Chapter 01
Mendung tebal menggantung di atas kota raja. Tak ada angin bertiup, dan udara terasa dingin. Bintang dan bulan tak kelihatan dari balik awan hitam. Semuanya sunyi, namun mencekam. Suara jengkerik dan binatang malam pun tak terdengar. Manusia tak tampak berlalu-lalang di jalan besar maupun sudut-sudut kota. Suasana tiba-tiba mati, seolah kota raja tak berpenghuni. Aneh.
Ketika kilat dan halilintar mulai berbunyi, kucing dan anjing di dalam rumah mengkerut dan memasukkan kepalanya di balik meja atau kolong-kolong rumah. Tak ada kehidupan di saat itu. Petir kembali menggelegar, dan angin tiba-tiba mulai mendesau. Suaranya mirip desis siluman yang berbisik-bisik.
Ketika kilat dan guntur mulai sambung-menyambung, hujan tiba-tiba turun. Memang sudah seminggu ini kota raja dilingkupi mendung, orang-orang malas keluar, dan hawa dingin pun mulai menusuk tulang. Dalam keadaan seperti itu, memang enak berada di rumah, duduk di dekat perapian, menghangatkan tubuh, dan menikmati arak atau apa saja sebagai penghangat badan.
Ketika angin mulai kencang dan hujan deras, gerbang istana, yang terdapat di empat penjuru dan dijaga pengawal bersenjata, mulai ditutup. Tak mungkin ada tamu di saat seperti itu. Para pengawal kedinginan, dan mereka mulai main kartu, satu kekuasaan di kala senggang. Tentu saja, arak ikut bicara, dan mereka mulai tertawa-tawa. Bicara dalam keadaan hujan dan angin seperti itu tak cukup jika dilakukan dengan cara biasa saja; mereka harus berteriak agar suara tak ditelan gemuruh di luar.
Ketika istana ditutup dan pengawal melepas waktu senggangnya, hujan di luar memukul genting dengan irama yang tetap. Memang tak ada bahaya di saat itu. Kota raja aman. Baru sebulan ini menikmati ketenangannya setelah rencana pemberontakan Pangeran Muda digagalkan. Para pengawal dapat bersantai, dan pembicaraan tentang Kim-mou eng (Pendekar Rambut Emas) masih menjadi buah bibir, berlanjut, dan hari itu masih tetap hangat untuk dibicarakan.
Tiba-tiba, sesosok bayangan berkelebatan di atas genting penting istana. Para pengawal tak ada yang tahu; mereka asyik di bawah. Bayangan ini berlompatan di bawah hujan deras, tak perduli akan kilat dan guntur, dan terus maju ke tengah. Perbuatannya amat berani dan mengherankan. Kalau ada yang mengetahui, mungkin menyangka iblis. Habis, gerak tubuhnya begitu cepat, dan bagai siluman saja.
Langkah kakinya di atas genting tak kedengaran, bukan karena tertutup hujan, melainkan karena injakan kakinya demikian ringan. Cepat menunjukkan ilmu meringankan tubuhnya (ginkang) yang hebat. Jelas, bayangan ini bukan orang sembarangan, tentu seorang tokoh berkepandaian tinggi yang memiliki ilmu silat jempolan.
Ketika dia berlompatan dan berputar-putar di kompleks istana yang luas, tiba-tiba bayangan ini berhenti karena kebingungan. Matanya mencari-cari. Orang akan terkejut bertemu pandang mata bayangan ini, tajam berkilat seperti mata harimau. Sinarnya mencorong dan menakutkan; tubuh dan mukanya hampir tak kelihatan karena dia mengenakan mantol hitam, di bawah langit yang hitam, menjadi menyeramkan karena mirip iblis.
Ketika dia celingukan ke sana-sini dengan sikap kesal, tiba-tiba tawa pengawal yang sedang bermain kartu menggugah perhatiannya. Pos penjagaan di sebelah timur masih terang dengan lampu yang besar; tujuh pengawal berada di situ. Ketika tawa itu kembali terdengar, dan bayangan ini menyeringai, tiba-tiba dia berkelebat dan langsung menuju ke tempat para pengawal ini.
"Hei, mana gedung pusaka?" Tujuh pengawal terkejut. Pemimpinnya, seorang laki-laki brewok yang melompat bangun lebih dulu, terkesiap. Suara orang yang dapat mengatasi gemuruhnya hujan membuat komandan ini tersentak, kaget bagaimana ada orang masuk sementara gerbang sudah ditutup.
"Kau siapa?" Bayangan itu mendengus. Dia rupanya gusar mendapat sambutan yang tidak diinginkan. Mulut tiba-tiba mencibir dan menjengek, tidak menjawab, dan tertawa saja ketika si brewok mencabut golok, satu kewaspadaan untuk menghadapi musuh.
Ketika si brewok kembali bertanya, dan golok ditodongkan di depan dada, sekonyong-konyong bayangan ini menangkap dan langsung mencengkeram golok. "Brewok, kau kurang ajar. Enyahlah!" Golok tiba-tiba patah, dan si brewok berseru kaget; orang mengayun tangannya, dan potongan golok menyambar lehernya, begitu cepat.
Ketika si brewok berteriak, dan coba menghindar, tapi kalah cepat, tahu-tahu mata golok menancap di lehernya, menggorok hampir putus. "Augh....!" Si brewok terjengkang, tentu saja tewas seketika, dan enam temannya yang lain terkejut. Gebrakan itu berlangsung cepat dan tidak diduga-duga sekali. Komandan mereka roboh, dan darah menyembur membasahi lantai.
Para pengawal tertegun, tapi segera mereka berseru gusar; senjata dicabut, dan mereka pun sudah maju menerjang dengan senjata masing-masing. Tiga buah golok dan tiga buah pedang menyambar bayangan ini. Tapi ketika bayangan itu tertawa mengejek, dan mengibaskan lengannya ke kiri-kanan, tiba-tiba enam pengawal itu jatuh berpelantingan dengan senjata patah-patah.
"Aduh....!" "Tobat......!" Para pengawal menjerit ketakutan. Mereka tunggang-langgang oleh tangkisan lawan, kaki dan tangan patah-patah, menyusuli senjata. Tiga di antaranya tak dapat bangun kembali karena leher mereka yang patah.
Bayangan ini ternyata telengas. Ketika tiga yang lain merintih, dan terbelalak kepadanya, maka bayangan ini menyambar yang berkumis tipis dengan ancaman mendirikan bulu roma. "Di mana gedung pusaka?" "Ak.... aku tak tahu..." "Kau bohong?" "Sungguh, aku tak tahu, tuan..... aku tak tahu... brukkl" Si kumis itu tiba-tiba dibanting; bayangan ini tersenyum, dan menggerakkan kakinya. Punggung si pengawal diinjak, dan dipencet. Kontan pengawal itu menjerit, dan tewas; isi dada nya hancur.
Ketika dua yang lain terbelalak, dan pucat memandang kejadian ini, mendadak seorang di antaranya memekik, dan kabur. "Setan... Maling....! Ada penjahat....!" Bayangan itu terkejut. Dia melihat pengawal yang ini lolos; temannya yang satu juga coba berdiri, dan mau melarikan diri, tak dapat, dan mengeluh terbanting kembali karena tulang kakinya patah.
Temannya itu lengannya yang patah, dan karena itu dapat melarikan diri. Tapi ketika dia berteriak-teriak, dan bayangan ini tertawa, mendadak tangannya melepas sebatang jarum yang amblas di batok kepala si pengawal. "Cep!" Pengawal itu tersungkur; dia roboh, dan tewas seketika, menyusul enam temannya yang lain.
Pengawal terakhir gugup, dan ngeri; hampir dia pingsan melihat kejadian berdarah itu. Enam temannya dibantai. Ketika dia menggigil, dan tidak dapat bersuara, saking takut, dan gentarnya, maka bayangan ini sudah membalik, dan menghadapi dirinya. "Kau juga tak tahu di mana gedung pusaka?" "Ti... tidak! Aku labu.... aku tahu..!" Dan si pengawal yang menuding-nuding dengan muka ngeri, dan penuh keringat, tiba-tiba berlutut. "Am pun.... ampun, tuan. Jangan bunuh aku!"
"Hm, kau tahu diri. Aku tak akan membunuh, kalau kau jujur. Di mana gudang pusaka?" "Itu, di samping gedung perpustakaan ..." "Yang mana?" "Yang bercat kuning, yang temboknya baru dikapur....!" "Bagus, terima kasih!" Bayangan ini yang tertawa, membalikkan tubuh, tiba-tiba melepas sebuah tendangan ke dada si pengawal; langsung terdengar suara "ngek", dan si pengawal pun mengaduh. Darah menyemprot dari mulutnya, dan dia pun roboh; tulang dadanya hancur. Tentu saja tewas!
Ketika bayangan ini tersenyum, dan hujan di luar semakin deras, dia pun berkelebat menuju gedung bercat kuning itu, menghilang, dan sudah meninggalkan tujuh sosok mayat yang bergelimpangan tak keruan, malang-melintang dengan keadaan mengerikan.
Teriakan pengawal terakhir tadi tak ada yang mendengar; gemuruh hujan terlampau keras. Kilat masih menyambar-nyambar di atas sana. Ketika kita dibuat tertegun oleh sepak terjang bayangan ini, maka si pembunuh berdarah dingin itu telah berlompatan di atas gedung kuning. Dia mencari-cari, membuka genting, dan akhirnya melayang turun. Gerakannya ringan, dan lagi-lagi hampir tak bersuara.
Gedung di sebelah luar ditutup, dan karena itu dia mencari jalan pintas ini, menerobos dari atas. Ketika dia tiba di bawah, dan menginjak lantai yang halus, mendadak seorang penjaga memergokinya. "Hei, kau siapa?" Kiranya di dalam gedung ada juga penjaga. Bayangan ini terkejut, mengerutkan kening, tapi tiba-tiba tertawa. Kaki bergerak, dan tahu-tahu si penjaga pun tertangkap; jarinya mencekik leher penjaga ini.
"Dan ketika si penjaga terkejut, dan meronta, namun tak dapat melepaskan diri, maka bayangan ini bertanya, "Ini gedung pusaka?" "Kak..... kau siapa?" "Tak perlu tanya, kau jawab saja pertanyaanku. Benarkah ini gedung pusaka?" "Beb... benar..... kau rupanya penjahat, lepaskan aku.... aduh!" Tapi si pengawal yang terpaksa menjerit, dan mengaduh, tiba-tiba diangkat tubuhnya dengan leher masih dicengkeram, mendengar satu pertanyaan lagi, "Kau tahu di mana tersimpannya Sam-kong kiam (Pedang Tiga Sinar)?" "Tidak, oh ... lepaskan aku ... lepaskan aku."
"Hm, aku akan melepaskanmu, kalau kau dapat memberi keterangan kepadaku. Tunjukkan padaku di mana tersimpannya pedang itu." "Aku tak tahu, kau tanya saja perwira Lui." "Siapa itu perwira Lui?" "Dia kepala gedung pusaka.... aku, aduh ..!" Pengawal ini diseret; bayangan itu menyuruhnya menunjukkan di mana perwira Lui berada. Tentu saja pengawal ini berkaok-kaok, dan kesakitan. Dia hampir tak dapat bernapas, dan saat itu tenggorokannya panas bukan main; terlalu lama dia dicekik.