Chapter 07
Aku ingin minta waktu seminggu lagi.
"Astagal, Kau mengulur-ulur waktu. Kau tak tahu suku bangsa kita sudah tak sabar dan ingin melakukan penyerbuan selekasnya?"
"Kau pun mau bersikap keras, sumoi. Kau tak mencari jalan damai saja?"
"Hm, jalan damai apa? Kau sendiri meragukan kaisar mau datang meminta maaf, suheng."
Dan kalau sudah tahu begitu, maka serbuan besar-besaran yang merupakan jalan keluarnya.
Jangan biarkan suku bangsa kita menjadi buas seperti harimau kelaparan! Salima menarik kursi, jengkel pada suhengnya ini, dan mata yang bersinar-sinar itu pun semakin tajam. Ada kilatan api di dalamnya.
Dan ketika Salima duduk dan suhengnya masih termenung, maka pintu tiba-tiba diketuk.
"Masuk," Kim-mou-eng mempersilahkan. Dua orang pemuda memberi hormat. Mereka adalah Siga dan Bora, wakil atau calon wakil dari mendiang Gurba yang dipercaya suku bangsa Tar-tar.
Mereka inilah penyambung lidah rakyat untuk disampaikan kepada Pendekar Rambut Emas. Kedatangan mereka ternyata menuntut janji jawaban sang pemimpin. Dan ketika Kim-mou-eng mendengar maksud dua orang pembantunya ini, maka Kim-mou-eng menarik napas dalam-dalam.
"Kalian keluar dulu, nanti kuberi jawaban. Aku bendak bicara dengan sumoiku dulu."
"Maaf, tapi kami dapat menerima ketentuannya hari ini, taihiap. Kami tidak akan menunggu esok, bukan?"
"Ya, kuberi jawaban hari ini juga. Tapi kalian keluarlah, biarkan aku bercakap-cakap dengan sumoiku."
"Baik, kami menunggu, taihiap," dan dua pemuda gagah yang kembali keluar setelah memberi hormat itu lalu menutup pintu dan membiarkan Kim-mou-eng kembali berhadapan dengan sumoinya.
Dan Salima mengeluarkan suara dari hidung.
"Nah, mereka tak sabar lagi, suheng. Ini hari ke tujuh di mana kau telah terikat perjanjian!"
"Bagaimana menurutmu?" sang suheng tak perduli, bertanya.
"Apa yang harus kulakukan?"
"Siapkan saja bala tentara kita, suheng. Dan serbu kota raja sambil membunuh kaisar itu!"
"Aku tak ingin tumpahan darah. Aku..."
"Kau selalu menyebalkan!" Salima tiba-tiba memotong, marah pada suhengnya ini.
"Kau pemimpin yang tidak tegas, suheng. Kau selalu ragu dan tidak dapat mengambil keputusan dengan cepat. Kalau begitu, apalagi yang kauingini? Kalau kau rasa kaisar sombong itu dapat didatangkan ke mari, maka lekas lakukan maksudmu itu, jangan membiarkan suku bangsa kita jengkel. Mereka mulai kasak-kusuk akan kelemahan sikapmu!"
Kim-mou-eng terkejut.
"Kau marah-marah?"
"Aku jengkel pada sikapmu, suheng. Kau lamban mengambil keputusan dan membuat orang gemas!"
"Tapi ini urusan penting, urusan besar."
"Kalau tahu begitu, maka waktu seminggu masih juga kurang. Kau lemah hati, suheng. Kau selalu tidak tegas, termasuk persoalan kita berdua juga!" Salima tiba-tiba terisak, marah tapi menunduk mengusap air matanya.
Sang suheng sekonyong-konyong tertegun dan merasa bersalah. Jantung berdetak disebut-sebutnya persoalan itu, persoalan mereka berdua. Betapa dia tidak segera menyambut sumoinya dan meresmikan bubungan mereka sebagai suami isteri. Padahal semua orang tahu mereka sebagai orang-orang yang saling mencintai. Urusan ini memang cukup lama terkatung-katung; dia tidak mengambil ketegasan sikap.
Dan ketika sumoinya berdiri dan mau meninggalkannya, tiba-tiba Kim-mou-eng menyambar sumoinya ini.
"Sumoi, maaf. Nanti dulu, tunggu....!" Salima mengangkat kepalanya.
"Apa lagi? Kau mau mengecewakan aku untuk kesekian kalinya?"
"Tidak, nanti dulu. Jangan marah, sumoi. Mari duduk," dan Kim-mou-eng yang gugup menghadapi sumoinya ini lalu menahan napas.
"Sumoi, urusan kita berdua sebaiknya tunda sebentar untuk mendahulukan urusan besar ini. Aku telah mengambil keputusan; bagaimana kalau aku ke kota raja menanyakan langsung perihal itu pada kaisar? Aku akan bertanya secara jujur, sumoi, dan aku harap kaisar juga menjawab pertanyaanku dengan jujur. Juga aku ingin menemui Bi Nio, ada jalan keluar yang kuperoleh!"
Salima tertegun.
"Apa itu?"
"Kelahiran bayi yang dikandung wanita ini; sumoi. Aku ingin melibat mirip siapa dia."
"Ah, bukankah tentu saja mirip kaisar. Kau aneh-aneh saja, suheng. Kau melakukan hal yang tidak ada gunanya!"
"Tidak, dengarkan dulu, sumoi. Pertama, aku akan menemui kaisar; kedua, aku menemui selir itu. Kutanya dia, kapan dia berbadan dua dan kapan Gurba-suheng meninggalkannya untuk terakhir kali!" Salima bingung.
"Untuk apa? Kau mau mencari kambing hitam?"
"Bukan begitu, aku ingin mengecek persoalan ini, sumoi. Aku ingin melihat benar tidaknya persoalan itu sebelum mengambil keputusan, tetapi..."
"Kalau begitu, kau meragukan hal ini. Kau menaruh kecurigaan!"
"Hm, curiga sih bukan curiga, sumoi. Tapi kalau ada yang kuragukan, memang benar. Kaisar adalah seorang bijak; bagaimana mungkin dia melakukan perbuatan yang merendahkan bangsa kita itu? Aku jadi ragu mendengar persoalan ini. Karena itu, aku ingin menemui kaisar dan bertanya secara terang-terangan saja!"
"Tak mungkin dia mau mengaku. Orang yang melakukan perbuatan buruk selamanya akan menyembunyikan perbuatannya itu."
"Aku dapat menyelidikinya pada Bi Nio, sumoi. Karena itu, aku ingin pula menemui wanita ini!"
"Gurba-suheng memang pembuat susah. Sialan wanita Han itu. Kalau saja mendiang suheng mau menikah dengan wanita sendiri, tentu tak bakal ribut-ribut ini terjadi!"
"Ah, suheng mencintaimu, sumoi. Mana mau dia memilih lain? Kalau bukan karena cintanya padamu, tentu sepak terjangnya yang sesat itu tak akan terjadi. Sudahlah, orang yang telah tiada tak perlu kita caci lagi. Aku minta pendapatmu; bagaimana kalau kuminta waktu seminggu lagi pada bangsa kita untuk ke kota raja."
"Aku setuju, tapi mereka tak tahu."
"Bagus, kalau begitu kupanggil dua pembantu kita itu lagi!"
Kim-mou-eng girang, memanggil Siga dan Bora yang segera menghadap. Dua pemuda Tar-tar itu berseri karena wajah Kim-mou-eng juga berseri. Jawaban tetap kiranya sudah diambil. Sebuah keputusan akan membuat bangsa Tar-tar menyerbu atau memanggil kaisar. Tapi ketika Kim-mou-eng menyatakan bahwa keputusan ditunda seminggu lagi karena pemimpin mereka itu hendak ke kota raja, mendadak dua pemuda ini kecewa.
"Jadi taihiap hendak mengundur waktu?"
"Aku mundur untuk menentukan sikap terakhir, Siga. Tapi setelah itu aku berjanji untuk tidak mundur lagi!"
"Kalau begitu kami harus melaporkannya kepada bangsa kami. Mudah-mudahan mereka mau menerima," dan Siga serta Bora yang mundur melaporkan keputusan Kim-mou-eng itu ternyata benar saja menimbulkan rasa tidak puas yang semakin besar pada suku bangsa Tar-tar. Menganggap Kim-mou-eng benar-benar lamban dan membuat mereka semakin tak sabar. Jiwa perang dan petualang yang besar membuat suku bangsa ini gatal tangan.
Tapi karena Kim-mou-eng memiliki wibawa kuat dan Pendekar Rambut Emas itu merupakan orang paling lihai di antara mereka, maka dengan mendongkol dan menahan marah, suku bangsa ini tunduk. Diam-diam geram, namun tak dapat berbuat apa-apa; Kim-mou-eng memiliki kepandaian setingkat dengan mendiang pemimpin mereka yang lama, Gurba si Singa Daratan Tandus.
Dan ketika hari itu juga Kim-mou-eng berkemas dan siap berangkat, maka Salima, sumoinya yang mondar-mandir itu, mendadak minta ikut.
"Apa? Kau gila, sumoi! Tanpa kau di sini, bangsa kita menjadi tak terkendali. Mereka takut kepadaku dan kepadamu; kalau kita berdua pergi, tentu mereka akan beringas dan bebas menyerbu kota raja! Tidak, kau tak boleh ikut, sumoi. Sekali ini kau harus tunduk padaku demi mencegah pertumpahan darah besar-besaran!"
"Tapi aku tak sabar tanpa kau di sisiku, suheng. Aku merasa kesepian dan bakal sunyi seorang diri."
"Bersikap dewasalah, sumoi. Tekan hasrat nafsu pribadi itu dan tunggu aku seminggu. Kukira tak sampai seminggu aku pasti datang."
"Baik, kalau kau melanggar janji, jangan harap aku tinggal diam. Bangsa ini akan kutinggalkan dan kucari dirimu!"
Kim-mou-eng kecut, mengangguk tapi tersenyum memandang sumoinya. Sumoinya itu bersungguh-sungguh. Tentu saja dia tak mau berbohong. Tapi ketika dia hendak berangkat dan melepas lengan sumoinya, mendadak sumoinya itu terisak dan menutupi muka dengan sedih.
"Kau hanya akan meninggalkan aku begini saja, suheng?" Kim-mou-eng terkejut. Cepat dia menjadi tanggap akan suara sumoinya yang penuh kecewa.
Seminggu ini dia mengurung diri tak melayani sumoinya. Tentu saja sumoinya kecewa. Dan ketika sumoinya memutar tubuh dan terisak meninggalkannya, mendadak Kim-mou-eng berkelebat menyambar sumoinya ini.
"Sumoi, tunggu....!" Salima tertangkap, ditarik, dan kembali diputar menghadapi dirinya.
Mata yang basah itu terpejam, bibir digigit kuat-kuat karena gadis Tar-tar itu menahan kecewa. Isaknya hampir meledak menjadi sedu-sedan. Tapi ketika Kim-mou-eng menarik tubuh sumoinya ini dan mencium bibir yang bergetar lembut itu, sekonyong-konyong Salima mengeluh dan roboh di pelukan suhengnya ini.
"Ooh, kau kejam, suheng. Kejam....!"
Kim-mou-eng terharu. Dia sekarang sadar betapa selama ini sumoinya menanti-nanti belaian cintanya. Dia seolah tak perduli karena tenggelam dalam urusannya dengan suku bangsanya itu. Kini dengan penuh sayang dan lembut, dia mengecup bibir sumoinya itu. Dan ketika sumoinya roboh, namun keluhan bahagia meluncur dari mulut yang menggigil itu.
Kim-mou-eng sudah melepaskan sumoinya dengan helaan napas berat, menekan degup jantung yang tiba-tiba berkobar dengan hangat.
"Sumoi, maaf. Aku memang hampir lupa. Sekarang kau puas, bukan?" Salima membuka mata. Bibir yang tadi digigit itu tiba-tiba mengembang dalam senyum malu-malu. Sifat kewanitaannya muncul. Salima jengah, pipi bersemu dadu, dan Kim-mou-eng kembali menahan detak jantungnya yang bertalu-talu.
Ah, betapa manis sumoinya itu. Betapa menggairahkankan. Kalau saja tak ada urusan ini, tentu dia lupa daratan. Kembali dengan lembut dia mencium pipi sumoinya. Dan ketika sumoinya mengerang, namun Kim-mou-eng menahan pundak yang hampir roboh itu, tiba-tiba pendekar ini tertawa.
"Sumoi, ayo kembali."