Halo!

Patung Pembawa Maut - Chapter 13

Memuat...
Patung Pembawa Maut

Chapter 13

Babah Lim meminta untuk menunggu selama dua hari. Baru nanti, setelah merasa si pemuda tidak dapat kembali dalam waktu dua hari, mereka akan berangkat.

Semua orang menyatakan setuju dengan usul ini.

Juragan Lim Hok Coan menceritakan semua pengalamannya setelah berpisah dengan Tan Suhu.

Yaitu ketika mereka berdua ditolong dari anak buah orang berpakaian hijau yang hendak memasak mereka.

Teman-temannya mendengarkan dengan takjub cerita itu.

Tan Suhu juga menceritakan pengalamannya ketika disuruh untuk mencari anaknya Juragan Lim dan rombongannya.

Ketika dalam perjalanan kembali ke rumah penginapan, dia bertemu dengan Gin Hwa dan Ki Pentet Prawirayuda serta sisa para pengawal dari murid-murid perguruan Balung Wesi.

Yaitu Parta dan Pardi.

Sedangkan Beja tidak terlihat bersama mereka.

Tan Suhu lalu mengajak mereka untuk mengejar kedua orang yang sedang pergi ke Prambanan.

Sampai malam mereka bercakap-cakap, tanpa terasa telah hampir tengah malam.

"Oooohhaaaaheeemmmmm... Lebih baik kita pergi tidur. Ini mata sudah tidak bisa dibuka lagi!" Setelah menguap panjang, Juragan Lim mengajak teman-temannya untuk tidur mengaso!

Seakan-akan terbang saja layaknya ketika melompati jurang-jurang yang membentang menghadang jalannya.

Tubuhnya kadang-kadang meloncat naik ke puncak pohon, berloncatan dari puncak pohon ke puncak yang lain dengan lincahnya.

Sesekali terkekeh riang sambil menciumi peti berukir berisi Patung Batari Durga di tangan kanannya.

Setelah melewati dua bukit, tiba-tiba bayangan itu mendengar suara kekeh genit seorang wanita.

Begitu dia menggerakkan kepala menoleh ke belakang, mukanya berubah!

Kiranya jauh di belakang nampak dua titik mendatangi cepat sekali mengejarnya!

"Sialan! Nenek iblis itu tidak mau mengalah!" umpatnya dalam hati.

Akan tetapi, dia tidak mengendurkan larinya. "Hihik... Mau lari ke mana, kakek tua? Kerahkan seluruh ilmu kepandaianmu, aku Nyi Langen Asmara pasti dapat menangkapmu!" Ternyata kekeh genit itu adalah kekeh Nyi Langen Asmara yang mengejar bersama muridnya, Ayu Lestari, yang juga mengikuti di belakangnya.

Kedua orang itu tidak mau ketinggalan atau kehilangan orang yang membawa peti berisi Patung Batari Durga.

Mengejar terus biarpun hari telah berubah menjadi malam.

Di bawah sinar bintang, mereka tidak mau kehilangan jejak pencuri itu!

Ketiganya saling kejar dan berlarian semalam suntuk.

Sampai matahari bersinar di ufuk timur, kakek itu tidak dapat meloloskan diri dari Nyi Langen Asmara dan Ayu Lestari yang berada di belakangnya.

Dengan napas *ngos-ngosan*, dia berhenti di sebuah puncak bukit yang datar, menanti kedatangan kedua orang pengejarnya.

Begitu dia berhenti sejenak di bukit itu, berkelebat dua bayangan di depannya.

Ternyata Nyi Langen Asmara dan Ayu Lestari telah tiba di situ pula.

Begitu datang, nenek itu lalu berkata sambil terkekeh.

"Hi-hi-hik..., mengapa berhenti? Sudah loyo ya kakimu itu? Hi-hi-hik... heh-heh-heh!" "Iblis betina! Mengapa kau tidak mau mengalah kepadaku! Kita dapat bergantian menggunakan patung ini!" katanya.

Ternyata dia adalah seorang kakek yang sudah berumur enam puluhan tahun.

"Tua bangka! Kau kira aku tidak tahu akal bulusmu? Hi-hi-hik... kita sudah sama-sama tua, Jaluwesi!" Ternyata kakek itu adalah Ki Jaluwesi, ketua dari perguruan silat Balung Wesi.

Mengapa dia agaknya kenal Nyi Langen Asmara? Sebetulnya keduanya adalah kakak-adik seperguruan.

Murid dari seorang pertapa penganut Batari Durga.

Kedua orang ini telah melakukan hubungan suami-istri yang lama sekali sebelum berpisah untuk melanjutkan kesukaan masing-masing, yakni berguru ilmu yang tinggi di kalangan kaum pertapa.

Ki Jaluwesi sebetulnya adalah seorang yang sesat.

Hanya saja wajahnya yang halus dapat menutupi sesuatu yang tersembunyi di hatinya.

Ki Pentet Prawirayuda adalah adik seperguruan yang terakhir ketika dia berguru kepada seorang pertapa di lereng Gunung Kendil!

Gurunya yang terakhir ini bernama Wasi Sangga Langit!

Dia hanya mempunyai dua orang murid, yakni Ki Jaluwesi dan Ki Pentet Prawirayuda.

"Sari, kuharap kau mengalah sekali ini! Aku sudah lama sekali menginginkan patung ini." kata Ki Jaluwesi halus.

Dia memanggil nama kecil Nyi Langen Asmara: Langensari.

"Jaluwesi, tak perlu kau merayuku! Aku sudah muak melihat tampangmu!" "Ha-ha-ha..., Sari, apa kau tidak ingat akan masa lalu? Saat kau merayu dan merengek-rengek terhadapku?" ejeknya.

"Gombal! Siapa yang merengek-rengek? Kau atau aku!" "Ha-ha-ha!" "Serahkan patung itu kepadaku! Akan kuingat selalu kebaikanmu ini. Kalau tidak..." "Kalau tidak bagaimana? Apa kau kira kau saja yang dapat membuka rahasia patung ini? Jangan lupa siapa aku ini, Sari!" "Hi-hi-hik..., tua bangka macammu ingin menguasai patung! Lihat dulu tampangmu! Sebentar lagi kau akan menuju liang kubur!" ejek Nyi Langen Asmara.

Dia ingin membuat Ki Jaluwesi lengah dan mendapat kesempatan untuk menjalankan siasat selanjutnya.

"Ha-ha-ha..., kau kira aku tidak tahu maksudmu, Sari. Kau yang sudah nenek-nenek malahan ingin mengecap daun muda! Lihat muridmu memandang dirimu dengan muak? Mengetahui siapa sebenarnya dirimu sebenarnya!" "Bangsat! Kubunuh kau, keparat!" Nyi Langen Asmara menjerit sambil melompat maju menyerang dengan hebatnya.

Dari kedua telapak tangannya keluar asap kehijauan menerpa ke arah Ki Jaluwesi.

"Darrrr! Plakplak!" Begitu dirinya diserang dengan uap hijau, Ki Jaluwesi juga mengeluarkan tenaga saktinya.

Menyongsong dengan menjulurkan kedua tangan disertai loncatan ke depan menyongsong kedua pukulan lawan.

Terjadilah benturan tenaga dalam di tengah udara.

Keduanya terpental ke belakang.

Lalu keduanya bergerak cepat saling serang dan tangkis berulang kali.

Pertandingan terjadi dengan cepat dan dahsyatnya.

Melihat pertempuran sengit yang sedang berlangsung.

Ayu Lestari melihat kesempatan baik untuk mengambil peti berukir yang tadi ditaruh di atas sebuah batu di tepi jurang.

Dengan kecepatan kilat, tubuhnya menyambar ke arah peti.

Ki Jaluwesi yang sedang bertempur itu sebetulnya selalu mengawasi peti berukir.

Maka ketika melihat murid Nyi Langen Asmara menggunakan kesempatan selagi dia terlibat dalam pertandingan dengan gurunya, meluncur maju untuk mengambil peti.

Dia mengeluarkan lengking tinggi menusuk jantung!

Tubuhnya membalik menyerang murid Nyi Langen Asmara.

"Dessss...!!" Tubuh Ayu Lestari terlempar beberapa meter.

Punggungnya terkena tendangan terbang Ki Jaluwesi yang melayang mengejarnya.

"Huuaaaeeekkkk!" Ketika berusaha bangun, Ayu Lestari memuntahkan darah segar dari mulutnya.

Ternyata tendangan terbang itu telah melukai bagian dalam dadanya.

Walaupun tubuhnya kebal terhadap senjata tajam, akan tetapi tendangan yang mengandung tenaga sakti itu dapat menembus kekebalan kulit dagingnya.

"Ha-ha-ha... Dikira mudah mengambil peti yang berada di tanganku." Ki Jaluwesi tertawa terbahak, mengejek dara jelita itu.

Dia mengambil Patung Batari Durga.

Dibawa ke depan dada, mulutnya berkomat-kamit membaca mantra.

Nyi Langen Asmara yang melihat murid atau kekasihnya terkena tendangan dan memuntahkan darah, menjadi naik pitam, menggosok-gosok kedua telapak tangannya sambil membaca mantra.

Hawa dingin menyelimuti tubuhnya ketika dia mengeluarkan Aji Limut Mahameru (Kabut Mahameru).

"Terimalah ajiku ini, kakek tua keparat!!" Hawa dingin menyerbu tempat berdirinya Ki Jaluwesi.

Merasakan aji bekas kumpul kebonya demikian hebat, dia tidak berani sembrono.

Ki Jaluwesi meloncat ke atas berputaran lima kali menghindar ke samping.

"Wusss...!! Kerotok-kerotok...!!" Angin dingin yang tidak mengenai sasaran melanda pohon-pohon yang berada di belakang Ki Jaluwesi berdiri sebelumnya.

Akibatnya sungguh luar biasa!

Pepohonan menjadi kaku dan daun-daunnya berguguran ke bawah dengan kaku!

Agaknya hawa dingin luar biasa itu mengandung racun ampuh, di samping hawa dingin yang menghancurkan saluran-saluran darah atau urat-urat pohon!

Dengan cepat Ki Jaluwesi menggerakkan Patung Batari Durga untuk senjata.

Menyerang dengan dahsyatnya.

Nyi Langen Asmara tergetar tubuhnya, tak kuasa melawan kekuatan gaib yang berada di dalam patung.

Sambil memukul-mukul dengan pukulan jarak jauhnya, Nyi Langen Asmara berusaha untuk tidak terlanggar langsung dengan patung di tangan lawannya.

Ayu Lestari, setelah dapat mengobati luka dalamnya, lalu maju menyerang.

Membantu gurunya menghadapi Ki Jaluwesi dengan senjata pedang di tangan.

Mereka bertiga segera terlibat dalam pertempuran yang sangat seru.

Akan tetapi, kedua perempuan itu tidak dapat mendesak lawan.

Wibawa Patung Batari Durga sungguh hebat luar biasa!

"Ha-ha-ha..., hayo keluarkan kesaktianmu, Sari! Kalau ingin mampus, majulah ke mari!" ejek Ki Jaluwesi.

"Keparat! Kau kira telah menang! Terimalah ini!" Tangan kiri Nyi Langen Asmara bergerak.

Sinar kehitaman berkelebat ke depan dengan cepatnya.

Ternyata dia telah menyebar jarum pencabut nyawanya.

"Wirrr..., ting-ting!!" Begitu melihat sinar hitam berhamburan datang.

Ki Jaluwesi berdiri tegak sambil mengangkat patung ke depan dada.

Keanehan terjadi!

Jarum-jarum yang melayang cepat begitu mendekati patung menjadi hilang dayanya dan membalik ke arah tuannya.

Melihat ini, Nyi Langen Asmara dan Ayu Lestari menjadi kaget sekali.

Dengan sigap, mereka berusaha mengelak dari senjata makan tuan.

"Mampus kau, nenek genit!" Ki Jaluwesi meloncat maju menyerang kembali tatkala melihat hasil senjata patungnya.

Nyi Langen Asmara dan Ayu Lestari kewalahan menghadapi wibawa patung itu.

Berusaha untuk menghindar dengan meloncat jauh.

"Aaaaaaa...!" Jeritan panjang keluar dari mulut Nyi Langen Asmara.

Ternyata dadanya telah tergores kepala patung itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment