Chapter 05
Bayangan di atas memutar pedangnya, semua panah runtuh dibabat pedangnya. Melihat Cu Ciangkun dan lain-lain tiba pula di situ, semuanya melayang naik, namun dia tertawa bergelak. Ketika ratusan panah rontok disapu putaran pedangnya, Cu Ciangkun dan teman-temannya melayang naik ke atas tembok pintu gerbang, sedangkan si rambut emas melayang turun dan lenyap di luar gerbang kota raja, melarikan diri.
"Ha-ha, kalian tak dapat menangkap aku, Bu Ciangkun! Sampai ketemu lagi!" Bu Ciangkun menggereng. Dia sudah tiba di atas tembok, berbareng pula dengan teman-teman nya yang lain, melihat bayangan itu melayang turun dan dia pun melayang ke bawah, sungguh penasaran dan sakit hatinya melihat si rambut emas itu melarikan diri.
Ketika teman-temannya juga meluncur dan Cu Ciangkun membentak mengejar bayangan ini, maka Hek Eng Taihiap dan lain-lainnya juga memburu, marah dan tak habis pikir kenapa Kim Mou Eng, pendekar yang gagah perkasa itu mengacau kota raja, mencuri dan membunuh serta menghina mereka. Tapi karena malam itu berbintang dan lawan juga berkepandaian tinggi, maka pengejaran yang dilakukan Bu Ciangkun dan teman-temannya ini tak berhasil, gagal, dan Bu Ciangkun memaki-maki Pendekar Rambut Emas itu.
Kegeramannya sampai di ubun-ubun, dan bangsa Tar-tar pun dicacinya habis-habisan, Pendekar Rambut Emas memang berdarah Tar-tar. Dan ketika malam itu hujan benar-benar berhenti dan si rambut emas tak berhasil mereka tangkap, maka Bu Ciangkun kembali sambil mencak-mencak.
"Bedebah, Kim Mou Eng kiranya pendekar berwatak iblis! Tak patut dia menjadi sahabat Sri Baginda!" "Ya, dan dia juga membunuh belasan pengawal di tempat kita, Paman Bu. Sungguh tak habis pikir bagaimana dia begitu telengas!" "Dan kita harus melapor pada Sri Baginda. Kalau perlu, kuminta izin agar melakukan pengejaran dan memasuki padang rumput melabrak suku bangsanya. Keparat!" Dan Bu Ciangkun yang marah-marah diikuti pemuda berpedang yang memanggilnya "Paman Bu" tadi, lalu kembali ke istana dan melapor pada Sri Baginda.
Kaisar sudah menunggu mereka dan ingin tahu apa yang terjadi. Mata terbelalak tak sabar. Dan ketika Bu Ciangkun melapor bahwa Kim Mou Eng mencuri Pedang Tiga Sinar, tiba-tiba Kaisar tertegun menggebrak meja. "Tak masuk akal! Tidak kelirukah kalian, Ciangkun?"
"Paduka dapat menanyakannya pada yang lain," jawab Bu Ciangkun. "Hamba tak salah lihat, dan justeru Hek Eng Taihiap ini yang membuka mantol kepalanya." "Benarkah, Hek Eng Taihiap?" tanya Kaisar. "Maaf, tampaknya memang begitu, Sri Baginda. Tapi..." "Tapi apa? Kenapa harus berembel-embel? Tampaknya?" Hek Eng Taihiap bingung.
"Hamba memang melihatnya begitu, Sri Baginda. Tapi hamba ragu apakah Kim Taihiap benar melakukan perbuatan itu!" "Apa maksudmu?" "Maksud hamba begini, Sri Baginda. Kim Mou Eng, Pendekar Rambut Emas itu, adalah seorang gagah yang kita sama tahu tindak-tanduknya. Dia seorang pendekar sejati yang pantang berbuat jahat, lagi pula dia murid Bu Beng Siansu. Apakah mungkin pendekar begitu dikagumi melakukan perbuatan hina?" "Ah," Bu Ciangkun tiba-tiba menimbrung. "Murid Bu-beng Siansu atau bukan, sebaiknya jangan dijadikan patokan, Hek Eng Taihiap. Mendiang Gurba, pemimpin suku bangsa Tai-tar itu, juga murid Bu-beng Siansu, tapi kelakuannya memuakkan. Sebaiknya nama manusia dewa itu sebagai pribadi jangan disangkutpautkan dengan orang lain, meskipun orang lain itu muridnya sendiri!"
"Benar," Kaisar tiba-tiba teringat. "Apa yang dikata Bu Ciangkun tidak salah, Hek Eng Taihiap. Melihat tindak-tanduk seseorang sebaiknya jangan disangkutpautkan dengan orang lain, meskipun orang lain itu guru atau orang tuanya. Sekarang jawab saja, benarkah yang mencuri Sam Kong Kiam adalah Pendekar Rambut Emas?" Hek Eng Taihiap tak dapat mengelak, terpaksa mengangguk, dan Kaisar merah padam mukanya.
Ribuan mata memang melihat bahwa yang melakukan keributan itu adalah Kim Mou Eng, semua orang tahu. Dan ketika Kaisar berkerot gigi terpaku di singgasananya, maka kembali Bu Ciangkun, panglima tinggi besar yang berangasan itu berkata, nadanya tinggi, "Nah, sekarang Paduka tak perlu sangsi, Sri Baginda. Kim Mou Eng yang kita bangga-banggakan itu ternyata seorang iblis. Selain mencuri Sam Kong Kiam, masih juga menurunkan tangan maut membunuh perwira dan para pengawal-pengawal kita. Apakah hal ini tidak cukup bagi kita untuk menangkap dan menggantungnya?" Dan hamba sanggup mencari si hina itu, Sri Baginda. Hamba siap berangkat kalau Paduka menitahkannya!
Kaisar menggigil. "Baik, kau cari si laknat itu, Ciangkun. Kalau perlu, bawa pasukan dan serbu bangsa Tar-tar di luar tembok besar sana!" "Hamba siap menjalankan tugas," jawab Bu Ciangkun. Tapi baru Bu Ciangkun berseru, menegakkan kepala, tiba-tiba Hek Eng Taihiap melompat ke depan. "Nanti dulu," pendekar itu pucat. "Sebaiknya dengarkan usul hamba, Sri Baginda. Biar Bu Ciangkun berangkat tanpa pasukan. Hamba usul agar hamba berenam saja yang ke suku bangsa Tar-tar. Hindarkan dulu pertumpahan darah, kalau Pendekar Rambut Emas mau menyerahkan Sam Kong Kiam kembali!"
Kaisar terkejut. "Maksudmu?" Hek Eng Taihiap buru-buru menghadap ke seorang pembesar berwajah sabar, berkata menggigil, "Kim Taijin, mohon dukungan Paduka untuk membujuk Sri Baginda. Hamba masih tak yakin kalau Pendekar Rambut Emas yang melakukan semuanya ini. Hamba ingin menyelidiki, kalau Paduka setuju, tolong beri tahu Sri Baginda agar menegah perang antar bangsa." "Hm," pembesar itu mengangguk-angguk. "Aku dapat mengerti, Hek Eng Taihiap. Dan kulihat usulmu boleh diterima. Baiklah, aku coba menerangkan pada Sri Baginda," dan pembesar ini yang sudah menghadapi junjungannya lalu berkata, tenang, "Sri Baginda, mohon ampun bila hamba melancangi titah Paduka. Hek Eng Taihiap ingin mencegah pertumpahan darah, urusan ini memang layak diterima dengan pikiran dingin. Bagaimana kalau Bu Ciangkun disertai teman-temannya ke suku bangsa Tartar?"
Hek Eng Taihiap hendak bicara secara pribadi, Sri Baginda. Dan hamba juga sependapat dengan jalan pikiran Hek Eng Taihiap bahwa nama Kim Mou Eng perlu diragukan sebagai pencuri Sam Kong Kiam. "Tapi semua orang melihatnya," Kaisar terbelalak. "Dan semua mengakui bahwa Pendekar Rambut Emas itulah yang membuat onar!" "Benar, tapi Pendekar Rambut Emas adalah seorang gagah sejati, Sri Baginda. Hamba tahu wataknya dan sepak terjangnya. Mohon Paduka berkepala dingin menghadapi urusan ini." "Tapi Sam Kong Kiam bukan pedang sembarang pedang. Pusaka itu warisan leluhur dan simbol jatuh bangunnya kerajaan!" "Hamba tahu," pembesar itu masih bersabar. "Dan hamba juga tidak akan tinggal diam melihat pedang ini dicuri orang, Sri Baginda. Tapi hamba yakin bahwa bukan Pendekar Rambut Emas yang mencuri pedang itu, hamba berani bertaruh potong kepala!"
Kaisar terkejut. Bu Ciangkun dan yang lain-lain juga terkejut, Kim Taijin dianggap terlalu berani dan gegabah. Tapi karena pembesar itu adalah penasihat Kaisar yang paling dipercaya dan kesetiaannya tak perlu diragukan lagi, maka Kaisar dan yang lain-lain menjadi tertegun dan mulai bertanya kenapa pembesar itu berani berkata seperti itu, bahwa tanpa melihat sendiri berani bertaruh bukan Kim Mou Eng yang mencuri Sam Kong Kiam, meskipun ribuan mata melihat pencuri itu sebagai Pendekar Rambut Emas.
Pembesar ini rupanya terlalu percaya pada Kim Mou Eng, pada kegagahannya dan wataknya yang luhur. Dan ketika Kim Taijin, pembesar itu, menerangkan bahwa ada dua hal yang perlu menjadi perhatian untuk tidak gegabah menuduh Kim Mou Eng, maka semua orang mendengar pembelaan pembesar ini. "Ingat, pencurian pedang itu menunjukkan keserakahan nafsu seseorang, Sri Baginda. Dan kita sama tahu bahwa pendekar Rambut Emas sama sekali bukan orang yang serakah. Minta bukti!" Baik, hamba tunjukkan. Paduka tentu ingat bahwa beberapa bulan yang lalu Paduka memberi harta karun sepuluh peti emas permata pada pendekar itu, tapi Kim Mou Eng menolak. Hanya atas desakan Paduka, pendekar itu akhirnya menerima, itu pun tak buru-buru dibawa, dan harta karun itu sampai detik ini masih dititipkan pada Paduka. Ini menunjukkan bahwa Kim Mou Eng bukan seorang mabok harta maupun barang-barang duniawi.
"Ke dua, siapa tak meragukan rambut emas yang dipakai pencuri itu?" Sekarang pemalsuan bisa terjadi di mana-mana, Sri Baginda. Dan hamba khawatir bahwa pencuri itu telah mengecat rambutnya agar mirip Kim Taihiap. Nah, inilah yang menjadi alasan hamba. Dan kalau mau ditambah lagi, barangkali Bu Ciangkun maupun yang lain-lainnya itu harus mengakui bahwa Tiat Lui Kang, pukulan petir yang menjadi andalan khas Pendekar Rambut Emas, sama sekali tak digunakan pencuri itu, karena agaknya pencuri itu memang bukan Kim Taihiap. Sekian alasan hamba."
Bu Ciangkun dan teman-teman mendadak tertegun. Kaisar juga terhenyak. Bu Ciangkun dan teman-temannya itu mendadak teringat bahwa orang yang mereka anggap sebagai Kim Mou Eng itu memang sama sekali tak mengeluarkan Tiat Lui Kang, andalan Kim Mou Eng yang mengerikan itu. Tapi Bu Ciangkun yang tak mau kalah tiba-tiba berseru, "Benar, Kim Mou Eng yang kami sangka itu memang tak mengeluarkan Tiat Lui Kang-nya, Kim Taijin. Tapi siapa tahu ini adalah siasat untuk menyembunyikan diri!" "Kalau Hek Eng Taihiap tak membuka tutup kepalanya itu, tentu dia dapat sewenang-wenang dan berhasil menyembunyikan kedok!" "Bagus, tapi kalau dia mau, maka tanpa Sam Kong Kiam di tangan Pendekar Rambut Emas, dapat membunuh kalian berenam, Bu Ciangkun. Dan bayangan itu tampaknya harus dibantu Sam Kong Kiam untuk melarikan diri." "Ini mungkin untuk bersiasat saja, kemungkinan itu bisa saja terjadi karena seorang pencuri harus pandai menyembunyikan diri!" "Benar, dan karena banyak kemungkinan itu, maka aku pribadi tak gampang percaya, Ciangkun. Dan satu dari kemungkinan-kemungkinan yang kau ajukan itu adalah pencuri itu mungkin bukan Kim Taihiap..." Kini Kim Taijin memberi tekanan pada kata-kata "mungkin", Bu Ciangkun tertegun dan terbelalak.