Chapter 06
Tapi karena itu adalah satu kemilihan juga dan kalah didebat, tiba-tiba Panglima berangasan itu mengeram.
"Taijin, kau rupanya membela pencuri pedang itu. Baik, aku akan mencarinya dan menangkapnya untuk melihat siapa yang benar dan siapa yang salah!" "Ah, kau sudah salah menduga, Bu-ciangkun. Aku tidak membela pencuri itu, melainkan Kim-mou-eng. Harap perhatikan ini. Bagiku, pencuri itu masih diragukan sebagai Kim-mou-eng. Dan karena Kim-mou-eng masih bersih bagiku, maka yang kubela adalah pendekar itu, bukan pencuri itu!"
Kaisar melerai, "Sudah ah, aku sekarang bingung setelah mendengar kata-katamu, Taijin. Sebaiknya, untuk membuktikan itu, Bu-ciangkun kutitahkan ke suku bangsa Tar-tar menemui Pendekar Rambut Emas. Usul Hek-eng Taihiap kuterima, kalian berenam berangkat dan tidak membawa pasukan!"
Hek-eng Taihiap girang. "Terima kasih, Sri Baginda." "Tapi bagaimana kalau gagal?" Hek-eng Taihiap mendadak mengkerut. "Hamba pertaruhkan nyawa untuk menghadapi Kim-mou-eng, Sri Baginda. Meskipun hamba menyadari kepandaian sendiri yang tidak berarti dibanding dengannya!"
"Bagus, kalian berangkatlah!" Dan ketika pembicaraan selesai dan Bu-ciangkun minta diri mengajak teman-temannya, maka Hek-eng Taihiap berdebar karena satu kehormatan sedang dipertaruhkan. Mereka malam itu juga berangkat, diam-diam telah ada kesepakatan di antara Kim-taijin dan Hek-eng Taihiap, mereka sama-sama tidak percaya bahwa Pendekar Rambut Emaslah yang mencuri Sam-kong-kiam. Sungguh tidak masuk akal.
Tapi karena semua mata melihat pencuri itu sebagai Pendekar Rambut Emas dan hal itu harus mereka buktikan di suku bangsa Tartar nanti, maka rombongan Bu-ciangkun ini sudah meninggalkan istana di kala hujan sudah tidak mengguyur lagi. Rombongan ini menunggang kuda, enam ekor kuda pilihan dikebut. Dan begitu Hek-eng Taihiap mengikuti rombongan ini menuju ke utara, maka enam orang itu telah meluncur meninggalkan kota raja.
Satu teka-teki harus terjawab, satu keraguan besar harus dibuka. Dan karena Bu-ciangkun amat bernafsu melaksanakan tugasnya dan mencongklang pesat, maka dua hari kemudian mereka sudah keluar dari tembok besar menuju padang rumput ilalang, mencari perkemahan suku bangga Tar-tar. Benarkah Kim-mou-eng yang mencuri? Benarkah Pendekar Rambut Emas melakukan perbuatan hina itu? Kalau tidak, lalu apa yang sesungguhnya terjadi? Ah, sebaiknya kita tengok dulu perkemahan suku bangsa Tar-tar ini. Mari kita dahului rombongan Bu-ciangkun!
Pagi itu, di penghujung tahun, ribuan kemah besar kecil berdiri di lapangan rumput yang luas. Inilah suku bangsa Tar-tar yang hidup dari hasil ternak mereka. Ribuan ternak terhampar pula di padang rumput itu. Pagi masih dingin, semalam juga turun hujan. Di sana-sini becek. Kerbau dan sapi melengau gembira, makanan dan rumput-rumput gemuk menghampar luas di depan mata.
Tapi di sela-sela kegembiraan itu terdapat semacam kematian hening yang terpusatkan di tengah perkemahan. Ada sesuatu yang mengganggu. Bangsa Tartar kurang gembira. Pagi itu, hari ke tujuh, mereka menunggu keputusan Pendekar Rambut Emas. Sudah selama ini mereka kurang sabar. Bisik-bisik dan kasak-kusuk terdengar di sana-sini, berkembang dan menjadi topik pembicaraan yang kurang menyenangkan, terutama lagi pemimpin mereka yang dianggap lemah hati.
Kim-mou-eng atau Pendekar Rambut Emas itu menjengkelkan bangsa Tar-tar. Pendekar ini dianggap lemah mengambil keputusan, tidak seperti suhengnya yang telah tewas itu, Gurba si Singa Daratan Tandus. Gurba dianggap lebih cocok bagi bangsa ini karena wataknya yang keras dan tegas, sesuai bangsa Tar-tar sendiri yang suka berperang dan berpetualang.
Dan ketika hari itu hari terakhir di mana suku bangsa ini menunggu keputusan pemimpinnya untuk masalah rawan tentang hinaan kaisar kepada mereka, maka Kim-mou-eng sendiri, orang yang ditunggu jawabannya itu sedang bersamadhi dengan alis berkerut muram. Ada ganjalan di dalam hatinya. Pendekar ini tak nyaman.
Dan bagi pembaca yang sudah mengikuti cerita "Pendekar Rambut Emas" tentu mengetahui apa gerangan yang mengganjal perasaan pendekar itu di saat itu. Benar, masalah lama. Sebagaimana diketahui, bangsa Tar-tar merasa terhina karena pemimpin mereka yang lama, mendiang Gurba suheng Kim-mou-eng mendapat hadiah kaisar yang tidak pantas, begitu menurut mereka.
Dan hadiah itu bukan lain adalah selir cantik Bi Nio yang hamil sebelum diberikan kepada Gurba. Inilah soalnya. Bangsa Tar-tar merasa terhina karena Bi Nio, yang merupakan selir kaisar itu ternyata dihadiahkan pada saat berbadan dua. Jadi pemberian itu dianggap tidak mulus lagi. Kaisar terlampau merendahkan bangsa Tar-tar dengan perbuatannya ini.
Dianggap tak menghargai karena sudah memberi barang bekas, masih juga "diisi" sebelum dibenkan pada pemimpin Tar-tar, padahal katanya pemberian itu adalah sebagai ikatan persahabatan di antara dua bangsa besar, bangsa Han dan bangsa Tar-tar. Dan karena pemberian ini dianggap sewenang-wenang dan rasa persahabatan itu jelas tak ada karena kaisar telah "menodai" pemberiannya sendiri, maka bangsa Tar-tar marah dan kini meminta pemimpin mereka yang baru, Pendekar Rambut Emas, memutuskan persoalan ini dengan tuntas.
Ada dua syarat yang diminta bangsa Tar-tar itu. Satu, kaisar diminta menyatakan maafnya dan untuk itu datang ke perkemaban bangsa Tar-tar tanpa mewakilkannya kepada orang lain, atau dua, kalau kaisar yang tinggi hati dan dianggap sombong itu menolak, maka bangsa Tar-tar akan melakukan penyerbuan ke kota raja, membalas hinaan kaisar. Inilah. Dan itu membuat Kim-mou-eng bingung.
Sesungguhnya di antara pendekar ini dan kaisar memang terdapat persahabatan. Bahkan pemberontakan yang gagal yang kandas di tengah jalan atas pokok Sien Nio, mendiang selir kaisar yang amat ambisius, sesungguhnya berkat jasa besar Pendekar Rambut Emas ini. Hal itu telah diceritakan di bab yang lalu. Maka, mendengar tuntutan suku bangsanya ini dan perbuatan kaisar bagai geledek di siang bolong bagi Kim-mou-eng, maka selama tujuh hari ini Kim-mou-eng terhenyak dengan muka merah padam.
Sukar dipercaya perbuatan kaisar itu. Kim-mou-eng telah melihat pribadi kaisar. Seorang laki-laki yang cukup baik, meskipun dalam soal perempuan memang amat serakah. Selirnya ratusan orang, padahal sekali atau dua kali pakai saja sudah banyak yang dilupakan. Tapi karena kaisar adalah seorang berkuasa dan kekuasaan memang dapat menjadikan orang berbuat sesuka hati, maka soal ini dianggap soal pribadi kaisar itu sendiri.
Lain halnya kalau kaisar sudah nemperlakukan bangsa lain dengan cara seperti itu, memberikan hadiah tapi sekaligus hinaan. Bangsa Tar-tar rupanya dianggap bangsa kecil yang tidak berharga, tentu saja ini membuat orang tersinggung dan marah. Memangnya bangsa Han boleh sewenang-wenang menghadapi bangsa yang lebih kecil? Kalau begini namanya mengejek, menyinggung harga diri dan kehormatan sebuah bangsa.
Ini memang tak boleh dibiarkan begitu saja. Tapi karena Kim-mou-eng baru menerima kebaikan-kebaikan kaisar dan di antara mereka terdapat persahabatan mendalam, maka tuntutan bangsa Tar-tar agar kaisar menyatakan maafnya dan datang sendiri ke suku bangsa itu agak terlampau berlebihan dirasa. Bangsa Han adalah bangsa yang besar. Bangsa Tar-tar sesungguhnya lebih kecil dibanding bangsa itu.
Apalagi bangsa Tar-tar masih dianggap bangsa "tar" karena belum memiliki daerah sendiri, daerah tetap. Suku bangsa ini memang harus sering berpindah-pindah sebagai bangsa petualang, itu tak dapat disangkal. Jadi kalau kaisar diminta datang ke perkemahan mereka dan disuruh minta maaf di hadapan bangsa Tar-tar, agaknya kaisar tak mungkin mau dan merasa diri sendiri terlalu besar.
Repot. Sedang tuntutan kedua, ah, bagaimana dia tak bingung? Kim-mou-eng adalah seorang pendekar yang welas asih. Pertumpahan darah dihindarinya benar-benar, kalau tidak perlu, apalagi pertumpahan darah dalam sebuah peperangan. Ngeri dia. Ribuan orang akan mati, bahkan mungkin laksaan. Bumi akan dibanjiri darah dari manusia-manusia buas yang gila dalam peperangan, dibunuh atau membunuh.
Dan karena dua-duanya dirasa berat bagi pendekar itu, maka waktu seminggu yang diberikan suku bangsanya untuk berpikir tetap saja belum didapatkan jalan keluarnya oleh pendekar ini. Apa yang mau dia katakan? Kim-mou-eng murung. Sayang pendekar ini tak tahu duduk persoalan sebenarnya. Dia dan suku bangsanya tak tahu bahwa Gurba telah melempar berita bohong, fitnah.
Kini fitnah itu berakibat luas dengan marahnya bangsa Tar-tar. Tak tahu bahwa yang terjadi itu sesungguhnya bohong belaka, karena hamilnya Bi Nio adalah dengan mendiang raksasa itu. Bi Nio memang berbadan dua, tapi bukan dengan kaisar, melainkan dengan suheng dari Kim-mou-eng ini. Dan karena Gurba menyimpan sakit hati atas kegagalan-kegagalannya di masa lalu, maka raksasa ini lalu mengada-ada dan merusak nama kaisar dengan membakar suku bangsanya itu, perbuatan yang patut disesalkan, karena di saat ajal tiba, Gurba tidak menarik kebohongannya ini.
Kebohongan itu tetap berlanjut, dan kini bangsa Tar-tar menuduh kaisar menghina mereka. Hinaan itu harus dibalas. Kim-mou-eng sendiri terpengaruh dan betapa pun merasa tidak senang, hatinya terganjal dan marah atas perbuatan kaisar. Dan ketika seminggu itu dia pulang balik menimbang-nimbang keputusan, maka Salima, sumoinya yang gagah dan cantik manis itu muncul, dada terangkat dan mata pun bersinar-sinar, sudah mendengar persoalan itu pula, gadis yang keras hati dan mudah menurunkan tangan besi, menggugah samadhiya.
"Bagaimana, kau sudah mengambil keputusannya, suheng? Kau sudah dapat memberi jawaban?" Kim-mou-eng mengeluh. "Aku bingung, sumoi."