Halo!

Patung Pembawa Maut - Chapter 05

Memuat...
Patung Pembawa Maut

Chapter 05

Mereka lalu membagi kerja untuk membuat lubang sederhana guna mengubur teman-teman seperjalanan mereka yang tewas karena menjadi korban serbuan kedua ini.

"Apa orang-orang itu tidak kembali lagi? Bagaimana kalau mereka kembali?" Juragan Lim Hok Coan bertanya dengan suara gemetar dan tubuh gendutnya menggigil.

"Tidak perlu takut! Kukira malam nanti tidak akan ada serangan lagi," sahut Tan Suhu.

"Betul, Juragan! Silakan Juragan mengaso dengan tenang," pinta Ki Pentet Prawirayuda.

Dia pun lalu berjalan menuju ke tempat bekas pertempuran di kegelapan untuk mencari sesuatu yang dapat dijadikan penyelidikannya.

Mengapa Suryo tidak datang membantu? Pergi ke mana anak muda itu? Pertanyaan ini tentu saja agak sukar dijawab.

Lebih baik kita mengikuti pengalamannya, mengapa Suryo Lelono tidak dapat membantu rombongan kereta yang diserang oleh orang-orang berpakaian hitam.

Apabila ada pemuda itu, pastilah tidak akan terjadi korban manusia sampai belasan orang!

Melihat rombongan berhenti di lapangan rumput, Suryo mencari tempat yang baik untuk mengawasi.

Ketika kegelapan telah menyelimuti bumi, Suryo turun untuk menuju ke sebuah sungai kecil.

Tiba-tiba pemuda ini mendengar suara orang bercakap-cakap.

"Hati-hati, jangan sampai benda itu lolos!" "Tapi... tapi, benda itu berada di dalam kereta! Entah kereta yang mana?" katanya lirih, menjawab perintah orang berbaju hitam yang bertubuh kurus.

"Kalau perlu bakar kereta itu! Peti berukir harus menjadi milikku!" "Baik! Saya akan berusaha untuk mendapatkannya." Suryo mengintai ke tepi sungai.

Dua orang berpakaian hitam sedang berdiri berhadapan.

Salah seorang bertubuh besar dengan kepala gundul plontos. Sedangkan yang bertubuh kecil malahan agak kurus, seperti perempuan bertubuh sedang dan langsing.

"Siapakah sebetulnya dua orang berpakaian hitam itu? Mengapa mereka bertemu di sini? Benda apakah yang sangat berharga?" Suryo ingin sekali mengetahui jawaban ini.

Dia mengambil keputusan untuk mengikuti orang yang mempunyai kepala gundul plontos.

"Si gundul akan mengambil benda itu, lebih baik kuikuti!" katanya dalam hati.

Orang gundul yang berpakaian hitam menyelinap dalam kegelapan malam bagaikan bayangan iblis saja geraknya di antara pepohonan dalam hutan.

Suryo kesulitan mengikutinya. Dia hanya melihat kepala gundul yang kadangkala terlihat di kegelapan terkena cahaya bintang-bintang di angkasa.

Sampai jauh sekali dia menguntit. Entah berapa lama ia tak lagi merasakan waktu.

Tiba-tiba orang gundul itu lenyap ketika meloncat ke dalam desa.

Suryo mengikuti dengan berjalan biasa, memandang ke kanan kiri, akan tetapi tidak tampak bayangan orang gundul berpakaian serba hitam tadi.

Entah pergi ke mana dia? "Lebih baik aku masuk ke warung saja. Memberi makan cacing-cacing yang kurang ajar ini," bisiknya pelan.

Dengan santai Suryo masuk warung makan, duduk, dan memesan makanan dan teh panas.

"Tolong, Pak, saya minta nasi pecelnya. Oh ya, teh manisnya sekalian." Dengan cepat penjual nasi menyediakan pesanannya.

Ketika Suryo sedang menikmati makanannya, datang dua orang berpakaian hitam yang tampak rapi.

Wajahnya tampan tanpa kumis, sepasang matanya liar bergerak ke sana kemari. Sedangkan salah seorang agaknya orang Tionghoa.

"Pak, minta nasi dua, sediakan tuak kalau ada." Orang Tionghoa berpakaian hitam dengan kopiah seperti mangkuk berwarna hitam memesan makanan.

Keduanya menikmati hidangan yang disediakan tanpa banyak bicara. Setelah selesai, mereka lalu membayar dan berlalu pergi.

Suryo keheranan melihat tingkah laku kedua orang itu. Yang satu jelas orang Tionghoa, tetapi lelaki yang satunya yang bertubuh tinggi kurus dan mengenakan pakaian bagus dari sutra hitam jelas orang pribumi.

Siapakah gerangan dia? Mengapa makan tanpa bicara? Pergi dengan cepat tanpa menoleh ke kanan kiri? Suryo pun mengambil keputusan untuk mencari tempat menginap di kampung ini.

Dia tidak akan mengikuti rombongan itu, melainkan ia akan menanti rombongan lewat di kampung ini. Ia akan mengawasi dari rumah penginapan.

Karena keputusan ini, maka Suryo tidak mengetahui bahwa rombongan itu mendapat musibah.

Semua ini agaknya telah menjadi suratan yang tidak dapat diubah lagi. Sudah takdir!

Tiga kereta itu masing-masing hanya ditarik seekor kuda saja. Sedangkan sisa para pengawalnya semua berjalan kaki.

Ke mana perginya kuda mereka? Ternyata ketika terjadi serangan pada malam hari, kuda-kuda mereka telah dicuri oleh para anak buah orang-orang yang berpakaian hitam yang lain.

Ketika Ki Pentet Prawirayuda dan ketiga murid utama perguruan Balung Wesi mencari ke dalam hutan, mereka hanya dapat menemukan tiga ekor kuda saja.

Agaknya kuda-kuda ini terpisah dari rombongan. Dengan cepat mereka menangkapnya dan dibawa ke tempat berkumpul rombongan.

"Aiyooo, sungguh celaka! Mengapa kuda pun hilang. Sialan betul!" Juragan Lim menggerutu.

"Bagaimana kita dapat melanjutkan perjalanan kembali? Sialan, betul-betul sialan!" "Ayah, tenang. Serahkan saja semua kepada Tuan Pentet!" kata Lim Gin Hwa menyabarkan ayahnya.

Dara ini merasa malu oleh ulah ayahnya.

"Kita masih mempunyai kereta. Jangan menggerutu saja. Itu tidak baik." Tan Suhu pun menimpali, mengingatkan Juragan Lim untuk tidak selalu menggerutu.

Ketika itulah Ki Pentet Prawirayuda datang dengan membawa tiga ekor kuda. Parta dan Pardi menaiki seekor kuda dengan berboncengan, sedangkan Bejo juga menaiki kuda sendiri.

"Seekor kuda untuk sebuah kereta!" kata Ki Pentet Prawirayuda, memberitahu kepada Parta dan Bejo.

Keduanya lalu memasang kuda di kereta. Pardi meminta kuda dari Ki Pentet Prawirayuda untuk dipasang di kereta yang lain.

Ki Pentet Prawirayuda lalu mengatur murid-muridnya untuk menjaga di samping kereta. Dia sendiri berjalan di depan rombongan.

Parta, Pardi, dan Bejo berjalan di belakang kereta sebagai pengawal belakang. Ketiga orang ini telah mempunyai kepandaian yang dapat diandalkan.

Para murid yang lain saling bergantian naik ke tempat kusir untuk menjaga ketahanan tubuh mereka, menjaga kalau nanti ada serangan mendadak.

Perjalanan tidak dapat dilakukan dengan cepat, sehingga ketika matahari hampir silam di balik bukit, rombongan ini baru memasuki dusun dengan tubuh pengawal yang tampak kuyu dan kelelahan.

"Kita mengaso di dusun ini! Dalam satu-dua hari lagi kita akan berangkat lagi." Ki Pentet Prawirayuda memberi perintah.

Dia berjalan memasuki sebuah penginapan satu-satunya di dusun itu, menemui pemiliknya meminta kamar.

Juragan Lim turun dari kereta sambil membawa sebuah bungkusan besar.

"Boleh, boleh, kita mengaso di sini dua hari! Aku juga ingin mengembalikan dulu kesehatanku," kata Juragan Lim.

Begitu melihat putrinya mengikuti, dia pun berkata, "Hwa, suruh orang-orang menyediakan air panas! Aku ingin berendam di air panas!" "Baik, Ayah." Gin Hwa dengan cepat berlalu menemui pemilik penginapan untuk menyediakan permintaan ayahnya.

Sedangkan Tan Suhu tetap berada di dalam kereta. Dia duduk bersamadi di dalam kereta, tidak ingin menginap di dalam rumah penginapan.

Terjadi tabrakan yang tidak disengaja dengan Gin Hwa. Ini terjadi karena Gin Hwa berjalan sambil menoleh ke belakang, sehingga tanpa disengaja menabrak Suryo yang baru keluar dari pintu kamar.

"Aih, maaf, Saudara," jerit Gin Hwa.

"Tidak apa-apa, Nona." Kedua pasang mata beradu pandang. Sejenak keduanya saling terpesona oleh keindahan masing-masing.

Mereka berdua hanya berdiri seperti patung. Gin Hwa menundukkan mukanya yang kemerahan lalu berkata lagi, "Maaf, maaf... maafkan saya." Cepat-cepat ia berlalu menuju ke kamarnya.

Ketika akan memasuki pintu, ia menoleh dan tersenyum ke arah si pemuda lalu lenyap di balik pintu.

Suryo masih memandang dengan bengong. "Wah, cantiknya!" katanya dalam hati.

Dia pun lalu masuk kembali ke dalam kamar, tidak jadi keluar karena rombongan kereta itu telah tiba.

Dia akan mengamati saja dari jauh, pikirnya.

Malam kembali datang. Suasana kampung menjadi sepi dengan kedatangan rombongan ini.

Entah apa sebabnya? Semua rumah penduduk desa, sejak matahari terbenam telah menutup pintu dan jendela terkunci dari dalam.

Akan tetapi kesunyian ini dipecahkan oleh teriakan banyak orang yang datang secara tiba-tiba.

"Bakar! Serbu!" "Wirr! Wirr! Wirr!" "Kereta terbakar! Tolong... cepat padamkan api!" "Kebakaran... Kebakaran...!" Orang-orang berpakaian hitam menyerang ketiga kereta dengan tombak berapi!

Dengan cepat ketiga kereta terbakar, membuat para pengawal menjadi kacau dan panik, sambil berlarian ke sana kemari, berusaha untuk memadamkannya.

"Ciaaat!" teriak seorang berkepala gundul berpakaian hitam.

Dengan senjatanya yang mengerikan, yaitu kapak besar, menyerang para murid Balung Wesi. Bet! Bet! Bet! Senjatanya mengapak tiga murid.

Ternyata kapaknya berhasil menembus kekebalan tubuh murid Balung Wesi. Ketiga murid terpelanting dengan kepala pecah.

"Tranggg-criiinggg!" Kapaknya tertahan sebatang golok di tangan Ki Pentet Prawirayuda. Melihat ini, ia melayangkan tendangan kakinya.

Ki Pentet meloncat ke belakang menghindari tendangan ke arah perutnya. Tendangan yang kuat sekali didahului angin deras menyambar.

"Ha-ha-ha... ayo anak-anak, serbu!" teriak si Gundul ini menggelegar.

Perang campuh terjadi di depan penginapan di bawah bintang-bintang di angkasa yang menyaksikannya.

Tubuh-tubuh bergelimpangan terkena golok atau senjata lain. Oleh karena penyerang berbaju hitam lebih banyak, maka para murid Balung Wesi menjadi terdesak hebat.

"Ha-ha-ha... ayo mana lagi jagoanmu! Ini Simo Gendeng raja hutan Krendowahana. Ha-ha-ha..."

Ki Pentet Prawirayuda kaget mendengar ini. Dia pernah mendengar perampok Simo Gendeng dari Krendowahana yang namanya telah terkenal di kalangan persilatan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment