Chapter 02
Menutupkan daun pintu, setelah itu mengantar kedua tamunya keluar dari rumahnya.
Ketika sampai di pintu depan, Tan suhu berkata, "Kuharap malam ini jangan ada yang masuk kamar! Apabila matahari telah bersinar, baru boleh masuk!" pesannya.
"Pesan suhu akan saya pelihara," kata Coa Bo Gie sambil memberi isyarat mata. "Besok siang saja kita lanjutkan pembicaraan kita, Lim-toako. Sekarang lebih baik saya pulang dulu."
Juragan Lim mengangguk. Setelah kedua tamunya pergi, Juragan Lim masuk ke rumah. Memanggil seluruh penghuni rumah untuk berkumpul di ruangan besar.
Dia memesan siapapun untuk tidak membuka pintu kamar tempat barang seni. "Besok setelah telang tanah, barulah boleh! Biar aku saja yang membuka. Nanti setelah kubuka, barulah dibersihkan oleh para pembantu!" katanya pelan.
"Ada apakah sebetulnya, Ayah?" Anak perempuan satu-satunya bertanya.
"Wah, nanti saja kubelitahu... Sekarang semua boleh berpencar!" kata Lim Hok Coan kepada anak perempuannya dan semua orang yang berada di ruangan itu.
Semua orang lalu kembali ke tempat masing-masing, hanya puterinya yang masih duduk di dekat ayahnya. Setelah semua orang pergi, barulah Juragan Lim melanjutkan keterangannya.
"Begini, Hwa," Juragan Lim menceritakan peristiwa yang baru saja terjadi di kamar belakang. Puterinya, Lim Gin Hwa, mengangguk-angguk sambil memandang ayahnya dengan kedua mata tak percaya.
"Lebih baik kau tidur kembali! Hari sudah malam, Hwa!" Lim Gin Hwa mengiyakan. Lalu, dara ini menuju ke kamarnya sendiri.
Ketika semua telah pergi, Juragan Lim pun menuju ke kamar untuk mengaso. Rumah perguruan itu besar sekali dan dikelilingi oleh pagar tembok tinggi. Pintu gerbangnya tertutup oleh daun pintu yang terbuat dari kayu jati yang tebal.
Ketua perguruan Balung Wesi bernama Ki Jaluwesi telah berusia sekitar enam puluhan tahun. Ketua ini dibantu oleh adik seperguruannya yang berumur lima puluhan tahun bernama Ki Pentet Prawirayuda sebagai wakil ketua perguruan silat Balung Wesi.
Siang hari itu, di pelataran depan penuh dengan pemuda yang sedang berlatih pencak silat. Diawasi langsung oleh kedua gurunya. Di sudut samping, empat orang yang memegang golok besar sedang mencoba kekebalan temannya.
"Dukk! Dukk! Dukk! Dukkk!" Empat batang golok silih berganti menghunjam tubuh bertelanjang dada. Golok terpental kembali tanpa sedikit pun melukai kulit, hanya meninggalkan bekas kemerahan di tubuh si pemuda.
"Hati-hati, Parta! Sekarang balaslah menyerang!" kata salah seorang pemegang golok. "Baik! Kerahkan seluruh tenaga kalian!" "Wirrrr... Plakkk!" Sebuah babatan golok dari depan ditangkis Parta, terlempar ke udara!
Ternyata pemegang golok di depan tidak dapat memegangi goloknya akibat tertangkis tangan Parta. Ketiga temannya menyusuli dengan serangan golok mereka. Bagaikan hujan saja, layaknya babatan golok melanda tubuh Parta.
Parta menggunakan geseran-geseran kaki serta gerak kilat kedua tangannya, ia dapat mengelak dari hujan serangan golok. "Ciaaattttt! Plakk! Plakk! Plakk!" Ketiga temannya terlempar ke kanan kiri terkena tamparan di pundak masing-masing.
Parta menerima babatan golok dengan tubuhnya dan membarengi dengan tamparan. Ketika golok menimpa tubuh terpental, dan tamparan Parta mengenai pundak lawan tanpa dapat dielakkan, saking cepatnya.
"Bagus, Parta. Sekarang engkau telah maju pesat!" puji Ki Pentet Prawirayuda yang melihat gerakan murid didiknya. Dia maju men-dekati Parta yang sedang berdiri memandang rekannya.
"Terima ini!" seru Ki Pentet Prawirayuda sambil melayangkan sebuah pukulan ke dada. Parta menggeser kaki ke kiri, lalu tangannya menggedor lambung gurunya. Ditangkis, serta disusul serangan bertubi melanda tubuhnya.
Parta memainkan ilmu silatnya sebaik mungkin dalam menghadapi pelatihnya Ki Pentet Prawirayuda ini. Sesekali membalas serangan lawan. "Plakkk! Duukkk!!" Ternyata dada Parta terkena pukulan.
Ketika tadi menangkis serangan pancingan lawan, dadanya terbuka sehingga dimanfaatkan oleh pelatihnya ini. Tanpa ampun lagi, Parta terlempar ke belakang!
"Bagus. Ternyata Ilmu Tameng Wajamu sudah sempurna," puji Ki Pentet Prawirayuda. Senang melihat kemajuan yang diperoleh oleh Parta. "Terima kasih, Paman Guru," kata Parta.
Ki Pentet Prawirayuda mengawasi sekeliling, tiba-tiba dia tertarik melihat seorang murid tinggi besar menyerang temannya. Muridnya itu membawa sebuah balok sebesar lengan, diputar-putar, lalu terayun ke arah pemuda bertubuh kurus di depannya!
"Wuuutttttt... dukkk-kraakkkk!!" Akibat pukulan balok sebesar lengan itu sungguh di luar dugaan. Balok yang deras menerpa tubuh kurus kering itu malahan patah menjadi dua tatkala menimpa tubuhnya.
Sungguh hebat sekali ilmu yang diperlihatkan oleh si kurus kering ini. Bejo, si raksasa pemegang balok, membuang sisa balok ke pinggir, mendekati pemuda kurus.
"Hebat kau, Pardi! Balok sebesar lengan dapat patah dan membuat tanganku terasa sakit," kata Bejo memuji dengan lantang terdengar oleh rekan di kanan kirinya.
"Yang hebat bukan aku, Kang Bejo. Ilmu Tunggak Waja ajaran guru inilah yang hebat!" Pardi menjawab merendah. Ki Jaluwesi yang mendengar omongan ini tersenyum kecil.
Murid kecilnya ini sungguh menyenangkan hatinya. Dia pandai membawa diri, dan bakatnya dalam ilmu kanuragan sungguh luar biasa. Semua jurus yang ia berikan dilalapnya dengan mudah.
"Kuummpuuulllll..." Ki Jaluwesi menyuruh para muridnya untuk berkumpul. "Berjajar seperti biasa!" Sambil berlarian, para murid mengikuti perintah ini.
Ketika semua telah rapi di pelataran, Ki Jaluwesi memberi isyarat kepada adik seperguruannya. Ki Pentet Prawirayuda mengerti maksud kakaknya ini, dia lalu memberi aba-aba.
"Satu... Dua... Tiga... Empattt!!" Begitu aba-aba itu diulang beberapa kali. Para murid melakukan jurus-jurus pencak silat ajaran Perguruan Balung Wesi.
Semua gerakan para murid ini mendatangkan angin saking kerasnya. Ki Jaluwesi puas melihat hasil ini. Ketika dia hendak berlalu, seorang penjaga berlarian dari pintu luar.
"Lapor, Guru. Di luar menanti Tan suhu dengan Juragan Lim." "Hemmm, suruh masuk saja keduanya! Kutunggu di ruang samping," kata Ki Jaluwesi.
Penjaga itu pun berlalu menyampaikan perintah gurunya kepada tamu di depan pintu benteng. "Silakan masuk. Andika berdua ditunggu di bangunan samping," kata si penjaga.
"Terima kasih. Mali, tolong antarkan kami berdua!" kata Juragan Lim dengan logat bicara yang pelan. Salah seorang dari penjaga mengantar kedua tamu menuju ke ruangan samping di mana sang guru telah menanti.
Begitu kedua tamu telah diterima gurunya, dia pun mengundurkan diri, melanjutkan tugas menjaga pintu benteng depan! Tan suhu (pendeta Tan). Kebiasaan penduduk Cina memanggil para hwesio dengan sebutan suhu (guru), dan Juragan Lim memberi salam kepada Ki Jaluwesi, dibalas oleh tuan rumah, dan dipersilakan duduk.
Tak berapa lama kemudian, datanglah seorang murid yang membawa nampan berisi air teh dan makanan kecil. Menaruh di atas meja depan ketiga orang itu, lalu mengundurkan diri kembali ke belakang!
"Angin apakah yang membawa Tan suhu datang di kediamanku yang buruk ini?" tanya Ki Jaluwesi. "Angin baik, Ki Jaluwesi," Tan suhu menjawab.
"Aku mengantar Lim Hok Coan, juragan kapal di Semarang ini." "Lho, ada apa? Apakah ada sesuatu yang membutuhkan bantuanku?" "Aiyaaa, saya menjadi malu sendiri. Begini, Tuan Jaluwesi. Aku membutuhkan banyak orang untuk menjaga balang yang kukirim ke Plambanan!" katanya langsung pada persoalan.
Ki Jaluwesi mengawasi Juragan Lim dengan penuh perhatian. Aneh, juragan ini, di Semarang kan banyak para pengawal barang antaran. Ki Jaluwesi lalu bertanya, "Mengapa tidak menyewa orang-orang di sana?"
Tan suhu menceritakan semua kejadian yang menimpa keluarga Juragan Lim dengan adanya peti berukir berisi patung! Diceritakannya secara jelas dan rinci! "Barang itu mau dikirimkan kepada guruku di Prambanan," kata Tan suhu.
Dia mengawasi Ki Jaluwesi yang keheranan mendengar ceritanya tentang Patung Batari Durga. "Kami membutuhkan pengawalan orang-orang sakti." "Iyaaa, tolonglah saya, Tuan Jaluwesi. Benda ini sangat bertuah, saya sungguh mohon kesediaan Tuan Jaluwesi untuk menjaganya sendiri," desak Juragan Lim.
Ketika itu, masuklah Ki Pentet Prawirayuda. Ki Jaluwesi menyuruhnya untuk duduk di samping kirinya. Dia lalu memperkenalkan kedua tamunya kepada Pentet Prawirayuda.
"Perkenalkan, ini adikku seperguruan atau boleh dibilang wakilku sendiri, Pentet Prawirayuda." Tan suhu berdiri memberi salam. "Saya pendeta Tan, dari kelenteng di Semarang." "Owe, Julagan Lim Hok Coan!" Juragan Lim juga memperkenalkan dirinya.
"Saya senang dapat berkenalan dengan Tuan Prawirayuda." Keempatnya lalu bicara ke sana ke mari. Tan suhu kembali mengulang peristiwa di rumah Juragan Lim beberapa malam yang lalu, semua diceritakan tanpa tedeng aling-aling.
Untuk menyakinkan kedua tamunya, kedua orang guru itu lalu mengajak tamunya ke tempat latihan. "Mari, silakan memilih sendiri murid-murid kami!" Keempatnya berjalan ke pelataran di mana para murid masih giat berlatih sendiri-sendiri.
Juragan Lim terbelalak melihat latihan murid Perguruan Balung Wesi, sungguh tidak pernah disangkanya sama sekali bahwa badan yang kurus kering itu ternyata mampu menahan babatan dan tetakan golok yang tajamnya menggiriskan.
Apalagi ketika melihat seorang yang tinggi besar memukul dengan sebuah balok ke arah pemuda kerempeng! "Bleekkkk! KraaakkkkH" "Hebat, hebat sekali. Hatiku menjadi tenang, Tan suhu," kata Juragan Lim, memuji, lalu menyatakan kesenangan hatinya kepada Tan suhu.
Kedua orang itu lalu memohon diri untuk kembali ke Semarang. Menyatakan hari pemberangkatannya. Ki Jaluwesi dan Ki Pentet Prawirayuda menyanggupi permintaan itu untuk siap mengawal pada hari yang telah ditentukan.
Kedua tamunya diantar sampai di depan pintu luar.