Halo!

Patung Pembawa Maut - Chapter 04

Memuat...
Patung Pembawa Maut

Chapter 04

Dengan cepat desa itu telah ditinggalkan oleh rombongan Juragan Lim.

Semua pengawal berwajah tegang karena peristiwa malam tadi, akan tetapi semangat mereka tidak menurun walaupun seorang teman mereka telah tewas.

Bayangan putih berkelebat cepat sekali menuju ke timur.

Dalam beberapa detik saja bayangan itu telah hilang dari pandangan.

Suryo menghela napas panjang, lalu duduk di bawah pohon, termenung.

Rombongan orang berkuda itu melewatinya.

Debu yang beterbangan membuat Suryo berdiri dan menyingkir dari tepi jalan, menghindar.

"Uwah, melarikan kuda tanpa aturan! Lihat dulu, dong!" gerutunya keras. "Siapakah pemuda itu, Di?" tanya Parta.

"Entahlah, Kang Parta! Jangan-jangan dia mata-mata?" sahut Pardi.

"Suruh semua teman untuk waspada!" "Baik, Kang." Setelah menjawab, Pardi melarikan kudanya ke belakang menemui gurunya.

"Ada apa, Pardi?" tanya Ki Pentet Prawirayuda.

"Saya curiga pada seorang pemuda berpakaian putih," sahut Pardi.

"Dia tadi menyelinap ke balik pohon ketika kami melewatinya." "Hemm!" Ki Pentet Prawirayuda lalu memacu kudanya.

"Semua waspada!" Akan tetapi, ketika Ki Pentet Prawirayuda tiba di dekat pohon, pemuda berpakaian putih telah lenyap.

Kecurigaannya bertambah. Dia pun lalu memerintahkan Parta maupun Pardi untuk lebih waspada.

Kedua orang itu lalu melarikan kudanya ke depan memata-matai keadaan di depan rombongan.

Pardi memberi isyarat dan rombongan itu melanjutkan perjalanan kembali.

Setelah rombongan itu tidak tampak lagi, Suryo meloncat turun dari atas pohon.

Dia tadi bersembunyi sekitar dua tombak dari jalan, mendekam di cabang yang tinggi.

Suryo lalu berjalan ke arah yang berlawanan dengan rombongan itu.

Belum begitu jauh ia berjalan, dua ekor kuda yang dipacu oleh penunggangnya hampir menyerempet dirinya.

"Busyet!" Suryo menggerutu.

"Agaknya rombongan itu baru melewati jalan ini, Drun!" kata salah seorang penunggang kuda.

"Benar, Man. Jejak roda itu masih terlihat jelas!" sahut Timan singkat.

Tidak lama kemudian ia berkata lagi.

"Kita harus cepat memberi tahu Kakang Simo Gendeng!" Suryo yang sayup-sayup mendengar pembicaraan dua orang penunggang kuda itu menjadi curiga.

Agaknya rombongan itu terancam oleh dua orang penunggang kuda berpakaian hitam.

"Siapakah orang bernama Simo Gendeng?" "Ah, lebih baik aku kembali saja! Mungkin rombongan itu membutuhkan bantuanku." katanya dalam hati.

Langkahnya lalu berubah arah seratus delapan puluh derajat.

Suryo kembali mengikuti rombongan yang telah jauh meninggalkannya.

Mendengar suara kuda yang dipacu kencang, orang di belakang rombongan berteriak memberi tahu.

Rombongan dan kereta bergerak ke tepi, memberi kesempatan dua orang berkuda itu lewat.

Kedua kuda itu pun tanpa mengendurkan larinya melewati rombongan dan salah seorang dari penunggang kuda menoleh ke samping, mengawasi tiga kereta.

Dalam sekejap mata, keduanya telah tidak tampak lagi, hilang di kelokan jalan.

"Gila! Kedua orang itu agaknya telah mabuk gadung!" kata Bejo, murid perguruan Balung Wesi yang tinggi besar seperti Aria Werkudara.

"Huss! Hati-hati kalau bicara, Bejo!" tegur Ki Pentet Prawirayuda dari belakangnya.

"Maaf, Guru." "Sudahlah! Cepat kau pergi ke depan!" perintah Ki Pentet Prawirayuda.

Begitu Bejo mau berlalu, Ki Pentet Prawirayuda berkata lagi.

"Suruh Pardi meneliti hutan di depan, Jo!" "Baik, Guru." Bejo lalu memacu kudanya ke arah Parta dan Pardi.

Dia pun lalu menyampaikan perintah gurunya kepada Pardi.

Pardi lalu memacu kudanya ke depan mendahului rombongan untuk meneliti keadaan di depan yang akan dilewati rombongan.

Kembali dari belakang terdengar suara kaki kuda yang dilarikan kencang.

Ternyata sekarang ada empat ekor kuda yang berlari cepat. Kembali rombongan itu memperlambat laju kereta, dipinggirkan.

Keempat kuda itu pun melewati rombongan tanpa memperlambat lari kudanya.

Debu mengepul tinggi akibat lari kuda, akan tetapi keempat penunggang kuda tidak peduli.

Dengan membungkuk rapat di perut kuda, mereka melarikan kuda-kudanya bagaikan sedang berlomba saja. Para pengawal menyumpah-nyumpah melihat ulah orang-orang itu.

"Gila! Agaknya siang hari ini, banyak orang gila naik kuda!" "Kau sendiri yang gila! Apa kau tidak naik kuda, Dul? Memaki orang seenak perut sendiri!" sahut teman dari belakang Dullah.

Salah seorang itu adalah centeng Juragan Lim.

Rombongan itu lalu melanjutkan perjalanan kembali.

Begitu mereka membelok di tepi hutan, tiba-tiba mereka melihat seorang laki-laki sedang bertempur dikeroyok empat orang.

"Itu Pardi! Cepat bantu!" Bejo berteriak lantang.

Parta yang juga mengenal adiknya segera memacu kudanya.

Begitu dekat dia meloncat dari atas kuda.

Tubuhnya melayang bagaikan seekor burung alap-alap menerkam mangsa.

"Plak! Duk!" Terjangan Parta mendapat sambutan hantaman ruyung.

Parta menangkis dengan tangan kanannya, tetapi kakinya dapat menggedor dada lawan.

Tanpa ampun, lawan yang memegang ruyung terpelanting ke belakang.

Melihat kedatangan teman-teman lawannya, keempat orang berbaju hitam segera meninggalkan Pardi, meloncat ke atas kuda, dan melarikan diri memasuki hutan.

Lenyap dalam rimbunnya semak perdu hutan.

Rombongan itu melanjutkan perjalanan mereka sampai matahari terbenam. Mereka baru saja keluar dari dalam hutan.

Ketika mereka melewati tanah lapang, Ki Pentet Prawirayuda berteriak keras.

"Berhenti di sini! Kita akan melewatkan malam di tempat ini!" Kereta lalu disejarkan.

Juragan Lim, putrinya Lim Gin Hwa, dan Hwesio Tan (Tan Suhu) menemui Ki Pentet Prawirayuda.

"Mengapa kita harus berhenti di sini? Matahari masih bersinar, sebaiknya kita melanjutkan perjalanan! Kenapa berhenti?" tanya Juragan Lim yang merasa keheranan melihat rombongan berhenti di tepi hutan.

"Kalau kita melanjutkan perjalanan, kita akan kemalaman di tengah hutan!" kata Ki Pentet Prawirayuda menerangkan.

Dia pun memandang Juragan Lim dengan tajam.

Lalu, katanya kemudian.

"Apa Juragan lebih senang bermalam di hutan?" "Aiya, tentu saja tidak! Lebih baik di tempat terbuka seperti ini." Juragan Lim kaget mendengar akan menginap di tengah hutan.

Maka, cepat ia menyatakan pendapatnya.

Ki Pentet Prawirayuda dihampiri Tan Suhu, diajak menuju ke sebuah pohon yang agak jauh dari tempat itu.

Tan Suhu lalu mengatakan apa yang menjadi pikirannya.

"Tuan Pentet, kuharap kau tidak berkecil hati. Menurut pendapat saya, pendapat Tuan benar. Akan tetapi, harap semua disiagakan penuh!"

"Tentu, Tan Suhu. Setelah peristiwa siang tadi, aku menjadi waswas selalu! Kukira rombongan ini telah diincar orang sejak keluar dari Semarang!"

"Saya juga menduga demikian, Tuan Pentet," sahut Tan Suhu pelan sambil memandang ke arah rombongannya.

Ki Pentet Prawirayuda lalu meminta diri untuk mengatur para pengawal maupun murid-muridnya.

Para penjaga kereta bawaan Juragan Lim lalu mencari kayu bakar.

Mereka membuat api unggun di tengah, dekat dengan kereta.

Kegelapan menyelimuti bumi.

Di tengah lapangan itu, banyak bayangan hilir mudik menjaga kereta dan teman-teman mereka yang mengusir hawa dingin di dekat unggun.

Juragan Lim dan putrinya tidak terlihat di antara mereka.

Mereka berdua lebih merasa hangat berdiam di dalam kereta.

Tan Suhu terlihat membuka kereta kedua di samping kanan, masuk untuk mengaso.

Di kejauhan beberapa sosok tubuh berpakaian hitam.

Merayap mendekati tempat itu, tidak kurang dari lima belas orang jumlahnya.

Di tangan kanan mereka tampak beberapa tombak yang diseret.

Tanpa menimbulkan suara sama sekali, bagaikan desis ular berjalan yang dilindungi kegelapan malam, tahu-tahu mereka telah berada di dekat rombongan para penjaga.

"Kulikk! Kulikk! Kulikk!" "Wirrr! Wirrr! Wirrr!" Hampir bersamaan tombak itu telah melayang menuju sasaran.

"Trang! Aduh!" "Trang! Trang-trang-trang!" Suasana malam dipecahkan oleh teriakan kesakitan dan senjata yang beradu.

Orang-orang yang berada di dekat api unggun segera memadamkan api.

Malahan ada yang berteriak untuk memberi tahu.

"Kita diserang! Siap! Padamkan api!" Suara saling sahut menambah kacaunya para pengawal.

Dari tempat gelap, kembali melayang belasan tombak.

Orang-orang yang tidak memiliki kepandaian tinggi, yakni para pengawal kereta, jatuh termakan tombak-tombak.

"Parta, Pardi, dan kau, Bejo. Maju! Terjang musuh!" teriaknya.

Ki Pentet Prawirayuda mendahului menerjang ke depan.

Parta, Pardi, dan Bejo mengikuti gurunya menerjang lawan yang bersembunyi di gelapnya malam.

"Tangting-buk-duk-blek!" Beradunya senjata disusul muncratnya bunga api, menerangi kegelapan malam dalam sekejap.

Keempat orang itu mengamuk tanpa mengenal kasihan lagi.

Tubuh lawan berjatuhan terkena senjata mereka.

Melihat ini, pemimpin penyerang berteriak keras.

"Mundur! Lawan terlalu keras, mundur!" Dengan cepat, orang-orang berpakaian hitam itu melarikan diri sambil berusaha membawa kawan-kawan mereka yang terluka atau terbunuh.

Dalam waktu yang singkat saja mereka telah hilang di dalam gelapnya malam, apalagi pakaian mereka yang serba hitam sangat membantu mereka dari pandangan lawan.

Ketika Juragan Lim, Tan Suhu, dan Ki Pentet memeriksa sambil membawa obor, ternyata tidak kurang dari belasan orang telah menjadi korban tombak lawan.

Yang tertinggal hidup hanyalah sepuluh orang murid perguruan Balung Wesi.

Ternyata kekebalan tubuh mereka telah banyak membantu dan menolong mereka dari hujan senjata lawan.

"Kita kubur mereka sekarang juga! Besok pagi-pagi buta kita melanjutkan perjalanan!" Ki Pentet Prawirayuda memberi perintah.

"Baik, Guru. Murid menjalankan perintah!" Salah seorang murid Balung Wesi menyahut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment