Chapter 12
Mendengar bentakan Suryo, Juragan Lim Hok Coan menengok, tetapi semua sudah terlanjur! Keempat orang itu mati dengan penasaran sekali! Dalam keadaan tidak berdaya serta tak dapat membela diri sama sekali telah ditusuk golok! Mati secara mengenaskan di tangan seorang yang tidak bisa silat sama sekali.
Setelah melihat korban-korbannya, Juragan Lim maju mendekati Suryo.
"Saya harus membalas dendam orang-orang yang telah mengantar aku ke Prambanan! Kenapa kau tidak mau membunuh mereka? Mengapa membiarkan mereka melarikan diri?" Juragan Lim berkata sambil mengusap peluh yang membasahi dahinya.
Golok di tangan dibuang ke samping, lalu ia berjalan pergi untuk mengaso di bawah pohon. Suryo hanya menggelengkan kepala.
Ah, hanya sebuah patung telah menewaskan begitu banyak orang, pikirnya. Dia lalu memungut golok dan membuat lubang untuk mengubur keempat jenazah itu. Dengan cepat sekali tangannya bergerak; tidak lama kemudian sebuah lubang cukup besar telah dibuatnya.
"Mari, bantu aku menguburkan mayat-mayat ini!"
"Ayaaa, sudah lelah disuruh mengubur mayat lagi! Sialan...!" gerutunya.
Lim Hok Coan berdiri dengan enggan. Akan tetapi dia ikut membantu juga. Suryo yang melihat ini menjadi gembira; meskipun babah gemuk itu telah membunuh lawan yang tidak berdaya, dia masih mau membantu untuk memasukkan mayat ke dalam lubang kubur. Berarti tidak sia-sia dia menolong juragan ini.
Kalau saja juragan ini tidak mau membantu. Entah apa yang akan diperbuatnya mengenai urusan patung itu?
"Hi-hik... Ternyata kalian berdua telah menyiapkan kuburmu sendiri. Hi-hi-hik...!!" Suryo kaget mendengar suara di belakangnya ini. Suara kekeh genit seorang perempuan. Entah sejak kapan berdirinya, ternyata di belakangnya ada dua orang wanita yang berdiri sambil bersedekap! Sungguh piawai sekali dua perempuan ini, pikirnya. Kedatangannya tidak dapat terdengar oleh pendengarannya yang tajam luar biasa itu. Tetapi dengan tenang sekali dia maju menghadapi kedua orang wanita itu.
"Bocah! Apa yang di punggungmu itu? Jawab!"
"Bolehkah saya mengetahui siapa Anda?" jawab Suryo kalem.
"Hi-hi-hik..., bocah tampan, majulah ke sini!" perintah Nyi Langen Asmara. Dia ingin melihat jelas pemuda ini. Ayu Lestari pun mengawasi pemuda tampan dengan sepasang matanya yang lebar.
Begitu Suryo telah mendekat, Nyi Langen Asmara berkata lagi.
"Hi-hik..., ini muridku yang ayu. Namanya Ayu Lestari. Aku adalah Nyi Langen Asmara, penguasa Bukit Gajah! Hi-hik...!"
"Oh!" Hanya itulah yang keluar dari mulut si pemuda. Agaknya pemuda ini menjadi kaget juga mengetahui siapa wanita setengah tua itu. Dia pernah mendengar tentang pertapa wanita penganut Batari Durga yang bernama Nyi Langen Asmara. Kabarnya wanita itu telah berusia tujuh puluhan tahun! Akan tetapi yang berdiri di depannya ini, usianya pasti tidak lebih dari empat puluhan tahun!
"Hi-hi-hik..., bocah tampan, bungkusan apa yang berada di punggungmu itu? Apakah bukan peti berisi patung Sang Batari?" tanyanya.
Sebelum menjawab, Suryo telah mempersiapkan dirinya lebih dulu. Dia tahu agaknya hanya patung itu yang menjadi perebutan para tokoh-tokoh silat di seantero Nusa Jawa ini!
"Benar! Ini adalah patung itu. Akan tetapi akan kuantar ke Prambanan!"
"Hi-hi-hik..., lebih baik kauserahkan kepadaku, bocah! Kalau kau masih ingin melihat matahari terbit esok hari!"
"Patung ini bukan kepunyaanku. Tidak akan kuserahkan pada siapa pun."
"Sebelum kau mampus, lebih baik sebutkan namamu. Hi-hik...!"
"Aku bernama Suryo!" jawabnya singkat.
"Hi-hik... Suryo. Terimalah ini!" Begitu habis kata-katanya, Nyi Langen Asmara menggerakkan tangan kanannya. Uap tipis keluar dari telapak tangan membawa bau harum yang memabukkan. Menyerang wajah Suryo.
"Haitt!" Tubuh Suryo telah melayang tinggi menghindar dari serangan uap tipis. Dari atas, tangan kanannya bergerak dengan pengerahan tenaga sakti mengibas ke arah kepala lawan.
"Duk!" Dua tenaga bertemu di udara. Membuat pohon-pohon yang berada di sekitar tiga tombak bergoyang-goyang terlanda angin pukulan itu. Nyi Langen Asmara tersurut mundur lima langkah, sedangkan Suryo sendiri kembali terlempar ke atas hampir mencapai tiga tombak!
"Hebat!... Sekarang terimalah ini!" Setelah memuji, Nyi Langen Asmara menggerakkan kedua tangannya secara bersamaan. Dari kedua telapak tangannya kembali mengepul uap putih kehijauan. Sekarang membawa bau yang tidak enak. Baunya seperti bangkai busuk!
Ketika angin dingin menyambar tubuhnya saat sedang turun, Suryo membuat gerakan membalik dan tubuhnya kembali naik. Tangan kirinya memegang cabang pohon; sekali tarikan, tubuhnya telah meluncur pergi jauh dari tempat itu! Kembali serangan ini dielakkan dengan mudah.
Melihat ini Nyi Langen Asmara menjadi marah juga. Dengan cepat kakinya menjejak tanah dan tiba-tiba bagaikan kilat telah menerjang ke arah si pemuda. Kembali Suryo mengelak lalu membalas serangan itu dengan tidak kalah cepatnya. Semua ilmu kesaktian dikeluarkan oleh kedua orang itu. Tubuh keduanya telah hilang dari pandangan mata. Yang tampak hanyalah dua bayangan saling berkelebat dengan cepat. Pohon-pohon ada yang tumbang akibat pukulan yang tidak mengenai sasaran atau dielakkan lawan!
Keduanya memiliki ilmu yang hampir sempurna. Batu dan debu berhamburan ke udara. Terkadang terdengar ledakan dahsyat memekakkan telinga akibat benturan kedua tenaga sakti dari aji yang mengerikan! Seratus jurus berlalu dengan cepat, akan tetapi tidak tampak yang kalah atau yang menang!
"Tahan! Kalau tidak, Cina ini mampus!" Kedua bayangan itu pun berpisah. Suryo kaget sekali melihat perkembangan baru ini. Sungguh tidak pernah disangkanya bahwa seorang tokoh besar menyuruh muridnya berbuat seperti itu!
"Celaka," pikirnya. "Hi-hik... Ada apa, Ayu? Mengapa kau mengganggu orang yang sedang bermain-main?"
"Cepat serahkan peti itu! Awas jangan membuat gerakan yang mencurigakan! Kalau ingin babah ini dalam keadaan hidup!" Ayu Lestari mengancam.
"Bagaimana kalau peti ini kubawa lari?" Suryo berusaha menjajaki kemungkinan ini.
"Bocah! Dapatkah kau lari dariku? Cepat serahkan, jangan bertindak bodoh!" Nyi Langen Asmara memperingatkan. Suryo menimbang-nimbang untung ruginya bagi dirinya dan Juragan Lim. Memang peti itu bukan miliknya, tetapi milik Juragan Lim yang sedang terancam bahaya maut sekarang ini. Dia ingin mengetahui bagaimana reaksi si empunya barang. Sambil tersenyum Suryo berkata kepada Lim Hok Coan yang disandera itu.
"Bagaimana keputusanmu, Juragan Lim?"
"Serahkan saja! Serahkan saja benda sialan itu!" katanya dengan tubuh gemetar.
"Baik! Kalau begitu terimalah!" Setelah berkata demikian Suryo melemparkan peti ke atas! Peti melayang ke udara tinggi sekali, begitu Nyi Langen Asmara bergerak untuk menyambut. Tiba-tiba tampak bayangan hitam menyambar peti!
"Haha..., akhirnya menjadi milikku juga! Ha-ha-ha..."
"Bangsat, jangan lari!" Nyi Langen Asmara mengejar dengan cepat bayangan yang melarikan peti berisi Patung Batari Durga. Melihat ini, Ayu Lestari juga meloncat mengejar. Akan tetapi, sebelum dia pergi, tangannya bergerak menampar!
"Plak!" Tubuh Juragan Lim tersungkur ke depan dengan cepat, bagaikan karung beras tubuhnya yang gemuk menimpa tanah. Suryo yang melihat ini tidak jadi mengejar pencuri peti, melainkan cepat menghampiri tubuh Juragan Lim untuk memeriksa. Hatinya lega ketika mendapat kenyataan bahwa Juragan Lim hanya pingsan saja.
"Ayah!..." Terdengar teriakan nyaring memecah kesunyian. Seorang gadis berlari cepat mendatangi diiringi empat orang lelaki. Mereka tidak lain adalah Ki Pentet Prawirayuda, Tan Suhu, Parta, dan adiknya si Pardi. Ternyata mereka telah dapat menyusul sampai di sini.
"Bagaimana keadaan ayahku? Apakah... apakah...?" Lim Gin Hwa bertanya kepada Suryo yang sedang memeriksa ayahnya.
"Dia tidak apa-apa, nona. Hanya pingsan."
"Oh...!"
"Bagaimana dengan peti itu? Apakah masih selamat?" Tan Suhu juga bertanya.
"Tentang peti? Oh, baru saja itu direbut sesosok bayangan. Entah siapa?" Suryo menjawab cepat. Lalu dia berkata kepada mereka. "Tolong jaga Juragan Lim. Aku mau mengejar para perampas itu sekarang!" Begitu selesai berkata, tubuhnya telah lenyap dari hadapan mereka. Membuat orang-orang itu tercengang.
Tatkala itulah Lim Hok Coan sadar dari pingsannya. Mengeluh kesakitan sambil meraba tengkuknya yang terpukul tadi.
"Aduuuh... sakit...! Eh, kapan kalian datang? Siapa nama anak muda itu?" Setelah melihat anaknya dan teman-temannya berada di situ, Juragan Lim langsung bertanya. Menanyakan ke mana perginya anak muda penolongnya.
"Dia telah menyusul pencuri peti, ayah. Dan kita disuruh untuk melanjutkan perjalanan dulu." Lim Gin Hwa menjawab pertanyaan ayahnya.
"Ayaaa... sungguh peti berisi patung itu selalu membawa bencana! Lebih baik dimusnahkan saja! Agar tidak membawa korban lagi," keluh Juragan Lim.
"Sebaiknya begitu," Tan Suhu menimpali. Dia juga melihat sesuatu yang tidak benar dengan adanya isi Patung Batari Durga itu. Maka kalau patung itu dimusnahkan, akan lebih baik lagi.
"Sekarang bagaimana baiknya? Aku hanya menurut saja."
"Kita tetap melanjutkan perjalanan seperti yang diminta si pemuda baju putih itu. Entah siapakah nama pemuda itu?" Ki Pentet Prawirayuda menyarankan.
"Pemuda itu bernama Suryo," kata Juragan Lim Hok Coan.
"Suryo... Suryo apa kelanjutannya?" Kembali Ki Pentet Prawirayuda bertanya.
"Aku tidak tahu! Hanya Suryo itu saja yang aku tahu. Dia sungguh seorang pesilat yang andal, hemmm...!" Mereka pun lalu berjalan kembali menuju ke Prambanan. Akan tetapi mereka terpaksa menginap lagi di dusun yang ada di balik hutan itu.