Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 102

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 102

Di keremangan malam, di bawah langit dan cahaya bulan yang terpotong, langkah kaki kuda Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru terus berpacu membelah udara dingin.

"Berhenti!" teriak Ki Rangga Gajah Biru manakala melihat seonggok bayangan hitam tergeletak di tengah jalan di hadapan mereka.

Mereka berdua segera menghentikan laju kuda dan melompat turun.

"Kuda Patih Mahesa Amping," ujar Ki Demung Juru di dekat seekor kuda yang sudah tidak bernapas, yang dikenal sebagai milik Patih Mahesa Amping.

"Patih Mahesa Amping sangat menyayangi kudanya, namun dengan tangannya sendiri ia telah membunuhnya," kata Ki Rangga Gajah Biru setelah melihat tulang dada kuda itu remuk terpukul oleh tenaga yang amat kuat.

"Nampaknya kuda ini sudah tidak dapat lagi menuruti perintah majikannya untuk terus berlari," duga Ki Demung Juru mengenai kematian kuda kesayangan Patih Mahesa Amping itu.

"Kita telah tertinggal setengah hari perjalanan," ujar Ki Rangga Gajah Biru setelah meraba bangkai kuda tersebut.

Mereka berdua segera melompat ke atas kuda masing-masing dan memacu hewan tunggangan mereka. Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru adalah prajurit pilihan yang terlatih menghadapi berbagai rintangan berat, menempuh perjalanan jauh, serta bertempur seharian penuh tanpa beristirahat.

Sebagaimana perkiraan Ki Rangga Gajah Biru, mereka memang tertinggal setengah hari perjalanan dari Patih Mahesa Amping yang telah meninggalkan kudanya. Keduanya membayangkan sang patih Daha yang sakti itu pasti telah menggunakan ilmu meringankan tubuhnya yang sempurna, yang konon dapat berlari kencang mengendarai angin.

Dengan perasaan tak menentu dan menduga-duga kebenaran perkataan Dara Jingga bahwa sang suami telah kehilangan akal sehatnya, Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung terus memacu kuda melewati beberapa kademangan, hutan yang gelap, serta padang ilalang dan tanah berawa.

"Kita mencari tempat untuk beristirahat sejenak, kuda kita nampaknya sudah mulai jemu berlari," kata Ki Rangga Gajah Biru sambil memperlambat laju kudanya, diikuti oleh Ki Demung Juru.

Hingga di sebuah jalan di puncak perbukitan, mereka berhenti. Sementara itu, langit di atas kepala mereka mulai bias memerah, pertanda malam akan segera berganti oleh putra fajar.

"Kasihan kuda-kuda kita," ucap Ki Demung Juru sambil melihat kuda-kuda mereka yang rebah di hamparan rumput liar dengan napas tersengal.

Saat fajar menyingsing di ufuk timur, keduanya menuntun kuda agar otot-otot hewan itu menghangat terkena udara pagi. "Kotaraja Majapahit sudah tinggal setengah hari perjalanan lagi," ujar Ki Rangga Gajah Biru.

Di waktu yang sama, sebuah rakit tengah menyeberangi Sungai Kalimas. Seorang lelaki tua mengenakan pakaian kebesaran pejabat istana berada di atasnya bersama dua prajurit pengawal. Di seberang sungai, beberapa prajurit Majapahit tampak menunggu rakit itu menepi.

Begitu rakit merapat, lelaki tua yang sangat berwibawa itu melangkah ringan ke dermaga kayu, menunjukkan ia adalah seorang yang sangat terlatih dalam olah kanuragan.

"Kami telah menyiapkan kuda untuk Tuan Patih Amangkubumi," kata seorang prajurit.

"Terima kasih," jawab lelaki tua itu, yang ternyata adalah Patih Amangkubumi, seseorang yang dikenal ramah dan bersahaja meski memiliki jabatan tinggi di Majapahit.

Hari itu, Patih Amangkubumi mewakili Baginda Raja Sanggrama Wijaya untuk melakukan perundingan dengan utusan resmi Maharaja Kubilai Khan. Setelah kekalahan pasukan Mongolia di Jawadwipa, terjadi kevakuman hubungan antarkedua kerajaan. Peperangan di lautan tak terelakkan saat perahu dagang mereka bertemu. Akhirnya, para pedagang Mongolia berhasil melunakkan hati Maharaja Kubilai Khan untuk mengutus seorang ahli runding guna membuat kesepakatan dengan Majapahit.

Karena utusan tersebut merasa martabatnya lebih tinggi jika harus datang ke istana, disepakatilah perundingan dilakukan di Bale Tamu, Tanah Ujung Galuh, sebuah tempat yang dibangun Baginda Raja Sanggrama Wijaya beberapa tahun silam.

Karena Baginda Raja sedang berkunjung ke Tanah Pasundan, Patih Amangkubumi mewakilinya melakukan kesepakatan dengan utusan kerajaan besar yang konon menguasai setengah wilayah bumi tersebut.

Saat Patih Amangkubumi memasuki pintu gerbang Bale Tamu, di waktu yang sama, Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru memasuki wilayah Kademangan Maja. Mereka tidak memperlambat laju kuda meski jalanan cukup ramai oleh pejalan kaki. Derap kuda yang kencang membuat warga panik dan berlarian menepi sambil melontarkan sumpah serapah. Namun, Ki Rangga dan Ki Demung tidak memedulikannya; pikiran mereka hanya tertuju untuk segera menemui Patih Mahesa Amping.

Mereka pun meninggalkan Kademangan Maja dan di hadapan mereka berdiri gapura tinggi menantang matahari yang berada tepat di atas kepala. Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru akhirnya memasuki Kotaraja Majapahit dari arah barat.

Sementara itu di Tanah Ujung Galuh, Patih Amangkubumi sedang berbincang dengan utusan Kaisar Mongolia yang bernama Yultemujin.

"Mari kita melupakan apa yang pernah terjadi di antara kita agar kita menemui kesepakatan," ujar Patih Amangkubumi.

"Di negeri kami, orang Jawadwipa dianggap sebagai sekumpulan orang liar yang sukar berdamai. Ternyata, setelah bertemu Tuan Patih Amangkubumi, pandangan itu mencair. Orang Jawadwipa ternyata santun dan dapat diajak bicara," puji Yultemujin.

Patih Amangkubumi adalah perunding yang hebat. Ia berhasil mendapatkan kesepakatan yang menguntungkan Majapahit, seperti menghentikan permusuhan dan menjalin hubungan dagang kembali. Pedagang asing tidak diperbolehkan masuk ke pedalaman dan hanya boleh berdagang melalui perwakilan kerajaan di wilayah kekuasaan Majapahit.

"Aku akan bercerita kepada Kaisar kami bahwa di Jawadwipa kami diterima dengan keramahan. Adakah permintaan dari Tuan Patih yang dapat kami sampaikan kepada Kaisar?" tanya Yultemujin.

"Sampaikan salamku bahwa kami mencintai perdamaian. Satu teman baik lebih ternilai daripada seribu musuh. Permintaanku, semoga Maharaja Kubilai Khan bermurah hati mengembalikan kehormatan panglimanya, Ike Mese. Sampaikan bahwa kekalahan prajurit Mongol bukan kesalahan Panglima Ike Mese, melainkan karena Gusti Yang Maha Agung saat itu berpihak kepada orang Jawa."

Sementara itu, Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru telah memasuki jalan utama kotaraja. Hati mereka berdebar mendengar riuh ribuan prajurit di muka gerbang istana. Betapa terkejutnya mereka saat mengetahui ribuan prajurit itu sedang mengeroyok Patih Mahesa Amping seorang diri. Tidak ada satu pun pedang prajurit yang mampu melukainya; sebaliknya, siapa pun yang mendekat akan terlempar dan roboh tak bergerak oleh terjangan Patih Mahesa Amping yang sangat sakti itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment