Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 09

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 09

Ketika teriakan dan pekik kesakitan mulai terdengar, Sin Kok dan Hwi Ling juga mulai koyak-koyak pakaian mereka oleh serangan kaum Tar-tar. Sementara itu, Hek-eng Taihiap telah merobohkan dua puluh lawan yang mendapat tamparan atau tendangan kakinya. Lawan yang mengeroyok pendekar ini jatuh bangun, satu dua di antaranya patah tulang-tulangnya tak dapat berdiri.

Tidak lama lagi, pendekar ini dapat terbebas dari kepungan, karena lawan mulai gentar dan mengalihkan perhatian pada yang lebih lemah, Sin Kok dan Hwi Ling. Celaka dua muda-mudi ini, mereka mulai mengeluh karena tubuh mulai luka-luka. Hwi Ling bahkan menjerit ketika sebatang tombak nyaris membelah dadanya, tombak dilontar seseorang, dia merendahkan tubuh dan rambutnya sebagian terbabat.

Hwi Ling marah, tapi ketika pertempuran berjalan kian keras dan masing-masing sama sengit karena Bu-ciangkun dan teman-temannya mulai tak dapat mengendalikan emosi, mendadak sesosok bayangan ramping berkelebat mengibas ke sana kemari. "Mundur....!" Bentakan itu disusul berpelantingannya tubuh-tubuh yang tak dapat menahan.

Kaum Tartar bagai disapu angin puyuh, barisan di luar menjerit tunggang-langgang. Di enam tempat bayangan ini bergerak sambil mengibas. Angin pukulannya luar biasa sekali, bagai taufan. Dan ketika sekejap kemudian pertempuran berhenti dan Bu-ciangkun serta teman-temannya sendiri terpental oleh kibasan bayangan ini, maka seorang gadis cantik telah berdiri di situ dengan mata berapi-api, tangan berkacak pinggang.

"Bu-ciangkun, apa maksud kalian membuat onar?" Inilah Salima. Bu-ciangkun bangun berdiri mengusap peluhnya, muka kelihatan kaget tapi anehnya panglima tinggi besar ini tersenyum. Girang karena sumoi dari Kim-mou-eng telah muncul. Tapi sebelum panglima itu memberi jawaban dan dikhawatirkan jawabannya bakal tak menguntungkan mereka, maka Hek-eng Taihiap tiba-tiba melompat ke depan membungkukkan tubuhnya dalam-dalam, diam-diam hatinya tergetar karena kibasan gadis ini telah membuatnya terlempar tiga tombak!

"Lihiap, maafkan kami. Kami tak bermaksud membuat onar kalau pihak anak buahmu tak terlebih dulu menyerang kami. Kami datang untuk mencari Kim-taihiap, mohon diperkenankan bertemu untuk sebuah urusan penting." Salima memandang pendekar ini. "Suheng tak ada di tempat, dia pergi. Ada urusan apa hingga jauh-jauh kalian mencari?" "Kami diutus kaisar, lihiap. Datang untuk...." "Hai, untuk menghina lagi?" Salima menukas, dengusnya mengejek. "Permintaan apa lagi yang diinginkan kaisarmu itu?"

Hek-eng Taihiap terkejut, melihat sikap yang tidak bersahabat. Tapi sebelum dia menjawab, tiba-tiba Siga, yang mengetahui maksud kedatangan orang-orang ini, sudah berseru, "Mereka dalang untuk menghina Kim-taihiap, lihiap. Orang-orang ini menuduh Kim-taihiap mencuri pedang!" Salima terbelalak. "Apa, mencuri pedang?" "Ya, begitu katanya, lihiap. Dan katanya, yang dicuri adalah Sam-kong-kiam!" Mendadak Salima tertawa nyaring.

Gadis yang tadi mengejek itu tiba-tiba geli, merasa ini mengada-ada saja untuk mencari permusuhan, Salima tiba-tiba tak dapat menahan tawanya untuk menertawai orang. Tapi ketika dia menghentikan tawanya dan matanya berkilat memandang lawan, maka Hek-eng Taihiap sudah mendapat bentakannya yang dingin, "Orang she Siok, kalau kalian ingin mencari permusuhan sebaiknya tak perlu melempar fitnah. Suhengku ada di sini beberapa minggu, semua orang tahu itu. Kalau sekarang dituduh mencuri pedang ingin mencari ribut sebaiknya kalian enyahlah sebelum kubunuh. Pergilah, katakan pada Kaisarmu bahwa Kim-mou-eng bukan manusia hina yang suka mendapatkan milik orang lain!"

Hek-eng Taihiap pucat. Sekarang gadis Tar-tar ini bersikap kasar, kata-katanya ketus dan dingin. Sungguh dia terkejut. Dan ketika Salima membalikkan tubuh tak mau menghadapinya lagi, tahulah Pendekar Garuda Hitam ini bahwa dia diusir dan gadis itu tak mau memandang muka rombongannya lagi. "Sombongi" Bu-ciangkun tiba-tiba berteriak. "Kau gadis yang tinggi hati, Salima. Kalau kau mau menghina kami lebih baik kami kau bunuh dan tak perlu mengusir" dan mengejutkan teman-temannya yang lain, sekonyong-konyong panglima yang beringasan ini melompat ke depan, kedua lengannya berkerotok menghantam punggung Salima.

Rupanya si tinggi besar ini marah. Tapi Salima yang mendengus tidak mengelak, tiba-tiba menggerakkan lengan ke belakang dan berseru, "Robohlah....!" Panglima Bu terkejut. Dia merasa terangkum angin dahsyat menyambutnya, pukulannya membalik, tapi dia nekat. Dan ketika benturan itu terjadi dan angin pukulan bertemu, tiba-tiba panglima ini berteriak dan.... roboh terjengkang.

"Bress!" Bu-ciangkun terguling-guling. Dia terkejut tapi tidak kapok, bangun kembali mengereng bagai singa kelaparan, membentak dan sudah menerjang lagi, sementara lawan masih membelakangi punggung. Panglima itu terhina karena lawan tak mau berdepan, sungguh ini dianggapnya terlalu. Tapi ketika pukulan kembali menyambar dan Salima mengibas dengan tangkisan yang lebih kuat lagi, mendadak Bu-ciangkun tertolak dan menjerit melontarkan darah segar.

"Dess!" kali ini panglima itu mengeluh. Dia terbanting tak dapat bangun kembali, mukanya pucat dan tidak bergerak-gerak. Kiranya pingsan. Dan ketika Cu-ciangkun menggigil dan menolong rekannya itu, maka gadis Tar-tar yang lihat ini berseru, "Hek-eng Taihiap, kalau teman-temanmu tidak mundur dalam hitungan ke sepuluh, sebaiknya jangan salahkan aku kalau aku benar-benar akan membunuh kalian. Tuduhan mencuri kutolak, suhengku bukan manusia hina dan jangan membuat darah kami bangsa Tar-tar mendidih!"

Terpaksa, Hek-eng Taihiap memberi isyarat. Salima telah bicara begitu dingin, sikapnya tinggi hati namun dia percaya kegagahan gadis itu. Pada kata-katanya bahwa suhengnya tidak mencuri Sam-kong-kiam, hal yang membuat dia lega. Tapi karena Hek-eng Taihiap juga seorang gagah dan jelek-jelek dia tak mau dihina, maka pendekar ini mendesis mengepal tinju, "Sian-li-lihiap, karena kami memang bukan tamu yang diundang, baiklah kami mau pergi. Tapi satu yang kami kehendaki, kami tetap ingin bertemu dengan suhengmu. Kalau hari ini suhengmu tak ada, biarlah di lain waktu kami datang lagi. Betapa pun kami baru puas kalau mendapat jawaban dan suheng-mu sendiri!"

Dengan kata-kata ini, berarti Hek-eng Taihiap telah menunjukkan keberaniannya, tidak takut untuk datang lagi meskipun kelak Salima mengancamnya. Kini terpaksa pergi karena orang yang dicari tidak ada. Jadi rombongan pergi bukan karena takut kepada Salima, melainkan semata karena orang yang dicari sedang pergi. Itulah sifat kegagahan yang telah ditunjukkan pendekar ini. Salima mendengus tak menjawab.

Dan ketika Hek-eng Taihiap memutar tubuh dan memberi isyarat pada Cu-ciangkun dan Sin Kek serta Hwi Ling, akhirnya Bu-ciangkun yang pingsan diletakkan di atas punggung kudanya, dijaga Cu Kim, panglima kedua dari Cu-hengte. Dan begitu mereka menarik tali kekang kuda dan kuda meringkik tinggi, tiba-tiba enam orang ini telah meninggalkan perkemahan Tar-tar tanpa banyak bicara lagi.

Orang-orang Tar-tar memandang dengan bermacam perasaan. Sebenarnya mereka gemas, ingin menyerang dan menghabisi orang-orangnya kaisar itu. Tapi karena Salima telah melepaskan mereka dan hitungan belum juga diucapkan, maka orang-orang ini tak berani menentang dan membiarkan saja rombongan itu dengan mata melotot. Dan Salima sendiri sudah tidak perduli kiri kanan, berkelebat dan lenyap dari tempat itu.

Anak buahnya segera menyusul dan tempat itu pun akhirnya sepi. Cu-ciangkun dan rombongannya sudah lenyap di balik padang ilalang. Dan ketika semuanya kembali ke tempatnya masing-masing dan yang terluka dibawa untuk dirawat, maka bekas pertempuran itu pun senyap seperti sedia kala.

Kim-mou-eng melakukan perjalanan cepat. Sehari itu juga dia telah tiba di kota raja. Memang kepandaian pendekar ini amat tinggi. Kalau Bu-ciangkun dan rombongannya melakukan perjalanan dari kota raja menuju perkemahan bangsa Tar-tar tiga empat hari, maka pendekar ini melakukannya cukup sehari. Tapi sayang, Kim-mou-eng tiba di waktu matahari telah terbenam. Dia ragu untuk menemui kaisar di malam hari, tahu kesibukan-kesibukan kaisar dan waktu istirahatnya, jadi terpaksa dia menahan keinginan hati untuk segera bertemu.

Dan karena dia sudah memasuki kota raja dan berlenggang seenaknya karena penjaga pintu gerbang dan orang-orang lain telah mengenalnya, maka pendekar ini tak curiga dan justeru mengangguk setiap bertemu dengan beberapa pengawal di dalam kota, melempar senyum. Namun aneh, para pengawal yang dijumpai tiba-tiba tertegun. Mereka itu terbelalak dan tiba-tiba membalikkan tubuh, telinga Kim-mou-eng mendengar beberapa di antaranya mengatakan dia sebagai iblis.

Kim-mou-eng tidak menunjukkan kepandaiannya saat itu, berjalan tenang dan berlenggang seperti biasa. Tiba-tiba menjadi semakin heran dan mengernyitkan kening karena toko-toko yang dilalui mendadak menutup pintu mereka. Ada gerakan-gerakan di belakang, dia mendengar langkah kaki mencurigakan yang mengikuti secara diam-diam. Dihitung jumlahnya tak kurang dari lima puluh orang, kian lama kian bertambah banyak, dan samar-samar bayangan berkelebatan di mana-mana.

Pendekar ini merasa heran. Dan ketika dia bermaksud mencari losmen untuk beristirahat karena keesokan paginya dia ingin menghadap kaisar, tiba-tiba seratus busu (pengawal istana) muncul di depannya dengan bentakan seorang perwiranya yang dikenal sebagai Lauw-ciangkun, panglima muda Lauw. "Kim-mou-eng, berhenti....!" Pendekar ini terkejut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment