Halo!

Patung Pembawa Maut - Chapter 10

Memuat...
Patung Pembawa Maut

Chapter 10

Dia telah memesan kepada Ki Simo Gendeng sendiri ketika disuruh oleh gurunya.

Dengan mengenakan kerudung hitam agar jangan dikenal oleh Juragan Lim maupun Tan Suhu yang telah mengenal keluarganya dengan baik.

"Kalau begitu siang ini juga dapat kau mulai!" kata Nyi Langen Asmara.

Pertapa ini merasa terikat dengan kekasih barunya ini.

Nyi Langen Asmara telah membuat ibu Ayu Lestari menjadi kekasihnya, sekarang anaknya. Itu pun menjadi kekasihnya pula!

Dia tidak akan puas sebelum mendapatkan dara yang menjadi muridnya ini.

Sekarang dara ini telah menjadi seorang gadis yang cantik sekali, mempunyai daya tarik yang hebat sekali!

Ayu Lestari menanggalkan seluruh pakaiannya.

Dengan bertelanjang dia naik ke atas batu datar di puncak itu.

Nyi Langen Asmara lalu memandikan tubuhnya dengan air yang mengandung sari bunga!

Setelah itu ia pun lalu menyuruh Ayu Lestari untuk tetap bersamadi dalam keadaan berdiri!

Telah tiga hari tiga malam Ayu Lestari berdiri di atas batu.

Ketika siang hari itu matahari telah menjadi sangat panas.

Tepat bersinar di atas kepalanya, Nyi Langen Asmara membawa sebuah golok yang berkilau saking tajamnya.

Ketika tangannya bergerak ke arah batu gunung, golok itu bagaikan kilat menyambar batu.

"Crasssss ...!" Batu pun terbelah menjadi dua, bagaikan agar-agar terbelah pisau tajam.

Nyi Langen Asmara tersenyum menyaksikan ini!

"Bangun, bocah ayu! Terimalah ini!" Sambil berkata Nyi Langen Asmara menggerakkan goloknya membabat punggung Ayu Lestari.

"Daakkkk ...!" Golok yang tadi membelah batu gunung bagaikan membelah tahu sekarang terpental ke belakang.

Ternyata ketajaman golok itu tidak dapat menembus kekebalan tubuh Ayu Lestari.

Nyi Langen Asmara menggerakkan goloknya bertubi-tubi, mencacah tubuh Ayu Lestari.

Akan tetapi agaknya tidak terasa sama sekali oleh dara itu.

Dia tetap berdiri tegak!

Seakan-akan babatan-babatan golok itu usapan tangan halus saja!

"Bangun! Ayu ... bangunlah! Ilmumu telah sempurna!" Ayu Lestari membuka sepasang matanya!

Dia kembali memejamkan matanya karena silau.

Sambil menutupi dengan kedua tangan, dia pun kembali membuka mata.

Nyi Langen Asmara berdiri di depannya sambil memegang sebuah golok yang telah rompal tajamnya!

Ayu Lestari keheranan!

"Guru! Apa yang telah terjadi?" tanyanya.

"Hi-hi-hik ... kau berhasil, bocah ayu! Ini, lihatlah golok ini." Nyi Langen Asmara mengelus dada yang membusung itu.

Ayu Lestari menggerinjai. Tubuhnya bagaikan ada bara api yang menjalar di seluruh aliran darahnya.

"Ihhh, guru ...!" "Hi-hi-hik ..., mari, mari kumandikan dulu. Kau harus kumandikan dulu, setelah itu kita makan dan mengaso."

"Baik, guru." Ayu Lestari menjawab dengan patuh.

Setelah melakukan semuanya, kedua orang itu lalu memasuki gua.

Apa yang diperbuat di dalam gua tidak dapat terlihat dari luar, hanya kadang-kadang terdengar rintihan.

Rintihan orang mengalami kepuasan!

Pada suatu pagi, kedua orang itu berlatih silat.

Ayu telah mendapat tambahan ilmu yang tidak sedikit ketika berada di gua pertapaan gurunya ini.

Dua bayangan tubuh yang ramping sedang berkelebat dan berputaran diiringi oleh kilatan cahaya senjata yang berkelebat!

Sangat cepat, sesekali terdengar denting adu senjata dan terkadang senjata bertemu dengan tubuh.

Pakaian keduanya telah tak karuan.

Terobek di sana-sini, semua ini akibat kelebatan senjata yang mengenai tubuh atau ditangkis tangan telanjang!

Ketika sedang sengit-sengitnya kedua orang itu berlatih.

Beberapa sosok bayangan hitam berlarian naik ke atas Bukit Gajah.

Beberapa kali terjatuh.

Agaknya saking lelahnya mereka dalam menempuh perjalanan!

Siapakah mereka? Mereka tidak lain adalah anak buah Simo Gendeng, kepala rampok Krendowahana!

"Aduuuuhhhh ... katiwasan ... Nyi Dewi!" Mereka tiba begitu dekat dengan tempat kedua orang itu berlatih.

Salah seorang berseru, mereka semua menjatuhkan diri berlutut.

Malahan ada yang terguling, pingsan atau tertidur, agaknya saking lelahnya!

Nyi Langen Asmara dan Ayu Lestari meloncat ke belakang.

Begitu melihat keadaan orang-orang berpakaian hitam itu, alisnya terangkat.

Apalagi ia tidak melihat si Simo Gendeng, anak buahnya tersayang!

"Ada apa kalian ini? Mana Simo Gendeng?" tanyanya ketus.

"Ayo cepat jelaskan! Apa kalian menunggu kepala kalian melayang dulu?"

"Maafkan kami, Nyi Dewi. Kakang Simo telah tewas. Dia telah terbunuh oleh seorang pemuda berpakaian putih bersama Suryo." Salah seorang yang menjadi pembantu Simo Gendeng memberi tahu.

Dia lalu menceritakan bagaimana mereka semua tidak berdaya menghadapi tandang pemuda baju putih yang bersenjatakan tongkat itu.

Tak disangka sama sekali bahwa ketua mereka yang sudah terkenal sakti dapat dikalahkan oleh pemuda itu dengan mudah.

Nyi Langen Asmara dan Ayu Lestari yang mendengarkan cerita ini menjadi marah sekali.

"Bangsat kurang ajar! Apa kalian yang terdiri dari puluhan orang tidak dapat membunuh seorang bocah yang masih hijau?" tanyanya dengan suara yang mengandung getar kemarahan!

Para anak buah yang berpakaian hitam itu tubuhnya menggigil.

Mereka ketakutan sekali melihat kemarahan Nyi Langen Asmara.

Mereka tahu bahwa wanita ini dapat membunuh orang yang mempunyai kesalahan yang tidak berarti.

"Ampun! Ampunkan kami, Nyi Dewi!" ratap mereka hampir bersamaan.

Terdengar salah seorang yang berada di belakang berkata.

"Dia ... dia, pemuda itu agaknya tidak berniat membunuh kami semua. Karena itu, kami semua dapat membuat laporan ke ..."

"Wiirrrrr ... ceeppppp!" Ternyata belum selesai orang itu berkata, sebuah golok telah menembus dadanya!

Nyi Langen Asmara telah menggerakkan tangan yang memegang golok.

Tiba-tiba goloknya telah meluncur tanpa dapat diikuti pandang mata!

Mendengar laporan itu, dia seakan mendapat cemoohan dari lawan.

Apalagi yang berkata ini adalah anak buah Simo Gendeng.

Sungguh memalukan!

Maka dia segera membungkam mulut yang tidak tahu malu itu!

Semua orang yang berada di situ, yaitu anak buah Simo Gendeng yang berpakaian serba hitam, menjadi semakin ketakutan sekali.

Tiada seorang pun yang mengangkat muka.

Menyembah-nyembah sambil meratap minta ampun!

"Babi, babi tidak tahu aturan! Sudah membawa kabar jelek masih memuji perusuh! Pergi! Pergi semua dari depanku!" Bagaikan mendapat pengampunan mereka menyatakan terima kasih.

Bergegas mereka pergi meninggalkan tempat itu dengan berlari.

Mereka takut keputusan tersebut berubah sewaktu-waktu.

Siapa tahu isi hati orang yang sangat galak itu!

Melihat orang-orang berlarian saling adu cepat, Ayu Lestari menjadi sebal.

Lalu kakinya menendangi batu-batu di depan kakinya.

"Siut-siut-siuttt! Tak-tak-takkk!" Tiga orang berbaju hitam yang paling belakang mendapat hadiah batu di belakang kepala.

Tanpa ampun ketiganya terhuyung ke depan dan menggelinding dengan kepala berlubang!

Melihat ini kawan-kawan mereka bertambah ketakutan.

Sehingga terjadilah tubrukan di antara mereka!

Sialnya, kembali ada orang yang terjatuh ke dalam jurang!

Saking takutnya teman di sampingnya telah mendorong orang itu sehingga memasuki jurang!

Ini semua terjadi karena kepanikan mereka yang berlebihan!

"Hi-hi-hik ... kecoa-kecoa seperti itu sebetulnya tidak pantas diberi hidup!"

"Sungguh menyebalkan!" kutuk Ayu Lestari.

"Lebih baik kita cari sendiri. Ayo Ayu, kita pergi!"

"Baik guru!" Kedua guru dan murid itu menuruni Bukit Gajah.

Tubuh keduanya bagaikan dua ekor burung terbang turun dengan cepat sekali.

Dalam sekejap saja hanya tampak dua bayangan hitam meluncur cepat.

Tidak berapa lama kemudian lenyap ditelan lebatnya hutan di bawah bukit!

Kabut pagi masih tebal sekali.

Pandang mata hanya dapat melihat sekitar tiga tombak saja!

Udara pun dingin sekali.

Hutan itu bertambah dingin dengan embun yang menyelimuti dedaunan.

Kalau tidak berhati-hati, orang dapat menabrak pohon di depannya karena terhalang kabut!

Akan tetapi hawa yang dingin sekali itu agaknya tidak membuat keempat orang itu menunda perjalanan mereka!

Bagaikan hantu kesiangan keempatnya menembus kabut.

Agaknya mereka tidak terganggu oleh hawa yang dingin itu, menandakan bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi.

Entah apa yang menjadi tujuan mereka sehingga keadaan yang dingin di pagi itu tidak dapat menghalangi maksud mereka!

"Kita harus mencegat mereka di dekat dusun di depan!" kata salah seorang dari mereka.

"Betul, Kang Dolok. Aku setuju, kita harus mengambil jalan pintas saja. Lebih cepat dan kita dapat menanti mereka!" sahut temannya si Mangkurat.

Ternyata mereka adalah rombongan Bango Dolok, adik seperguruannya (si Mangkurat), Sancaka, dan Coa Bo Gie.

Agaknya mereka telah menemukan jejak Juragan Lim Hok Coan yang hendak pergi ke Prambanan.

Maka berusaha untuk mencegat di depan sebelum kedua orang itu memasuki dusun.

Bango Dolok mengutarakan siasatnya untuk mengepung kedua orang yang membawa peti berukir berisi Patung Bhatari Durga!

Tidak jauh di depan mereka tampak pula rombongan orang berpakaian hijau.

Karena warna pakaiannya, maka mereka itu tidak dapat dibedakan dengan lingkungan hutan.

Ternyata mereka adalah gerombolan Sugriwa Yaksa.

Agaknya raksasa ini masih merasa penasaran karena dapat dipecundangi demikian mudah oleh anak muda berbaju putih itu.

Ketika melihat anak buahnya kembali, setelah ia tersadar dari pingsannya.

Sugriwa Yaksa lalu memilih sepuluh orang untuk mengejar pemuda baju putih untuk menuntut balas!

Ternyata mereka dapat menemukan jejak Suryo dan Babah Lim Hok Coan yang menuju ke Prambanan.

Mereka tadi malam menginap di dalam hutan.

Sugriwa Yaksa bermaksud untuk mencegat keduanya di tanah datar di luar dusun, maka dia mengajak teman-temannya untuk melalui hutan dengan memotong jalur, sehingga akan dapat tiba di tempat yang dimaksud dengan cepat!

Ternyata kedua rombongan itu terpisah cukup jauh.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment