Chapter 09
Maka, tanpa ragu sedikit pun, ia menyerahkan barangnya kepada si pemuda. Melihat peti berukir itu, sepasang mata Simo Gendeng, pemimpin gerombolan, bersinar.
"Cepat serahkan peti itu kalau mau hidup!" serunya, sambil mengacungkan kampaknya!
"Ha-ha-ha... kiranya kalian menghendaki peti ini!" ejek Suryo sambil maju ke depan.
Tongkat pendek ditodongkan ke depan, mengarah ke dada Ki Simo Gendeng. Simo Gendeng marah sekali melihat ulah pemuda berbaju putih.
"Bunuh pemuda itu! Rebut petinya!" perintahnya.
"Serbuuuuu!" Salah seorang anak buah berteriak, dan bagaikan hujan senjata golok melanda tubuh Suryo. Suryo memutar tongkat dengan Ilmu Tongkat Pengemis Gila, menangkis senjata yang mendekati tubuhnya. Akibatnya sungguh hebat. Para pengeroyok yang senjatanya ditangkis terpental ke kanan kiri bagaikan disapu angin badai!
"He-he-he... kenapa anak buahmu semua gentong kosong?" ejeknya sambil memandang wajah pemimpin perampok berpakaian hitam.
Simo Gendeng membanting-banting kakinya. Kemarahan telah naik ke kepalanya melihat anak buahnya dalam sekali serang telah mawut. Tanpa memberi peringatan lagi, kampaknya terayun mengampak leher Suryo.
"Mampus kau, jahanam!"
"Wirrrr! Tuk-tuk-tukk!" Kampak mendesir lewat atas kepala, dan angin dingin menerpa wajahnya. Akan tetapi, tongkat pendek kayu cendana berwarna hitam telah mengetuk tulang kaki kiri lawannya. Kiranya, sambil mengelak sambaran kampak, pemuda ini menggerakkan tongkatnya menyerang tubuh bawah lawan yang terbuka.
"Huaaaduuuhhhh... sssstttt... adduuhhh biyunggg tulunggggg...!!" Simo Gendeng meloncat-loncat sambil mengeluh panjang-pendek.
Tulang kaki kirinya yang terpukul tongkat kayu cendana, dengan dialiri tenaga terarah, membuat tulang kaki itu patah, tidak retak sama sekali. Akan tetapi, sakitnya menusuk jantung!
"He-he-he... petinya di sini! Kenapa malah menari monyet? Ini, kemarilah ambil!" ejek si pemuda. Sambil menahan sakit, Simo Gendeng mengobat-abitkan kampaknya, ingin menghancurkan tubuh si pemuda yang meloncat ke kanan kiri. Akan tetapi, sampai keringat membasahi tubuhnya, tak satu pun babatan kampak mengenai sasaran. Apalagi mengenai sasaran, menyentuh baju Suryo saja tidak dapat!
Pada suatu saat, Simo Gendeng membelah kepala Suryo dengan senjatanya, ketika melihat pemuda ini bergerak lambat!
"Mampus kau sekarang!" Suryo memiringkan tubuhnya dan menarik kaki ke samping. Kampak menyambar lewat di samping tubuhnya. Tongkat kayu cendana memukul ke depan, mengarah kepala gundul Simo Gendeng!
"Takkk...!" Tongkat yang digerakkan dari belakang tubuh mengenai kepala. Sebutir telur angsa tumbuh di atas kepala Simo Gendeng! Tangan kiri Simo Gendeng mengusap-usap kepala bertanduk itu. Kepala rampok Krendowahana ini bertambah marah. Mulutnya berkomat-kamit membaca mantra!
"Cuh! Cuh! Cuh!" Simo Gendeng meludahi tangan kirinya tiga kali! Begitu tangan kiri mengusap kepala, telur angsa itu pun lenyap. Kepala itu kembali menjadi licin mengilap! Agaknya, Simo Gendeng mulai mengeluarkan kesaktiannya. Tangan kirinya tampak merah membara seakan-akan tangan itu dicat kemerahan. Tangan kirinya disertai dengan pukulan yang mengandung bau amis sekali!
"Wirrr! Wutt-wuttt!!" Suryo melenting ke udara menghindar, dan dari udara tongkatnya bergerak memukul. Ditangkis lawan, lalu disusul kampakan bertubi ke udara! Tanpa kesukaran, Suryo membuat putaran di udara, dan tongkatnya diputar menangkis.
"Tak-tak-takk!" Akibatnya sungguh hebat! Tangkisan Suryo di tengah udara itu membuat senjata Simo Gendeng membalik! Tak ampun lagi, kepala Simo Gendeng terbelah oleh senjatanya sendiri! Tanpa mengeluarkan suara lagi, tubuhnya telah ambruk di tanah, mampus oleh senjatanya sendiri yang entah telah memakan berapa jiwa tak berdosa yang menjadi korbannya!
Suryo merasa menyesal sekali melihat hasil tangkisan tadi. Sebetulnya, tiada niat sedikit pun juga untuk membinasakan lawan. Tadi dia menangkis dengan menambah sedikit tenaga, akan tetapi karena Simo Gendeng telah terlalu kecapaian dan tangannya yang memegang senjata gemetar. Akibatnya, dia tidak kuasa untuk menguasai senjatanya sendiri.
Para anak buah berbaju hitam yang melihat pemimpin mereka tewas dengan mengerikan, lalu berteriak keras sambil melarikan diri mencari selamat! Juragan Lim Hok Coan yang bersembunyi di balik batang pohon, melihat kemenangan pemuda itu, segera keluar dari tempat persembunyiannya.
"Uwaaahhh, hebat sekali! Sungguh luar biasa! Ck-ck-ck...!" Sambil mengacungkan kedua jempolnya (ibu jari tangannya), Juragan Lim memuji si pemuda.
Akan tetapi, yang dipuji tidak menjawab. Berjalan ke depan dan mengambil sebuah golok besar yang tercecer. Tanpa berkata sesuatu, dia melangkah ke tepi jalan mencari tempat yang baik untuk mengubur jenazah Simo Gendeng!
"Eeeelho, mau apalagi ini? Kenapa kau membawa golok itu? Buat apa?" Juragan Lim keheranan melihat ulah si pemuda.
"Saya mau mengubur jenazah ini, mengganggu orang lewat!" katanya singkat.
Suryo lalu menggunakan goloknya membuat lubang yang cukup dalam. Begitu selesai, dia lalu mengangkat mayat bekas lawannya dan menguburkannya. Setelah itu semua, dia bersembahyang sejenak. Semoga arwah almarhum diterima di sisi-Nya, sesuai dengan amal dan perbuatannya serta diampuni dosa-dosanya yang diperbuatnya.
Hari telah menjelang sore ketika mereka berdua melanjutkan perjalanan. Belum sampai gelap, mereka berdua telah tiba di sebuah dusun. Suryo mengajak Babah Lim untuk mencari penginapan dan melewatkan malam di desa itu.
"ILMU KEBAL ini khusus mengambil dari sinar matahari! Tubuhmu harus terkena sinar matahari! Kau tidak boleh terkena air ketika menekuninya!" Nyi Langen Asmara berkata kepada perempuan muda di depannya. Dia sedang mengajarkan ilmu kebal yang mengambil sari cahaya matahari. Ilmu kebal yang sangat langka dipunyai oleh orang persilatan di masa sekarang.
"Hamba siap! Apa pun syaratnya, Ayu siap menjalani!" dara itu menjawab. Dia telah menjadi kekasih gurunya, Nyi Langen Asmara, pertapa di Gunung Gajah. Ternyata, setelah kedok hitamnya ditanggalkan, dia adalah seorang gadis yang cantik manis dengan sepasang mata laksana bulan kembar bundar berseri. Lirikan matanya dapat meruntuhkan iman lelaki.
Sebetulnya, siapakah dara jelita yang menghadap Nyi Langen Asmara dan diberi pelajaran ilmu kebal ini? Dara ini sebetulnya masih mempunyai darah keturunan dari Bali; ibunya berasal dari Bali dan ayahnya adalah Juragan Cakra dari Semarang. Seorang juragan yang bergerak di bidang perikanan. Dara ini bernama Ayu Lestari.
Bagaimana dia dapat berkenalan dengan Nyi Langen Asmara? Ketika dara ini berumur sekitar sepuluh tahun, diajak ibunya untuk pergi ke candi. Ibunya yang menjadi selir Juragan Cakra adalah penyembah Batari Durga. Dia adalah pengikut yang tekun sekali serta taat menjalankan ibadah. Ketika itu, Nyi Langen Asmara sedang berada di candi. Melihat kedatangan ibu dan anak ini, hatinya tertarik sekali.
Diam-diam, Nyi Langen Asmara mengerahkan ilmunya, memelet ibu dan anak. Dengan mudah sekali, ia menguasai diri Nyi Rati dan anaknya. Jadilah ibu Ayu Lestari menjadi kekasihnya. Dengan adanya hubungan ini, secara otomatis Ayu Lestari, yang kala itu masih seorang bocah yang cantik manis, menjadi muridnya pula.
Ketika ayahnya, Juragan Cakra, kedatangan Sancaka. Ayu Lestari sedang berada di belakang pintu. Sebetulnya, ketika itu dia mau keluar, akan tetapi tanpa sengaja mendengar pembicaraan ayahnya dengan tamunya. Dia menjadi tertarik.
"Betulkah patung itu Patung Batari Durga? Patung peninggalan Nyi Calon Arang?" kata Juragan Cakra, ingin memastikan keaslian patung itu.
"Betul, Juragan. Babah Coa sendiri telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri! Dia berani bertanggung jawab bahwa patung itu asli!" Kata Sancaka meyakinkan.
"Hemmm, berapa dia minta? Asal patung dapat menjadi kepunyaanku, berapa pun harganya, aku bayar!"
"Akan tetapi, Juragan Lim tidak mau menjualnya. Ia mau menyimpannya di tempat barang-barang antik di rumahnya," ucap Sancaka menerangkan.
Sepasang mata Juragan Cakra terbelalak. Dia heran. Untuk apa patung itu bagi Babah Lim Hok Coan? Dia kan penganut agama yang menyembah di kelenteng. Dia pun menawarkan sejumlah uang yang membuat mata Sancaka terbelalak ketika mendengarnya. Menurut istrinya yang ketiga, apabila dapat mempunyai Patung Batari Durga yang berasal dari Bali, patung yang menjadi sesembahan Nyi Calon Arang, maka ia akan memperoleh kekuatan khusus.
Mendengar bahwa Babah Lim mempunyai patung itu hanya untuk koleksi saja, dia pun lalu menawarkan sejumlah uang yang cukup untuk membuat orang mengiler!
"Pokoknya, patung itu harus menjadi kepunyaanku! Bagaimana caranya, terserah kau dan Babah Coa yang mengatur!" ujarnya sambil menyerahkan sebuah pundi-pundi. "Ini sebagian sebagai uang panjar! Nanti, kalau patung sudah berada di tanganku, akan kuberi sepuluh kali lipat dari uang yang berada di pundi-pundi itu."
"Jangan khawatir, Juragan. Pasti patung itu akan saya serahkan kepada Juragan." Sambil membuka pundi-pundi, Sancaka menegaskan. Patung Batari Durga pasti akan diserahkan kepada Juragan Cakra.
Ketika tamu ayahnya telah berlalu, Ayu Lestari lalu keluar dan menemui ibunya. Dia memberitahu ibunya tentang adanya patung itu. Ibunya terbelalak. Menyuruh anaknya untuk mencari bantuan Nyi Langen Asmara untuk menguasai patung itu sendiri. Patung yang sangat ampuh apabila dapat menggunakannya. Semua permintaannya akan dipenuhi dan dikabulkan asal saja tahu cara membuka rahasianya. Sambil menanti di Gunung Gajah atau Gunung Setan, Ayu Lestari menimba ilmu kesaktian yang langka. Nyi Langen Asmara telah mengutus Simo Gendeng, anak buahnya yang menjadi kepala rampok di Krendowahana.