diantar oleh kedua prajurit itu ke pendapa istana Lamajang.
"Pantas saja sang surya cepat menjadi senja, ternyata ada bintang jatuh di bumi Lamajang ini," ujar Adipati Menak Koncar menyambut kedatangan Patih Gajah Mada di pendapanya.
"Senang berjumpa dengan putra Empu Nambi yang perkasa," balas Patih Gajah Mada. Setelah menyampaikan salam keselamatan, Patih Gajah Mada dipersilakan untuk membersihkan diri.
Sementara itu, wajah bumi Lamajang perlahan semakin suram. Kelelawar malam terbang di atas wuwungan rumah dan lapangan terbuka. Perlahan, gelap malam menyelimuti bumi Lamajang. Malam itu, setelah bersih diri dan menikmati jamuan makan malam, Patih Gajah Mada langsung menceritakan maksud kedatangannya.
"Selama ini, jalur Lamajang dan Blambangan adalah jalur tak bertuan. Aku dapat memaklumi kekhawatiran Mahapatih Arya Tadah bahwa jalur itu akan berkembang sebagai kekuatan baru yang mungkin saja dapat memecahkan kesatuan bumi Majapahit," ujar Adipati Menak Koncar.
"Permasalahannya, Ratu Tribuana bersama para Bhatara Prabu di istana Majapahit belum melihatnya sebagai sebuah ancaman," jawab Patih Gajah Mada.