Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 124

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 124

"Aku belum dapat kamu kalahkan," kata Ki Jabung Terewes sambil melompat lari meninggalkan Adipati Menak Koncar.

Terlihat Adipati Menak Koncar tidak memburu Ki Jabung Terewes yang telah menghilang di antara keriuhan dan kegaduhan suasana pertempuran itu. Ternyata, Ki Jabung Terewes tengah memimpin pasukannya membuat sebuah gelar untuk mundur dari pertempuran yang menurut pengamatannya tidak akan menguntungkan pasukannya.

Terlihat seluruh prajurit Majapahit sudah masuk dalam sebuah lingkaran besar yang perlahan-lahan bergerak mundur secara teratur dengan cara bersilang dan saling melindungi. Sebuah gelar mundur yang sangat teratur tersebut pasti membutuhkan latihan yang sangat berat dan cukup lama.

"Jangan kejar mereka," kata Adipati Menak Koncar kepada beberapa prajuritnya yang hendak mengejar pasukan Ki Jabung Terewes yang terlihat telah keluar dari gerbang istana Kadipaten.

"Kita memang dapat menghancurleburkan pasukan itu, tapi tidak akan mengakhiri peperangan yang baru saja dimulai ini," kata Empu Nambi kepada Adipati Menak Koncar yang tengah melihat para prajurit Majapahit keluar dari gerbang istana Kadipaten.

"Di ujung mana pun peperangan ini berakhir, kami akan tetap di belakang Empu Nambi," kata Panji Samara mewakili kawan-kawan seperjuangannya, yaitu Panji Anengah, Panji Wiranagari, dan Rangga Pamandana.

"Kerajaan Majapahit ini adalah kerajaan besar, mengapa kalian memilih berada di belakangku, berada di belakang seorang pemberontak?" tanya Empu Nambi.

"Banyak penjilat berada di sekitar Kerajaan Majapahit. Kami berharap Raja Jayanagara menjadi sadar siapa kawan dan siapa lawan, dan kami ingin membuka mata hatinya dengan mengacungkan pedang di depan kepalanya," kata Panji Wiranagari.

"Masa Kalagemet ini kuharap akan segera berlalu, meski harus menyucikannya dengan darahku sebagai bebantenan seorang ksatria yang menjembatani jalan terang kebenaran, mendorong bahtera Wilwatikta yang terdampar di pasir pantai dangkal, serta menyingkirkan para penjilat dan pejabat kerajaan yang kotor," kata Empu Nambi.

"Kemenangan kita hari ini adalah sebuah catatan hitam bagi istana Majapahit. Mereka akan kembali datang membuat perhitungan baru," kata Adipati Menak Koncar kepada Empu Nambi.

"Nampaknya kita memerlukan sebuah benteng pertahanan yang lebih besar lagi dari istanamu," kata Empu Nambi sambil memandang ribuan prajurit yang tengah beristirahat di istana Kadipaten itu.

"Pasanggrahan milik Ki Banyak Wedi di Kademangan Randu Agung lebih besar dari istana ini. Mudah-mudahan Kuda Anjampiani tidak berkeberatan menjadikan pasanggrahannya sebagai benteng pertahanan kita," kata Adipati Menak Koncar memberikan usulan.

"Kamu benar, pasanggrahan itu terpisah dari perumahan warga," kata Empu Nambi menerima usulan dari putranya itu. Demikianlah, pada hari itu juga Empu Nambi sendiri yang langsung mendatangi Kuda Anjampiani sebagai cucu pewaris tunggal Ki Banyak Wedi di Kademangan Randu Agung.

"Sebuah kebahagiaan turut berjuang bersama Empu Nambi. Kakekku, Ki Banyak Wedi, di alam arwahnya pasti akan merasa gembira melihat aku ikut berjuang membela panji-panji kebenaran," kata Kuda Anjampiani kepada Empu Nambi di pasanggrahannya yang sangat luas itu, dan ia tidak keberatan sama sekali jika pasanggrahan miliknya dijadikan sebuah benteng pertahanan.

"Kakekmu, Ki Banyak Wedi, adalah seorang pejuang, dan hari ini aku melihat darah pejuang telah mewarnai semangatmu. Aku merasa bangga bahwa di tengah kegetiran masa-masa hidupku ini, aku ditemani orang-orang yang tanpa pamrih berjuang di belakangku," kata Empu Nambi kepada Kuda Anjampiani.

"Kakekku akan gembira melihat para pejuang berkumpul di pasanggrahan miliknya ini," kata Kuda Anjampiani yang mengantar Empu Nambi hingga ke pintu gerbang pasanggrahannya.

"Terima kasih, kami akan segera datang kembali," kata Empu Nambi di atas punggung kudanya.

Sementara itu di Kotaraja Majapahit, sudah dua hari Supo Mandagri membayangi seorang lelaki tua yang tinggal bersama Ra Kuti di tempat kediamannya. Tidak diketahui apa hubungan lelaki tua itu dengan keluarga Ra Kuti, itulah sebabnya Tumenggung Mahesa Semu menugaskan Supo Mandagri untuk terus membayangi lelaki tua itu. Diharapkan dari lelaki tua itu, Supo Mandagri dapat menemukan tempat rahasia, sebuah tempat tersembunyi di mana Ra Kuti telah menyiapkan kekuatan baru yang akan menandingi dan menggusur kekuatan kerajaan Majapahit.

"Seperti dua hari yang lalu, nampaknya lelaki tua itu hanya sekadar melepas kepenatan di rumahnya, melihat-lihat suasana pasar tanpa membeli barang apa pun," kata Supo Mandagri dalam hati yang hari itu masih membayangi lelaki tua itu yang baru saja keluar dari rumah Ra Kuti. Ternyata dugaan Supo Mandagri tidak meleset; lelaki tua itu memang tidak membeli apa pun di pasar Kotaraja, hanya melihat-lihat suasana.

Namun pada hari itu, terlihat lelaki tua tersebut cukup lama berada di tempat seorang pandai besi di ujung pasar Kotaraja. "Pandai besi itu tidak membuat pedang atau senjata apa pun kecuali alat-alat pertanian," kata Supo Mandagri dalam hati dari tempat yang cukup jauh dan tidak terlihat oleh lelaki tua itu. Hingga akhirnya, Supo Mandagri melihat lelaki tua itu berjalan kembali menuju rumahnya.

Lelaki tua itu nampaknya tidak mengambil jalan utama di Kotaraja Majapahit yang sehari-harinya selalu ramai. Terlihat ia telah mengambil jalan kecil yang lebih sepi, dan Supo Mandagri tetap membayanginya dari jarak yang cukup jauh. Namun, di sebuah tempat yang sangat sepi, Supo Mandagri melihat lelaki tua itu dicegat oleh dua orang begundal yang sering berkeliaran di sekitar pasar Kotaraja Majapahit; orang-orang yang malas bekerja dan hanya mengandalkan sedikit kanuragan untuk memeras para pedagang kecil.

"Serahkan harta milikmu, Pak Tua, atau golok ini akan merusak batang lehermu," kata seorang begundal mengancam.

"Aku tidak memiliki harta apa pun," jawab lelaki tua itu dengan tenang, seolah tidak menghiraukan golok panjang yang tertuju di depan wajahnya.

"Kulihat timangmu sangat bagus, pasti harganya cukup mahal," kata begundal lainnya sambil melirik ke arah timang yang dipakai oleh lelaki tua itu.

"Kalian harus membayarnya dengan nyawa kalian," kata lelaki tua itu penuh rasa percaya diri.

Mendengar perkataan orang tua yang tidak punya rasa takut itu, begundal lainnya segera mencabut goloknya. "Pak Tua, ternyata kamu memilih mati," ancamnya sambil mengacungkan golok panjang yang sudah terlepas dari sarungnya.

Mendapatkan ancaman dari kedua begundal itu tidak membuat wajah orang tua tersebut ketakutan sedikit pun. Bahkan, terlihat sikapnya yang sangat dingin seakan meremehkan kedua begundal itu.

"Huhh," dengus orang tua itu sebagai sikap menantang.

Kedua begundal itu sudah seperti hilang kendali melihat sikap orang tua itu dan mulai menggerakkan golok panjang di tangan mereka. Namun, tiba-tiba saja kedua begundal itu mengurungkan niatnya dan menahan golok panjang mereka karena mendengar sebuah teriakan.

"Jangan kalian sakiti orang tua itu!" terdengar teriakan dari arah belakang kedua begundal itu. Ternyata yang berteriak dan datang ke tempat itu adalah Supo Mandagri.

"Biarkan orang tua itu pergi, bawalah kerisku ini sebagai penggantinya," kata Supo Mandagri kepada kedua begundal itu sambil menunjukkan sebuah keris di tangannya.

"Keris yang sangat bagus," kata salah seorang begundal penuh kagum.

"Kuberikan untukmu, jangan sakiti orang tua itu," kata Supo Mandagri sambil menyerahkan keris miliknya. Mendapat keris yang sangat bagus dan berharga itu membuat kedua begundal tersebut lupa pada orang tua yang semula ingin diperasnya. Mereka pun pergi berlalu menghilang di sebuah persimpangan jalan.

"Kamu sama sekali tidak mengenalku, mengapa berbaik hati menolongku?" tanya orang tua itu kepada Supo Mandagri.

"Kenal atau tidak kenal, sudah menjadi kewajibanku menolong siapa pun," jawab Supo Mandagri.

"Tapi kamu telah mengorbankan sebuah keris yang sangat berharga."

"Aku seorang pembuat keris, pada suatu saat aku dapat membuat yang lebih bagus lagi dari yang kupunya itu."

"Kamu seorang pembuat keris?" tanya orang tua itu.

"Benar, aku seorang pembuat keris," kata Supo Mandagri sambil sedikit bercerita tentang asal-usulnya yang berasal dari Tanah Tuban dan saat ini tengah mencari tambahan biaya untuk melanjutkan usaha orang tuanya sebagai pembuat keris.

"Seorang pembuat keris punya kemampuan melebihi seorang pandai besi," ujar orang tua itu.

"Benar, aku mampu membuat berbagai senjata, namun seorang pandai besi biasa tidak mampu membuat sebuah keris," kata Supo Mandagri membanggakan diri.

"Sangat kebetulan sekali, kami tengah mencari seorang pandai besi yang ahli," kata orang tua itu.

"Percayalah padaku, aku tidak akan mengecewakan," kata Supo Mandagri penuh kegembiraan karena dapat mendekati sasarannya.

"Panggil aku Ki Samban, aku akan mengajakmu ke sebuah tempat," kata orang tua itu.

"Aku seorang pengembara, tiada sanak dan saudara. Aku akan ikut bersamamu," kata Supo Mandagri mencoba meyakinkan Ki Samban bahwa dirinya tidak tinggal di Kotaraja Majapahit.

Terlihat Ki Samban berjalan bersama Supo Mandagri ke arah barat Kotaraja Majapahit, sementara matahari sudah bergeser jauh dari puncaknya. Ternyata, Ki Samban membawa Supo Mandagri ke sebuah bukit berbatu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment