Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 197

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 197

"Setelah dua hari dua malam tidak ada yang menjemputku, terpaksa aku mencari jalan pulang dan menemui rumahku sudah hangus terbakar. Aku tidak menemui siapa pun di sana, ayahku, ibuku, dan para pamanku," ujar Rangga Seta bercerita tentang dirinya kepada Patih Gajah Mada.

"Apakah ada pesan lain dari ayahmu?" tanya Patih Gajah Mada kepada Rangga Seta.

"Ayahku berpesan, bila terjadi sesuatu atas semua orang di padepokan, aku diminta mencari Kakang Gajah Mada untuk mendapatkan perlindungan," ujar Rangga Seta menyampaikan amanat ayahnya.

"Kakang Putu Risang pasti membawa para cantriknya menyingkir untuk menghindari peperangan," kata Patih Gajah Mada dalam hati sambil membayangkan seseorang yang telah banyak menanamkan budi kepadanya. Sosok itu adalah salah satu murid utama Patih Mahesa Amping yang ditugaskan menjadi guru kanuragan bagi dirinya dan Raja Jayanagara.

Dengan wajah penuh kasih, Patih Gajah Mada memandang ke arah Rangga Seta dan membayangkan betapa sedihnya perasaan anak kecil itu yang mendapati padepokan milik ayahnya hangus terbakar, serta ditinggalkan oleh ayah dan ibunya. Nampaknya, orang tuanya tidak menginginkan Rangga Seta terlibat langsung dan menderita di dalam kecamuk perang saudara yang tengah terjadi di Balidwipa.

"Kamu adalah anak baik yang patuh memenuhi permintaan ayah dan ibumu. Saat ini kamu berada di tempat yang aman. Ayahmu memang pernah memintaku untuk menjadi gurumu. Pada suatu saat, aku akan mencari sendiri di mana keberadaan ayah dan ibumu," ujar Patih Gajah Mada kepada Rangga Seta.

"Manakala kutanyakan adakah kerabat terdekat dari ayahnya, anak ini hanya berkata bahwa ayahnya punya kerabat dekat bernama Patih Gajah Mada di Kediri. Itulah sebabnya kubawa Rangga Seta menyeberangi Balidwipa mencarimu. Ternyata kita bertemu di sini," ujar Ki Sahdatun menceritakan awal perjalanannya di Jawadwipa.

"Bila tidak keberatan, dari manakah asal Ki Sahdatun?" tanya Patih Gajah Mada.

"Sebagaimana Rangga Seta, keluarga kami juga terusir dari sebuah perang saudara yang tidak pernah berakhir. Kami selalu diburu, saudara dan keluarga kami menyelamatkan diri ke berbagai penjuru dunia. Dalam sebuah pelayaran, kami terserang badai yang sangat kuat. Beruntung aku masih hidup terdampar di sebuah pulau yang sangat jauh berbeda dengan tempat asalku, sebuah pulau hijau yang dipenuhi pepohonan yang akhirnya kuketahui bernama Balidwipa. Itulah ceritaku, sejak saat itu aku hidup seorang diri sebagai pengembara hingga akhirnya menemui anak ini," ujar Ki Sahdatun.

Tiba-tiba saja Patih Gajah Mada teringat cerita Putu Risang bahwa ada seseorang yang selalu membayangi Rangga Seta secara tersembunyi. "Apakah Ki Sahdatun orangnya?" gumam Patih Gajah Mada dalam hati. Namun, ia mencoba membuang jauh-jauh kekhawatirannya; perasaan hatinya mengatakan bahwa Ki Sahdatun adalah orang baik yang tidak akan mencelakai Rangga Seta.

"Setelah tugasku selesai di hutan ini, aku akan membawa kalian ke istana Kediri," ujar Patih Gajah Mada kepada Ki Sahdatun dan Rangga Seta.

"Aku akan selalu menjaga Rangga Seta untukmu," jawab Ki Sahdatun dengan senyum penuh kasih dan kebijakan. Wajah dan sikap itu membuat Patih Gajah Mada teringat kepada pendeta tua yang pernah mengasuhnya, seorang bernama Gunakara yang kini telah kembali ke tempat asalnya, dataran Tibet.

"Kita menjaganya bersama-sama, wahai Ki Sahdatun," ucap Patih Gajah Mada dengan penuh keramahan.

Nampaknya, Ki Sahdatun cukup memahami apa yang dilakukan Patih Gajah Mada bersama kawanannya. Dalam hubungan sehari-hari, Ki Sahdatun akhirnya lebih dekat dan mengenal secara pribadi para kawanan Duta Mangkara yang ternyata berasal dari dua padepokan ternama, yakni perguruan Teratai Putih dan Bajra Seta. Bergabung pula seorang pemuda bernama Rangga Mahesa Dharma bersama mereka.

Sepak terjang kawanan Duta Mangkara membuat kelompok Ki Sadeng terpukul. Mereka sering mendahului gerakan lawan sehingga tidak ada lagi yang dapat diperas dari para pedagang karena sudah dirampok habis oleh kawanan Duta Mangkara.

"Cari persembunyian mereka, dan hancurkan!" perintah Ki Sadeng kepada anak buahnya. Namun, kawanan Ki Sadeng tidak pernah menemukan tempat persembunyian tersebut. Hutan yang luas di jalur tak bertuan serta datang dan hilangnya kawanan Duta Mangkara dari tempat yang berbeda-beda benar-benar menyulitkan mereka.

Di tengah kesibukannya, Patih Gajah Mada masih menyempatkan diri mengawasi perkembangan Rangga Seta. "Terima kasih telah melatih ketahanan dan kecepatan Rangga Seta," ujar Patih Gajah Mada kepada Ki Sahdatun. Hingga ketika benar-benar ada waktu luang, Patih Gajah Mada sendiri yang melatih anak itu. Ia mengakui bahwa Rangga Seta adalah anak yang cerdas dan telah menguasai gerak kanuragan yang satu aliran dengan dirinya.

Suatu pagi, Patih Gajah Mada terkejut melihat Ki Sahdatun tengah menjalani laku yang gerakannya sama dengan yang selama ini dijalaninya setiap malam. Ki Sahdatun tersenyum memandang Patih Gajah Mada yang bertanya tentang laku tersebut.

"Bila kita mandi sehari dua kali akan membersihkan diri, sementara agama kami mewajibkan pengikutnya melakukannya lima kali sehari," jelas Ki Sahdatun. Patih Gajah Mada membenarkan dalam hati; baginya sekali melakukannya saja sudah dapat menyegarkan tubuh dan menumbuhkan hawa murni.

"Gusti Yang Maha Agung telah menurunkan utusan-Nya untuk manusia di setiap zaman dan tempat dalam berbagai bahasa dan laku agar manusia menemui jalan keselamatan. Ibarat sungai kecil yang bertebaran di muka bumi ini, semuanya akan bermuara ke samudra raya," ujar Ki Sahdatun seolah dapat membaca pikiran sang Patih.

"Bahasa kebenaran yang hakiki, itulah muara samudra yang maha luas, muara dari setiap sungai yang mengalir," timpal Patih Gajah Mada.

"Benar, anak muda. Muara samudra yang di dalamnya penuh dengan keindahan dan rahasia kebenaran hakiki kehidupan. Namun, semakin kita menyelam dalam, dahaga kita tidak pernah tercukupi. Kita akan menyadari betapa bodohnya diri ini karena masih banyak rahasia kehidupan yang belum terungkap," ujar Ki Sahdatun dengan wajah cerah.

"Meski anutan kita berbeda, namun kita seperti satu bahasa," kata Patih Gajah Mada yang mulai menyukai orang tua itu.

"Kamu benar. Pemahaman tentang ajaran Trimurti adalah pemahaman tentang nama dan sifat Sang Hyang Widi yang terdiri dari tiga: Sang Pencipta, Sang Pemelihara yang penuh kasih, dan Sang Hakim yang menakutkan. Agama kami mengenalkan nama dan sifat-Nya lebih banyak lagi hingga sembilan puluh sembilan, namun tetap dalam tiga kelompok: Yang Maha Pencipta, Yang Maha Pemelihara, dan Yang Maha Pemberi Hukuman," ujar Ki Sahdatun.

"Pengenalan dan pemahaman Ki Sahdatun tentang ajaran Trimurti sungguh sangat luas dan matang," puji Patih Gajah Mada.

"Agama kami tidak dibesarkan dengan pedang, tapi dengan kebenaran akal dan pikiran," jawab Ki Sahdatun.

Demikianlah, hari-hari berlalu dan Patih Gajah Mada semakin mengenal Ki Sahdatun. Ia tidak lagi mengkhawatirkan Rangga Seta. Baginya, Gusti Yang Maha Agung berkuasa membimbing setiap hati manusia, sebagaimana dulu ia dibimbing oleh Pendeta Gunakara yang beragama Buddha dan ayah angkatnya, Patih Mahesa Amping, yang menganut Hindu.

Wilayah jalur tak bertuan antara Lamajang dan Blambangan kini menjadi daerah kekuasaan dua kawanan yang saling bersaing. Bermula dari sebuah berita bahwa telah datang iring-iringan pedati pedagang dari arah Lamajang.

"Saudaraku, Duta Mangkara," seru seseorang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment