Chapter 149
Mereka sudah beradu pandang satu dengan yang lainnya.
"Aku akan tetap membawamu, baik dengan rela hati maupun dengan cara paksa," kata Gajahmada sambil berdiri membiarkan ujung cambuknya terjurai menyentuh bumi.
"Pasukanmu sangat sedikit, sebentar lagi pasti akan tergulung," sahut Mahapatih Dyah Halayuda.
"Jangan berbesar hati, ada banyak kawan kami di luar yang akan bergabung bermain di halaman rumahmu ini," ujar Gajahmada dengan pandangan tetap ke arah Mahapatih Dyah Halayuda seolah takut sasarannya itu melarikan diri.
Belum habis Gajahmada berbicara, terlihat pasukan lain memasuki halaman rumah Mahapatih Dyah Halayuda dan langsung mengepung pihak musuh. Ternyata mereka adalah para petugas telik sandi dan pasukan Srikandi yang sudah beberapa hari berjaga-jaga di sekitar kediaman Mahapatih Dyah Halayuda. Nampaknya, mereka sengaja membiarkan pasukan Ikal-Ikalan Bang masuk ke halaman agar dapat mudah diserang dari arah belakang.
Terkejut bukan kepalang pasukan Ikal-Ikalan Bang saat mendapatkan serangan dari belakang. Dalam satu kali terjangan awal, beberapa orang sudah menjadi korban amukan pasukan yang baru datang itu. Melihat hal tersebut, nyali Mahapatih Dyah Halayuda menciut. Apalagi di hadapannya berdiri seorang anak muda yang punya kemampuan sangat tinggi dan pernah berhasil mengalahkannya dalam sebuah peperangan di Blambangan ketika dirinya masih menjadi pemimpin gerombolan.
"Jangan lari!" seru Gajahmada sambil menghentakkan cambuknya di udara sebagai peringatan kepada Mahapatih Dyah Halayuda yang sudah berbalik badan hendak melarikan diri. Suara cambuk yang memekakkan telinga di pagi itu mengejutkan Mahapatih Dyah Halayuda hingga ia berhenti sejenak. Namun, Gajahmada justru terpaku, tidak menyangka dengan apa yang dilihatnya.
Ternyata, saat Mahapatih Dyah Halayuda berbalik arah, ia tidak menyadari bahwa di hadapannya telah berdiri tiga orang prajurit Ikal-Ikalan Bang. Mahapatih Dyah Halayuda tidak menyangka bahwa tiga buah senjata trisula yang amat tajam meluncur dengan cepat dan menembus tubuhnya di dada, jantung, dan perut. Seketika itu juga Mahapatih Dyah Halayuda roboh dengan mata masih terbuka. Ia tewas di tangan tiga prajurit Ikal-Ikalan Bang, yaitu para prajurit gemblengannya sendiri.
"Tugas utama kami datang ke sini adalah untuk membunuhnya, dan seluruh dunia akan percaya bahwa tangan kalianlah yang telah membunuh orang ini," ujar salah seorang prajurit Ikal-Ikalan Bang yang nampaknya merupakan pemimpin dari mereka.
Tar, tar, tarr!
Tiga buah lecutan cambuk Gajahmada berturut-turut menyentuh dada ketiga prajurit pembunuh Mahapatih Dyah Halayuda. Mereka pun roboh ke tanah dan tidak mampu bergerak sedikit pun.
"Aku harus membantu kawan-kawan mengurangi jumlah musuh," batin Gajahmada.
Korban di pihak lawan terus berjatuhan akibat terkena ujung cambuk Gajahmada yang selalu tepat mengenai sasaran. Cambuk Gajahmada benar-benar seperti angin prahara; menyabet melingkar, menyilang, dan terkadang melecut. Tidak satu pun gerakannya luput. Tingkat kesaktian anak muda itu sudah sangat tinggi; getar ujung cambuknya menggelegar dan menciutkan hati siapa pun. Terkadang, sebelum ujung cambuk menyentuh tubuh lawan, sambaran anginnya saja sudah mampu merobohkan mereka.
Semua orang yang mengenal Gajahmada di halaman itu terpana, mengagumi kesaktian putra Nyi Nariratih tersebut. "Dengan hanya seorang diri, nampaknya Gajahmada dapat menggulung pasukan segelar sepapan," ujar seorang prajurit Srikandi. Dalam waktu singkat, jumlah prajurit Ikal-Ikalan Bang menyusut hingga tersisa sepuluh orang saja.
"Biarkan mereka lari," perintah Gajahmada kepada orang-orangnya yang hendak mengejar. Perintah itu membuat mereka mengurungkan niat. Gajahmada menyapu pandangannya ke seluruh halaman yang dipenuhi mayat. Pandangannya tertahan pada sesosok tubuh yang terbaring kaku bergelimang darah.
"Kudengar Empu Nambi tewas oleh tusukan trisula kembar Mahapatih itu dalam keadaan terikat tak berdaya," batin Gajahmada.
Tiba-tiba, pendengarannya yang tajam menangkap suara puluhan langkah kaki menuju gerbang. Saat itu pagi masih sangat remang, namun Gajahmada melihat sekumpulan celeng hutan memasuki halaman. Semua orang terpaku melihat kawanan celeng itu mengerumuni mayat Mahapatih Dyah Halayuda dan mencabik-cabik tubuhnya. Anehnya, mereka tidak menyentuh mayat lainnya.
"Kita tidak dapat menjemput Mahapatih Dyah Halayuda hidup-hidup," ujar salah seorang pengikut Gajahmada.
Namun, sebelum Gajahmada sempat menjawab, telinganya menangkap gemuruh suara ribuan prajurit di jalan. "Tutup pintu gerbang, kita akan menyelidiki apa yang tengah terjadi atas Kotaraja Majapahit ini," perintah Gajahmada.
Dari celah pintu kayu, Gajahmada mengintip ke luar. Jantungnya berdebar kencang melihat ribuan prajurit bergerak menuju istana Majapahit. Ia segera mengumpulkan pasukannya. "Nampaknya Kotaraja dan istana Majapahit akan segera dikuasai pasukan Tumenggung Ikal-Ikalan Bang. Aku akan segera menyelidiki keadaan istana, sementara kalian segera keluar dari Kotaraja dan bergabung dengan pasukan yang masih setia di Kabuyutan Bebander," perintahnya.
Gajahmada memisahkan diri untuk memantau situasi di istana, sementara pasukannya berangkat ke Kabuyutan Bebander. Ia tidak melewati jalan utama, melainkan melompati pagar dan wuwungan rumah-rumah penduduk. Dari atas sebuah bangunan, ia melihat ribuan prajurit Ikal-Ikalan telah menguasai Kotaraja. Suasana sunyi karena warga ketakutan. Gajahmada mencemaskan nasib Raja Jayanagara.
"Mudah-mudahan Adityawarman dan pasukannya telah dapat menyelamatkan Raja Jayanagara," batinnya.
Berbekal ilmu meringankan tubuh yang tinggi, Gajahmada menyelinap masuk ke istana tanpa sepengetahuan siapa pun. Ia melihat sebagian besar istana telah dikuasai musuh. Namun, ia melihat Puri Pasanggrahan Raja Jayanagara belum jatuh; pasukan Bhayangkara masih berjaga di sana. Gajahmada pun segera melesat mendekati dinding pagar puri tersebut.