Halo!

Patung Pembawa Maut - Chapter 11

Memuat...
Patung Pembawa Maut

Chapter 11

Dengan adanya kabut, mereka tidak mengetahui kalau di depan maupun di belakang ada orang yang menuju ke tempat yang sama dan mempunyai tujuan yang sama pula.

Akan tetapi, berbeda.

Kalau rombongan Bango Dolok menginginkan peti berisi patung, sedangkan rombongan Sugriwa Yaksa ingin membunuh pemuda baju putih untuk menebus kekalahannya yang memalukan di tempatnya sendiri itu!

Sampai matahari telah naik tinggi, kedua rombongan itu menanti kedatangan orang yang diincarnya.

Dengan tekunnya mereka menanti di dalam hutan dekat dusun, tanpa bergerak sama sekali atau berpindah tempat sehingga keduanya tidak mengetahui akan kehadiran masing-masing!

Dua orang berjalan dengan santai di jalan setapak hutan.

Salah seorang masih muda, berwajah tampan serta mengenakan pakaian serba putih.

Di tangan kanannya tampak sebuah tongkat pendek berwarna kehitaman.

Pada punggungnya tampak sebuah bungkusan besar.

Sambil berjalan, pemuda ini tiada hentinya bersiul-siul.

Sedangkan yang berjalan di sampingnya adalah seorang laki-laki yang bertubuh gemuk.

Langkahnya tertatih mengikuti langkah si pemuda yang gesit dan ringan itu.

Agaknya saking gemuknya sehingga di waktu berjalan jauh, keringatnya telah memenuhi tubuhnya bagaikan orang kehujanan!

"Aduh, kita berhenti dulu!

Ini kaki sudah tidak mau digerakkan lagi.

Itu ada pohon yang rindang, kita mengaso di sana," keluh Juragan Lim.

Ternyata kedua orang itu adalah Suryo Lelono dengan Juragan Lim Hok Coan yang sedang menuju ke Prambanan.

Mendengar keluhan teman seperjalanannya, Suryo tidak menjawab.

Langkahnya dipelankan, lalu berkata, "Kita sudah dekat dengan dusun.

Lebih baik kita mengaso di dusun!

Menikmati makanan dan dapat mengaso dengan enak!" "Ooooo ... iya toh.

Kalau begitu, boleh saja." "Mari kita percepat saja jalan!" ajak Suryo.

Dia ingin segera sampai di dusun.

"Ooooeeeeee ..., tungguuu ... tunggu.

Saya mau buang air kecil dulu!" Suryo berhenti dan menoleh.

Ternyata Juragan Lim telah berlari ke arah gerumbulan semak di tepi jalan.

Tiada lama kemudian telah keluar lagi, berlari kecil untuk mengejar Suryo yang telah melanjutkan perjalanannya kembali!

"BERHENTI! Serahkan bungkusan itu!" Bentakan ini disusul dengan berkelebatnya empat bayangan ke depan.

Mengurung Suryo dan Juragan Lim.

Suryo mengawasi keempat orang itu, akan tetapi tiada seorang pun yang dikenalnya.

Akan tetapi Juragan Lim segera mengenal dua orang yang telah mencegatnya itu, maka ia pun menyapa, "Elo, kiranya kau!

Mengapa kau mencegatku, Sancaka?" Setelah menyapa Sancaka, lalu Babah Lim mengawasi seorang Cina yang mengenakan pakaian hitam dan menegurnya pula, "Ayaa, ini sobatku, Coa Bo Gie.

Kenapa ada pula di sini?" "Lim, serahkan saja patungmu kepada kami!

Daripada kau menjadi korban, lebih baik serahkan petimu!" Coa Bo Gie langsung mengutarakan maksudnya.

"Betul, juragan.

Serahkan peti itu kepada kami dan kami akan berlalu.

Tidak akan mengganggu seujung rambut pun!

Akan tetapi ..." Belum habis Sancaka berkata, Suryo telah memotongnya, "Kalian menghendaki peti berukir? Ini, ambillah sendiri!" Mendengar tantangan ini, Bango Dolok dan Mangkurat maju sambil melayangkan tangan.

Bango Dolok memukul ke arah muka sedangkan Mangkurat menubruk dari belakang, berusaha mengambil bungkusan di punggung Suryo.

"Ciaaattttt ... !!" Pukulan Bango Dolok yang mengarah muka lawan dapat dielakkan dengan memiringkan kepala.

Sedangkan tubrukan Mangkurat dari belakang disambut dengan tendangan kakinya.

Tanpa ampun lagi Mangkurat menjerit keras karena perutnya telah menerima tendangan tidak terduga ini.

"Blekkkk!! Aduh ... !" Tubuh Mangkurat terlempar ke belakang sekitar dua tombak dan terbanting ke tanah dengan pinggul yang menimpa tanah terlebih dahulu.

Begitu bangun, kedua tangan mengusap-usap pinggulnya.

Agaknya pinggulnya tadi mengenai batu tepat di tulang panggulnya!

Melihat ini, ketiga kawannya lalu maju menyerang hampir berbarengan.

Mereka mengeluarkan jurus-jurus silat pilihan masing-masing.

Setiap pukulan maupun tendangan mereka selalu mengeluarkan angin keras saking kuatnya!

Akan tetapi dengan mudahnya Suryo menghadapi hujan serangan dari keempat orang itu.

Ternyata Mangkurat setelah dapat menguasai rasa sakitnya ikut pula maju mengeroyok!

Dia ingin membalas kekalahannya tadi.

Masa baru segebrakan saja dia telah mendapat hadiah tendangan di perutnya.

Seolah memberi makan perutnya yang lapar!

Akan tetapi kembali ilmu Si Mliwis Putih menunjukkan keampuhannya.

Tubuh Suryo dapat menyelinap di bawah hujan serangan keempat orang lawannya.

Ketika sampai di jurus kedua puluh, Suryo malahan memberi hadiah masing-masing sebuah sodokan di perut.

"Duk! Duk!!" "Ugh ... !!" Hampir berbarengan keempat orang itu membungkuk.

Mungkin ulu hatinya telah terkena sodokan ujung jari Suryo.

Seakan pecah dan berserakan isi perutnya dan menyesakkan rongga dada!

Dengan muka agak pucat karena sakit, mereka lalu menghunus senjata masing-masing.

Bango Dolok mencabut goloknya dan Mangkurat juga mengeluarkan senjata rantai baja yang ujungnya diberi bandul besi bergerigi.

Sedangkan Sancaka mencabut sebatang keris yang berwarna kehitaman, dan Cina tinggi kurus berpakaian hitam itu mengeluarkan pula senjatanya.

Bentuk senjatanya agak aneh, seperti kaitan yang bercabang!

Tanpa memberi isyarat, keempatnya telah menggerakkan senjata andalan mereka sendiri.

Suryo melenting tinggi untuk mengelak dari kepungan empat senjata lawan.

Begitu kakinya menginjak tanah, tongkatnya disodokkan ke belakang dan tangan kirinya menangkis keris Sancaka dengan kibasan tenaga dalam.

"Wussss ..., plakkk!!" Dua orang yang mendapat serangan balasan ini meloncat mundur.

Sedangkan golok Bango Dolok dan senjata rantai Mangkurat dielakkan dengan membuat salto di tanah tiga kali.

Tubuhnya berputaran di tanah bagaikan roda.

Akan tetapi kedua senjata itu pun tidak dapat menyentuh ujung bajunya sedikit pun!

Tanpa menunggu lawan memperbaiki posisi, Suryo segera memainkan tongkat kayu cendananya dengan Ilmu Tongkat Pengemis Gila!

Keempat lawannya kebingungan melihat jurus-jurus silat yang aneh sekali.

Sukar sekali diduga geraknya, seperti keadaan orang yang sedang dalam keadaan tidak stabil.

Tidak ada aturannya sama sekali.

Kadang berjongkok, kadang berputaran di udara.

Setelah merasa cukup mempermainkan keempat lawannya, Suryo lalu mengirim totokan yang cukup untuk membuat tubuh keempat lawan menjadi lemas.

"Tuk! Tuk!" Hampir beruntun totokan mengenai keempat lawannya.

Tanpa ampun lagi, keempatnya terjatuh dengan tubuh tiada daya untuk melanjutkan pertempuran!

"Serbuuu! Bunuh pemuda baju putih ... !" Sugriwa Yaksa berteriak memberi tanda kepada anak buahnya.

Suryo melihat ke arah belakangnya, ternyata orang-orang berpakaian hijau maju menyerang dengan senjata yang beraneka ragam!

Dipimpin oleh seorang yang bersenjata ruyung bergerigi, Sugriwa Yaksa!

"Trang! Tring! ..." Terdengar benturan senjata berulang kali dan tampak banyak senjata beterbangan di udara!

Tubuh-tubuh orang berpakaian hijau mencelat ke kanan kiri.

Hanya ruyung milik Sugriwa Yaksa saja yang masih dapat dipertahankan.

Walaupun tangannya terasa kesemutan seakan-akan kulit telapak tangannya terbeset akibat bertemunya ruyung dengan tongkat kecil berwarna hitam di tangan si pemuda. "Tahan!

Mengapa kalian tidak kapok setelah kuampuni!" "Tidak ada dalam kamusku untuk kalah begitu saja!

Belum lecet tulangku, belum pula patah daging dan kulitku.

Mengapa harus merasa kalah?" Sumbar Sugriwa Yaksa sebagai jawaban atas kata-kata si pemuda.

Raksasa ini sesumbar tanpa aturan, dibolak-balik tidak keruan!

"Agaknya kalian minta dihajar!

Kalau itu maumu, mari, mari ..., majulah ke mari!" "Makanlah rujak poloku! Pecah kepalamu!" Sambil mengayun ruyung ke arah kepala, Sugriwa Yaksa membarengi dengan tangan kiri menyebar benda kehijauan ke arah Suryo.

"Ting! Tang! Wusss ... !" Suryo memutar tongkatnya menangkis sinar hijau yang datang lebih dulu.

Ia memiringkan tubuhnya untuk mengelakkan pukulan ruyung ke arah kepala dan tangan kirinya bergerak menyodok ulu hati.

Serangan itu dielakkan lawan dengan meloncat ke belakang dan kembali maju lagi sambil mengobatatitkan ruyungnya.

Dengan lincah Suryo menghadapi serangan lawan ini, hanya sesekali saja dia membalas untuk mengurangi tekanan ruyung yang datang menggebu.

Pertempuran itu, walaupun kelihatan seru sekali, sebetulnya Suryo Lelono tidak menggunakan seluruh kepandaiannya.

Dia agaknya hanya ingin menyadarkan raksasa ini.

Setelah merasa cukup, kembali Suryo menotok tubuh depan yang terbuka dari lawannya.

Akan tetapi saking kuatnya Sugriwa Yaksa menubruk maju, dadanya telah tertembus ujung tongkat!

"Aduh ... mati aku!" Jerit Sugriwa Yaksa.

Para anak buah yang berpakaian hijau pulih dari pengaruh totokan atau terlempar ke kanan kiri dengan menderita luka-luka ringan.

Segera maju untuk menolong pemimpin mereka.

Akan tetapi ternyata bahwa pemimpin mereka telah mengembuskan napas terakhirnya.

Kakinya berkelojotan tatkala nyawanya akan meninggalkan tubuhnya!

Tanpa berani menoleh lagi, orang-orang berpakaian hijau mengangkat tubuh Sugriwa Yaksa dan memapah orang-orang yang terluka.

Menyusup ke dalam gerumbulan semak hutan.

Karena warna pakaiannya yang kehijauan itu, dalam sekejap saja mereka telah hilang dari pandangan mata!

"Jangan dibunuh ... !" Teriakan Suryo yang menggeledek itu ternyata terlambat.

Juragan Lim yang merasa marah sekali akibat telah kehilangan banyak anak buah serta kehilangan harta, mengayunkan goloknya untuk menusuk orang terakhir dari keempat orang itu.

"Crooot ... !" Darah muncrat dari dada Coa Bo Gie ketika golok dicabut Juragan Lim.

Sebagian mengenai pakaian Juragan Lim.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment