Chapter 10
"Serahkan Sam-kong kiam dan menyerahlah!" Pendekar ini semakin terkejut. Dan ketika dia tertegun dan membelalakkan mata, tak dapat menjawab, tiba-tiba lima ratus pasukan pendam muncul dengan gendewa di tangan masing-masing, siap menjepret anak panah ke arahnya.
Baru pendekar ini sekarang sadar: "Apa artinya ini, Lauw ciangkun? Kenapa kalian mengepungku?" "Hmm" panglima she Lauw itu bersinar-sinar, tak berani terlalu dekat.
"Kau tak perlu berpura-pura, Kim-mou-eng. Kau telah mencuri Sam-kong-kiam dan sekarang kami tangkap. Kau membuat onar dan menghina Sri Baginda!" Kim-mou-eng tersentak. "Sam-kong-kiam? Aku mencuri Sam-kong-kiam?" "Tak perlu berpura-pura, Kim-mou-eng. Semua orang tahu perbuatanmu itu dan karena itu sekarang kami akan menangkapmu. Menyerahlah baik-baik, kalau tidak lima ratus batang anak panah akan menghujani tubuhmu tanpa ampun!" Kim-mou-eng mendadak tertawa bergelak.
"Lauw-ciangkun, kau bergurau!" Panglima ini marah. Dia mengangkat lengannya ke atas. Lima ratus panah tiba-tiba menjepret sekaligus. Kim-mou-eng terkejut bukan main. Desing anak panah yang menuju satu titik ke arahnya itu benar-benar mau membunuhnya. Dia akan disate!
Dan ketika Lauw-ciangkun menunjukkan kesungguhannya dan panglima itu ternyata tidak bergurau, tiba-tiba lima ratus panah menghujani pendekar ini dalam waktu hampir berbareng. "Aaah....!" Kim-mou-eng berseru keras, kaki menjejak bumi dan tiba-tiba tubuhnya meluncur tinggi, tinggi sekali. Tak kurang dari delapan meter.
Lima ratus panah tentu saja meleset dan menghujani tempat di mana dia bekas berdiri tadi. Menancap dan sudah membentuk semacam barisan jarum yang menungging dengan ekor di atas, anak panahnya sendiri amblas di tanah menunjukkan betapa hebatnya barisan pemanah itu. Mereka rupanya jago-jago panah pilihan.
Sebuah lingkaran bersusun berderet rapi di bekas tempat Kim-mou-eng berdiri tadi. Dan ketika pendekar ini berjungkir balik dan turun ke bawah, maka dengan aneh tapi luar biasa, Pendekar Rambut Emas itu telah berdiri di pucuk ekor-ekor panah yang menungging dengan pantat ke atas.
Lauw-ciangkun tertegun. Ratusan orang yang ada di situ juga tertegun, masing-masing terbelalak dan tanpa terasa memuji kepandaian Pendekar Rambut Emas ini. Ekor anak-anak panah yang diinjak sama sekali tak bergoyang, padahal berat tubuh pendekar itu sendiri tak kurang dari seratus empat puluh kati. Mestinya begitu terinjak tentu akan patah atau melengkung.
Tapi melihat bahwa tubuh Pendekar Rambut Emas demikian ringan dan seolah capung saja yang hinggap dengan begitu manis, tiba-tiba Lauw ciangkun terkesima dan mundur dengan muka pucat, terpana kagum tapi juga gentar.
Dan Pendekar Rambut Emas itu mulai bicara, "Lauw ciangkun, beginikah sikapmu menghadapi orang yang tidak suka bermusuhan? Aku datang bukan untuk mencari perkara. Kalau benar aku dituduh mencuri Sam-kong-kiam, mestinya aku tak ke sini untuk menghadapi kalian. Sekarang katakan siapa yang menyuruhmu menghadang dan mana itu Bu-ciangkun atau Cu-ciangkun yang sudah kukenal?"
Panglima muda ini sadar. "Bu-ciangkun dan rombongannya pergi mencari dirimu. Mereka tak ada disini karena diutus Sri Baginda kaisar!" "Karena aku dituduh mencuri Sam-kong-kiam?" "Bukan sekedar tuduhan, Kim-mou-eng. Melainkan bukti nyata karena semua orang melihatmu sebagai pencuri!" "Baik, kalau aku mencuri pedang itu, tentu aku tak akan datang sekarang, dan pedang itu pun mestinya kubawa. Kalian lihat, adakah aku membawa senjata?" Kim-mou-eng menupuk-nepuk pakaiannya.
Lauw-ciangkun kembali tertegun karena pendekar itu memang tak membawa apa-apa. Kim-mou-eng jarang bersenjata kecuali sepasang pitnya (potlot lukis) itu. Senjata kecil tapi yang keampuhannya tak kalah dengan sebatang pedang.
Dan ketika orang mulai dapat dipengaruhi tapi panglima ini bingung, maka Pendekar Rambut Emas itu berkata lagi, "Nah, sekarang katakan siapa yang menyuruhmu menghadang aku, Lauw-ciangkun. Biar kutemui dia dan kita bicara baik-baik." Panglima ini menggeleng. "Kau bohong, pencuri tak dapat dipercaya dan pedang itu telah kausenbunyikan di lain tempat!" "Ah," pendekar ini mengerutkan kening. "Kau menganggap aku dusta." Kalau begitu tak usah kita bicara lagi, aku akan mencari Kim-taijin atau pangeran mahkota..."
"Wuut!" dan Pendekar Rambut Emas yang melejit dan terbang di atas kepala lawan tiba-tiba membuat panglima itu berteriak sembari mengibaskan goloknya. Luput dan tahu-tahu Pendekar Rambut Emas telah melewati barisan kepala yang lain, para pengawal yang mengepungnya itu.
Sekejap kemudian lenyap karena telah berada di luar kepungan. Gerakannya bagai iblis dan tentu saja para pengawal berseru kaget. Mereka tadi bengong dan terkesima oleh gerakan "super-sonik" ini.
Lauw-ciangkun mencak-mencak memaki anak buahnya yang bodoh. Tapi begitu mereka sadar dan Kim-mou-eng sendiri berkata mau mencari Kim-taijin atau Pangeran Mahkota yang ada di kompleks istana, mendadak mereka sudah membalik dibentak panglima she Lauw ini, "Kejar, tangkap dia...!" Berhamburanlah pengawal-pengawal itu.
Lauw ciangkun sendiri sudah berlari cepat, semua menuju istana. Genta kembali dipukul bertalu-talu hingga kota raja geger. Pendekar Rambut Emas dinyatakan membuat onar untuk kedua kali. Berita pencurian itu telah tersebar dari mulut ke mulut.
Dan ketika semua orang berhamburan mengejar pendekar ini, maka Kim-mou-eng sendiri sudah tiba di istana. Saat itu lampu besar kecil dipasang terang benderang. Genta tanda bahaya itu membuat orang panik. Pengawal berjaga-jaga dan mereka terkejut melihat sesosok bayangan kuning keemasan meluncur dari depan.
Pikiran seketika menuju pada Kim-mou-eng, hanya ialah satu-satunya pendekar berambut emas di seluruh dunia kang ouw. Memang pendekar berdarah campuran ini amat dikenal di mana-mana.
Tapi ketika mereka tersentak dan siap menyerang, tiba-tiba mereka sudah roboh berpelantingan disambar angin pukulan pendekar itu yang tidak mau dihalang jalan larinya. "Minggir, aku mencari Kim-taijin atau pangeran mahkota....!" Pengawal-pengawal itu berteriak kaget. Mereka bagai disapu angin puyuh saja, kesaktian pendekar itu memang tak ada yang melawan.
Dan ketika pengawal yang lain maju membentak tapi semuanya terjungkal oleh dorongan jarak jauh pendekar ini, akhirnya Kim-mou-eng tiba di kompleks istana sebelah barat. Inilah gedung di mana Pangeran Mahkota biasanya tinggal, ribut-ribut itu segera diketahui orang banyak dan pengawal pun memburu.
Mereka yang terpental kembali bangun karena tak ada yang terluka. Pendekar Rambut Emas memang tidak membunuh mereka. Dan ketika Kim-mou-eng harus berkelebatan di dalam gedung ini mencari-cari orang yang dicari, maka dia akhirnya bertemu dengan seorang laki-laki setengah baya yang amat berwibawa, sementara pengawal-pengawal di belakang mengejarnya.
"Kim-mou-eng, berhenti!" Kim-mou-eng berhenti. Sekarang dia berhadapan dengan laki-laki itu. Pembesar yang berwajah tenang namun amat berpengaruh, sikapnya kalem namun pandang matanya tajam. Inilah Kim-taijin.
Dan ketika Kim-mou-eng tertegun berseru memanggil pembesar itu, maka seorang laki-laki lain yang tampan namun penuh wibawa juga muncul menegurnya. Dan Kim-mou-eng mengusap keringatnya. "Taijin, pangeran, apa arti dari semuanya ini? Kenapa istana menuduhku mencuri pedang?" Pembesar itu tetap tegak penuh wibawa. Dia tersenyum sejenak, sinar matanya berseri. Kepercayaan kian menguatkan kesimpulan pembesar ini.
Pemuda di sampingnya yang bukan lain pangeran mahkota itu mengerutkan kening. Tapi ketika pengawal di belakang datang meluruk dan Lauw-ciangkun terbata-bata mengacungkan goloknya, maka Kim-taijin, pembesar itu, sudah mengangkat lengannya. "Lauw-ciangkun, tahan. Kim-mou-eng telah datang tepat waktunya. Kalian mundurlah, biar kami bicara empat mata!" "Tapi," panglima muda itu gugup. "Penjahat ini berbahaya, taijin. Sebaiknya paduka masuk dan biar kami menangkapnya!" "Dapatkah kau melakukan itu?" Panglima she Lauw tertegun. "Nah, kalau tahu itu segera menyingkirlah, ciangkun. Pendekar Rambut Emas dapat membunuh sejak tadi kalau dia mau. Yang ini bukan yang dulu, mundurlah!" Panglima she Lauw akhirnya mundur.
Sebenarnya dia ragu, was-was dan penasaran tapi juga gentar menghadapi musuh yang amat lihai ini. Dia memang bukan tandingan Kim-mou-eng. Dan ketika panglima itu menarik anak buahnya dan Kim-taijin menyatakan bertanggung jawab atas keselamatan pangeran mahkota, maka Kim-mou-eng sudah berdiri berhadapan dengan dua tokoh istana ini.
"Kim-taihiap, mari duduk. Sekarang kita bicara baik-baik." Pendekar Rambut Emas mengangguk. Dia kembali mengerutkan keningnya, keringat membasahi dahi dan kembali dia mengusapnya. Terasa ketegangan mencekam hatinya. Orang-orang istana benar-benar menuduhnya sebagai pencuri, mereka tidak main-main.
Dan ketika Kim-taijin juga duduk berhadapan dan mata pangeran mahkota masih menatapnya curiga, maka Kim-mou-eng bertanya apa yang sesungguhnya terjadi. "Sam-kong-kiam lenyap dari istana, taihiap. Dan tuduhan istana memang ditujukan kepadamu. Inilah awal mulanya." "Kapan terjadinya?" "Enam hari yang lalu. Seseorang berambut keemasan muncul merampas pedang itu. Banyak pengawal mati terbunuh!" "Hah" pendekar ini membelalakkan matanya. "Jadi aku menjadi terdakwa tunggal, taijin. Kalian tak tahu siapa sebenarnya penjahat itu?" "Semua orang menganggapnya dirimu, taihiap. Karena itu Sri Baginda pun lalu mengutus Bu-ciangkun dan teman-temannya menemuimu di perkemahan bangsa Tar-tar. Kalian rupanya tak jumpa, maka kau tidak tahu." "Benar, aku tak tahu, taijin. Tapi bagaimana sikapmu sendiri lain dengan orang-orang yang lain? Bagaimana kau tak mencurigaiku pula sebagai pencuri Sam-kong-kiam?" "Taihiap," pembesar ini tersenyum. "Aku cukup mengenal watakmu sebagai pendekar yang gagah sejati. Aku telah bertaruh kepada kaisar bahwa jika memang benar dirimu yang merampas Sam-kong-kiam maka aku rela menyerahkan kepalaku untuk dipenggal. Itulah sebabnya tenang-tenang saja aku menyambutmu.