Chapter 02
Bayangan itu gemetuk dan geram mendengar penjaga itu berteriak. Tiba-tiba tiga penjaga lain muncul.
"A-swi, apa yang terjadi?" tanya salah satu penjaga. "Siapa orang ini?"
"Dia... dia mencari Sam-kong-kiam... dia penjahat!"
"Ah!" Tiga pengawal yang menerjang maju tiba-tiba membentak, menyuruh bayangan itu melepaskan A-swi. Sambutan mereka adalah dengusan dari hidung bayangan itu. A-swi tiba-tiba didorong, tubuhnya digunakan untuk menyambut datangnya tiga ujung tombak yang dipegang tiga pengawal. Gerakan itu berlangsung cepat.
Ketika A-swi berteriak ngeri dan tiga kawannya juga terkejut, tiba-tiba tiga ujung tombak menghunjam tubuh penjaga pertama. "Bles-bles-bles!" A-swi mendelik, berkelojotan. Tiga tombak menyayat tubuhnya. Tiga temannya tertegun.
Ketika bayangan itu tertawa mengejek dan melemparkan penjaga sial itu, tubuh A-swi menimpa tiga temannya secara bersamaan. "Bress!" Empat tubuh itu roboh tumpang-tindih.
Tiga pengawal berteriak kaget. Sadar dan mencoba melompat bangun. Tapi ketika bayangan itu berkelebat dan menggerakkan jarinya tiga kali, mendadak tiga pengawal ini roboh terpelanting. Dua di antaranya berteriak ngeri, mukanya hancur ditampar kepretan jari itu. Tentu saja tewas. Dua nyawa kembali melayang.
Ketika yang terakhir terbelalak dan pucat dengan tubuh menggigil, tiba-tiba pundaknya telah dicengkeram dan dibentak, "Kau tahu di mana perwira Lui?" Pengawal ini gemetar. "Tahu, dia... dia..."
"Dia di mana?"
"Di dalam!"
"Dalam mana? Hayo tunjukkan padaku!"
Pengawal itu diseret dan diangkat seperti orang mengangkat domba. Tiba-tiba dia mengeluh dan minta dilepaskan cengkeramannya, namun tidak digubris. Ia terus disuruh menunjukkan di mana perwira Lui. Pengawal ini menangis dan terpaksa mengikuti.
Mereka keluar masuk tikungan sementara hujan di luar masih deras. Riuh-ribut di dalam tadi tak terdengar. Ketika mereka tiba di depan sebuah pintu kamar yang tertutup dan pengawal ini menggigil, dia menunjuk.
"Inilah, Lui-ciangkun ada di sini...."
"Keluk pintunya."
"Aku tak berani..."
"Apa?"
"Bab.... baik!"
Pengawal itu buru-buru mengetuk pintu. Melihat kilatan sinar mata lawan, tiba-tiba ia berseru, "Lui-ciangkun, tolong buka pintu. Ada tamu...!"
Di dalam terdengar suara batuk-batuk. "Siapa itu?"
"Aku, ciangkun. A-swi!"
"Kenapa ke sini? Mana komandanmu?"
Sang pengawal tak dapat menjawab. Komandannya terbunuh. Itu yang tadi menyerang laki-laki ini, tapi yang mukanya hancur tertampar. Suara batuk di dalam berhenti. A-swi menggigil.
Ketika langkah kaki terdengar diseret dan pintu dibuka, seorang lelaki gagah muncul dengan kening berkerut. "Ada apa? Siapa in..." Pertanyaan itu berhenti, terganti seruan kaget karena A-swi sudah didorong menubruk lelaki ini. Bayangan itu mendengus dan langsung berkelebat ke dalam. Pintu ditutup dan tendangan keras mengenai lelaki ini. A-swi sendiri sudah terjungkal dan berteriak keras, roboh terbanting dan pingsan di sana.
Ketika lelaki itu bergulingan dan kaget, melompat bangun, dia sudah berhadapan dengan laki-laki bermantel yang hampir tertutup seluruh mukanya.
"Ah, siapa kau?" lelaki ini menjengek.
"Tak perlu tanya. Kau perwira Lui?"
"Benar."
"Kau kepala gudang pusaka ini?"
"Benar."
"Kalau begitu tunjukkan padaku di mana Sam-kong-kiam, aku ingin memilikinya!"
"Ah," perwira itu tersentak. "Kau mau merampok?"
"Hm," bayangan itu mendengus. "Tak perlu banyak mulut, orang She Lui. Sekarang tunjukkan padaku di mana Sam-kong-kiam kalau kau tak ingin kubunuh."
"Keparat!" Perwira itu marah, mencabut pedang yang ada di dinding. "Kau kira siapa penjahat, manusia busuk. Mampus dan enyahlah dari sini... wutt!" Pedangnya menyambar. Lui-ciangkun melompat dan sudah membacok leher laki-laki tak dikenal itu.
Lawan tidak mengelak maupun menangkis. Berdiri tenang dengan mata bersinar, tidak berkedip, membuat Lui-ciangkun merasa seram sendiri. Ketika pedang menetak tapi patah bertemu leher, tiba-tiba Lui-ciangkun terpelanting dan berseru keras, "Aih...!"
Perwira ini melompat bangun kembali, memandang sisa pedangnya yang buntung dan terbelalak memandang lawan. Sungguh dia terkejut bukan main. Tapi ketika laki-laki itu maju mendekat dan mengancamnya dengan sinar matanya yang bagai iblis itu, tiba-tiba perwira ini menyambar lagi sebatang golok yang ada di dinding. Memang beberapa senjata ia sisipkan di situ. Kini menyerang lagi dan menusuk serta membacok. Sinar goloknya berkelebat menghujani lawan, tapi ketika golok kembali patah, patah, dan bayangan ini menampar, mendadak Lui-ciangkun terbanting, mengeluh pendek. "Bruk!"
Perwira She Lui itu tak dapat bangun kembali. Lawan menotoknya, tubuhnya menggigil, dan perwira ini gentar. Lawan kiranya terlalu lihai.
Ketika dia terbelalak dan marah tapi takut, lawan sudah berjongkok di dekatnya dengan senyum iblis. "Kau minta kubunuh?"
Lui-ciangkun tertegun.
"Aku dapat membunuhmu, tapi kalau kau minta mati, sebaiknya kusiksa dulu agar kau merasakan nikmatnya maut."
"Tidak, tidak...!" Perwira ini gemetar, menggoyang-goyang lengannya. "Apa sesungguhnya yang kau ingini? Apa yang kau minta?"
"Hm, kau sudah mendengarnya, orang She Lui. Aku minta Sam-kong-kiam dan tunjukkan tempatnya padaku!"
"Untuk apa?"
"Perlukah kau tahu?" Perwira ini terkejut. Sinar mata orang yang tak mau banyak menawar membuatnya mengerti. Tapi karena Sam-kong-kiam adalah pedang keramat yang disayang kaisar, ia menjadi ragu juga. Lawan tiba-tiba menekan jalan darah pi-peh-hiatnya. Langsung ia berjengit dan mengaduh. Sentuhan itu membuat tubuh seakan disengat listrik!
Ketika perwira ini menggigil dan keringat membasahi mukanya, lawan sudah bertanya kembali, "Kau keberatan?"
"Tidak!" perwira ini buru-buru menjawab. "Aku bersedia, tapi bebaskan totokanmu!"
"Bagus." Lawan sudah membebaskan perwira itu dan mundur selangkah. Lalu melihat perwira ini bangun dan terhuyung-huyung mengusap tengkuknya, sejenak melotot, tapi disambut tawa dingin. Lui-ciangkun sadar bahwa dirinya tak dapat mengatasi lawan. Orang itu terlalu lihai dan juga kebal.
Ketika lawan menyuruhnya berjalan dan Lui-ciangkun membuka pintu, dengan tersaruk-saruk dan muka pucat perwira ini melaksanakan keinginan lawan menuju tempat penyimpanan pusaka. Gedung itu cukup besar dan luas, terbagi beberapa ruang di mana tiap ruang mempunyai kamar sendiri. Masing-masing kamar dijaga empat lima pengawal yang merupakan pembantu-pembantu perwira ini. Tentu saja para pengawal itu terheran melihat Lui-ciangkun mengantar seseorang tak dikenal. Mereka bertanya, tapi tiba-tiba mereka semua roboh oleh timpukan jarum yang digerakkan laki-laki ini. Begitu cepat kejadiannya. Perwira ini semakin terkejut dan tidak berkutik, gigi berkerot namun tidak berdaya. Diam-diam ia sudah memikirkan suatu rencana untuk membalas kejahatan lawan.
Ketika mereka tiba di sebuah kamar berlampu hijau, perwira ini berhenti dengan kaki gemetar, menghapus peluhnya. "Kita sudah sampai, pedang yang kauinginkan ada di dalam sini."
"Bagus, kalau begitu cepat buka."
"Aku tak dapat, kuncinya tertinggal."
"Hm. Kau main-main?" Mata bayangan itu berkilat. "Buka kataku, orang Lui. Atau aku akan melemparmu ke dalam!"
Perwira ini bingung. Dia memang lupa meninggalkan kunci kamar ini. Terkesiap melihat pandangan yang begitu mengancam. Tapi tak kurang akal, mencari sana-sini. Tiba-tiba perwira ini melepas peniti, menekuknya, dan membantunya dengan sebuah obeng membuka pintu kamar itu. Memang sedikit susah, tapi akhirnya berhasil. Pintu terbuka dan anak kunci jatuh. Semua dilakukan dengan tergesa-gesa.
Ketika pintu terkuak dan hawa dingin menerpa keluar, perwira ini didorong memasuki kamar itu, menuju sebuah peti yang berkilauan di atas meja. "Masuk, sekarang buka peti itu!"
Perwira ini menggigil. "Sebaiknya kau saja yang membuka peti itu, sobat. Aku sudah mengantarmu ke sini dan Sam-kong-kiam ada di dalam situ!"
"Kau membantah?"
"Aku takut."
"Kalau begitu minggirlah!" Lui-ciangkun didorong, terjungkal, dan mengeluh mendekap dadanya. Laki-laki itu sudah melompat dan tiba di depan peti. Matanya bersinar, gembira dan tidak peduli pada perwira She Lui itu lagi karena matanya menatap bercahaya ke arah peti yang berkilauan ini. Di atas peti tertulis: SAM-KONG-KIAM.
Begitu dia menyambar peti dan membuka tutupnya, sebatang pedang tampak di dalam, terselubung oleh sarungnya yang indah berhiaskan permata di sana-sini. "Ha-ha, bagus sekali. Ini yang kucari!" laki-laki itu tertawa bergelak. Tidak sabar, ia sudah mencabut pedang dari sarungnya. Tiga sinar warna-warni tiba-tiba berkedip: hijau, kuning, dan merah. Warnanya menyilaukan. Tapi begitu pedang dilolos dan hawa dingin keluar dari badan pedang, mendadak lampu yang ada di ruangan itu semuanya padam!
"Pet!" Lui-ciangkun terkejut. Laki-laki itu juga terkejut. Ruangan tiba-tiba menjadi gelap, tapi kini diterangi tiga sinar mencorong yang memancar dari pedang Sam-kong-kiam. Meja, kursi, dan dinding tiba-tiba berderak, tempat itu seolah diguncang gempa. Tapi ketika laki-laki itu berseru keras dan cepat memasukkan Sam-kong-kiam ke dalam sarungnya kembali, mendadak lampu hidup lagi dan getaran seakan gempa itu pun lenyap.
"Ha-ha, benar-benar pedang pusaka. Luar biasa sekali.....!" Lui-ciangkun tertegun. Kini dia mengerti apa yang tadi menyebabkan itu semua. Kiranya pengaruh kesaktian pedang ini. Sam-kong-kiam memiliki tenaga gaib dan menggetarkan meja, kursi, bahkan menggetarkan dinding sekaligus memadamkan lampu. Pedang itu memiliki pesona mengerikan. Amat mengerikan!
Ketika bayangan itu tertawa bergelak, Lui-ciangkun sadar. Mendadak perwira ini menginjak sebuah tali dan menendangnya kuat-kuat. "Teng-teng-teng......!"
Bayangan itu terkejut. Dia mendengar lonceng berbunyi di luar, nyaring sambung-menyambung, menunjukkan tanda bahaya.