Chapter 07
Ternyata begitu mendapat serangan, Tan Suhu melompat keluar dari kereta. Ia menyelinap ke belakang rumah penginapan dan melihat dua orang berpakaian hitam menerobos melalui jendela. Ketika salah seorang membopong tubuh Juragan Lim sambil membawa peti berukir, ia melompat dari jendela dan melarikan diri. Diam-diam Tan Suhu membayangi mereka.
Begitu lawan berpakaian hitam telah jauh dari desa dan memasuki sebuah hutan, tanpa mengeluarkan suara Tan Suhu menyerangnya. "Plakkk!" Kepala orang berpakaian hitam itu terkena tamparan. Ia jatuh bersama dengan tubuh Juragan Lim yang masih dipondongnya sambil membawa peti.
"Aduh! Celaka...!" jerit Juragan Lim, menggelinding pergi.
Tan Suhu cepat membangunkannya. Ia menarik tangan Juragan Lim dan mengajaknya melarikan diri. Juragan Lim mencoba untuk membantah. "Kita mau lari ke mana? Bagaimana dengan rombongan dan putriku?"
"Nanti kita urus belakangan! Yang penting peti dan engkau selamat dahulu!" tukas Tan Suhu dengan cepat. "Ayo cepat! Orang-orang jahat itu nanti keburu mengejar!" Keduanya lalu melarikan diri sampai pagi hari telah menjelang.
Begitu Lim Hok Coan kelelahan dan meminta berhenti, barulah mereka berdua beristirahat di rerumputan dekat hutan itu. Tanpa terasa, Juragan Lim tertidur karena terlalu lelah. Melihat ini, Tan Suhu lalu duduk bersamadi untuk memulihkan diri, menjaga kondisinya tetap segar demi keselamatan mereka.
Begitu membuka mata, keduanya kaget sekali. Mereka telah dikurung oleh orang-orang yang mengenakan pakaian serba hijau! Tan Suhu sendiri juga kaget, bagaimana dapat terjadi demikian. Kenapa dia tidak mendengar kedatangan mereka ini?
"Maafkan kami berdua kalau telah melanggar wilayah tuan," kata Tan Suhu penuh hormat.
"Ha-ha-ha... tidak ada maaf-maaf segala. Tangkap mereka!" bentak seorang tinggi besar. Sambil mengeluarkan pekikan menyeramkan, orang-orang berpakaian serba hijau pun maju menuruti perintah pimpinannya.
Tan Suhu segera mencabut golok yang dia sembunyikan di balik jubah pendetanya. "Wutt-wutt-wutt!" Goloknya diputar di atas kepala mengeluarkan bunyi mendesir kuat sekali lalu maju menerjang ke depan menghadapi lawan. "Tranggplakk-plakkk!" Golok Tan Suhu menangkis senjata pengeroyok, membuat senjata di tangan lawan terpental ke udara. Kakinya juga tidak ketinggalan menghujani tendangan di tubuh lawan. Lawan yang terkena tendangan terjungkal dan tidak dapat bangun kembali karena begitu kuatnya tenaga kaki yang menendangnya.
Akan tetapi, bagaikan air bah, para pengeroyok datang dari berbagai penjuru. Juragan Lim terhuyung mundur ketika tiga orang berpakaian hijau mendekatinya. Ia membalikkan tubuh hendak berlari pergi. Tiba-tiba tubuhnya berhenti mendadak! Di depannya telah berdiri seorang raksasa berpakaian hijau dengan membawa ruyung yang bergerigi besi!
"Ampun... jangan bunuh saya! Tolong...!" ratapnya.
"Ringkus dia!" seru Sugriwa Yaksa kepada anak buahnya. Kaki dan tangannya diikat lalu sebuah kayu panjang dipakai untuk memikul tubuhnya, seperti orang memikul hewan buruan. Sugriwa Yaksa maju ke depan, ruyungnya terayun ke arah kepala Tan Suhu.
"Wirr...!" Melihat datangnya ruyung yang didahului angin deras menyambarnya, Tan Suhu menangkis dengan goloknya. Kedua senjata beradu di tengah udara, bunga api berpijaran akibat pertemuan senjata ini. Akan tetapi, golok Tan Suhu terpental ke samping. Sugriwa Yaksa menyusul serangan ruyungnya dengan tendangan kakinya. Serangan itu dielakkan lawan, lalu dibalas dengan babatan ke arah pinggang.
"Tranggg...!" Golok Tan Suhu terpental ke angkasa. Sugriwa Yaksa menyusul dengan tendangan yang tidak dapat dielakkan Tan Suhu karena kecepatan gerak kakinya. "Bleekk!" Dadanya terkena tendangan telak. Tanpa ampun lagi, Tan Suhu terlempar dalam keadaan pingsan!
Para anak buah berbaju hijau menubruk maju. Tan Suhu diikat seperti mengikat hewan buruan. Lalu beramai-ramai dipanggul menuju markas mereka. Mereka berjalan sambil bersorak-sorak karena begitu gembira. Sugriwa Yaksa berjalan paling depan dengan memanggul ruyung gerigi besinya.
Ketika mereka tiba di markas, Sugriwa Yaksa memerintahkan para anak buahnya untuk menggantung kedua orang itu. "Gantung dia seperti biasa. Siapkan peralatan untuk pesta malam nanti!"
"Horeee!" Hampir bersamaan, anak buahnya bersorak. Mereka lalu berlarian mencari kayu bakar. Ada yang menyiapkan sebuah kuali panjang dan besar.
"Tolong... Tolong...! Saya jangan digantung! Kepala ini rasanya mau meledak! Tolonggg!" Juragan Lim berteriak ketakutan karena darahnya telah memenuhi kepala membuat kedua telinganya mendengar bunyi yang mengaung-aung.
"Babi gemuk itu siapkan dulu! Sekarang bentangkan di kayu!" Kedua orang itu lalu diturunkan dari gantungan. Mereka diseret ke tempat pembentangan dan kaki serta tangannya diikat di kayu. Sedangkan peti berukir hanya ditaruh dekat tempat duduk Sugriwa Yaksa. Agaknya orang ini tidak peduli akan isi peti, lebih tergiur terhadap daging putih kedua orang itu. Agaknya Sugriwa Yaksa ini adalah pemakan daging manusia!
Ketika hari menjelang malam, Lim Hok Coan diturunkan dari pembentangan. Ia diseret begitu saja. Orang gemuk ini menjerit-jerit ketakutan. Apalagi ketika tubuhnya digantung di atas kuali besar panjang di mana air yang ada di dalamnya telah mendidih sejak tadi!
"Aiya... aku mau diapakan? Tolong aku jangan dibunuh! Nanti akan kuberi uang banyak!" Juragan Lim membujuk.
"Ha-ha-ha... he-he-he... hehe!" Hanya kekeh tawa yang menyambut permintaannya. Semua orang menari-nari mengelilingi kuali besar berisi air mendidih di atas api. Sugriwa Yaksa duduk dengan anggunnya melihat semua yang disajikan anak buahnya. Ia memberi tanda dengan tangan diangkat ke arah Juragan Lim.
Dua orang anak buah berpakaian hijau maju. Dengan paksa menarik pakaian juragan gendut. "Breettt, breettt!" Baju dan celana Juragan Lim telah terobek. Tubuhnya yang putih mulus telah tertelanjang. Juragan Lim menggelepar-gelepar tidak karuan.
"Ha-ha-ha... Sungguh sedap daging babi gemuk itu," Sugriwa Yaksa sampai mengeluarkan air liur melihat daging juragan gendut. "Cepat turunkan dia!" Anak buah yang bertugas menurunkan adalah empat orang yang bertubuh besar mengulurkan tali gantungan.
Juragan Lim yang melihat air mendidih menunggunya di bawah, apalagi uap panas telah menyengat tubuhnya, tidak sanggup lagi menahan rasa takutnya. "Tolong, tolong!" Sambil berteriak, ia berputar-putar di tali gantungan. Pelan-pelan tubuhnya meluncur turun ke arah air mendidih dalam kuali besar.
Sesosok bayangan putih berkelebat. Tepat sekali menyambut tubuh yang meluncur turun. "Tas! Byuurr!" Tali pun terpotong. Sedangkan kuali besar itu telah pecah. Airnya tumpah, membuat orang yang mengelilinginya berteriak-teriak kesakitan, berusaha untuk menghindar dari guyuran air panas yang menyerang!
"Cepat pakai! Tolong lepaskan temanmu!" Juragan Lim menerima sarung dengan cepat, ia kenakan dan mendekati Tan Suhu. Dengan susah payah, akhirnya dapat juga dia melepaskan tali pengikat tangan. Tan Suhu berusaha membuka tali pengikat kakinya sendiri.
Ketika keduanya menengok ke arah pemuda berpakaian putih, ternyata pemuda itu sedang bergerak cepat ke kanan kiri. Setiap bayangan itu tiba, pastilah orang berbaju hijau terpental dan langsung pingsan! Sugriwa Yaksa yang melihat kejadian yang tidak pernah diduganya ini terbelalak. Siapakah pemuda baju putih yang mengobrak-abrik anak buahnya itu? Ia tidak lama tertegun dalam kebingungan ini. Sambil mengeluarkan teriakan menyeramkan, ruyung gerigi besi di tangannya menghantam bayangan putih!
"Auuugh... Wuusss! Plak-plak!" Ternyata Suryo sambil menangkis ayunan ruyung ke arah kepala, tangan kirinya memukul dada. Sugriwa Yaksa tergetar tangannya yang memegang ruyung akibat tangkisan lawan, dan ketika melihat dadanya terancam, dengan cepat tangan kirinya membabat ke depan dada. Membuat dua tenaga raksasa bertemu di udara. Akibatnya sungguh mengherankan hati Sugriwa Yaksa, dia terpental ke belakang tiga langkah!
"Bojleng-bojleng... setan alas, demit keparat! Siapa kau, bocah lancang!" bentaknya.
"Ooo lha dalah! Ternyata aku bertemu Yaksa (raksasa atau buta)!" sahut Suryo. "Hei, Yaksa. Aku bangsa manusia biasa, bukan raksasa pemakan manusia!" Suryo menjawab seenaknya sambil menyeringai mengejek.
Melihat lawan mengejeknya, Sugriwa Yaksa bertambah marah. "Demit, iblis, setan keparat! Sebutkan siapa dirimu sebelum kau mampus tanpa nama!" bentaknya dengan wajah berubah merah padam.
"Kau ingin tahu siapa aku?" tanya Suryo.
"Hiyya! Cepat sebutkan namamu! Sebelum gada rujak polo ini menghancurkan kepalamu!" Sambil mengacungkan ruyungnya ke arah kepala Suryo, Sugriwa Yaksa berkata lantang. Tangan kirinya berkacak pinggang.
"Namaku Suryo!" jawab Suryo singkat.
"Mampus kau!" Begitu lawan menjawab dan menyebutkan namanya, ruyungnya telah menghantam kepala. Dengan mudah Suryo mengelak ke samping dan tongkat pendeknya mengait kaki lawan.
"Eit, eit... berkelahi mengapa tanpa aturan," seru Sugriwa Yaksa. "Ayo adu kekebalan kulit, adu kerasnya tulang! Jangan main kait begitu!" Suryo tertawa geli melihat raksasa pemakan daging ini marah-marah. Kakinya baru saja dikait sudah mengamuk tidak karuan, malah menantang mengadu kekebalan. Baik, kalau itu maunya raksasa ini. Dia harus melayani untuk menundukkan raksasa pemakan manusia ini. Dalam hati pemuda ini merasa geli bukan main. Apa ada berkelahi menggunakan aturan! Seperti latihan atau bersilat di atas panggung saja.
"Kalau itu maumu, aku ladeni!"