Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 04

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 04

Ketika tujuh patahan golok runtuh di tanah dan hancur menjadi potongan-potongan yang lebih kecil lagi, Bu Ciangkun terbelalak melihat tak kurang dari puluhan mata golok telah menjadi serpihan kecil-kecil di atas tanah.

"Brewok, kau tak dapat menangkap aku! Selamat tinggal!" Bu Ciangkun terkejut. Lawan telah melambaikan lengan kepadanya, pengawal di bawah memburu sambil berteriak-teriak.

Bayangan itu melompat tinggi. Dan ketika dia berjungkir balik dan hinggap di tembok istana, maka Bu Ciangkun terkesiap melibat lawan, siap melarikan diri. Pedang Sam Kong Kiam dimasukkan kembali, dan sekali turun di luar sana, tentu bayangan ini akan lenyap.

Tapi ketika lawan terbahak gembira dan siap melayang turun, mendadak tiga bayangan baru berkelebat dari bawah menyerang bayangan ini, tiga bayangan yang muncul dari luar tembok istana. "Manusia bina, serahkan Sam Kong Kiam!" Bayangan itu kaget.

Dia menjadi seperti dipapak dari bawah ke atas, menghentikan tawanya, dan mendengar bentakan nyaring itu. Seorang gadis dan seorang pemuda, disertai seorang laki-laki gagah, menyerangnya hampir berbarengan, dua batang pedang membacok diiringi sebuah pukulan dahsyat berhawa panas.

Laki-laki gagah itu tak bersenjata, tapi angin sinkangnya hebat sekali, tentu saja bayangan ini terkejut. Dan karena dia sudah memasukkan Sam Kong Kiamnya dan mencabut kembali, tak ada waktu, maka bayangan itu merendahkan tubuh dan menerima dua bacokan pedang, sementara pukulan sinkang yang menghantam dadanya disambut uluran lengan yang cepat menangkis sambil mengerahkan tenaganya.

"Plak plak dess!" Bayangan itu terkejut. Dua bacokan pedang ditolaknya mentah-mentah. Sang gadis dan sang pemuda yang menyerangnya dengan senjata tajam ini berteriak tertahan. Pedang mereka mental, dan mereka mendapatkan gumpalan daging yang atos dan liat, kulit lawan terlindung kekebalan yang membuat mereka kaget.

Pedang membalik dan hampir menyerang muka sendiri, tentu saja mereka berseru keras, berjungkir balik, mematahkan daya tolakan, dan turun di dalam tembok istana, muka mereka pucat, dan kaki pun menggigil. Tapi si bayangan yang mendapatkan serangan dari si laki-laki gagah dan kini menangkisnya dengan lengan kiri terjulur, ternyata tergetar dan terdorong.

Dan karena tembok itu tidak terlalu tebal dan dia menginjak tempat kosong, maka bayangan ini berseru kaget karena dia terjerumus dan jatuh kembali ke dalam kompleks istana, tentu saja berjungkir balik dan melayang turun ke bawah, hampir bersamaan dengan tibanya si pemuda dan si gadis.

Dan ketika dia menginjakan kakinya di dalam dan Bu Ciangkun serta Cu Ciangkun memburu dengan beberapa lompatan, maka bayangan ini sudah dikepung dan dikeroyok, serta mendengar bentakan panglima tinggi besar, ditujukan pada si laki-laki gagah yang memaksa bayangan ini turun ke kompleks istana. "Bagus, kau datang tepat waktu, Hek Eng Taihiap! Terima kasih, dan mari bekuk pengacau ini!" Bayangan itu sudah diserang.

Laki-laki gagah yang memaksanya tadi ternyata Hek Eng Taihiap, Pendekar Garuda Hitam, yang mengenakan baju hitam, memiliki pukulan ampuh yang membuat lengannya tergetar, terjerumus, dan akhirnya dikeroyok di tempat ini. Cu Ciangkun sudah menyambar tombak baru dan kini menyerangnya bertubi-tubi.

Begitu juga Bu Ciangkun, panglima tinggi besar ini berteriak keras, melepas Kang Jiu Kangnya. Angin dahsyat bersiul, menyambar, si bayangan terkejut. Dan ketika dua muda-mudi pendatang baru itu juga menggerakkan pedang mereka dan Hek Eng Taihiap kembali melepas pukulan sinkangnya untuk menampar bayangan ini, maka pencuri Sam Kong Kiam itu menggeleng, berseru marah.

"Keparat, kalian akan kubunuh!" Pedang Sam Kong Kiam tiba-tiba dicabut, tiga sinar warna-warni tiba-tiba berkilau, mata menyipit tak tahan terkena silauannya yang terang, dan bayangan itu membalik, satu bentakan keras menyertai putaran pedangnya yang berkeredep ke segala penjuru.

Dan ketika Bu Ciangkun dan lain-lain terkejut karena lawan membalas dengan pedang yang ampuh, maka Cu Ciangkun menarik tombaknya, seraya berseru memperingatkan pada dua muda-mudi yang bersenjata pedang itu. "Awas, hindarkan senjata kalian!" Namun terlambat.

Muda-mudi yang bersenjata pedang itu rupanya terlalu percaya diri, mereka meneruskan serangan dan tidak perduli teriakan Cu Ciangkun. Pedang mereka tetap menusuk, tapi bertemu kilatan Sam Kong Kiam. Dan ketika pedang terasa ringan dan suara "trang" membentur pedang mereka, mendadak senjata di tangan sudah putus dan kutung menjadi dua.

"Aihh...." Dua muda-mudi itu terkejut. Mereka sekarang percaya, sinar Sam Kong Kiam membalik dan menyambar lagi. Dan karena mereka tertegun dan bengong, memandang kehebatan Sam Kong Kiam, tiba-tiba pedang sudah menukik dan meluncur, menusuk leher mereka.

"Awas!" Pekik Bu Ciangkun itu menyadarkan mereka. Dua muda-mudi ini tersentak, pedang sudah menyambar, dan mereka mencelos, tentu saja kaget, melempar tubuh bergulingan. Tapi karena pedang masih mengejar dan mereka kalah cepat, tahu-tahu suara memberebet masih jaga terdengar, diiringi pekik kesakitan dua muda-mudi itu yang tergurat pundaknya, kulit terkoyak, dan darah pun mengucur.

Dua muda-mudi ini bergulingan. Tapi ketika pedang melukai dua muda-mudi itu dan Hek Eng Taihiap berada di belakang lawan, mendadak Pendekar Garuda Hitam ini bergerak, menubruk, jari-jarinya mencengkeram kepala lawan untuk merenggut mantol yang menutupi muka. Gerakannya sebat dan cepat, juga tepat, karena saat itu lawan sedang menyerang dua muda-mudi ini, jadi tak menduga kalau diserang dari belakang.

Dan karena pencuri Sam Kong Kiam itu gemas pada lawannya dan lengah untuk serangan di belakang, tiba-tiba dia terkejut dan berseru kaget ketika cengkeraman Hek Eng Taihiap berkesiur di belakang kepalanya, mengelak, dan miringkan leher, tapi kurang cepat. Dan ketika tutup kepala tertarik dan tangan yang lain dari Hek Eng Taihiap menghantam pundak, tiba-tiba mantol di alas kepala itu terbuka, dan bayangan ini pun terpukul pundaknya.

"Bret plak!" Rambut yang kuning keemasan tiba-tiba terurai. Kepala lawan terbuka, mentolnya, bayangan ini berseru keras dan marah. Perbuatan Hek Eng Taihiap membuka kedoknya. Waktu ketika orang tertegun memandang rambutnya yang kuning keemasan, tiba-tiba Sam Kong Kiang meliuk, membabat perut Hek Eng Taihiap, tentu saja membuat Pendekar Garuda Hitam ini terkejut, melompat mundur, mata masih terbelalak memandang rambut yang kuning keemasan itu, mulut celangap.

Bu Ciangkun dan lain-lain juga mendelong, mereka mendadak menghentikan serangan, juga melompat mundur, menghindari kilauan Sam Kong Kiam yang melindungi bayangan ini. Dan ketika semua orang mundur dan tertegun memandang rambut yang keemasan itu, mendadak bayangan ini melompat tinggi, berjungkir balik, keluar dari kepungan, tertawa aneh, dan sudah hinggap di atas tembok istana kembali, lawan tak mengejar.

Dan sementara orang bengong, dan Bu Ciangkun serta kawan-kawannya menjublak, bagai melihat hantu, tiba-tiba bayangan itu melayang turun dan lenyap di luar istana. "Kim Mou Eng...," Seruan itu tiba-tiba mengguncang suasana. Hek Eng Taihiap dan teman-temannya tadi memang sedang tertegun memandang bayangan ini, melihat rambutnya yang keemasan, dan kelihatannya menghadapi mereka berenam.

"Kim Mou Eng, tunggu...," Hek Eng Taihiap dan teman-temannya tersentak. Mereka pun membelalakkan mata, mengejap-ngejapkannya berulang-ulang, seolah tak percaya, kini berkelebat, mengikuti bayangan Bu Ciangkun, menahan napas, dan memanggil pula bayangan di depan. Si rambut emas itu telah meluncur jauh, mereka penasaran.

Dan ketika gerbang istana dibuka, dan pengawal pun memburu keluar, maka Hek Eng Taihiap dan lima temannya ini telah mengerahkan ginkang mereka, mengejar si rambut emas ini. "Kim Mou Eng, tunggu! Kami mau bicara...," Namun bayangan di depan tertawa mengejek. Dia sudah keluar dari lingkungan istana, berlari cepat, dan Sam Kong Kiam diacungkannya ke atas, sinar pedang pusaka itu menuntun Bu Ciangkun dan teman-temannya mengikuti.

Beberapa kali mereka memanggil, namun si rambut emas itu tak menghiraukan. Dan ketika mereka tiba di pintu gerbang kota raja, dan tembok yang tinggi menghalang di depan, maka si rambut emas ini sudah ditunggu seribu pengawal yang mencegat jalan larinya. "Minggir...," Sinar berkilauan berkelebat, si rambut emas ini membentak, melayang ke atas tembok.

Di atas sana pun kiranya pengawal sudah merasa dan siap mencegatnya. Sam Kong Kiam bergerak, dan tujuh perwira di atas menjulurkan senjata masing-masing. Kota raja menjadi geger, dan hujan pun kebetulan mulai reda. Para pengawal dan orang-orang lain basah kuyup diguyur hujan.

Dan ketika tujuh perwira membentak dan menangkis Sam Kong Kiam, tiba-tiba tujuh perwira ini berseru kaget, karena tombak dan golok, maupun pedang di tangan mereka buntung terpapas oleh pedang di tangan si rambut emas. "Trang-trang-trang...!" Tujuh perwira ini terbelalak ngeri. Sam Kong Kiam masih terus bergerak ke arah mereka, tujuh tusukan dilakukan dengan amat cepat luar biasa.

Dan ketika mereka mengelak, namun masih juga kurang cepat, maka berturut-turut mereka menjerit, dan roboh terjungkal dari atas tembok yang tinggi, disambut pekik kaget pengawal di bawah yang ngeri melihat tujuh perwira itu terbanting di atas tanah, punggung mereka patah, dan tentu saja tewas.

Dan ketika mereka gempar dan berteriak-teriak marah, maka Bu Ciangkun yang berkelebat mendatangi tempat itu berseru, "Lepaskan panah! Serang...!" Ratusan panah tiba-tiba berhamburan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment