Chapter 14
Ketika mengelak tadi dia seperti tertahan sesuatu, tahu-tahu dadanya telah tergores patung!
Asap mengepul tinggi menyelimuti tubuh Nyi Langen Asmara. Ketika asap menipis lenyap, terlihatlah seorang nenek penuh keriput. Rambutnya telah putih semua dan tubuhnya bongkok ke depan. Ternyata Nyi Langen Asmara telah berubah seperti nenek-nenek yang berusia ratusan tahun!
"Ihhh! Jangan... jangan... jangan maju!" Ayu Lestari menjerit histeris.
Nenek itu tertatih maju ke depan beberapa langkah, lalu terjatuh ke tanah. Ayu Lestari mendekat. Kaget sekali hatinya melihat perubahan itu. Dengan ujung kakinya dia mencungkil tubuh Nyi Langen Asmara.
"Oohhh!!" Kedua tangannya menutupi mulut menahan jeritnya.
Ternyata Nyi Langen Asmara tidak bernapas lagi. Tewas dengan tubuh berubah mengerikan sekali!
"Ha-ha-ha... bocah ayu, bocah denok. Menyerahlah saja! Aku akan mengampunimu asalkan..."
"Keparat! Lebih baik mati!" Pedangnya digerakkan ke depan menabas leher Ki Jaluwesi.
Ayu Lestari mengerahkan seluruh tenaganya untuk memenggal kepala lawan yang telah membinasakan gurunya. Akan tetapi Ki Jaluwesi hanya berdiri tegak menanti datangnya pedang itu.
"Wirrrr... takkkk! Pletakkk!!"
Pedang yang melayang cepat begitu mengenai leher Ki Jaluwesi terpental ke belakang! Hanya tinggal gagangnya yang dipegang Ayu Lestari. Ternyata pedang itu telah patah!
Saking kuatnya tenaga yang mengayun pedang dan kebalnya leher Ki Jaluwesi, pedang tidak kuat dan menjadi patah akibat dua tenaga yang saling bentur!
"Ha-ha-ha... Sekarang bagaimana, bocah ayu? Mau diteruskan atau kau menyerah untuk... ha-haha...!"
"Tidak! Tidak! Tidak sudi...!" Ayu Lestari menjerit. Membalikkan tubuh hendak lari.
"Mau lari ke mana? Ha-ha-ha... lebih baik menyerah saja!"
"Tidak! Tidak sudi...!" Ayu Lestari meloncat ke depan untuk meloloskan diri.
Akan tetapi baru saja beberapa langkah, dia berhenti mendadak. Ki Jaluwesi telah menghadang di depannya. Tangan kirinya bergerak menotok. Ayu Lestari menjadi lemas terkena totokan.
Tanpa banyak kesukaran lagi dia lalu memondong tubuh yang bahenol itu ke atas batu. Satu per satu Ki Jaluwesi membuka pakaian Ayu Lestari, begitu selesai dia lalu mengangkat Patung Batari Durga untuk membelah dada dara itu!
"Takkk! Blukkkkk!"
Tubuh Ki Jaluwesi terlempar ke samping beberapa langkah. Patung Batari Durga terlempar ke udara. Bayangan putih meluncur naik dan dalam sekejap saja telah menangkap patung!
Ternyata Suryo Lelono datang tepat pada waktunya dan menyelamatkan Ayu Lestari dari korban Patung Batari Durga!
"Keparat! Siapa kau?" seru Ki Jaluwesi dengan wajah berubah pucat.
Patung Batari Durga telah terlepas dari tangannya. Dipegang di tangan pemuda tampan berpakaian putih-putih yang tersenyum penuh pengertian.
"Namaku Suryo, Paman. Siapakah paman ini? Apa yang mau paman perbuat terhadap dara itu?" jawab pemuda baju putih pelan.
"Keparat! Kembalikan patung itu! Cepat serahkan kalau kau tak ingin mampus di tangan Ki Jaluwesi!"
"Kiranya Paman Jaluwesi! Sungguh tak kusangka sama sekali. Seorang tokoh besar berbuat demikian keji terhadap seorang dara!"
"Ha-ha-ha... kau anak kecil tahu apa. Cepat serahkan patung itu!"
"Sebentar, Paman. Apakah patung ini milik Paman? Kenapa harus kuserahkan kepada Paman?" Dengan kalem Suryo menjawab permintaan Ki Jaluwesi.
Ki Jaluwesi menjadi marah sekali. Tanpa berkata lagi dia maju menerjang ke depan. Kedua tangannya bergerak memukul bergantian, dari gerakan tangan itu keluar uap hitam menyerang wajah si pemuda. Sedangkan kakinya mencuat ke arah tangan yang memegang patung, berusaha untuk merebutnya!
"Ayaaaaa... sungguh ganas!" Dengan melenting tinggi Suryo mengelak, tangan kirinya mengibas.
"Dukkkk! Plak-plak-plakk!!"
Kedua tangan bertemu di udara dan berulang kali saling tangkis dan saling serang dalam satu gebrakan saja. Begitu menginjak tanah, Suryo lalu bergerak dengan ilmu silatnya Mliwis Putih. Dengan tenang dia menghindarkan semua serangan yang datang menggebu. Tubuhnya bergeser ke kanan kiri, kadang meliuk ke belakang dan ke depan. Anehnya semua serangan dari Ki Jaluwesi tiada yang dapat menyentuh bajunya.
Ki Jaluwesi menjadi semakin marah. Dia meloncat mundur, lalu mengangkat kedua tangan ke atas, diturunkan depan dada membentuk sembah serta mulutnya komat-kamit. Tiba-tiba tubuhnya bergetar, makin lama makin kuat. Ketika sepasang matanya dibuka, dari sepasang mata itu keluar cahaya yang menggiriskan. Pelan-pelan tubuhnya berubah menjadi besar!
"Geerrrrr... Mammpouuusss kau!" Kedua tangan yang berubah besar meraup ke depan. Angin berbau wengur menerpa Suryo.
Suryo mengangkat tangan kiri menangkis. "Dessss!" Tubuhnya terlempar ke belakang dua tombak. Ternyata tenaga Ki Jaluwesi berubah menjadi luar biasa kuatnya!
Suryo lalu mengerahkan tenaga Api Suci di tangan kirinya. Tangannya pelan-pelan berubah, bagaikan dibungkus sinar keputihan. Begitu pemuda ini mengibas ke depan, angin dingin disertai kilatan sinar putih menerjang maju ke arah dada Ki Jaluwesi!
"Dukkkkk! Ayaaaaaa...!"
Bagaikan layangan putus talinya, tubuh Ki Jaluwesi terlempar ke belakang jauh sekali. Membentur tebing gunung dan melorot jatuh. Ketika berusaha bangun, dia memuntahkan darah segar. Ki Jaluwesi telah terluka oleh tenaganya yang membalik tatkala beradu dengan Api Suci!
"Huek-uhhukkk... hoooeeekkkkk!" Kembali darah segar menggelogok keluar dari mulutnya. Wajahnya berubah menjadi pucat seperti kertas. Berdiri sempoyongan, berusaha mengerahkan tenaga untuk membalas serangan lawan!
"Jangan mengerahkan tenaga, Paman! Paman dapat tewas!"
Akan tetapi terlambat! Ki Jaluwesi tidak mau menurut saran anak muda itu. Dia nekat menyalurkan tenaga saktinya. Mengangkat tangan ke atas dan...
"Auuuuuggggghhhhh...!"
Begitu mengeluarkan teriakan, tubuh Ki Jaluwesi terguling ke depan. Sesosok bayangan kecil menerjang maju dan "crakkkkkk!" leher Ki Jaluwesi putus!
Ayu Lestari berdiri di depan tubuh Ki Jaluwesi. Mengamati mayat kakek itu, lalu meludah. Ternyata dia telah memegang potongan pedang di tangan kanan. Karena kulitnya kebal, dengan mudah dia menabas kepala Ki Jaluwesi yang telah menghinanya itu!
Setelah melihat kepala kakek itu terpisah, Ayu Lestari lalu membuang pedang, menutupi wajahnya dengan kedua tangan, menangis, sambil berlari pergi dari tempat itu. Tanpa menengok satu kali pun dia menuruni bukit.
Suryo tidak dapat mencegah kejadian itu. Dia tadi agak kesima tatkala Ki Jaluwesi masih berusaha mengerahkan tenaga dan menyerangnya! Ketika tubuh Ki Jaluwesi tergolek dan melihat sesosok bayangan meloncat ke arah kakek itu, dia tidak menduga jelek. Akan tetapi begitu tahu maksud si bayangan, dia terlambat untuk mencegah!
"Lagi-lagi korban patung! Sungguh benda kecil ini telah menimbulkan banyak korban!"
Kedua tubuh disejajarkan, dia pun mencari kayu kering dan menumpuk kedua mayat itu di atas kayu. Membakarnya!
Setelah selesai itu semua, dia pun lalu menuruni bukit. Jalannya perlahan saja seakan-akan memikirkan sesuatu! Untuk apakah sebuah patung ini? Mengapa menjadi rebutan? Semua ini memenuhi benaknya. Berbagai pertanyaan telah bermunculan di benaknya tatkala dia berjalan menuruni bukit.
"Ah, lebih baik aku menyusul Juragan Lim! Nanti aku dapat tanyakan kenapa patung ini menjadi rebutan!"
Setelah mendapat suatu keputusan, Suryo menjejak tanah. Dalam sekejap tubuhnya telah berada beberapa tombak di depan, meluncur terbang bagaikan kilat menembus kelebatan hutan. Mengejar rombongan yang menuju ke Prambanan! Rombongan Juragan Lim dengan para pengawalnya!
Begitu pemuda ini memasuki dusun untuk mencari rumah penginapan. Baru saja dia mau meminta kamar, seorang laki-laki gendut keluar dari dalam kamar. Melihat kedatangannya, wajah yang penuh lemak dari lelaki ini berseri-seri. Lalu menegurnya.
"Ayaaaaa..., kebetulan sekali! Bagaimana, Nak Suryo? Apakah belhasil mengejal penculi itu?" Logat bicaranya sungguh khas! Babah ini tidak dapat mengucapkan huruf r dengan benar. Dia selalu berkata r menjadi l! Lidahnya terlalu pendek agaknya!
Suryo menoleh. Melihat Babah Lim mendatangi, pemuda ini tersenyum. Menyongsongnya, mengajak Babah Lim duduk di depan rumah penginapan.
"Baik, Babah Lim. Akan tetapi sebelum aku menyerahkan patung, aku ingin mengetahui apa sebabnya patung ini menjadi rebutan!"
"Tentu, tentu... mali silakan kita bicala di kamal saya! Owee akan mencelitakan patung sialan itu!" ajak Juragan Lim. Wajahnya menjadi keruh setelah mengetahui bahwa patung itu dapat direbut kembali!
Menuju ke kamar di mana Juragan Lim menginap. Begitu anak perempuannya mau keluar kamar, berpapasan dengannya. Juragan Lim lalu menyuruh anaknya.
"Hwa, tolong suluh semua belkumpul di kamalku! Aku ingin membicalakan sesuatu yang amat penting!"
"Baik, Ayah." Lim Gin Hwa cepat berlalu mencari Tan suhu dan Ki Pentet Prawirayuda beserta kedua muridnya.
Setelah semua berkumpul di kamar itu, Juragan Lim mengutarakan maksudnya. Tan suhu juga menyetujui. Biar rahasia patung itu didengar mereka semua, karena telah banyak korban jatuh akibat rebutan patung itu.
"Sebetulnya aku hanyalah seolang yang suka mengumpulkan benda seni. Mengetahui ada sebuah patung yang dapat membuat olang beltambah lejeki, saya lalu belusaha untuk mendapatkannya!"
Juragan Lim berhenti sejenak. Ketika dia mau meneruskan, Tan suhu mencegahnya.
"Lim, lebih baik aku saja yang menceritakan."
"Boleh, boleh. Begitu juga lebih baik!"
Tan suhu lalu menceritakan dengan singkat kenapa dia sampai mau membawa patung itu ke Prambanan. Ketika di rumah Lim Hok Coan, dia berusaha untuk mengusir roh halus yang mendiami patung itu. Akan tetapi tidak kuat.
"Maka saya lalu menyuruh bawa patung itu kepada suhuku yang berada di Prambanan."