Halo!

Patung Pembawa Maut - Chapter 03

Memuat...
Patung Pembawa Maut

Chapter 03

Setelah kereta berjalan pergi, dua ketua perguruan Balung Wesi kembali masuk ke dalam benteng.

"Kita harus menyiapkan diri. Memilih murid-murid yang telah pandai untuk menjadi pengawal," Ki Jaluwesi mengutarakan maksudnya.

"Kakang Jaluwesi, apakah tidak sebaiknya kalau saya sendiri saja yang mengawal?" usul Ki Pentet Prawirayuda kepada kakak seperguruannya.

"Kukira ini tidak perlu dibuat khawatir. Prambanan bukanlah tempat yang jauh. Dalam sehari saja kukira dapat sampai di sana. Apalagi kalau aku mengendarai kuda," jawab Ki Jaluwesi.

"Jangan gegabah, adi! Agaknya semua orang telah mengetahui benda bertuah itu!" Ki Jaluwesi melanjutkan.

"Kalau begitu bagaimana baiknya, kakang?" tanya Ki Pentet Prawirayuda.

"Lebih baik kaubawa sepuluh murid terpandai membantumu!" jawab Ki Jaluwesi.

"Baik, kakang," kata Ki Pentet Prawirayuda.

Pada hari yang telah ditentukan, Ki Pentet Prawirayuda berangkat dengan disertai oleh sepuluh orang murid perguruan Balung Wesi. Rombongan ini berangkat dengan gagahnya, mereka semua menaiki kuda yang dikirim dari Juragan Lim Hok Coan. Kuda-kuda tinggi besar, kuda Arab, semua membawa golok besar digantung di punggung.

Ketika rombongan ini tiba di tempat kediaman Juragan Lim, ternyata di sana telah menanti tiga kereta tertutup tirai hitam. Juragan Lim begitu melihat kedatangan rombongan Balung Wesi ini maju menyambut.

"Aiyaaa, sudah sedali pagi menanti. Tuan Pentet Plawilayuda, bolehkah sekalang juga kita berangkat?" tanya Juragan Lim.

"Maafkan kami, Juragan Lim. Ada sesuatu yang mesti kulakukan sehingga kedatanganku terlambat," Ki Pentet mohon maaf.

"Tidak apa, tidak apa. Bagaimana? Kita berangkat sekalang, ya?" tanya Juragan Lim.

"Boleh. Mari, silakan," kata Ki Pentet Prawirayuda tegas.

Juragan Lim, puterinya Lim Gin Hwa, dan Tan suhu menaiki kereta yang di tengah. Ki Pentet Prawirayuda setelah melihat ketiga orang itu menaiki kereta lalu memberi isyarat. Rombongan itu pun bergerak maju.

Ternyata jumlah pengawal ini ada tiga puluhan orang lebih. Ki Pentet Prawirayuda memacu kudanya ke depan diiringi oleh kedua murid perguruan Balung Wesi yang sudah mempunyai ilmu cukup tinggi, yaitu Parta dan adiknya si Pardi.

Dengan cepat rombongan ini keluar dari kota Semarang menuju ke arah selatan. Karena banyaknya pengawal yang mengawal kereta, maka perjalanan tidak dapat dilakukan dengan cepat. Apalagi Juragan Lim meminta agar rombongan tidak tergesa-gesa. Dia ingin menikmati keindahan pemandangan alam perjalanan ini.

Ketika hari telah sore, rombongan ini berhenti di Desa Sambungmacan. Kepala desa datang menyambut sendiri. Dia tidak tabu bahwa yang datang bukan rombongan bangsawan tinggi, tetapi rombongan Juragan Lim Hok Coan.

"Mari, silakan masuk!" katanya.

Ki Pentet Prawirayuda memasuki pendapa kalurahan. Lalu memberi tahu maksudnya ingin menyewa beberapa rumah penduduk untuk tempat menginap anggota rombongan.

"Saya tidak ingin menyusahkan warga di sini, Pak Lurah. Tolong saja, saya ingin menyewa tiga buah rumah untuk mereka semua," kata Ki Pentet Prawirayuda.

"Tiga rumah? Apakah tidak terlalu banyak, kisanak," tanya Pak Lurah dengan wajah menunjukkan keheranan.

"Tidak, Pak Lurah. Kami tidak mau terganggu oleh orang luar," kata Ki Pentet Prawirayuda menjelaskan.

Bapak Lurah mengetahui maksud tamunya, lalu menyuruh ponggawa kelurahan untuk meminta kesediaan penduduk warga desa meminjamkan tiga rumah untuk bermalam.

"Ini uang penggantinya, Pak Lurah," kata Ki Pentet Prawirayuda sambil menyerahkan uang pengganti.

Ki Pentet Prawirayuda lain memohon diri dari bapak lurah untuk mengatur anak buahnya. Dengan cepat dia menemui Juragan Lim dan menyilakan juragan itu untuk memilih tempat bermalam.

Mereka lalu berpencar menuju tempat yang telah ditentukan itu. Melihat semua berjalan lancar, Ki Pentet Prawirayuda lalu menuju rumah besar, di mana Juragan Lim Hok Coan menginap bersama ketiga kereta.

Ketiga kereta ditaruh di halaman depan yang luas dan dijaga oleh sepuluh orang pengawal. Sedangkan yang lainnya menuju ke arah dua rumah di kanan kiri tempat itu.

"Tuan Pentet, kuhalap tidak teljadi apa-apa malam nanti!" Juragan Lim berkata dengan wajah yang penuh kekhawatiran.

"Tenang, tak usah khawatir. Saya akan ikut menjaga kereta itu," kata Tan suhu menenangkan Juragan Lim.

"Betul, juragan. Tak usah khawatir. Penjagaan telah kuatur supaya mereka berjaga bergiliran," sambung Ki Pentet Prawirayuda.

Mereka lalu mengobrol ke sana ke mari. Tanpa terasa malam telah mendatang. Ki Pentet Prawirayuda lalu memohon diri untuk mengaso. Juragan Lim dan Tan suhu pun saling berpisah, Juragan Lim memasuki kamarnya dan Tan suhu juga menuju ke tempat yang disediakan untuk dirinya.

Ki Pentet Prawirayuda sebelum memasuki kamar memeriksa keadaan di luar, setelah merasa semua dalam keadaan baik dia pun lalu memasuki kamarnya.

Di tempat para pengawal berjaga, tampak lima orang sedang mengelilingi api unggun, mengusir dingin sambil membakar singkong. Salah seorang mengorek-orek api agar tetap menyala, sedangkan dua orang penjaga yang lain sudah menikmati ubi kayu yang masih panas sambil bicara simpang siur menceritakan pengalaman mereka sendiri-sendiri.

Lima orang penjaga yang lain berjalan meronda mengelilingi tiga buah kereta kuda. Ketika menjelang tengah malam, penjagaan diganti oleh yang lain. Sepuluh orang penjaga menggantikan penjaga pertama.

Terdengar suara derap kaki kuda memecah kesunyian malam, dan tak lama kemudian dua ekor kuda membalap cepat di jalan utama dusun. Kedua penunggangnya hanya menengok sekilas ke arah kereta yang ditaruh di halaman depan rumah.

Dalam sekejab saja telah tidak tampak lagi, hilang di kelokan jalan. Sepuluh orang penjaga itu tidak menaruh hati curiga sedikit pun juga, mereka mengira sudah biasa ada orang kemalaman dari perjalanan jauh sehingga membalapkan kuda tunggangan mereka.

Malam pun semakin larut. Para penjaga terkantuk-kantuk di dekat kereta, sedangkan yang lainnya sebanyak lima orang asyik bermain gaple. Di dekat pintu masuk ke halaman, dua orang penjaga berdiri sambil menikmati rokok.

"Kloootaaakkkk! Reeeettttt!!" "Siapa!" bentaknya.

Salah seorang penjaga menghampiri belakang kereta dengan golok siap di tangan kanan. "Dukkkk! Adduuuhhhh!" Penjaga itu terlempar ke belakang dengan dada terbuka lebar mengalirkan darah.

Sesosok bayangan hitam melompat ke atas genteng. "Tangkap penjahat! Siaaappppp... Ada penjahat..." Para penjaga pun berlarian ke arah kereta, masih sempat melihat sesosok bayangan hitam melompat ke atas genteng.

Sesosok tubuh gendut menggelinding keluar mendengar teriakan ini. "Ada apa? Apa yang dibawa penjahat?" teriak Juragan Lim penuh kekhawatiran.

Dia tidak bisa tidur, teringat akan harta bendanya yang berada di kereta. Takut kehilangan peti berukir berisi Patung Batari Durga yang ditaruh di bawah tempat duduk di dalam kereta.

"Ha-ha-ha... tunggu saja. Nanti akan kuambil lagi!" Begitu habis berkata, bayangan hitam itu telah meloncat ke belakang rumah. Ketika dikejar oleh para penjaga, ternyata telah tidak nampak lagi bayangannya.

Entah lari ke mana bayangan hitam yang meloncat turun dari atas genteng tadi. Kegelaman malam telah menyulitkan para penjaga untuk mencari dengan teliti karena tidak tahu ke arah mana bayangan itu melarikan diri.

Ki Pentet Prawirayuda juga keluar dari kamarnya, dia sebetulnya baru ingin merebahkan diri untuk mengaso setelah melihat bahwa hampir tengah malam tiada kejadian apa-apa yang patut dicurigai. Ketika baru memasuki kamarnya, tiba-tiba terdengar teriakan penjaga, sehingga dengan cepat dia keluar lagi dan mendekati seorang penjaga yang menggeletak mandi darah di dekat kereta.

Ternyata penjaga itu telah menemui ajalnya terkena babatan senjata tajam di dadanya. "Kuharap kalian lebih berhati-hati! Sekarang terbukti ada orang-orang yang menginginkan isi kereta barang kita!" katanya sambil mengawasi para penjaga satu persatu.

"Kami akan lebih waspada menjaga kereta ini, tuan Pentet," kata salah seorang penjaga yang menjadi kepala mereka.

"Iya betul. Kereta ini belisi balang langka! Kuhalap kalian tidak semblono dalam menjaganya!" kata Juragan Lim dengan pelo.

Juragan ini meminta pengawal untuk menjaga lebih waspada. Kedua orang itu lalu kembali ke dalam rumah. Penjagaan lalu ditambah oleh lima orang pengawal lagi menggantikan teman mereka yang telah tewas.

Karena ada salah seorang rekan mereka tewas, maka sekarang mereka berjaga dengan penuh kewaspadaan, tidak berani lengah. Sampai hari menjelang pagi, ternyata tidak ada lagi peristiwa yang mengganggu mereka.

Kereta lalu disiapkan di depan, kuda-kuda dipasang kembali untuk menarik kereta. Para pengawal setelah mengubur teman mereka bersiap kembali menjaga keamanan dan keselamatan kereta Juragan Lim Hok Coan dan keluarganya.

"Kita sekarang tahu bahwa rombongan ini tentu akan dihalangi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab," Ki Pentet Prawirayuda berhenti sejenak.

Mengawasi para pengawal satu persatu, lalu kembali berkata. "Untuk menjaga supaya jangan ada korban lagi, kuharap kalian selalu waspada di dalam perjalanan nanti!" Para pengawal mengangguk mengerti, mereka sadar bahwa sekarang ini bukan hanya sekedar mengawal kereta, akan tetapi jiwa mereka juga terancam.

"Maajuuuu..." Ki Pentet Prawirayuda berteriak memberi perintah.

Para penduduk dusun mengantar mereka dengan pandang mata penuh tanda tanya. Dua ekor kuda melintas di belakang rombongan itu menuju ke simpangan jalan di belakang pasar, dalam sekejab mata telah hilang dari pandangan karena tertutup debu tebal akibat lari kudanya.

Ki Pentet Prawirayuda hanya menengok sebentar ke arah kedua penunggang kuda itu, lalu membedal kudanya ke depan berendeng dengan Parta dan Pardi. Berkata perlahan-lahan untuk jangan sampai terdengar oleh orang lain yang berada di pinggir jalan.

Kembali lagi ke belakang kereta terus menuju belakang rombongan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment