Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 03

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 03

Perwira She Lui telah membunyikan alarm sebagai usaha meminta bantuan, kini perwira itu berteriak keluar menyebut-nyebut penjahat. Bayangan itu terkejut dan marah. Dia lengah sejenak oleh kegirangannya mendapatkan Sam-kong-kiam. Pedang ini ampuh dan luar biasa.

Ketika perwira She Lui berteriak-teriak dan derap kaki mendatangi tempat itu disusul teriakan-teriakan ramai, tiba-tiba bayangan ini berkelebat mengejar perwira She Lui itu. "Manusia busuk, kau robohlah...!" tiga jarum hitam menyambar cepat, bayangan ini marah dan sudah menyerang Lui-ciangkun.

Lui-ciangkun berkelit tapi kalah cepat, roboh dan menjerit disambar tiga jarum beracun, langsung terjungkal dan ditendang bayangan ini, mencelat keluar pintu dimana saat itu bentakan-bentakan para pengawal tiba, menerima tubuh Lui-ciangkun dan empat di antaranya roboh tunggang lenggang. Lui-ciangkun mengeluh dan tidak bergerak-gerak lagi. Tewas.

Ketika para pengawal terkejut dan marah mengenal Lui ciangkun, tiba-tiba dua kakek tinggi kurus menyambar datang menyerang bayangan ini, yang mencoba lari ke pintu samping. "Pengacau hina, berhentilah.....!" Bayangan itu terkejut. Dua tombak panjang meluncur ke arahnya, terbang menuju punggung. Geraknya begitu cepat dan amat bertenaga, telinga nya mendengar kesur angin yang kuat itu.

Ketika dia membalik dan menangkis, tapi tombak tidak patah seperti biasa, dia mematahkan senjata para penjaga, maka bayangan ini terbelalak melihat dua kakek gagah tinggi kurus menyerangnya lagi, membentak dan sudah menghentikan larinya yang terpaksa ditunda. Dua tombak beterbangan bagai bernyawa, yang satu beronce biru sedang yang lain beronce merah.

Dua kakek ini hebat sekali hingga terpaksa dia berlemparan, menangkis tapi lagi-lagi senjata di tangan lawan tidak patah. Tahulah dia bahwa lawan yang kali ini dihadapi adalah bukan sembarangan orang. Ketika tombak itu kembali menyambar-nyambar dan para pengawal yang lain sudah mau mendekat dan berteriak-teriak, maka sesosok bayangan tinggi besar tiba-tiba berkelebat dan membantu dua kakek bertombak ini.

"Cu-ciangkun, siapa jahanam ini?" Bayangan ini terkejut. Serangan itu disusul pukulan tangan kanan yang dahsyat sekali, sinar putih berkelebat dan angin pukulan pun menderu hebat. Dia terpaksa mengelak sementara dua tombak mengaung di sisi tubuhnya, berkelit dan menangkis pukulan pendatang baru ini.

Seorang laki-laki tinggi besar berjenggot lebat terbelalak kepadanya, pukulan itu sudah diterima. Ketika lawan terpental dan benturan keras menggetarkan ruangan itu, maka laki-laki tinggi besar ini berseru kaget tertolak mundur. "Aih. Hebat sekali. Keparat!" Bayangan itu kagum. Tenaga si tinggi besar ini sebenarnya dahsyat, itulah Bu-ciangkun si Tangan Baja, panglima kerajaan yang memiliki Kang jiu-kang (Tenaga Tangan Baja).

Sinar pulih yang berkelebat dari tangan kanannya tadi adalah sinar pukulan Kang-jiu-kang itu, memang hebat dan sanggup memecahkan kepala seekor gajah. Kalau bayangan ini tidak memiliki kepandaian lebih tinggi, tentu dia sudah hancur disambar pukulan Bu-ciangkun, kini dia tergetar dan memuji panglima itu.

Bu ciangkun menggereng dan maju lagi, dua kakek tinggi kurus juga membentak menggetarkan tombak mereka, inilah Cu-ciangkun kakak beradik, yang memegang tombak beronce biru adalah Cu Hak sedangkan adiknya yang memegang tombak beronce merah adalah Cu Kim. Mereka mendengar lonceng genta yang dipukul bertalu-talu itu, kaget dan cepat melesat menuju tempat terjadinya peristiwa, terkejut karena peristiwa terjadi di gedung pusaka.

Maklumlah mereka bahwa ada sesuatu yang tidak beres, pencurian senjata dan pembunuhan. Melihat di sana-sini mayat-mayat bergelimpangan sementara hujan di luar masih deras juga. Teriakan pengawal dan bentakan kemarahan di sana-sini cukup menyadarkan dua panglima kakak beradik ini.

Mereka sepasang panglima kosen yang mahir mainkan Sin-liong Chio-hoat (Silat Tombak Naga Sakti), masih memiliki lagi ilmu simpanan yang disebut Hui-liong Chio-hoat (Silat Tombak Naga Terbang). Kini bersama Bu-ciangkun menyerang bayangan ber mantol yang menyembunyikan sebagian besar mukanya itu, bayangan ini berlompatan dan menangkis sana-sini dengan kaki tangannya, bertangan kosong.

Tapi ketika pengawal yang lain datang mengganggu dan ruangan terasa sempit oleh banyaknya orang, tiba-tiba bayangan ini terdesak dan kerepotan. Dan saat itu Bu-ciangkun menggeram lagi, bertanya siapa adanya pengacau ini dan apa yang dia lakukan. Cu-ciangkun tak tabu dan menjawab terus terang tak mengenal lawan.

Bayangan itu tertawa mengejek sambil terus berlompatan, meskipun terdesak belum juga lawan dapat merobohkannya. Dan ketika Bu-ciangkun penasaran dan Cu-ciangkun kakak beradik juga marah menyerang bayangan ini, maka Cu Hak berseru pada adiknya. "Gabung Silat Tombak Terbang kita....!" Cu Kim memangguk, sang adik mengerti apa yang dikehendaki sang kakak, mereka tadi ber tempur sendiri-sendiri dengan ilmu silat mereka, meskipun tombak menyambar-nyambar tapi masing-masing coba merobohkan lawan, gagal dan kini sang kakak minta agar mereka menggabung permainan mereka.

Cu Kim membentak dan tiba-tiba berendeng dengan kakaknya, kini mereka menyerang dari depan sementara Bu-ciangkun diminta melepas pukulan-pukulannya di belakang. Bayangan itu dikeroyok muka dan belakang. Dan ketika pengawal yang mengepung diminta mundur dan dua kakak beradik di depan menusukkan tombak mereka, sekonyong-konyong tombak terlepas dari tangan dan meluncur menyambar leher bayangan itu.

"Sing....." Bayangan ini terkejut. Sepasang tombak tiba-tiba menuju dada dan perutnya, terbang berputar seperti peluru. Cepat dan kuat karena dua panglima Cu mendorongkan telapak tangan mereka. Tombak yang hidup itu semakin bernyawa, saat itu Bu-ciangkun membentak melepas Kang-jiu kangnya, kini menghantam punggung hingga baju lawan berkibar.

Bayangan ini terkejut dan terbelalak. Dan karena dia terdesak dan saat itu ke pungan pengawal juga kian banyak sementara di depan gedung menunggu ratusan pengawal lainnya yang tidak perduli hujan mendadak, diserang muka dan belakang seperii itu tiba-tiba bayangan ini mencabut Sam-kongkiam.

Tiga sinar kemilauan mencuat disertai hawa dingin, pancaran sinarnya demikian terang seperti matahari, Bu-ciangkun dan teman-temannya kaget. Lampu mendadak padam dan suara mengaung mengerikan terdengar mendirikan bulu kuduk, orang-orang terkejut.

Dan ketika pedang bergerak dua lingkaran penuh dan hentekan keras mengiringi gerakan pedang itu, tiba-tiba Cu-ciangkun berteriak tertahan dan cepat membanting tubuh bergulingan. "Crak-crakk!" Tombak di tangan panglima Cu terpotong dua. Dua panglima ini menggelinding, mereka ber seru kaget karena baru sekarang tahu apa yang berkeredep menyilaukan mata itu.

Bu-ciangkun sendiri sudah menarik pukulannya bergulingan menjauh. Gerakan Sam-kong-kiam terlalu ganas bagi mereka, tak ada senjata yang dapat bertahan menghadapi pedang pusaka ini. Baru sekarang juga Bu-ciangkun tahu apa yang dicuri lawannya ini, kiranya Pedang Tiga Sinar.

Dan ketika tiga panglima itu bergulingan menjauh dan melompat bangun dengan keringat membasahi dahi, mana hampir serempak tiga panglima ini berseru, "Sam-kong-kiam_____!" Bayangan itu tertawa bergelak. Sekarang dia terbebas dari tekanan, dua tombak panglima Cu menggeletak di lantai, potongannya terpotong seperti ta-hu.

Lawan berhasil didorong mundur. Dan ketika tiga panglima itu bergulingan melompat bangun dan menyebut nama pedangnya, maka bayangan ini tertawa berkelebat meninggalkan tiga panglima itu, berjungkir balik keluar kepungan dan sudah melayang ke atas genteng.

Gerakannya dibantu gelapnya malam, tahu-tahu sudah hinggap dan berlarian di gedung Istana. Tentu saja para pengawal dan Cu-ciangkun maupun Bu-ciangkun celengap, sejenak terkesima oleh lolosnya Sam-kong-kiam. Kesaktian pedang itu membuat mereka tertegun.

Lampu mendadak padam ketika Sam-kong-kiam dicabut dari sarungnya, baru kali ini mereka melihat kegaiban itu. Tapi begitu sadar dan musuh berlompatan di atas gedung istana, mendadak Cu-ciangkun dan Bu-ciangkun berteriak gusar melompat mengejar.

"Tahan, tangkap laki-laki itu...!" "Dia mencuri Sam-kong-kiam. Bunuh...!" Para pengawal ribut. Bu-ciangkun dan Cu-ciangkun sudah berkelebat mendahului, masing-masing berjungkir balik dan melayang ke atas genteng.

Gerak mereka ringan dan cepat. Dan ketika mereka mengejar dan pengawal di bawah juga ikut membayangi, maka Cu-ciangkun yang menyambar panah mengganti tombaknya yang patah tiba-tiba sudah menjepret empat kali ke punggung bayangan itu. "Cet-cet-cett...!" Bayangan itu tertawa mengejek.

Tanpa menoleh dia menggerakkan Sam-kong-kiamnya, empat panah Cu-ciangkun yang dilepas rontok semua. Panah-panah itu pun kandas dibacok Sam-kong-kiam, Cu-ciangkun bingung tapi gusar bukan main.

Dan ketika bayangan itu berlari ke utara dan turun mendekati tembok istana, tiba-tiba Bu-ciangkun yang membawa golok di tangan menimpukkan goloknya itu menyambar lawan. "Zwing...!" Golok itu berkeredep menyilaukan mata.

Bayangan itu membalik, kali ini dengan tawa menyeringai dia merendahkan tubuh, kaki berjongkok dan pedang di tangan pun bergerak, tujuh kali malang-melintang membuat golok hancur berkeping-keping. Dan ketika Bu-ciangkun terbelalak dan geram disana, maka bayangan ini sudah menggerakkan kakinya dan tujuh patahan golok itu ganti menyambar si panglima tinggi besar.

"Ha ha, terima ini, brewok. Awas.....!" Bu-ciangkun gusar. Dia menggerakkan dua tangannya, dengan Kang-jiu kang dia menyambut patahan golok umpukannya itu, menangkap dan balas kembali menyambitkannya ke arah lawan.

Bayangan itu tertawa bergelak dan kembali menggerakkan Sam-kong-kiam. Beberapa kali sinarnya mencuat dan golok-golok itu pun berdenting.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment