Halo!

Patung Pembawa Maut - Chapter 15

Memuat...
Patung Pembawa Maut

Chapter 15

"Mungkin Suhu dapat mengusir roh jahat dalam patung!" Semua yang mendengarkan menjadi bengong.

Apalagi Ki Pentet Prawirayuda dan kedua muridnya.

Mereka lalu saling berbisik. Karena tak tahan lagi untuk mengetahui cerita lebih banyak tentang Patung Batari Durga, Ki Pentet Prawirayuda pun bertanya.

"Bagaimana bentuk patung itu? Apakah sangat hebat sekali?" Suryo lalu mengeluarkan patung itu dari dalam buntalannya dan menaruhnya di atas meja.

Semua orang melihat patung kecil itu penuh takjub!

Sebetulnya tidak ada keanehan dari patung itu, akan tetapi kenapa ada roh jahatnya? Pertanyaan ini tidak kuasa dibendung di benak Ki Pentet Prawirayuda.

"Kiranya hanya begitu saja bentuknya! Bagaimana dia dapat membuat rezeki dan kejayaan orang yang memilikinya? Apa tidak salah?" Sebelum Suryo menjawab, Tan Suhu telah mendahuluinya.

Sebagai seorang pendeta di kelenteng, ia percaya akan segala roh halus dan kerap kali menemuinya.

Maka Tan Suhu lalu menerangkan dengan jelas kepada Ki Pentet Prawirayuda dan kedua muridnya itu.

Parta dan Pardi terlongo-longo keheranan mendengar cerita itu.

"Suryo, siapakah laki-laki yang membuat patung itu? Kau tahu namanya?" Juragan Lim bertanya.

Ia teringat ketika dijadikan sandera dan Suryo menyerahkan patung dengan melemparnya. Sesosok bayangan telah menyambut dan melarikan diri!

"Secara kebetulan saja saya dapat mengejarnya. Menurut pengakuannya, kakek itu bernama Ki Jaluwesi!" "Ki Jaluwesi...?"

"Ki Jaluwesi...!" Hampir bersamaan mereka berseru kaget mendengar nama ini.

Suryo menjadi heran melihat ulah mereka.

"Apakah kalian telah mengenalnya?" Ki Pentet Prawirayuda cepat berkata.

"Dia adalah kakak seperguruanku, Ketua Perguruan Balung Wesi!" "Haaaaaaa!!" Seru Suryo kaget.

Sungguh tak disangkanya bahwa Ki Jaluwesi adalah Ketua dari Perguruan Balung Wesi.

Mengapa begitu? Ki Pentet Prawirayuda lalu menerangkan sedikit tentang kakak seperguruannya.

Mereka mendengarkannya dengan tenang.

Setelah mengetahui semua, Suryo lalu menyarankan kepada Juragan Lim.

"Sebetulnya semua rezeki dan kewibawaan itu bukan berasal dari patung ini. Hanya Hyang Mahakuasalah yang empunya. Kita semua wajib mengucapkan syukur atas anugerah-Nya yang telah diberikan berlimpah kepada kita." Suryo berhenti sejenak, memandang kepada Juragan Lim.

Setelah keduanya saling pandang sejenak, Suryo meneruskan.

"Sekarang bagaimana maksud Juragan Lim seterusnya?" Juragan Lim memandang mereka satu per satu, menghela napas panjang, dan berkata pelan.

"Itu bukan patung rezeki. Melainkan patung maut. Saya tidak membutuhkannya lagi." Suryo tersenyum, lalu mengawasi mereka semua satu per satu.

Setelah hening sejenak, tak ada yang bicara. Ia pun lalu mengusulkan.

"Bagaimana kalau Patung Pembawa Maut ini dimusnahkan saja!" "Oh, setuju saja," Juragan Lim cepat menyahut.

Semua orang hanya mengangguk.

Suryo meminta agar dibuatkan api dan dibawa ke dalam kamar itu.

Lim Gin Hwa keluar untuk meminta kepada pemilik penginapan.

Tidak berapa lama kemudian, ia kembali diiringi seorang pelayan yang membawa sebuah anglo besar berisi api yang menyala.

Begitu pelayan keluar kamar, Suryo berdiri dan mengambil patung di atas meja. Ia diam sejenak untuk menyerahkan diri kepada-Nya, lalu melemparkan patung kayu Batari Durga ke dalam api!

"Heh! Lihat, patung itu menangis!" Parta berteriak keras.

Semua orang melihat ke arah api di mana patung itu dibakar. Memang aneh sekali! Dari kedua mata Patung Batari Durga itu meneteskan air mata! Mengapa terjadi demikian? Ternyata roh halus itu menangis ketika disuruh pergi meninggalkan patung kayu yang dibakar!

Roh itu pergi agar tidak dapat kembali lagi mengacau manusia dengan menimbulkan korban yang tidak sedikit!

Sebetulnya roh itu tidak mau pergi, akan tetapi atas kehendak Hyang Mahakuasa saja, semua telah terjadi!

Tempat bersemayamnya telah dihancurkan. Roh itu tidak akan disembah manusia lagi dan mengganggu orang dengan kuasa gelapnya.

Setelah semua berakhir, Suryo berpamit kepada mereka semua.

Juragan Lim dan anaknya, serta Tan Suhu mengucapkan terima kasihnya.

Ki Pentet Prawirayuda dan kedua muridnya juga mengantar kepergian pemuda itu keluar dari penginapan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment