Chapter 221
"Di penghujung senja, bila tidak ada halangan, kita sudah akan tiba di istana Kahuripan," kata Patih Gajah Mada kepada Bango Samparan yang duduk di dekatnya, tengah melepas rasa penat.
Ketika matahari terlihat bergeser sedikit dari puncaknya, segera Andini, Patih Gajah Mada, dan Ki Sahdatun melaksanakan kewajiban agamanya.
Pengetahuan tentang agama Islam pada saat itu memang sangat terbatas, demikian pula pemahaman Bango Samparan.
Terlihat lelaki yang sudah separuh baya itu tercenung melihat tingkah laku ketiganya.
Pada suatu kesempatan ketika mereka akan melanjutkan perjalanan kembali, Bango Samparan menanyakan keheranannya atas ibadah yang telah disaksikannya itu.
"Tadi aku melihat kalian melaksanakan sebuah ibadah bersama," kata Bango Samparan kepada Ki Sahdatun.
Terlihat Ki Sahdatun tidak langsung menjawab, hanya tersenyum tulus.
"Benar bahwa kami tengah melaksanakan sebuah ibadah bersama," kata Ki Sahdatun membenarkan.
"Setiap perguruan pasti punya ajaran rahasia, namun aku lihat kalian melakukannya dengan cara terbuka tanpa rasa takut seseorang melihat dan mencurinya," kata Bango Samparan kepada Ki Sahdatun.
Terlihat senyum Ki Sahdatun semakin merekah mendengar perkataan Bango Samparan itu.
"Kami akan gembira jika semua orang benar-benar meniru apa yang tengah kami lakukan itu," kata Ki Sahdatun sambil tersenyum.
"Aku benar-benar tidak mengerti," kata Bango Samparan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Suatu saat nanti kamu akan mengerti, terutama jika kamu masuk seutuhnya menjadi seorang muslim," kata Ki Sahdatun sambil memandang wajah Bango Samparan.
"Aku pernah mendengarnya, sebuah agama yang dianut oleh para pedagang dari seberang lautan yang jauh yang tinggal di sebuah gurun batu?" kata Bango Samparan kepada Ki Sahdatun.
Ternyata pembicaraan Ki Sahdatun dan Bango Samparan itu menarik perhatian Patih Gajah Mada dan Andini, terlihat keduanya ikut mendekat.
"Ternyata kamu pernah mendengarnya, itulah agama yang kami anut saat ini.
Sebuah agama yang tumbuh besar bukan dengan ketajaman pedang, melainkan dengan ketajaman akal dan pikiran," kata Ki Sahdatun kepada Bango Samparan.
"Sayang aku memang terlahir serba belum matang, dalam olah kanuragan maupun pemahamanku atas agamaku sendiri," kata Bango Samparan sambil menggaruk kepalanya.
Melihat sikap Bango Samparan, ketiganya langsung tersenyum geli.
Sementara itu matahari terlihat telah jauh bergeser dari puncaknya.
"Mari kita melanjutkan perjalanan," kata Patih Gajah Mada.
Terlihat mereka telah kembali di atas punggung kuda masing-masing menyusuri jalan tanah.
Di atas jalan sepi mereka memacu kuda-kuda mereka.
Namun ketika mereka telah berada di sebuah padukuhan, mereka langsung memperlambat laju kuda-kuda mereka.
Hingga akhirnya terlihat mereka telah menyusuri pesisir pantai timur Jawadwipa.
Abu pasir putih terlihat mengepul terbang di belakang kuda-kuda mereka yang melaju kencang di atas tanah berpasir yang sepi.
Di jalan berpasir yang sepi itu memang jarang sekali ditemui tanah ladang atau persawahan.
Hanya kadang-kadang terlihat sebuah perkampungan nelayan berdiri di tepi pantai.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Patih Gajah Mada, menjelang senja terlihat mereka telah mendekati arah Kota Raja Kahuripan.
"Gapura Garudapaduraksa," kata Bango Samparan yang banyak mengenal bangunan ketika melihat sebuah bangunan candi yang menjulang, yang merupakan sebuah gapura Kota Raja Kahuripan.
"Konon Raja Erlangga sering naik ke atas puncak gapura untuk memandang lautan.
Gapura itu adalah mimpi raja perkasa itu untuk menguasai dunia, membangun singgasana di atas lautan," kata Patih Gajah Mada sambil menunjuk ke arah gapura di depan mereka.
Jalan Kota Raja Kahuripan yang mereka lewati terlihat telah mulai sepi, kuda-kuda mereka terus berjalan menuju arah istana.
Tidak lama berselang, mereka telah berada di depan gerbang istana Kahuripan.
"Antarkan tamu-tamu kita ini ke balai tamu untuk beristirahat," kata Andini kepada salah seorang prajurit penjaga.
Terlihat Bango Samparan, Ki Sahdatun, dan Patih Gajah Mada berjalan mengikuti langkah seorang prajurit penjaga.
Sementara itu Andini terlihat berjalan menuju arah puri pasanggrahan milik Ibunda Suri Gayatri.
"Semoga Yang Maha Agung selalu memberimu keselamatan, wahai Ananda muridku," kata Ibunda Suri Gayatri menerima Andini di serambi puri pasanggrahan-nya.
"Puji syukur, berkat doa Ibunda Guru, limpahan keselamatan selalu mengiringi Ananda murid," kata Andini kepada gurunya itu.
"Berceritalah kepadaku, apa yang kamu lihat dan kamu dengar tentang Kerajaan Bali saat ini," kata Ibunda Suri Gayatri kepada Andini.
Segera Andini bercerita tentang keadaan Kerajaan Bali yang dilihatnya, yang menurut pengamatannya memang tengah mempersiapkan diri untuk melakukan sebuah pemberontakan melepaskan diri dari kedaulatan Majapahit Raya.
"Mendengar semua ceritamu, aku tidak meragukan lagi langkah-langkah yang telah diambil oleh Mahapatih Arya Tadah," kata Ibunda Suri kepada Andini. Andini juga bercerita tentang pertemuan dirinya dengan Patih Gajah Mada di Bali Dwipa dalam tugas yang hampir sama, juga tentang pertemuan dirinya dengan ayahandanya sendiri di Bumi Lamajang.
"Aku turut merasa gembira mendengar pertemuanmu dengan ayahandamu itu, mengapa tidak kamu bawa dirinya untuk diperkenalkan kepadaku?" kata Ibunda Suri Gayatri.
"Rencananya besok pagi akan kubawa untuk diperkenalkan kepada Ibunda Guru," kata Andini dengan suara yang agak tersendat-sendat.
"Wahai Ananda muridku, aku seperti merasakan ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatimu, katakanlah kepadaku ganjalan itu," kata Ibunda Suri yang sudah mengenal Andini seperti putrinya sendiri itu.
Namun gadis itu terlihat semakin menundukkan kepalanya, seakan sesuatu yang amat berat mengganjal hatinya.
"Apakah ayahandamu memintamu untuk pulang ke Pasundan?" tanya Ibunda Suri mencoba menduga-duga agar gadis itu membuka suaranya.
Mendengar perkataan Ibunda Suri Gayatri, terlihat Andini langsung menggelengkan kepalanya.
"Katakanlah wahai Ananda Andini, bukankah aku ini sudah kamu anggap sebagai ibu kandungmu sendiri?" tanya kembali Ibunda Suri Gayatri semakin penasaran apa gerangan yang ada di kepala muridnya itu.
Suasana serambi puri pasanggrahan itu sejenak menjadi begitu hening, Ibunda Suri Gayatri membiarkan Andini menguatkan dirinya untuk menyampaikan apa yang ada di dalam pikirannya saat itu.
Dan setelah cukup lama terdiam, perlahan Andini menarik napas panjang dan mengangkat wajahnya perlahan.
"Ananda berharap Ibunda Guru tidak marah kepada Ananda murid," kata Andini perlahan.
"Katakanlah, aku tidak akan pernah marah kepadamu, wahai Ananda muridku," kata Ibunda Suri dengan nada penuh keibuan.
Terlihat Andini kembali menundukkan wajahnya.
Melihat itu Ibunda Suri Gayatri tidak terus mengejar anak gadis itu, membiarkannya agar Andini punya kekuatan untuk menyampaikan apa yang ada di dalam pikirannya itu.
Maka terlihat Andini kembali menarik napas panjang dan mengangkat wajahnya.
Tampaknya anak gadis itu seperti sudah punya kekuatan baru untuk menyampaikan pikirannya.
Terdengar kata-kata Andini keluar dari bibirnya yang mungil begitu teratur dan penuh kepercayaan diri yang amat tinggi.
"Ananda harus memilih sebuah jalan.
Ananda telah memikirkannya tanpa tekanan siapa pun.
Dan hari ini Ananda telah memberanikan diri menyampaikan di hadapan Ibunda Guru.
Ampunilah Ananda jika pilihan Ananda tidak berkenan di dalam hati Ibunda Guru," kata Andini kepada Ibunda Suri Gayatri. "Katakanlah, wahai Ananda muridku," kata Ibunda Suri Gayatri.
Andini tidak langsung menjawab, hanya terlihat menarik napas dalam-dalam.
Mungkin untuk mengumpulkan kekuatannya.
"Ananda bermaksud untuk melepas jubah biksuni menjadi orang biasa sebagaimana dulu sebelum Ananda mengenal Ibunda Guru," kata Andini dengan suara perlahan.
Sekilas Andini mencoba menilik apakah ada perubahan di wajah wanita tua itu.
Namun ternyata Andini melihat tidak ada perubahan sedikit pun di wajah yang sudah mulai terlihat garis-garis usia itu.
"Ananda muridku Andini, Ibunda Gurumu tidak akan kecewa mendengar tutur katamu mengenai pilihanmu itu.
Tidak juga akan mengurangi rasa cinta ini kepada dirimu yang sudah kuanggap sebagai putri kandungku sendiri.
Jubah biksuni itu kuberikan kepadamu karena pilihanmu sendiri.
Jika hari ini kamu sendiri yang ingin melepaskannya, itu juga menjadi pilihanmu," kata Ibunda Suri Gayatri dengan senyum penuh keibuan.
"Hanya satu pertanyaan Ibunda Gurumu, apakah pilihanmu ini berhubungan dengan pertemuanmu dengan ayahandamu?" tanya kembali Ibunda Suri Gayatri dengan sebuah pertanyaan.
"Ampuni Ananda, wahai Ibunda Guru, keputusan Ananda murid tidak dan bukan karena ayahanda.
Keputusan Ananda murid berkaitan dengan niat Ananda untuk menikah dengan seseorang yang sudah lama Ananda cintai dan selalu menghalangi samadhi Ananda untuk bersatu dengan Sang Buddha," kata Andini kepada Ibunda Suri Gayatri.
"Siapakah gerangan pemuda itu, wahai Ananda muridku?" tanya Ibunda Suri Gayatri.
"Pemuda itu adalah Patih Gajah Mada," kata Andini tanpa menundukkan kepalanya.
"Ibunda Gurumu sudah menduganya, jika itu memang sudah menjadi keputusanmu, ambil dan perjuangkanlah cinta kalian.
Agar dirimu tidak menyesal di kemudian hari.
Seperti diriku ini..." kata Ibunda Suri dengan suara yang sedikit tersendat, ada sebuah kesedihan yang tampaknya sedikit menyentuh hatinya.
Terlihat Andini tidak ingin bertanya mengapa kesedihan tiba-tiba saja muncul di wajah wanita tua itu.
Sebagai seorang murid terkasih, sudah pernah Ibunda Suri Gayatri bercerita tentang kisah cintanya yang pupus meninggalkan sebuah penyesalan.
Sebuah kisah cinta lama tentang cinta seorang putri raja yang mencintai seorang pemuda biasa.
Siapa gerangan pemuda yang beruntung dicintai secara diam-diam itu.