Chapter 08
Salima melihat suhengnya telah meloncat jauh, berkelebat, dan tinggal titik kecil di kejauhan sana. Gadis Tar-tar ini terpaku. Tapi ketika suhengnya melambaikan tangan dan bekas kecupan itu terasa di pipi dan mulut, tiba-tiba Salima tersenyum dan balas melambaikan tangannya.
"Jangan lama-lama, suheng. Aku tunggu....!" Bayangan Kim-mou-eng telah lenyap. Pendekat Rambut Emas ini tertawa di balik padang rumput, orangnya telah tiada, namun gema tawanya mengiang di telinga Salima. Gadis ini termangu-mangu.
Tetapi ketika sadar dan berbisik menyebut nama suhengnya, akhirnya Salima memutar tubuh berkelebat kembali ke perkemahan suku bangsanya. Dua hari tak ada apa-apa di perkemahan suku bangsa ini. Semuanya berjalan seperti biasa, bangsa Tar-tar kembali menunggu, meskipun dengan perasaan mendongkol.
Kini Salima memimpin mereka mewakili Kim-mou-eng. Tak ada yang berani main-main dengan gadis yang satu ini. Salima dikenal keras, wataknya kaku, dan gampang tersinggung. Meskipun Salima merupakan gadis satu-satunya yang paling jelita di situ, namun tak seorang pun pemuda berani mengganggunya.
Kepandaian gadis ini seperti iblis. Siapa coba-coba main dengannya, tentu dibunuh, karena itulah gadis ini mendapat julukan Tiat-ciang Sian-li (Dewi Bertangan Besi). Tapi ketika hari ketiga, serombongan orang berkuda mendatangi perkemahan suku bangsa itu, mendadak bangsa Tar-tar bangkit berdiri dengan pandangan tidak bersahabat.
Siapa rombongan itu? Bukan lain Bu-ciangkun dan kawan-kawannya. Berputar-putar, mereka ini harus mencari tempat itu. Itulah sebabnya tidak berpapasan dengan Kim-mou-eng di tengah jalan. Pendekar Rambut Emas mengenali daerah itu dengan baik, rombongan ini tidak.
Dan ketika mereka datang dan orang-orang Tar-tar menyambut mereka dengan sikap dingin, tiba-tiba seorang di antara penyambut yang mengenal panglima Bu segera menodongkan senjatanya. "Bu-ciangkun, siapa memberi ijin berkeliaran di tempat ini?" Bu-ciangkun terbelalak, menarik tali kekang kudanya yang meringkik.
"Kau siapa? Kami adalah tamu. Harap jangan kurang ajar dan bersikap hormat!" "Hm, bangsa Han tak menghormati bangsa Tar-tar, Ciangkun. Untuk apa menghormat orang yang tidak bisa menghormati orang lain?" Kau turunlah, kaulah yang harus hormat kepada kami!" orang itu tiba-tiba menyendal tali kuda Bu-ciangkun, dipaksa dengan kasar.
Senjatanya bergerak, namun Bu-ciangkun menangkap. Dan ketika orang itu terpekik dan Bu-ciangkun membetot, tiba-tiba pemuda Tar-tar ini terangkat naik dan terbanting di tanah yang keras. "Brukk!" Orang-orang Tar-tar yang lain terkejut.
Rombongan Bu-ciangkun yang lain juga terkejut, mereka tersentak. Tentu saja berseru agar panglima Bu mengendalikan kemarahannya. Tapi ketika pemuda Tar-tar itu berteriak dan bangun berdiri, mendadak dia memberi aba-aba pada temannya, "Serang, bunuh anjing-anjing kaisar ini!"
Hek-eng Taihiap dan teman-temannya kaget. Mereka tiba-tiba saja dimaki sebagai anjing, orang-orang Tar-tar itu menghina mereka dan menyerang bagai setan haus darah. Padahal beberapa waktu yang lalu, mereka adalah sahabat. Hek-eng Taihiap menjadi tidak senang dan marah pada orang-orang ini.
Dan karena mereka menyerang dan lembing serta panah mulai menyambar dari segala penjuru, tiba-tiba Pendekar Garuda Hitam ini melayang turun mengibaskan kedua lengannya ke kiri kanan. "Tahan, kami datang bukan untuk saling bermusuhan!" Tapi orang-orang Tar-tar menjadi buas.
Mereka tak perduli seruan pendekar itu, si pemuda pertama yang dibanting Bu-ciangkun sudah membakar teman-temannya lagi untuk menyerang. Dan ketika tombak dan panah kembali berhamburan menyerang mereka, akhirnya Bu-ciangkun yang juga marah mencabut tombaknya berseru lantang, "Minggir, atau kalian kami robohkan!" dan tombak si panglima yang bergerak menyambar ke segala penjuru tiba-tiba menangkis dan mementalkan sinjata orang-orang Tar-tar itu, tiga di antaranya patah.
Bu-ciangkun berseru pada teman-temannya agar mereka jangan membunuh. Dan ketika yang lain juga berkelebat dan membentak orang-orang itu, akhirnya tigapuluh penyerang roboh tunggang-langgang dengan muka kaget. Sekarang orang-orang ini terkejut.
Mereka sadar bahwa lawan yang dihadapi adalah lawan-lawan yang berkepandaian tinggi. Sejenak mereka mendelong. Pemuda pertama yang tadi membakar teman-temannya juga kelihatan kaget, termangu, dan meringis karena untuk kedua kalinya dia dibanting Bu-ciangkun tadi, punggungnya serasa patah.
Tapi sementara orang-orang itu terkesima dan gentar, namun tetap penuh benci memandang rombongan Bu-ciangkun itu, mendadak seratus orang Tar-tar mendatangi tempat mereka dengan derap kuda mencongklang....
"Kaliyin, siapa yang kalian hadapi itu?" Kaliyin, pemuda pertama yang membakar teman-temannya girang. Itulah rombongan Bora dan Siga yang datang bersama kawan-kawannya. Dari jauh mereka tak mengenal Bu-ciangkun karena terhalang Kaliyin dan teman-temannya.
Kini rombongan baru itu tiba, dan Bu-ciangkun merasa girang, merasa kenal baik dengan orang di depan yang berteriak itu, Siga. Dan ketika rombongan ini mendekat dan Kaliyin melompat maju, maka pemuda Tar-tar yang memandang penuh benci ke arah musuhnya itu berseru, "Dia Bu-ciangkun dan teman-temannya. Siga. Datang mengacau dan menyerang kami?"
Rombongan itu telah berhenti. Siga sudah berhadapan dengan rombongan Bu-ciangkun ini, mereka sama-sama mengenal. Bu-ciangkun berseri-seri, tapi Siga bermuka gelap. Lagi-lagi Bu-ciangkun dan rombongannya ini menjadi tidak sedap oleh penyambutan kawan.
Orang-orang Tar-tar itu aneh. Dan ketika Siga mendengus dan meloncat turun dari kudanya, maka teman-temannya yang lain mengikuti, dan suara tidak ramah menyambut panglima ini, "Bu-ciangkun, ada apa kau datang kemari merobohkan anak-anak buah kami? Kau mau unjuk kepandaianmu dan bersikap pongah?"
Bu-ciangkun tertegun. "Dan kau menyerang orang Tar-tar. Berarti kau musuh dan bukan sahabat!" "Tidak?" Bu-ciangkun kini tersentak. "Kami tidak menyerang orang-orangmu kalau tidak lebih dulu kami diserang, Siga. Anak buahmu kurang ajar dan bersikap tidak sopan kepada kami. Kaliyin ini yang memulai keributan!"
Bu-ciangkun menunjuk Kaliyin, kini mengenal nama pemuda itu, dan melotot. Namun Siga yang mendengus tidak bersahabat ternyata berseru pada teman-temannya, "Kepung, tangkap mereka!" "Ah!" Bu-ciangkun kaget. "Kami datang bukan untuk bermusuhan, Siga. Kami datang untuk menemui Pendekar Rambut Emas. Tahan dulu!"
"Ada urusan apa?" "Urusan pribadi, kami mau menanyakan kenapa dia mencuri Sam-kong-kian?" Inilah tuduhan yang tidak tedeng aling-aling lagi. Bu-ciangkun terlalu blak-blakan dalam membicarakan keperluannya itu, teman-temannya terkejut, sementara Siga dan anak buahnya juga terbelalak.
Pemimpin mereka, Kim-mou-eng, dituduh mencuri! Kontan Siga dan seratus anak buahnya marah, kaget, dan gusar. Dan ketika Bu-ciangkun menerangkan lagi tentang pencurian Pedang Tiga Sinar yang terjadi di kota raja beberapa hari yang lalu, mendadak Siga dan anak buahnya merah padam mendengar tuduhan itu.
Bu-ciangkun terlalu gegabah, dasar berangasan. Dan ketika panglima itu selesai bicara dan Siga mengetahui benar bahwa selama beberapa hari itu Kim-mou-eng tak ke mana-mana, mendadak pemuda Tar-tar yang gagah dan marah ini mengangkat lengannya tinggi-tinggi.
"Bohong, kalian melempar fitnah!" dan, memberi aba-aba pada anak buahnya yang sudah mencabut senjata, tiba-tiba Siga menerjang maju, menyerang panglima Bu ini. "Serang mereka, bunuh....!" Kagetlah rombongan Bu-ciangkun.
Siga dan seratus anak buahnya menyerang tanpa banyak kata-kata lagi. Semua beringas dan menyerbu dengan senjata di tangan. Untuk kedua kalinya Bu-ciangkun dan lima temannya dibuat terkesiap.
Tapi karena lawan sudah menyerang dan Kaliyin serta teman-temannya yang lain juga meloncat dengan senjata padanya, maka Bo-ciangkun dan teman-temannya dikeroyok puluhan orang seperti harimau dikeroyok sekumpulan anjing srigala.
"Trang trang trangg...!" Rombongan kecil ini tak dapat menjelaskan lagi. Mereka sudah menangkis dan memutar senjata sendiri, dua muda-mudi di belakang bergerak mencabut pedang mereka.
Itulah Sin Kok dan Hwi Ling, puteera puteri mendiang Ang Bin-ciangkun yang tewas di tangan Gurba. Pertempuran pecah dengan jumlah yang tidak berimbang. Dan ketika bentakan-bentakan dan teriakan-teriakan mulai terdengar di tempat itu, disusul robohnya tubuh yang menjerit oleh kemplangan atau tusukan senjata, akhirnya Bu-ciangkun dan teman-temannya membela diri dan terpaksa membuka jalan darah.
"Siga, kalian bangsa liar yang tak tahu aturan...." Bu-ciangkun sendiri sudah menarik tombak di tangan Siga, mengerahkan Kang-jiu-kang-nya, dan mainkan Kang-jiu Sim-hoat yang membuat lengan lengannya sekeras baja.
Tombak di tangan lawan dipentalkan, namun Siga menyerang lagi. Pemuda Tar-tar ini cukup hebat, jelek-jelek dia murid Gurba tidak resmi. Permainan senjata di tangan amat gagah dan kuat.
Dan ketika teman-temannya yang lain coba membantu pemuda ini, namun Siga tersinggung karena tak mau mengereyok, maka Bu-ciangkun sudah mendapat patukan mata tombaknya yang menyambar nyambar panglima tinggi besar ini.
Pecahlah pertempuran sengit di situ. Hek-eng Taihiap sendiri terpaksa berkelebatan, Cu-ciangkun juga menggerakkan tombak-tombak mereka menghalau musuh.
Lima enam orang mulai terguling tak dapat bangun. Darah mulai mengalir, namun rombongan ini tetap menjaga agar tidak ada lawan terbunuh. Sin Kok dan adiknya juga begitu, mereka mendapat peringatan Cu-ciangkun agar menahan panasnya hati, lawan dibuat roboh dengan goresan atau tusukan pedang yang tidak terlampau berbahaya, tusukan di kaki atau lengan misalnya.