Chapter 73
Malam begitu dingin menusuk kulit. Ki Sandikala bersama dua putranya telah naik ke pendapa dan langsung menuju ruang pringgitan. Nampaknya mereka belum berniat untuk segera beristirahat. Sebagaimana Patih Mahesa Amping dan rombongannya, Adipati Menak Koncar dan Adipati Menak Jingga memang baru hari itu tiba di Kotaraja Majapahit. Mereka datang melalui jalur laut dari pesisir timur Jawadwipa.
"Aku merasa malu sebagai seorang Adipati karena tidak mengetahui ada pergerakan di Tanah Lamajang yang tengah mengancam kemapanan di bumi Majapahit ini," ujar Adipati Menak Koncar kepada ayahnya, Empu Nambi.
Mendengar perkataan putranya itu, Empu Nambi hanya tersenyum lembut. "Baginda Raja memang tidak ke mana-mana, namun mata dan pendengarannya ada di mana-mana. Itulah kelebihannya sebagai seorang Raja. Janganlah kamu merasa malu, karena kamu telah melaksanakan tugasmu dengan baik sebagai Adipati Lamajang, menciptakan rasa aman bagi wargamu, serta menjadi kepanjangan tangan istana dalam memungut pajak dan upeti," tutur Empu Nambi membesarkan hati putranya.
"Pandangan Baginda Raja Sanggrama Wijaya ternyata begitu tajam. Beliau telah membukakan mataku bahwa sebuah peperangan tidak harus dengan cara mengangkat senjata, tetapi dapat dilakukan dengan cara lain, misalnya penguasaan jalur perdagangan," kata Adipati Menak Jingga.
"Bagus bila kalian telah mulai mengerti permasalahan ini," ujar Empu Nambi sambil memandang kedua putranya. "Selama ini kalian belum dapat membaca bahwa ada kekuatan besar yang sangat berpengaruh mencoba menguasai jalur pesisir, Banyuwangi, Banger, dan Pasuruan."
"Selama ini aku hanya melihat bahwa orang-orang dari tanah Madura hampir menguasai perdagangan di jalur pesisir itu, namun aku tidak menyangka bahwa mereka digerakkan oleh kekuatan tunggal dari Tanah Lamajang," sahut Adipati Menak Jingga.
"Orang-orang Madura itu juga saudara kita. Yang ingin kita lawan adalah kekuatan tunggal yang memengaruhi mereka dan mengancam kemapanan di bumi Majapahit ini," ucap Empu Nambi mencoba meluruskan permasalahan. "Saatnya para putra pribumi menyingsingkan lengan untuk ikut mengambil alih jalur perdagangan di tanahnya sendiri. Pihak istana akan membuka seluas-luasnya kesempatan ini, namun tanpa dukungan kalian, gerakan ini akan menjadi senjata yang tumpul dan tidak akan mengubah keadaan apa pun."
"Terima kasih, Ayah. Aku akan menggerakkan para putra pribumi untuk menjadi tuan di tanahnya sendiri," jawab Adipati Menak Jingga.
"Sementara pihak istana menciptakan kekalutan dan kekacauan pada jalur perdagangan mereka, di saat yang sama kita mengambil alih jalur tersebut," tambah Adipati Menak Koncar.
"Wahai putraku Menak Koncar," sapa Empu Nambi sambil menatap putranya dengan pandangan tajam. "Sebagai seorang Adipati Blambangan, pasti kamu sudah banyak mengenal beberapa tempat di Lamajang dan orang-orang yang berpengaruh di sana. Apakah dirimu pernah bertemu dengan seseorang yang sangat berpengaruh yang datang dari Tanah Sunginep?"
Mendengar pertanyaan itu, Adipati Menak Koncar tidak langsung menjawab. Ia tampak berpikir, mencoba mencari sosok yang dimaksud oleh ayahnya. "Mungkinkah orang tua itu?" tanyanya perlahan, seolah masih meragukannya.
"Katakanlah kepada ayahmu. Aku melihat keraguan yang sangat nyata saat kamu berkata tidak tahu di hadapan Baginda Raja Sanggrama Wijaya," desak Empu Nambi. Pandangannya seolah menusuk dada putranya yang kini menunduk menyembunyikan kesalahan. "Sejak kecil aku mendidikmu untuk berlaku jujur dan adil, serta menjunjung tinggi nilai kesetiaan. Janganlah kamu menyimpan kebusukan, karena sampai kapan pun kamu tidak akan mampu menutupinya."
"Semula orang tua itu datang kepadaku untuk membuka pemukiman baru di Hutan Randu. Aku mengizinkannya karena kulihat tidak mengganggu tatanan yang telah ada di Lamajang. Hingga akhirnya, kulihat pemukiman itu berkembang pesat menjadi kademangan yang sangat maju," jelas Adipati Menak Koncar.
"Kamu tidak mengatakan bahwa orang tua itu telah memberimu banyak hadiah," sahut Empu Nambi tajam.
"Orang tua itu memang telah memberiku begitu banyak hadiah," aku Adipati Menak Koncar dengan wajah semakin menunduk.
"Kamu telah terjerat di dalam pengaruhnya. Siapakah orang tua itu memperkenalkan jati dirinya kepadamu?" tanya Empu Nambi dengan suara lembut, merasa kasihan melihat sikap putranya yang telah melakukan kesalahan besar menurut hukum tata krama kerajaan Majapahit.
"Orang tua itu memperkenalkan dirinya bernama Ki Randu Alam, seorang yang sangat kaya raya dari Tanah Sunginep," jawab Adipati Menak Koncar.
"Ki Banyak Wedi, Ki Arya Wiraraja, atau Ki Randu Alam mungkin adalah orang yang sama," ucap Empu Nambi sambil menarik napas dalam-dalam. "Besok kita dapat membicarakan orang tua itu bersama Ki Patih Mahesa Amping, sekaligus mematangkan persiapan untuk menghentikan semua gerakannya di wilayah timur Jawadwipa."
Keesokan harinya, ketika cahaya matahari pagi menghangatkan halaman pura Pasanggrahan Gajahmada, tiga orang lelaki berjalan memasuki halaman itu. Mereka adalah Ki Sandikala bersama kedua putranya, Adipati Menak Koncar dan Adipati Menak Jingga.
"Senyum keceriaan Ki Mangkubumi mengalahkan cahaya surya," ujar Patih Mahesa Amping menyambut mereka. Ki Gede Bajra Seta, Mahesa Semu, Paman Muntilan, Mahesa Dharma, Adityawarman, dan tuan rumah Gajahmada tampak menyambut gembira kedatangan mereka.
Pembicaraan awal berkisar tentang persiapan pelaksanaan wisuda Raja Muda di Tumapel dan Kahuripan, serta rencana pernikahan kedua Raja Muda tersebut. "Pastinya Jayakatwang dan Nyimas Turuk Bali akan ikut bersama Kertawardana ke Tumapel, sementara Nyi Ageng Nglirip dipastikan mengikuti putrinya, Dyah Gajatri, ke Kahuripan," ujar Ki Patih Mangkubumi atau Empu Nambi mengawali pembicaraan.
"Semoga kehadiran orang tua di samping kedua raja muda itu dapat membantu menjadikan Tumapel dan Kahuripan berkembang seperti di zaman Raja Erlangga, leluhur mereka," kata Patih Mahesa Amping.
"Yang pasti akan menjadikan kemapanan di bumi Majapahit menjadi semakin kokoh dan kuat," timpal Ki Patih Mangkubumi.
Akhirnya, pembicaraan beralih kepada persiapan menghadapi gerakan tersembunyi di timur Jawadwipa. "Kedua putraku ini akan membangun gudang penampungan besar di pelabuhan Pasuruan, Banger, dan Banyuwangi untuk membeli barang dagangan para putra pribumi dari setiap penjuru kademangan di timur Jawadwipa," jelas Patih Mangkubumi.
"Mereka pasti mencoba mengganggu keberadaan gudang penampungan itu," ujar Patih Mahesa Amping, mencoba menguji pemikiran Patih Mangkubumi yang terkenal sebagai ahli siasat perang.
"Kita akan melakukan siasat perang *Mowor Sambu* dan *Dom Sumuruping Banyu* sebagai pasukan senyap penjaga jalur perdagangan. Mahesa Semu, Gajahmada, dan Adityawarman telah dipercayakan menggerakkan prajurit Majapahit di timur Jawadwipa," jawab Ki Patih Mangkubumi dengan senyum.
"Sebuah rencana yang hebat; membangun jalur perdagangan di hulu dan hilir. Sangat matang, memudahkan Kakang Mahesa Semu bergerak memimpin pasukan senyap menuju kemenangan gemilang," puji Patih Mahesa Amping.
"Hanya pemikiran dari orang tua yang mulai pikun," sahut Ki Patih Mangkubumi merendah.
"Pada saatnya akan terjadi perang terbuka manakala Ki Randu Alam melakukan siasat yang sama di hulu dan hilir perdagangan yang kita bangun," ujar Ki Gede Bajra.
"Itu kita siasati dengan membagi kekuatan di tiga titik berbeda: Pasuruan, Banger, dan Banyuwangi," jawab Ki Patih Mangkubumi.
"Berapa kira-kira pasukan yang kita butuhkan?" tanya Mahesa Semu.
"Tiga ratus prajurit di jalur Pasuruan, tiga ratus di Banger, dan tiga ratus di Banyuwangi," rincinya agar arah gerakan lawan dapat selalu dipantau.