Chapter 186
Beberapa orang penebang kayu lainnya sempat melihat kejadian yang menimpa kedua kawannya itu, lalu segera berlari mengepung orang bercaping lebar tersebut.
"Apakah kalian akan mengeroyokku?" tanya orang bercaping itu kepada para penebang kayu yang mengepungnya.
"Kami akan mencacah tubuhmu sebagaimana kami mencacah kayu," sahut seorang lelaki bertubuh tinggi besar dan kekar dengan otot-otot yang menonjol kuat.
"Sebaiknya kalian kembali bekerja. Aku hanya memiliki urusan dengan pimpinan kalian," ujar orang bercaping itu dari balik selembar kain hitam yang menutupi hampir seluruh wajahnya.
"Orang itu adalah pimpinan kami. Hadapi kami sebelum kamu bisa menyentuhnya," tantang lelaki bertubuh kekar itu sambil menunjuk ke arah orang bercaping tersebut.
"Bagus, tampaknya kalian sangat setia kepada pimpinanmu," balas orang bercaping itu dengan tatapan mata yang tajam berkilat-kilat.
"Mari kawan-kawan, kita cincang orang sombong ini!" seru lelaki bertubuh kekar itu.
Tiga belas kapak besi berkilat tajam langsung diayunkan bersama-sama, seolah hendak mencacah tubuh orang bercaping itu. Namun, tanpa terlihat bergerak sedikit pun, tiba-tiba ketiga belas pekerja itu terlempar ke belakang. Beberapa orang terlihat lebam kebiruan di wajahnya, sementara yang lain mengerang kesakitan karena tulang rusuk mereka terasa remuk.
"Kuperingatkan kepada kalian, jangan mencampuri urusan pribadiku dengan orang ini, atau kalian akan binasa sia-sia di Hutan Sastrawulan," ancam orang bercaping itu.
Ancaman tersebut rupanya cukup efektif. Para pekerja yang telah merasakan kesaktian orang itu tidak berani menyerang lagi, bahkan saat orang bercaping tersebut mengangkat tubuh Kuda Jenar ke atas pundaknya dengan begitu ringan. Mereka hanya terdiam ketika orang bercaping itu melangkah pergi.
Namun, sebelum orang itu menjauh, seorang lelaki tua tiba-tiba muncul.
"Ki Agung Ngrayun?" bisik salah seorang pekerja kepada kawannya.
"Semoga pertapa sakti itu dapat merebut kembali putranya," jawab kawannya sambil memijat rusuknya yang masih terasa ngilu.
"Hendak kamu bawa ke mana putraku?" tanya lelaki tua itu yang ternyata adalah Ki Agung Ngrayun.
Orang bercaping itu tampak menyadari bahwa lawan bicaranya bukanlah orang sembarangan. Getar suara Ki Agung Ngrayun jelas telah dilambari tenaga sakti sejati yang sangat tinggi. Perlahan, orang bercaping itu berbalik dan meletakkan tubuh Kuda Jenar yang masih pingsan ke tanah.
"Ternyata aku berhadapan dengan seorang pertapa dari daerah Ngrayun," ujar orang bercaping itu dengan mata tajam menatap Ki Agung Ngrayun.
"Bagus, kamu sudah mengenal siapa aku," kata Ki Agung Ngrayun sambil melangkah mendekat.
"Siapa yang tidak mengenal pertapa sakti dari Padepokan Ngrayun?" sahut orang bercaping itu.
"Tinggalkan putraku, maka aku tidak akan memperhitungkan tindakanmu yang membuatnya pingsan," tegas Ki Agung Ngrayun.
"Aku memiliki sedikit urusan dengan putramu. Aku berjanji akan mengembalikannya kepadamu tanpa luka sedikit pun," balas orang bercaping itu.
"Bagaimana mungkin aku bisa memercayai orang yang tidak kukenal? Aku akan merebutnya darimu, dengan cara apa pun," ujar Ki Agung Ngrayun.
"Apakah itu sebuah ancaman?" tanya orang bercaping itu dengan suara yang penuh ketenangan dan kepercayaan diri tinggi.
"Terserah kau artikan apa," jawab Ki Agung Ngrayun yang mulai tidak sabar melihat kondisi putranya.
"Terserah pula apa pun yang Ki Agung Ngrayun lakukan, aku tetap akan membawa putramu ini," tandas orang bercaping itu.
"Ternyata aku berhadapan dengan orang yang pandai bicara," sindir Ki Agung Ngrayun.
"Orang Wengker memang tidak suka banyak bicara," balas orang bercaping itu seolah ingin menguji kesabaran lawannya.
"Kamu benar," jawab Ki Agung Ngrayun.
Selesai berkata demikian, Ki Agung Ngrayun melenting seperti terbang, diiringi suara tongkatnya yang berdengung karena diputar dengan sangat cepat.
"Serangan tongkat yang dahsyat," puji orang bercaping itu sambil bergeser ke kanan dan berputar.
Ki Agung Ngrayun terperanjat karena serangan pertamanya yang cepat dan berilmu tinggi itu dapat dihindari dengan mudah. Namun, saat orang bercaping itu membalas dengan gerakan tangan ke arah pinggangnya, Ki Agung Ngrayun tidak tinggal diam. Ia justru mengarahkan tongkatnya ke pinggang orang bercaping itu dengan arah berlawanan.
"Langkah yang hebat," seru orang bercaping itu sambil bergeser ke depan dan melancarkan serangan balasan berupa tendangan kaki.
Ki Agung Ngrayun mundur tiga langkah dengan mata terbelalak.
"Hebat! Jarang sekali ada orang yang bisa memecahkan jurusku dengan mudah," aku Ki Agung Ngrayun dengan jujur.
Seperti seorang bocah yang mendapatkan mainan baru, Ki Agung Ngrayun kembali menyerang dengan kecepatan berlipat ganda. Namun, semua jurus dan langkah serangannya selalu berhasil dipatahkan oleh orang bercaping itu dengan cara yang di luar perhitungan. Hingga ratusan jurus berlalu, Ki Agung Ngrayun belum juga mampu menundukkan lawannya.
Para pekerja yang menyaksikan pertempuran itu tercengang; mata mereka mulai kabur karena kecepatan gerakan kedua orang tersebut.
"Beruntung orang bercaping itu masih berbelas kasih," gumam seorang pekerja.
"Kemampuan Ki Agung Ngrayun tampaknya tidak lebih tinggi dari orang bercaping itu," timpal yang lain.
Ki Agung Ngrayun sendiri mulai mengerahkan tenaga sakti sejatinya, menciptakan hawa panas yang menyengat hingga rumput dan ilalang di sekitar mereka hangus terbakar. Namun, orang bercaping itu tampak tidak terganggu sedikit pun. Ia terus bergerak dengan langkah-langkah ajaibnya.
Perlahan, Ki Agung Ngrayun mulai merasakan serangan hawa dingin berdesir dari lawannya. Ia terbelalak melihat rumput yang terbakar tiba-tiba padam terkena sambaran hawa dingin tersebut. Kini giliran Ki Agung Ngrayun yang mulai terganggu dan terpaksa menjaga jarak.
"Gila, orang ini memiliki tenaga inti sejati yang sukar diukur puncaknya," batin Ki Agung Ngrayun saat merasakan hawa dingin yang membeku mulai mengepungnya.
Sementara itu, para pekerja yang masih menyaksikan pertempuran itu membelalakkan mata melihat kabut tipis mulai keluar dari tubuh orang bercaping tersebut.