Halo!

Patung Pembawa Maut - Chapter 01

Memuat...
Patung Pembawa Maut

Chapter 01

Pelabuhan Semarang ramai sekali dengan pedagang yang bongkar muat dagangan di kapal. Pedagang dari manca negara banyak berdatangan di Nusa Jawa dengan melalui pelabuhan ini. Para kuli angkut naik turun dengan punggung berisi muatan, di bawah kapal dekat dengan barang yang ditumpuk, seorang pedagang Cina berkepala gundul pelontos berdiri sambil memegang sebuah kotak berukir.

Di belakangnya, dua orang centeng bertubuh gempal dengan kumis melintang seperti Raden Gatotkaca menjaga dengan patuhnya. "Ayaaa, lambat betul olang-olang itu keljanya! Owe mau makan dulu, Dul. Awasi olang-olang itu sebental!" katanya dengan suara cedal. Pedagang Cina ini tidak dapat mengucapkan huruf dengan benar, dia selalu mengucapkan 'r' dengan 'l'.

Pedagang Cina yang bernama Lim Hok Coan itu memerintahkan Dullah, salah seorang centengnya. "Baik, Tuan Lim. Jangan khawatir, sebentar lagi kalau sudah selesai saya kabari." Dullah menjawab cepat sambil membungkukkan tubuh. "Hati-hati lu jaga! Jangan dikasih hati kalau ada yang malas!" kata Babah Lim lagi. "Owe pelgi, Dul. Hati-hati!" Dengan mengempit kotak berukir, Lim Hok Coan berjalan menuju ke Rumah Makan SEDAP di perempatan jalan dekat pasar.

Memasuki ruangan dengan langkah berat, tubuhnya yang gendut itu menaiki tangga batu agak kesukaran. "Selamat pagi, Juragan Lim." sambut pelayan. Dia telah mengenal Juragan Lim Hok Coan ini dengan baik karena juragan ini adalah langganan tetap rumah makan ini. "Disediakan seperti biasa, Juragan." "Iya, sepelti biasa! Tolong alaknya dua guci!" "Baik, juragan!" Juragan Lim Hok Coan duduk di sudut seorang diri. Kotak berukir ditaruh di atas meja.

Sambil menanti pesanan datang, dia berkipas-kipas mengusir panas. "Pagi, Juragan Lim." Juragan Lim Hok Coan menengok ke samping. Ternyata yang menegurnya adalah seorang yang memakai pakaian bagus dengan kain sutera hitam. Wajahnya tampan tanpa kumis, akan tetapi sepasang matanya liar bergerak ke sana-sini. Tubuhnya tinggi kurus. "Aiyaaa, kapan datang? Ada belita apa lagi?" sapa Lim Hok Coan. "Ayo duduk dulu, kita bicala santai!" Sancaka duduk di depan Juragan Lim.

Melihat kotak berukir, tangannya terulur. "Jangan sentuh!" bentak Juragan Lim. Sancaka menarik tangannya cepat seakan kena patukan ular cobra, mengawasi Juragan Lim penuh tanya. "Apakah itu barang...?" "Nanti saja bicala di lumah! Di sini banyak olang!" katanya pelan sambil berkedip dengan sebelah mata kiri. Pelayan datang membawa makanan dan arak dua guci. Menaruh di meja lalu membongkok pergi dengan hormat.

"Kita makan dulu." katanya sambil menawarkan. Sancaka tanpa malu-malu lalu mengambil makanan yang terhidang, juga minum arak. Keduanya makan dengan diam. Akan tetapi, pandang mata Sancaka tidak pernah lepas dari kotak berukir di atas meja depan Juragan Lim. "Aku permisi dulu, juragan. Ini, mau mengantarkan untuk Juragan Cakra." Sancaka minta diri. Memberi salam lalu berlalu dengan cepat keluar dari rumah makan. Sancaka membelok ke dalam pasar dan lenyap di kerumunan orang!

Setelah selesai makan, Juragan Lim kembali ke tempat penurunan barang-barang di dermaga. Dullah yang melihat kedatangan tuannya menyambut. "Tuan Lim, tadi tuan Coa ke sini." katanya cepat. "Tuan Coa bilang akan ke rumah nanti malam." "Oya, kalau begitu masukkan semua dalam gudang! Aku mau pulang sekalang!" Lim Hok Coan lalu menuju ke kereta yang menanti di sudut jalan. Menaiki kereta lalu menyuruh kusir untuk mengantar pulang. Dua orang centeng lain naik di belakang kereta mengawalnya pulang.

Malam itu di rumah Juragan Lim Hok Coan, seorang tamu yang berbadan kurus memakai hancinco hitam dengan kepala tertutup topi kopiah hitam pula. Kumisnya tipis panjang sampai di bawah dagu, sepasang matanya sipit. Dia bukan lain adalah Coa Bo Gie, seorang pedagang barang-barang antik. "Bagaimana, Lim-toako? Asli atau tidak patung itu?" tanya Coa Bo Gie. Mereka berdua bicara menggunakan bahasa asalnya, bahasa Cina.

"Asli! Ini terang asli! Orang dari Surabaya itu telah meneliti dengan seksama." jawab Lim Hok Coan dengan suara pasti. "Penjual patung berani menanggung bahwa patung ini asli." "Boleh aku melihatnya sebentar?" kata Coa Bo Gie kemudian. "Mari, kita masuk saja ke ruang belakang! Di sana kita dapat meneliti lagi. Coa-te sebagai penjual barang antik tentu lebih tahu." Lim Hok Coan lalu bangkit berdiri, mengajak tamunya untuk mengikutinya ke belakang, menuju ke ruang khusus tempat ia menyimpan benda-benda keramat dari berbagai daerah.

"Mari, mari silakan masuk saja!" Coa Bo Gie begitu melihat koleksi benda-benda di ruangan itu berdecak kagum! "Luar biasa, sungguh luar biasa sekali! Sungguh tak pernah kusangka bahwa Lim-toako mempunyai begini banyak benda berharga!" katanya penuh kagum. "Aiyaaa, kau ini bisa saja! Kan ini koleksi sejak dari tanah leluhur sana!" katanya sambil tersenyum bangga. Lim Hok Coan yang melihat temannya itu kagum merasa bangga sekali. Sebagai pedagang barang antik tentu saja Coa Bo Gie ini lebih dapat menilai!

Lim Hok Coan menuju ke sebuah lemari kaca di sudut kamar, membukanya lalu mengambil sebuah kotak berukir. Menaruh di atas meja di tengah ruangan serta membuka tutupnya. "Mari, lihatlah!" "Terima kasih!" Coa Bo Gie maju mengawasi isi kotak berukir. Ketika tangannya terulur akan mengambil patung dalam kotak, terdengar bentakan menggeledek! "Tahan! Jangan pegang patung itu!" Berkelebat sesosok bayangan tinggi besar di tengah ruangan. Kedua orang yang di dalam tersentak kaget sekali.

Bagaimana tahu-tahu tamu tak diundang ini dapat masuk ke "ruang belakang" tanpa diketahui para penjaga di luar! "Maafkan, pinceng datang tanpa diundang!" "Tan-suhu..." Hampir berbareng, Lim Hok Coan dan Coa Bo Gie berseru. Bagaimana pendeta ini dapat mengetahui bahwa dia mempunyai Patung Batari Durga? "Kebetulan Tan suhu datang. Sebetulnya besok pagi saya mau menghaoap suhu di kelenteng!" Lim Hok Coan cepat-cepat berkata untuk menutupi rasa kagetnya. Siapakah yang memberi tahu pendeta ini sehingga malam-malam datang ke rumahnya dengan menggunakan kepandaiannya!

"Pinceng tadi ketika bersamadhi seakan-akan ditarik-tarik untuk pergi ke mari! Kiranya memang ada sesuatu di sini!" kata Tan suhu halus sambil merangkapkan kedua tangan depan dada. Menjura kepada Lim Hok Coan dan Coa Bo Gie. Kedua orang itu pun membalas penghormatan itu dengan segan. Hanya alasan saja, pikir keduanya. "Tan suhu, mengapa mencegah saya untuk memegang patung itu?" tanya Coa Bo Gie. "Begini, menurut apa yang kudengar dari kelenteng di Surabaya, Patung Batari Durga itu mengandung kekuatan yang menyesatkan! Banyak sudah orang menjadi korbannya!" Menerangkan demikian, Tan suhu maju ke depan mengawasi patung. Mulutnya berkemak-kemik membaca mantera serta tangannya memutar-mutar tasbih yang dibawanya.

Kedua orang itu saling pandang. Tidak percaya! Sudah biasa kalau benda seni itu mengandung daya magis, pikir keduanya. Tetapi semua itu dapat dicari penangkalnya! "Tapi suhu kan bisa memberi penangkal. Tolonglah Patung Batari Durga ini jangan memberi bencana di rumah ini. Patung ini berharga sangat mahal, suhu." Tan suhu mengangguk. Lalu duduk di depan patung di atas bantal yang disediakan oleh tuan rumah. Lim Hok Coan serta Coa Bo Gie juga duduk di bantal di belakang hwesio ini, mengikuti ucapan mantranya.

Suasana di dalam kamar menjadi syahdu dengan adanya irama mantram ketiga orang itu. Tiba-tiba mengepulah asap putih dari peti berukir di mana Patung Batari Durga berada. Lim Hok Coan dan Coa Bo Gie terbelalak! Memandang ke arah asap yang membubung naik itu dengan keheranan meliputi hatinya. "Hi-hi-hik... kenapa aku kausuruh pergi? Di sini tempatku bersemayam! Siapapun tidak dapat menyuruh aku pergi!" Entah siapa yang mengeluarkan suara ini. Mungkin hanya Tan suhu saja yang dapat menebaknya.

Tan suhu semakin keras membaca mantram. Dari dahinya telah keluar keringat sebesar kedele memenuhi mukanya. Tiba-tiba dia berhenti membaca mantram dan tubuhnya dalam keadaan duduk itu telah melayang ke atas. "Siapapun adanya kau, kuminta jangan mengganggu rumah ini!" Sambil melemparkan tasbihnya ke arah peti berukir di meja! "Buuussss..." Api kemerahan memancar keluar dari sepasang mata patung. Menahan tasbih di udara, begitu tasbih turun ternyata peti itu telah pindah tempat! Sekarang ada di meja di sudut kamar.

Tan suhu menulis huruf-huruf di udara dan mengacungkan kedua jari telunjuk serta jari tengahnya. "Wuuuusssss!!" Jari-jari itu menyala ketika diarahkan ke patung. Entah bagaimana caranya meloncat, tahu-tahu peti berukir telah tidak ada di tempat tadi ketika api menyambar datang! "Hi-hi-hik... kau kira sudah menundukkan aku!" Kembali ada suara mengejek. "Terimalah ini!" Tahu-tahu Tan suhu telah dibungkus oleh api yang berkobar. Kembali terjadi keanehan. Tan suhu yang terbakar api tidak berteriak kesakitan sama sekali. Api itu seakan-akan tidak dapat menembus hawa yang melindungi tubuhnya!

"Daaarrrrr..." Ledakan dahsyat terdengar memekakan telinga yang mendengarnya. Tan suhu terlihat kembali telah duduk di bantal dengan napas terengah-engah. Pendeta yang ahli kebatinan dan silat ini belum mampu membendung serangan dari Patung Batari Durga yang entah berisi makhluk siapa itu! "Amitaba..." Tan suhu memuji kebesaran Sang Buddha. Agaknya dia sadar bahwa belum waktunya patung dapat dimusnahkan. Kedua orang di belakangnya ternyata telah bersujud berkali-kali sambil mengucapkan kata-kata yang tidak jelas!

Tan suhu berdiri lalu mohon pamit pada Lim Hok Coan. Coa Bo Gie juga mengikuti hwesio, berpamit kepada tuan rumah. Juragan Lim sendiri juga takut berada di kamar itu sendiri, mengikuti kedua orang ke luar kamar.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment