Chapter 08
"Hayo pilihlah sendiri!" tantang Suryo pelan sambil memasang kuda-kuda dan mengerahkan aji Gedong Wesi Kuning.
"Pecah kepalamu!" Ruyung bergerigi menyambar dahsyat ke arah kepala Suryo yang berdiri tegak.
"Wussss!" Ruyung bergerigi lewat di atas kepala.
Tubuh Sugriwa Yaksa terpelanting ke depan karena hebatnya tenaga yang mengayun ruyung!
Ternyata Aji Gedong Wesi Kuning telah menunjukkan khasiatnya.
Ruyung bergerigi besi meleset begitu mendekatinya.
Melihat keadaan lawan seperti itu, Suryo menggerakkan tongkat untuk memukul belakang telinga raksasa itu.
"Duukkkk!" Tanpa ampun lagi tubuh Sugriwa Yaksa tersungkur ke depan.
Berusaha bangun, akan tetapi baru setengah berdiri tubuhnya kembali menelungkup dan kembali pingsan!
Para anak buah berpakaian hijau berlarian tak tentu arah.
Mereka ketakutan melihat pemimpin mereka dikalahkan begitu mudahnya, hanya terpukul oleh sebuah tongkat berwarna hitam.
Bahkan dengan sekali pukul saja!
Suryo lalu mendekati Juragan Lim dan Tan Suhu.
Menceritakan peristiwa di penginapan serta menjelaskan bahwa putri Babah Gendut itu selamat.
Sambil memandang ke arah Tan Suhu, Suryo berkata, "Tan Suhu, tolong hubungi putri Juragan dan Ki Pentet Prawirayuda. Biar Juragan ini aku yang antar."
"Baik! Aku akan mengajak mereka untuk meneruskan perjalanan ke Prambanan. Kita bertemu di sana!" Tan Suhu mengiyakan permintaan pemuda.
Kepada Juragan Lim, Tan Suhu berkata, "Tuan Suryo ini akan mengantarmu ke tempat tinggal suhu saya di Prambanan."
"Telima kasih. Tolong puteli owe dijaga, Suhu! Agal menyusul secepatnya!" pinta Juragan Lim.
Ketiganya lalu berpisah.
Tan Suhu kembali untuk menemui rombongannya. Sedangkan Suryo mengantar Juragan Lim yang membawa peti berukir menuju ke tempat guru Tan Suhu di Prambanan.
"Mali kita mampil di walung itu dulu!" ajak Juragan Lim.
Suryo berhenti sejenak, tongkatnya memukul batu bundar di tanah.
"Tasss!" Batu melayang mengenai buah mangga di tepi jalan.
Berjatuhan menimbulkan suara beruntun bukbuk-bukk!
Juragan Lim yang tidak mendapat tanggapan ajakannya tadi berkata lagi, "Ayolah! Mampil dulu di walung! Aku sudah lapal, nih."
"Hahaha, lapar? Ya, ya, mari!"
"Nah, gitu kan enak!" Dengan cepat Juragan Lim menuju warung di dekat hutan itu. Warung satu-satunya yang ditemuinya sejak pagi tadi.
Suryo mengikuti dari belakang.
"Mari silakan masuk, Den!" Seorang dara yang cantik berkulit kuning langsat menyambut kedatangan Juragan Lim.
"Telima kasih, telima kasih." Lalu tubuh gendut Juragan ini memasuki warung.
Sepasang mata yang sipit itu mengawasi sekeliling, tiada seorang pun yang berada di dalam warung ini.
Tanpa sungkan lagi Juragan Lim duduk di kursi, bersebelahan dengan si pemuda yang mengenakan pakaian putih.
"Makan apa, Juragan?"
"Oooo, nasi pecel, kalau ada telul golingnya sekalian." Juragan Lim menjawab cepat.
"Telur gulungnya yang tidak ada, Juragan."
"Itu, tuh, itu... telul... lalu digoleng! Aiyaa telul mata sapi. Ya betul, telul mata sapi!" Sambil menunjuk telur ayam yang ditaruh di atas meja, Juragan Lim menerangkan maksudnya.
Memang si pelayan cantik ini tidak dapat menangkap maksud tamunya yang bicara cadel itu, maka ia cepat bertanya. Setelah mengerti bahwa orang gemuk ini tidak dapat menyebut huruf 'R' dengan benar, maka sambil tertawa ia memenuhi pesanan sang Juragan gemuk.
"Telur goreng?"
"Iya... iya, betul itu! Kopi manisnya sekalian, ya...!" Dara cantik ini segera berlalu memasuki dapur.
Diikuti oleh seorang dara yang hampir sebaya, yang satu ini berwajah hitam manis. Apalagi senyumnya sungguh menarik hati, menantang lawan jenisnya.
Begitu hidangan telah tersedia di meja, tanpa basa-basi lagi Juragan Lim mengajak Suryo untuk menyikatnya! Keduanya menikmati hidangan perlahan, ditunggui kedua dara manis dan cantik di samping pintu.
"Brukkkk! Duukkkkk!" Tak lama setelah menghabiskan dua cangkir kopi, keduanya telah tertidur.
Juragan Lim terjengkang ke belakang sehingga tubuhnya yang gendut ketika terjatuh mengeluarkan suara keras. Sedangkan Suryo tergeletak di bangku.
Kedua gadis itu saling pandang sejenak, lalu mendekati kedua korbannya. Setelah memeriksa, salah satu dari mereka menutup warung. Hampir berbarengan, kedua gadis itu mengangkat tubuh dua orang itu.
Gadis berkulit hitam manis dengan ringannya mengangkat tubuh Lim Hok Coan yang gemuk, seakan-akan tanpa mengeluarkan tenaga sama sekali. Sementara gadis berkulit kuning langsat membawa Suryo. Mereka memasuki dua kamar di belakang.
Suryo membuka matanya. Begitu sepasang matanya dapat melihat jelas, wajahnya berubah kemerahan. Dia ingin meloncat bangkit, akan tetapi tubuhnya tidak dapat digerakkan. Dengan sangat terpaksa ia menanti apa yang akan terjadi selanjutnya.
Apa yang dilihat Suryo sehingga membuat wajahnya kemerahan? Ternyata perempuan itu sedang menanggalkan pakaiannya. Tubuhnya yang bahenol terlihat nyata menantang gairah lelaki. Gadis itu maju mendekat ke tepi pembaringan. Dengan gerakan tangan seorang ahli ia membelai dada Suryo. Bibirnya mendekati leher mengecup dan menyesap. Berusaha membangkitkan gairah Suryo!
Suryo hanya bisa mengatur napas untuk menguasai dirinya. Entah mengapa darahnya bergerak cepat sekali. Dan tubuhnya tidak dapat digerakkan. Suryo lalu berusaha untuk mendeteksi keadaannya. Betapa kaget hatinya ketika mengetahui bahwa ia telah keracunan. Entah racun apa yang dipergunakan oleh kedua dara itu di warung!
Di kamar sebelah terdengar dengusan-dengusan liar. Bunyi berderak dipan pun mengganggu konsentrasi Suryo, yang berusaha untuk mengusir pengaruh racun dalam dirinya! Bibir serta tangan yang membelainya tidak ia rasakan sama sekali. Seluruh inderanya hanya ditujukan untuk mengendalikan peredaran darahnya!
Gejolak perempuan di atasnya telah menyesak dada. Bibirnya bagaikan lintah menghisap bibir Suryo dengan isapan yang membuat napasnya hampir sesak! Akan tetapi tiba-tiba racun yang terkandung dalam dirinya menguap dan darahnya menjadi normal kembali. Suryo merasakan bibir lawan jenisnya yang menghisap dirinya. Tiba-tiba kemarahan menyesak dadanya, membuatnya ingin pelampiasan!
"Hiiiiyyaaaaattttttt...!!!" Gadis berkulit kuning langsat terlempar menabrak dinding kamar, pingsan dengan tubuh masih telanjang.
Dengan cepat Suryo mengenakan pakaiannya kembali lalu keluar dari kamar. Ketika ia sampai di pintu, hampir saja tubuhnya menabrak tubuh telanjang gadis berkulit hitam manis.
"Haiit! Kurang ajar!" perempuan itu berseru keras. Apalagi setelah melihat temannya rebah pingsan, atau mati, di pojok dinding! Dari telinganya gadis berkulit kuning tampak keluar darah!
Tanpa ba-bi-bu lagi ia menyerang Suryo dengan sepasang tangan dan kakinya. Dengan berputar-putar Suryo menghindari serangan lawan yang bertelanjang itu. Sepasang matanya tidak berani dibuka. Penglihatan yang menantang itu sungguh membuat dirinya menjadi risih.
"Plakkkk! Dukkk!!" Gadis berkulit hitam manis itu terlempar keluar kamar. Jatuh menimpa meja dan tidak bangun kembali karena telah pingsan!
Suryo lalu menuju ke kamar samping. Begitu memasuki kamar, ternyata Juragan Lim tengah tertelungkup dengan wajah membayangkan kepuasan. Ternyata Juragan Lim telah tertidur pulas.
Tak berapa lama kemudian Juragan Lim tersadar, kaget melihat dirinya telah telanjang di kamar itu. Ia tadi seperti sedang bermimpi bercumbu dengan seorang bidadari yang binal! Hal itu jelas telah menguras semua tenaganya, membuatnya terasa lemas seluruh persendian tubuhnya.
"Apa yang telah teljadi? Mengapa aku belada di sini?"
"Nanti saja kuterangkan! Lebih baik sekarang Babah Lim berpakaian dulu!" Suryo tidak menjawab pertanyaan Juragan Lim. Ia meminta Juragan Lim untuk mengenakan pakaian dulu. "Kita harus cepat pergi dari sini!"
Dengan tergesa-gesa Lim Hok Coan mengenakan pakaiannya. Saking ketergesaannya malahan tidak dapat cepat, bajunya dipakai untuk celana! Suryo yang melihat ini, menjadi tertawa terpingkal-pingkal. Ia lalu berjalan keluar, ternyata kedua gadis itu masih tidak sadarkan diri!
Begitu selesai berpakaian, Juragan Lim lalu menuju ke tempat meja makan. Wajahnya menjadi cerah ketika melihat peti berukir masih di atas meja. Cepat-cepat disambarnya dan lari mengikuti Suryo yang telah berjalan keluar lebih dahulu!
"Tungguuuu... Jangan cepat-cepat jalannya! Sulyo... tuungguuuu!!" teriaknya.
Suryo menoleh ke belakang. Melihat tubuh gendut Juragan Lim berusaha untuk mengejarnya. Ia pun menjadi kasihan, lalu menanti di bawah pohon. Begitu Juragan Lim mendekat, lalu duduk mengaso di bawah pohon dengan napas tersengal-sengal. Tubuhnya yang gendut itu sangatlah sukar untuk dipakai berlari mengejar Suryo!
Suryo menceritakan pengalamannya ketika di dalam warung. Juragan Lim menjadi terheran-heran. Sungguh aneh sekali, mengapa di dusun yang terpencil itu ada dua gadis yang berbuat begitu. Entah apa maksudnya? Mereka berdua lalu melanjutkan perjalanannya kembali.
Ketika keduanya hendak memasuki jalan hutan yang memotong di depan, begitu kedua orang itu menginjak jalan masuk, ternyata telah dikurung oleh orang-orang berpakaian serba hitam. Seorang gemuk memegang senjata kapak besar dengan kepala gundul plontos maju membentak. Ia agaknya pemimpin gerombolan baju hitam ini.
"Berhenti! Serahkan peti itu kalau mau selamat!" Suaranya menggeledek keras.
"Tenang! Biarlah semua ini serahkan padaku!" kata Suryo menenangkan Lim Hok Coan.
"Untuk mencegah Tuan dari incaran mereka, lebih baik peti itu kubawa!"
"Baik! Bawalah peti ini!" jawab Juragan Lim sambil menyerahkan peti berukir ke tangan Suryo.
Lim Hok Coan mengerti akan maksud si pemuda yang ingin menyelamatkan dirinya dari incaran orang berpakaian serba hitam ini.