Chapter 194
"Aku mengerti mengapa Mahapatih Arya Tadah menugaskan dirimu untuk menyelesaikan permasalahan di jalur tak bertuan itu. Tugasmu adalah menyalakan api ancaman agar dapat dilihat oleh keluarga istana?" tanya Adipati Menak Koncar mencoba menerka-nerka.
"Ternyata kecerdasan Empu Nambi telah diwarisi oleh putranya," sahut Patih Gajahmada membenarkan dugaan Adipati Menak Koncar.
"Aku akan mengirimkan lima puluh orang dari perguruan Teratai Putih untuk ikut meramaikan permainanmu itu," ujar Adipati Menak Koncar.
"Terima kasih. Tumenggung Mahesa Pukat juga telah menjanjikan kepadaku orang-orang dari Padepokan Bajra Seta," kata Patih Gajahmada.
"Dan aku akan memejamkan mata, pura-pura tidak peduli ada dua kelompok penjahat yang menguasai jalur tak bertuan itu," ucap Adipati Menak Koncar penuh senyum.
"Aku berharap permainan ini akan berjalan mulus dan meluncur sesuai dengan yang kita harapkan," kata Patih Gajahmada.
Sementara itu, seiring waktu, bumi Lamajang telah menjadi begitu sepi. Langit malam terlihat dipenuhi awan gelap kelabu.
"Hari telah jauh malam," ujar Adipati Menak Koncar sambil mempersilakan Patih Gajahmada untuk beristirahat.
Ketika masuk ke kamar yang disediakan untuk dirinya, Patih Gajahmada tidak langsung tertidur. Dalam pikirannya bergelayut bayangan seseorang yang bernama Ki Sadeng.
"Ki Sadeng telah mengetahui rahasia besar tentang kematian Raja Jayanagara, dan dirinya terlalu berharap untuk mendapatkan keuntungan yang besar dari apa yang diketahuinya itu," pikir Patih Gajahmada dalam hati.
"Sementara aku sendiri harus merahasiakan bahwa perburuanku kali ini semata-mata untuk menutup rahasia besar itu," lanjut Patih Gajahmada dalam hati. Ia tersenyum sendiri menghadapi kepelikan yang aneh, yang berawal dari kesalahan tangannya sendiri saat membunuh orang yang tidak berdosa, Ra Tanca.
"Wahai Zat Pemilik hati semua makhluk, aku hanyalah pelakon-Mu," ucap Patih Gajahmada lirih.
Sementara itu, di waktu yang sama, terlihat seorang lelaki tua bersama seorang anak kecil berusia sekitar lima tahun baru saja turun dari perahu kayu di bandar pelabuhan Banyuwangi.
"Kita ke kedai di sudut sana, pasti perutmu sudah sangat lapar," ujar lelaki tua itu kepada anak lelaki di sampingnya. Anak kecil itu terlihat sangat penurut dan lincah berjalan di samping lelaki tua tersebut.
Keduanya memasuki sebuah kedai yang tidak begitu dipenuhi pengunjung, berbeda dengan kedai lainnya yang biasanya dipenuhi para wanita penghibur, pemandangan umum di setiap bandar pelabuhan pada saat itu.
"Paman pesan untuk berdua?" tanya seorang pemilik kedai kepada lelaki tua itu. Lelaki tua itu tersenyum dan menganggukkan kepala. Tidak lama kemudian, pemilik kedai datang membawa makanan dan minuman.
"Paman hendak ke mana?" tanya pemilik kedai setelah meletakkan pesanan di meja mereka.
"Kami hendak ke Lamajang," jawab lelaki itu.
"Paman hanya berdua?" tanya pemilik kedai sambil mengerutkan kening.
"Benar, kami hanya berdua," jawab lelaki tua itu sambil menggandeng bahu anak lelaki kecil di sebelahnya.
"Aku sarankan Paman mencari orang lain yang satu arah tujuan. Lebih banyak, lebih baik," ujar pemilik kedai itu.
"Mengapa harus bersama-sama untuk sebuah perjalanan menuju Lamajang?" tanya lelaki tua itu.
"Saat ini jalur arah Blambangan dan Lamajang dikuasai oleh gerombolan penjahat. Mereka tidak pilih-pilih korban; pedagang dan orang biasa mereka peras hartanya, bahkan tidak jarang mereka membunuhnya," tutur pemilik kedai menceritakan gerombolan yang saat itu menguasai jalur perjalanan antara Blambangan dan Lamajang.
"Mengapa tidak ada prajurit yang mengamankan daerah itu?" tanya lelaki tua itu.
"Dari dulu daerah itu memang daerah tak bertuan, tidak dalam kekuasaan Adipati Blambangan maupun Adipati Lamajang," jawab pemilik kedai.
"Terima kasih untuk sarannya," kata lelaki tua itu sambil mengangguk penuh rasa terima kasih.
Setelah pemilik kedai meninggalkan mereka, keduanya menikmati hidangan. Anak lelaki kecil itu tampak sangat menikmatinya. Ketika selesai makan dan membayar, pemilik kedai dengan ramah menawarkan mereka untuk bermalam.
"Ada bale bambu di samping kedai ini, kalian dapat beristirahat sementara menunggu pagi," kata pemilik kedai.
"Terima kasih," jawab lelaki tua itu sambil mengajak anak kecil itu berjalan ke samping kedai. Ternyata memang ada sebuah bale bambu di sana. Mereka pun segera naik ke atasnya.
"Tidurlah Rangga Seta, nampaknya kamu sudah sangat mengantuk," ujar lelaki tua itu, menyebut nama anak lelaki kecil tersebut.
Rangga Seta langsung meringkuk di sisi lelaki tua itu dan tidak lama berselang sudah pulas. Lelaki tua itu tersenyum memandang anak kecil yang disayanginya itu sudah nyenyak tertidur.
"Anak yang tabah," gumam lelaki tua itu dalam hati sambil terus memandang wajah Rangga Seta yang bening dan sejuk, penuh kedamaian dalam tidurnya.
Malam terus berlanjut. Lelaki tua itu bersandar di dinding pagar kedai. Semakin malam, pengunjung semakin sepi meski sesekali masih ada yang datang. Semalaman lelaki tua itu hanya bersandar, sesekali matanya terbuka saat terdengar orang lewat atau suara tawa wanita penghibur yang penuh kegenitan menggandeng tangan lelaki yang mabuk terhuyung.
Pagi pun akhirnya datang.
"Berjalanlah menuju arah Kota Kadipaten Blambangan dan terus ke barat. Paman akan menemukan sebuah Padukuhan Awung. Orang-orang akan menunjukkan rumah singgah di sana. Biasanya di rumah singgah itu ada beberapa orang yang mencari kawan seperjalanan agar dapat saling menjaga dan melindungi," ujar pemilik kedai memberikan arah jalan kepada lelaki tua dan anak kecil itu yang telah berkemas untuk melanjutkan perjalanan.
Sebagaimana petunjuk pemilik kedai, setibanya di Kota Kadipaten Blambangan, mereka terus mengambil arah ke barat. Mereka akhirnya menemukan rumah singgah di sebuah padukuhan yang sepi. Padukuhan Awung adalah padukuhan paling ujung di Kadipaten Blambangan, terletak di sebelah selatan lembah Gunung Raung yang tampak perkasa dan tinggi menjulang.
Ketika mereka tiba di rumah singgah, matahari telah bergeser dari puncaknya. Beberapa orang sudah berada di sana. Saat lelaki tua dan anak kecil itu mengambil salah satu bale yang masih kosong, terdengar tawa dari orang-orang tersebut.
"Kukira akan muncul lelaki gagah perkasa dengan senjata golok besar, ternyata yang datang kakek tua renta dengan uban penuh di kepala," ucap salah seorang di antara mereka yang disambut tawa yang lainnya.
Lelaki tua itu menangkap bahwa ejekan itu tertuju kepadanya, namun ia tidak menghiraukannya. Hingga seorang lelaki setengah baya keluar dari rumah singgah itu menghampirinya.
"Nampaknya Paman baru pertama kali melakukan perjalanan jauh?" tanya lelaki setengah baya itu yang merupakan pemilik rumah singgah.
"Benar, kami ingin ikut rombongan yang akan berangkat bersama ke Lamajang," jawab lelaki tua itu.
"Tiga hari yang lalu, ada sekitar lima belas orang berangkat bersama dari sini," kata pemilik rumah singgah.
"Kami akan ikut, kapan pun rombongan dari sini berangkat," ujar lelaki tua itu.
"Mereka baru saja tiba di sini, kudengar besok pagi mereka akan memulai perjalanannya," tutur pemilik rumah singgah.
"Bila demikian, kami akan ikut bersama mereka," sahut lelaki tua itu.
"Katakan apa yang Paman butuhkan, kami akan menyiapkannya," kata pemilik rumah singgah sambil berpamit diri.
Tidak lama setelah pemilik rumah singgah masuk ke dalam, muncul seorang lelaki muda berperawakan sedang. Ia memilih bale yang ditempati lelaki tua dan anak kecil itu.
"Boleh aku bergabung dengan Paman?" tanya lelaki muda itu dengan sangat santun.
"Silakan," jawab lelaki itu dengan ramah.
"Paman hendak ke Lamajang juga?" tanya lelaki muda itu.
"Benar, kami memang hendak ke Lamajang," jawab lelaki tua itu sambil mengangguk.
"Bila demikian, kita adalah kawan seperjalanan. Namaku Sobali," kata lelaki muda itu memperkenalkan diri.
Lelaki tua itu tersenyum sambil menyambut uluran tangan Sobali.
"Orang biasa memanggilku Ki Sahdatun, dan ini cucuku bernama Rangga Seta," jawab lelaki tua itu.
Sekilas Sobali memperhatikan raut wajah lelaki yang mengaku bernama Ki Sahdatun itu. Rambut putih, garis kerut di ujung mata dan kening adalah tanda usia yang sudah sangat tua. Namun, suara serta tubuhnya yang tegap dan sorot matanya yang amat tajam membuat Sobali berpikir bahwa orang tua ini bukan orang sembarangan.
Namun, Sobali tidak mengungkapkan pikirannya. Ia justru mengalihkan pembicaraan tentang asal-usulnya serta tujuannya datang ke Lamajang.
"Keluargaku berasal dari Madura, namun kami sudah lama turun-temurun tinggal di Banyuwangi."