Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 196

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 196

Ternyata mereka saat itu sudah jauh meninggalkan daerah kekuasaan Kadipaten Blambangan dan telah masuk ke wilayah jalur tak bertuan. Sebuah wilayah yang sangat ditakuti oleh para pedagang dan orang-orang yang membawa barang berharga; sebuah wilayah tak bertuan yang lepas dari kekuasaan dan wewenang Adipati Blambangan dan Adipati Lamajang. Akhir-akhir ini, sebuah gerombolan sepertinya telah menguasai wilayah tersebut.

Setelah menikmati bekal yang mereka bawa, rombongan itu nampaknya masih menunggu matahari bergeser turun untuk meredakan penat dan rasa pegal kaki setelah menempuh perjalanan yang cukup lama.

"Serahkan kempit airnya, kubantu untuk mengisinya," ujar Sobali kepada Ki Sahdatun yang melihat beberapa orang mendekati sungai kecil yang jernih tidak jauh dari tempat mereka beristirahat.

"Terima kasih," jawab Ki Sahdatun sambil menyerahkan kempit airnya kepada anak muda yang baik itu.

Namun, manakala Sobali dan beberapa orang tengah mengisi kempit air, kening Ki Sahdatun berkerut tajam sambil memandang ke arah jauh di depan. Terbaca rasa khawatir yang mendalam di wajah orang tua itu. Ternyata, pandangan Ki Sahdatun tertuju ke arah sesosok bayangan yang sedang bergerak. Semakin jelas sosok itu, ternyata adalah rombongan orang yang tengah menuju ke arah mereka.

"Apakah mereka rombongan pedagang lain dengan arah yang berlawanan?" tanya Ki Sahdatun dalam hati.

Ketika orang-orang itu semakin dekat, tampak jelas bahwa mereka bukanlah pedagang. Rambut mereka terurai tanpa ikat kepala. Wajah mereka kasar dengan tatapan dingin dan mata liar, seolah sudah terbiasa dengan kekejaman.

"Serahkan seluruh harta yang kalian miliki dan segeralah pergi dari sini!" teriak salah seorang dari mereka dengan suara garang.

"Kami telah menyiapkan bagian untuk kalian, bukankah aturannya seperti itu?" sahut pemimpin rombongan pedagang sambil mengeluarkan beberapa keping uang perak.

"Kami tidak punya aturan! Cepat serahkan apa pun yang kalian miliki!" bentak salah seorang perampok.

Mendengar gertakan itu, para pedagang meletakkan semua barang bawaan mereka.

"Mengapa kamu tidak mengeluarkan barangmu, he?" gertak perampok itu kepada Ki Sahdatun dan Sobali.

"Kami tidak punya apa-apa," jawab Ki Sahdatun.

"Lain kali aku akan meminta umurmu!" ancam orang itu kesal karena tidak mendapatkan barang berharga.

Tiba-tiba, pandangan mata perampok itu beralih ke arah wanita muda yang tidak jauh darinya. Ia mendekati wanita itu, memandangnya dari bawah hingga ke atas. "Perempuan bagus, kamu tetap di sini dan menjadi milikku," ucapnya dengan tatapan menyeramkan.

Wanita muda itu tampak ketakutan hingga seluruh tubuhnya gemetar.

"Jangan ganggu wanita itu, dia adalah istriku," seru Sobali lantang, mengejutkan semua orang.

"Sobali pemuda yang berani," batin Ki Sahdatun, terkesan dengan sikap pemuda itu yang tidak rela melihat wanita dilecehkan.

Lelaki perampok itu menoleh ke arah Sobali dengan wajah bengis. "Bagus, aku akan membunuhmu dan istrimu akan menjadi janda."

Sobali tidak gentar dan bersiap menghadapi serangan. Lelaki itu pun mengayunkan golok panjangnya ke arah kepala Sobali. Namun, tiba-tiba sebuah kerikil melayang dengan tenaga yang cukup kuat.

*Ting!*

Sentuhan kerikil kecil itu mampu membelokkan arah golok, bahkan membuat si perampok terhuyung. Sobali tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu; ia meninju rahang perampok tersebut hingga terjengkang jatuh ke tanah.

Ki Sahdatun menyapu pandangannya ke sekeliling, mencari pelempar kerikil itu, namun tidak menemukannya. Sementara itu, kawan-kawan perampok tersebut mulai mengepung Sobali. Para pedagang hanya diam, enggan menolong dan justru menyalahkan sikap Sobali.

Di tengah suasana tegang, Rangga Seta berlari menerobos masuk ke dalam kepungan. "Kalian semua orang jahat, beraninya mengeroyok orang!" teriak Rangga Seta layaknya orang dewasa sambil membusungkan dada.

Sikap anak kecil itu menggegerkan suasana, sekaligus mencairkan ketegangan.

"Cincang pemuda itu dan lemparkan anak kecil itu!" perintah pemimpin gerombolan.

Puluhan orang bergerak serentak ke arah Sobali. Ki Sahdatun terbelalak melihat kejadian selanjutnya; orang-orang kasar itu terlempar ke belakang seolah membentur dinding baja yang kokoh. Mereka langsung jatuh pingsan. Pandangan Ki Sahdatun tertuju pada seorang pemuda berambut ikal yang menggenggam senjata cakra.

"Anak muda yang berilmu tinggi," batin Ki Sahdatun memuji.

Ki Sahdatun hendak mengucapkan terima kasih, namun niatnya tertunda saat melihat Rangga Seta berlari ke arah pemuda itu.

"Kakang Gajahmada!" seru Rangga Seta ceria.

"Rangga Seta?" ujar pemuda itu—yang tidak lain adalah Patih Gajahmada—sambil berjongkok dan memegang wajah Rangga Seta dengan tatapan tidak percaya. "Di mana ayah dan ibumu?"

Namun Patih Gajahmada tidak menemui siapa pun selain Ki Sahdatun yang segera menghampirinya.

"Rangga Seta datang bersamaku, wahai anak muda," ujar Ki Sahdatun.

Patih Gajahmada berdiri dan bersuit panjang, tak lama berselang muncul sepuluh orang menghampirinya.

"Apa yang dapat kami lakukan, wahai Tuan Duta Mangkara?" tanya salah seorang dari mereka.

"Bawalah orang-orang ini melingkar menghindari rombongan Ki Sadeng. Sementara itu, aku akan membawa orang tua dan anak kecil ini," perintah Patih Gajahmada.

Gajahmada kemudian membawa Ki Sahdatun dan Rangga Seta masuk ke dalam hutan lebat. Setelah berjalan cukup lama, mereka sampai di beberapa gubuk yang menjadi tempat tinggal Patih Gajahmada beserta kawanannya. Di dalam gubuk, Patih Gajahmada memperkenalkan jati dirinya.

"Di hutan ini orang memanggilku sebagai Duta Mangkara," ucapnya.

"Ternyata aku berhadapan dengan Tuan Patih Gajahmada yang terkenal," ujar Ki Sahdatun penuh hormat.

"Ceritakanlah apa yang terjadi pada Rangga Seta dan keluarganya, wahai orang tua," pinta Patih Gajahmada.

Ki Sahdatun pun memulai ceritanya mengenai perang saudara di Balidwipa antara pihak yang ingin lepas dari Majapahit dan yang tetap setia. "Aku menemui padepokan keluarga Rangga Seta telah hangus terbakar. Aku menemui Rangga Seta sendirian di tengah sisa-sisa kayu tanpa ada seorang pun di sana."

"Apakah Ki Sahdatun mengetahui siapa yang membakar padepokan itu?" tanya Patih Gajahmada.

Ki Sahdatun hanya menggelengkan kepala.

"Rangga Seta, ceritakanlah apa yang kamu ketahui tentang padepokan ayahmu," pinta Patih Gajahmada kepada anak itu.

"Ayah dan ibuku telah membuatkanku rumah pohon di dalam hutan dan memintaku tidak pergi ke mana-mana sebelum ada yang menjemputnya."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment