Halo!

Patung Pembawa Maut - Chapter 06

Memuat...
Patung Pembawa Maut

Chapter 06

Dia lalu mengerahkan seluruh kepandaiannya, maju menyerang dengan goloknya. Goloknya ditangkis oleh kapak di tangan Simo Gendeng. Dibalas dan dielakkan. Lalu dia membalas membabat, namun dielakkan lawan.

Pertempuran sekarang menjadi sengit sekali. Saling serang dan tangkis. Beradunya kedua senjata menimbulkan bunga api yang menyilaukan mata. Tanpa terasa seratus jurus telah terlewati, akan tetapi keduanya masih belum tampak ada yang kalah atau yang menang. Mereka berimbang ilmu kepandaiannya.

Di belakang rumah penginapan itu pun terjadi pertempuran yang tak kalah hebatnya.

Ketika Suryo keluar kamar untuk menolong kereta yang terbakar, begitu keluar kamar dia mendengar jeritan seorang wanita.

"Tolong...!" Suryo menoleh dan melihat wanita yang menabraknya tadi dalam pondongan orang berpakaian hitam.

Tanpa membuang waktu, tangan Suryo bergerak ke depan.

"Duk!" Penculik tertotok kaku.

Dengan cepat Suryo menolong si dara cantik jelita.

"Terima kasih. Tolong bebaskan ayahku," Lim Gin Hwa berkata.

Bagaikan kilat, tubuh Suryo menerjang ke dalam kamar. Akan tetapi dia tidak melihat siapa pun di kamar itu. Ia lalu keluar lagi menemui si dara jelita.

"Di kamar tidak ada siapa pun."

"Kebakaran! Kebakaran...!" Keduanya menjadi pucat. Suryo dengan cepat menuju ke depan diiringi Gin Hwa. Ternyata ketiga kereta telah terbakar habis.

Suryo berkelebat cepat ke arah pertempuran. Tongkatnya bergerak ke kanan kiri, dan ke mana pun tongkat itu bergerak, tubuh orang berbaju hitam tertotok lumpuh.

Melihat ini, dengan cepat Simo Gendeng berteriak, "Mundur...!"

Dalam sekejap, orang-orang berpakaian hitam telah meninggalkan medan pertempuran. Teman-teman mereka melindungi kemunduran mereka dengan melepaskan anak panah berapi!

Ketika Ki Pentet Prawirayuda meneliti anak buahnya, yang tinggal hanyalah Parta, Pardi, dan Bejo. Yang lainnya ternyata telah menjadi korban tombak bambu atau terbelah oleh kapak Simo Gendeng!

"Ayahku... tolonglah ayah...!" Lim Gin Hwa dengan tersedu meminta tolong.

Ki Pentet Prawirayuda mengawasi Suryo dengan pandang mata curiga, tetapi dia lalu bertanya, "Kenapa Juragan Lim? Di mana dia?"

"Dia diculik penjahat berpakaian hitam!"

"Keparat! Ternyata Simo Gendeng telah menipu kita! Dia menyerang kereta hanya untuk mengalihkan perhatian. Setan!" Ki Pentet Prawirayuda marah-marah.

"Di mana Tan Suhu? Kenapa sejak tadi tidak kelihatan?" Semua orang baru teringat. Kenapa Tan Suhu tidak muncul sedari tadi? Sedangkan dia adalah seorang ahli silat yang andal!

Mereka lalu mencari Tan Suhu, tetapi hasilnya nihil. Ketika Ki Pentet Prawirayuda teringat sesuatu, dia lalu bertanya kepada Lim Gin Hwa.

"Bagaimana dengan peti berukir itu? Apakah masih selamat?"

Lim Gin Hwa pun kaget ketika diingatkan hal ini. Dia lalu berlari kecil ke kamarnya, tetapi betapa kagetnya Gin Hwa ketika melihat kamarnya telah diacak-acak tidak karuan! Peti berukir itu pun telah lenyap dari tempat simpanannya!

"Peti itu telah lenyap! Ah, ini semua gara-gara Patung Batari Durga!"

"Apa? Patung Batari Durga?" Ki Pentet Prawirayuda bertanya dengan kaget.

Ternyata benda berharga itu adalah Patung Batari Durga yang telah menghebohkan. Patung peninggalan Nyi Calon Arang! Seperti teringat sesuatu, dia menoleh ke belakang. Hatinya mencelos ketika apa yang diduganya terbukti. Pemuda tampan berpakaian putih itu telah lenyap tanpa dia ketahui sama sekali.

Ketika dia bertanya kepada tiga orang muridnya, mereka juga tidak tahu.

"Dia tadi masih berdiri di samping si Pardi. Ketika Paman menengok kamar, pemuda itu pun ikut," jawab Parta singkat.

"Betul, Paman. Pemuda itu tadi berada di sampingku," Pardi pun menjelaskan.

"Bagaimana dia dapat hilang begitu saja? Siapakah dia, Paman?" Ki Pentet hanya menggeleng kepala.

Lalu dia bertanya kepada Lim Gin Hwa. Akan tetapi jawaban yang diperolehnya tidak memuaskan hatinya.

"Saya tidak mengenalnya! Dia menginap di kamar sebelah, dan tadi ketika aku mau diculik, aku ditolongnya. Ketika mendengar teriakan kebakaran, kami berdua pergi ke depan dan berusaha menolong!"

"Siapakah nama pemuda tadi?"

"Saya tidak tahu." Ki Pentet Prawirayuda hanya menggeleng kepala. "Sialan," pikirnya! Sungguh baru sekali ini dia mendapat teka-teki yang sukar dijawab.

Dia pun lalu berunding untuk mencari jalan keluar dari kesulitan ini dan mencari hilangnya Juragan Lim Hok Coan yang diculik penjahat pimpinan Simo Gendeng!

Karena bentuknya seperti gajah, orang-orang menyebutnya Bukit Gajah. Jangan coba-coba untuk menaikinya, karena sudah banyak sekali orang yang berusaha pergi berburu ke bukit itu hilang tanpa meninggalkan bekas! Maka bukit itu juga disebut Bukit Setan oleh penduduk di sekitar kaki bukit!

Setelah matahari hampir tenggelam, banyak bayangan berkelebat menuju ke atas puncak Bukit Gajah atau Bukit Setan. Apabila ada orang dusun yang melihatnya, pastilah dia percaya bahwa Bukit Gajah atau Bukit Setan telah kedatangan para penghuninya!

"Adi Mangkurat, kenapa banyak sekali orang menaiki bukit?" tanya Bango Dolok kepada adiknya.

"Mungkin Nyai mengundang banyak tamu, Kakang Dolok."

"Untuk apa? Biasanya Nyai tidak suka dengan orang-orang persilatan."

"Entahlah?" jawab Mangkurat sambil mengangkat kedua pundaknya.

Percakapan keduanya terhenti. Dua orang lelaki berbaju hitam berlari datang dari belakang mereka. Salah seorang jelas orang asing, seorang Cina yang berpakaian serbahitam dan wajahnya dihiasi kumis tipis dan panjang sampai di bawah dagu. Sedangkan temannya seorang tinggi kurus mengenakan pakaian bagus dari sutera hitam.

Ketika melihat ada dua orang di depannya, salah seorang menegur, "Maaf, Kisanak. Bolehkah saya bertanya?"

"Hemm, boleh! Apa yang ingin diketahui?" Bango Dolok menjawab kaku.

"Betulkah di puncak itu tempat tinggalnya Nyi Langen Asmara?" tanya Sancaka.

"Saudara ini siapa? Apa perlunya bertanya tempat tinggalnya Nyai?"

"Maaf, maaf. Saya bernama Sancaka, dan Saudara ini Coa Bo Gie, pedagang barang antik dari Semarang," Sancaka menjawab cepat, memperkenalkan diri dan temannya. "Kami mempunyai urusan penting! Ingin minta pertolongan Nyai!"

"Hemm, begitu. Aku Bango Dolok, dan dia adikku, Mangkurat! Kami berdua adalah murid beliau!" kata Bango Dolok sambil memandang tajam kedua orang di depannya.

"Maaf, maaf. Kami tidak tahu bahwa Andika berdua adalah murid beliau!" kata Sancaka. Dia meminta maaf. Tidak menyangka akan bertemu dengan murid Nyai.

"Mari kita bersama menghadap beliau," ajak Mangkurat.

Keempatnya lalu berangkat kembali menaiki puncak Bukit Gajah. Sambil mengutarakan maksudnya, Sancaka juga mohon pertolongan kepada kedua murid itu untuk membantu. Bango Dolok dan Mangkurat menyanggupi akan membantu. Babah Coa Bo Gie lalu mengeluarkan sebuah pundi-pundi dan menyerahkan kepada Bango Dolok.

"Ini sekadar tanda persahabatan. Hanya sedikit, kok."

Begitu Bango Dolok membuka pundi-pundi, matanya terbelalak. Mangkurat pun melongok, dan keduanya lalu saling pandang. Dengan wajah berseri, Bango Dolok memasukkan pundi-pundi ke dalam saku. Sekarang sikapnya menjadi ramah.

Ketika mereka berempat tiba di puncak, ternyata di depan gua telah penuh dengan orang-orang yang mengenakan pakaian hitam. Nyi Langen Asmara berdiri di atas batu besar, mendengarkan laporan Simo Gendeng, kepala rampok Krendowahana. Di sebelahnya berdiri pula orang yang mengenakan pakaian serbahitam dengan kepala tertutup kerudung hitam pula. Hanya tampak sepasang matanya yang bersinar tajam dan genit.

"Seperti rencana semula, hamba telah membakar kereta mereka. Akan tetapi ketika teman hamba menculik anaknya, ia telah dihalangi seorang pemuda berpakaian putih," Simo Gendeng melaporkan misinya.

"Bagaimana dengan peti berukir itu?" Seorang di belakang Simo Gendeng maju dan menjawab.

"Kamar tempat ayah dan anak itu telah hamba bongkar. Ternyata tidak ada! Juga Juragan Lim tidak tampak dalam kamar. Entah sembunyi di mana dia?"

"Hi-hi-hik..., kenapa orang-orang tolol ini selalu gagal. Tahu begini, lebih baik aku pergi sendiri! Hi-hi-hik...!"

"Guru, menurut pendengaran murid, mereka menuju ke Prambanan!" Begitu maju ke depan, Bango Dolok berkata.

Setelah mereka dekat dan mendengar laporan itu, dengan cepat Bango Dolok berkata untuk mencari muka di depan gurunya.

"Hi-hi-hik..., kaukah itu, Dolok? Sini... sini, mendekatlah kemari!" Bango Dolok dan Mangkurat maju, duduk di depan Nyi Langen Asmara, melaporkan apa yang menjadi kehendak kedua orang teman seperjalanannya.

Nyi Langen Asmara memandang ke arah Sancaka dan Coa Bo Gie sejenak, lalu kembali dia berkata, "Cegat Juragan Lim di dekat Prambanan! Rampas peti berukir berisi Patung Batari Durga!" Perintahnya kepada Simo Gendeng.

Simo Gendeng menyembah lalu berlalu dengan anak buahnya. Sedangkan Bango Dolok dan Mangkurat masih tetap duduk di situ.

"Kalian berdua bantu mereka!"

"Baik, Guru!" Keduanya juga berlalu. Bango Dolok segera mengajak kenalan barunya untuk berlalu dari tempat itu, tidak berani membantah perintah gurunya.

"Hi-hi-hik..., tinggal kita berdua saja, bocah ayu! Hi-hi-hik... aku kangen kepadamu! Ayo masuk ke dalam!" katanya.

Nyi Langen Asmara menggandeng tangan orang berbaju hitam ke dalam gua. Tak lama kemudian, dari dalam gua terdengar lenguh kenikmatan dan kekeh kegelian dari dua orang wanita memecah kesunyian tempat itu. Entah berapa lama mereka berbuat seperti itu? Hanya mereka sendiri yang tahu!

"Kita berhenti sebentar! Ini kaki sudah mau patah rasanya!" Dengan suara pelo, Juragan Lim mengeluh.

Orang gundul yang tidak lain adalah Tan Suhu menghentikan larinya. Juragan Lim segera menjatuhkan dirinya ke atas rumput tebal. Napasnya megap-megap seperti ikan dilempar ke darat.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment