Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 198

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 198

"Serahkan iring-iringan pedagang itu kepada kami," kata Rangga Mahesa Dharma kepada Patih Gajahmada.

"Baiklah, aku akan menunggu mangsa di sebelah timur wilayah ini," ujar Patih Gajahmada yang bersedia berbagi tugas dengan Rangga Mahesa Dharma.

Demikianlah, Rangga Mahesa Dharma bersama kelompoknya yang berjumlah sekitar dua puluh orang—sebagian besar adalah para cantrik dari Padepokan Bajra Seta yang memiliki kemampuan cukup tinggi dan telah matang dalam menghadapi berbagai pertempuran—terlihat telah keluar dari sarang persembunyian mereka.

Hingga manakala mereka berada di suatu tempat, Rangga Mahesa Dharma yang sangat menguasai wilayah itu meminta mereka berhenti.

"Kita tunggu mereka di sini," ujar Rangga Mahesa Dharma kepada kawanannya.

Tanpa menunggu perintah lain, orang-orang yang bersama Rangga Mahesa Dharma seolah telah mengetahui apa yang harus dilakukan. Mereka segera mencari tempat persembunyian masing-masing. Dalam waktu singkat, suasana kembali sunyi dan sepi, hanya sesekali terdengar suara burung-burung hutan saling bersahutan.

Cahaya matahari pagi mulai menyengat, menerangi jalan tanah yang membelah hutan itu. Hingga akhirnya yang mereka tunggu datang juga. Bermula dari suara lonceng pedati sapi yang terdengar berdentang dari kejauhan. Tidak lama berselang, muncul dari tikungan jalan iring-iringan gerobak pedati yang ditarik oleh seekor sapi pada tiap pedatinya.

"Satu, tiga, lima!" kata Rangga Mahesa Dharma dalam hati dari tempat persembunyiannya saat melihat kemunculan iring-iringan tersebut.

Terlihat lima gerobak pedati yang biasa digunakan oleh para pedagang berjalan perlahan di atas jalan tanah yang sunyi. Di antara denting kalung sapi, tiba-tiba terdengar suara suitan panjang. Bersamaan dengan itu, sekitar dua puluh orang keluar dari persembunyian dan langsung menghadang iring-iringan tersebut.

"Tinggalkan pedati kalian, aku akan memeriksa apakah ada barang berharga yang kalian bawa," seru seorang pemuda yang menjadi pimpinan kawanan itu, yang tak lain adalah Rangga Mahesa Dharma.

Ternyata, gertakan Rangga Mahesa Dharma tidak digubris sedikit pun oleh para pedagang. Bahkan, beberapa orang di antara mereka tertawa panjang.

"Apakah jumlah kalian yang sama membuat keberanian kalian tumbuh? Beruntung Ki Sadeng tidak ada bersama kami. Aku tidak yakin kalian akan dapat membawa nyawa kalian pulang ke rumah," ujar Rangga Mahesa Dharma sambil membawa-bawa nama Ki Sadeng untuk menakut-nakuti para pedagang itu.

Namun, perkataan Rangga Mahesa Dharma justru membuat para pedagang itu semakin tertawa kencang.

"Ternyata kawanan Duta Mangkara hanya pintar menakut-nakuti orang," ucap salah seorang pedagang yang tampaknya menjadi pimpinan mereka, dibalas dengan tawa panjang rekan-rekannya.

"Dari mana kamu tahu aku orangnya Duta Mangkara?" tanya Rangga Mahesa Dharma dengan pandangan tajam ke arah pemimpin pedagang itu.

"Jelas kami tahu kalian orangnya Duta Mangkara, karena kami adalah kawanan Ki Sadeng," jawab orang itu dengan tatapan penuh tantangan.

Bukan main terkejutnya Rangga Mahesa Dharma beserta para pengikutnya karena merasa terjebak menghadapi kawanan Ki Sadeng.

"Sayang, belum saatnya menyelesaikan permainan ini," batin Rangga Mahesa Dharma yang teringat pesan Patih Gajahmada bahwa tugas mereka hanya membuat keresahan di hutan tak bertuan itu, bukan menghancurkan pihak Ki Sadeng.

"Ternyata kalian memang hanya ingin bertemu dengan orangnya Duta Mangkara," ucap Rangga Mahesa Dharma sambil tersenyum.

"Bukan hanya bertemu, tapi juga menghancurkannya," balas pimpinan itu.

"Sayang jumlah kalian tidak banyak, aku ragu kalian dapat menghancurkan kami," sahut Rangga Mahesa Dharma.

Mendengar itu, semua orang Ki Sadeng tertawa panjang. Tidak lama kemudian, keluar empat sampai lima orang lagi dari balik jerami pedati.

"Sekarang jumlah kami dua kali lipat dari kalian. Siap untuk dihancurkan?" kata pemimpin mereka.

Ternyata, jumlah lawan yang dua kali lipat tidak membuat Rangga Mahesa Dharma dan kawan-kawannya mundur. Rangga Mahesa Dharma menyapu pandangan ke arah anak buahnya yang merupakan orang-orang pilihan dari Padepokan Bajra Seta milik ayahnya.

"Sarungkan semua pedang kalian, kita lumpuhkan mereka tanpa membunuhnya," perintah Rangga Mahesa Dharma lantang.

Perintah itu terdengar seperti ejekan bagi kawanan Ki Sadeng. Tanpa menunggu aba-aba, mereka segera bergerak dengan senjata tajam terhunus ke arah lawan yang terdekat. Pertempuran pun tak terhindarkan. Namun, para pengikut Rangga Mahesa Dharma tampak tenang meski harus menghadapi dua orang sekaligus.

Dalam beberapa terjangan awal, terlihat bahwa kemampuan para cantrik Padepokan Bajra Seta memang dapat diandalkan. Mereka mampu menghadapi lawan hanya dengan tangan kosong.

"Anak muda, hutan ini terlalu liar tanpa senjata," ujar pimpinan kawanan Ki Sadeng seraya menerjang ke arah Rangga Mahesa Dharma.

"Sayangnya, golokmu itu hanya bagus untuk memotong ayam," sahut Rangga Mahesa Dharma sambil tersenyum, lalu melompat ke samping tanpa berniat membalas serangan.

Melihat lawannya menghindar, orang itu langsung mengarahkan serangan ke arah lain. Namun, serangannya kembali menembus udara kosong karena Rangga Mahesa Dharma bergerak dengan sangat cepat. Lawannya menjadi sangat penasaran dan merasa mustahil jika dalam sekian kali serangan ia tidak mampu melukai pemuda itu.

Pikiran tersebut membuat orang itu menyerang lebih gencar seperti ombak di pantai. Ia adalah salah satu tangan kanan Ki Sadeng yang sangat dibanggakan kemampuannya. Namun, menghadapi anak muda bertangan kosong membuat harga dirinya terusik. Kecepatan Rangga Mahesa Dharma dalam bergerak dan mengelak membuat wajahnya memerah karena malu.

Inti dari olah kanuragan adalah pengendalian diri, dan orang itu telah merusak tata geraknya karena terlalu emosional untuk segera menyelesaikan pertempuran. Akibatnya, ia justru terjebak dalam serangannya sendiri. Rangga Mahesa Dharma yang sudah membaca irama serangan lawan, dengan tepat melayangkan pukulan telak ke rahang orang itu.

"Bangkitlah jika engkau masih ingin bertempur," ujar Rangga Mahesa Dharma yang berdiri tegap di hadapan lawannya yang tersungkur di tanah.

Perlahan, orang itu bangkit sembari memungut goloknya yang terlepas. Ia melihat bahwa seluruh kawanan Ki Sadeng telah dilumpuhkan dengan mudah oleh para cantrik pilihan dari Padepokan Bajra Seta yang termasyhur di Majapahit itu.

"Ikatlah aku, kalian telah mengalahkan kami," kata orang itu sambil melempar goloknya.

"Bukankah aku belum mengalahkanmu?" tanya Rangga Mahesa Dharma dengan senyum di bibirnya.

"Tanpa senjata dan seorang diri, kamu telah menjatuhkanku," jawab orang itu.

Melihat wajah lawannya yang sudah kehilangan semangat tempur, Rangga Mahesa Dharma merasa kasihan. Ia memanggil salah seorang kawannya untuk mengikat lelaki itu.

"Kita biarkan mereka pulang ke sarangnya dengan tangan terikat," perintah Rangga Mahesa Dharma.

Rombongan kawanan Ki Sadeng pun berjalan beriringan dengan tangan terikat. Tanpa menunggu lama, Rangga Mahesa Dharma dan kelompoknya bergerak ke arah berbeda, tentunya bersama lima ekor sapi beserta pedatinya.

Keresahan di wilayah tak bertuan itu hari demi hari semakin menjadi-jadi, seperti bangkai busuk yang baunya terbawa angin menyusuri Gunung Raung, turun ke lembah, hingga sampai ke Bandar Pelabuhan Banyuwangi, sebelum akhirnya sirna terbawa para pedagang yang berlayar ke belahan bumi lainnya. Keresahan para pedagang di wilayah tak bertuan itu akhirnya sampai ke telinga istana Majapahit.

"Bila memang telah banyak keresahan di wilayah itu, hamba akan menyiapkan beberapa petugas telik sandi guna memastikan berapa kekuatan mereka yang sebenarnya," ujar Mahapatih Arya Tadah kepada Ratu Tribuwana Tungga Dewi.

"Kuserahkan urusan ini kepada Paman Mahapatih," jawab Ratu Tribuwana Tungga Dewi dengan penuh keyakinan bahwa Mahapatih Arya Tadah mampu meredam situasi di wilayah tersebut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment