Chapter 100
Sai-mo-ong tidak memberi tahu nama teman-temannya dan hanya mengatakan dua hari lagi mereka akan datang untuk merebut Sam-kong-kiam.
Sementara mereka semua berdebar dengan muka merah karena teringat surat beracun yang sekaligus merupakan surat peledak, tiba-tiba Cun Li dan Kao Sin muncul.
"Suhu, para penantang baru dari tiga partai datang menghadap. Mereka ingin bertemu!"
Hu Beng Kui mengerutkan kening, "Siapa mereka?"
"Para ketua dari Hwa-i-pang dan teman-temannya, Pek-tung Lo-kai dan Koang-san Tojin!"
Hu Beng Kui terbelalak. "Suruh mereka masuk. Aku akan menemui mereka."
Ketika dua pemuda itu mengangguk dan keluar, tiba-tiba mereka kembali lagi bersama dua murid Hu Beng Kui yang lain.
"Maaf, ada apa dengan ledakan tadi, Suhu? Tidak ada apa-apa?"
"Tak ada apa-apa. Suhengmu, Gwan Beng, hampir celaka menerima surat dari Sai-mo-ong."
"Ah, di mana dia?"
"Dua hari lagi dia akan datang. Sudahlah, kalian pergilah dan sambut ketua-ketua partai itu. Lihat lencana ini!"
Hu Beng Kui melempar lencana yang sudah dikembalikan padanya. Kao Sin dan suheng-suhenya menerima lencana itu. Ketika mereka tahu dan tertegun membaca surat aneh tersebut, Gwan Beng diminta membawa sute-sutenya keluar.
"Kalian perketat penjagaan. Dua hari lagi musuh-musuh yang curang akan tiba, waspadalah!"
Kao Sin dan lainnya mengangguk. Mereka tentu saja sudah mendengar nama Sai-mo-ong ini, juga nama-nama lain seperti Hek-bong Siang Lo-mo atau Siauw Bin-kwi, meskipun belum pernah bertemu muka. Nama-nama itu dikenal karena iblis-iblis tersebut termasuk di antara Jit-mo Kang-ouw (Tujuh Iblis Dunia), yang beberapa di antaranya telah tewas di tangan Kim-mou-eng dan suhengnya, mendiang Gurba.
Pertandingan pibu yang diadakan guru mereka membuat para murid Hu Beng Kui lebih luas cakrawala pengetahuannya dalam mengenal tokoh-tokoh dunia persilatan, baik hitam maupun putih. Ketika mereka heran karena seingat mereka Jit-mo Kang-ouw tinggal empat orang, sedangkan Sai-mo-ong akan datang bertujuh, di luar telah menanti penantang-penantang baru yang disebut-sebut sebagai ketua Hwa-i-pang dan teman-temannya.
Hwa-i-pang adalah perkumpulan wanita-wanita berbaju kembang yang dipimpin oleh ketuanya yang berjuluk Hwa-paicu, seorang wanita cantik berusia tiga puluh enam tahunan yang dulu pernah mengerubut Kim-mou-eng. Bersama teman-temannya, yakni ketua dari kaum pengemis dan tosu Koang-san, wanita ini memusuhi Kim-mou-eng dengan maksud merampas Sam-kong-kiam, namun tidak berhasil.
Kim-mou-eng terjatuh di jurang yang dalam, dan sejak itu terjadi berita simpang siur mengenai Pendekar Rambut Emas ini. Ia dinyatakan tewas, namun hidup lagi, dan akhirnya dikabarkan tewas setelah Hu Beng Kui membunuhnya. Ini adalah berita terakhir yang dipercaya banyak orang karena Hu Beng Kui telah memiliki Sam-kong-kiam. Pedang itu kini jatuh di tangan sang jago pedang, dan riwayat Kim-mou-eng benar-benar dianggap tamat. Banyak orang terkejut karena hal itu menunjukkan bahwa si jago pedang ini memiliki kepandaian yang luar biasa, hingga Kim-mou-eng yang sudah hebat pun masih kalah.
Karena pertandingan demi pertandingan dalam pibu yang diadakan Hu Beng Kui selalu dimenangkan oleh sang pendekar pedang, akhirnya banyak orang gentar. Hal ini berakibat berkurangnya para penantang dan nama Hu Beng Kui kian melambung, padahal semua orang tahu bahwa si jago pedang sendiri belum turun tangan. Yang turun baru murid-muridnya, tapi itu pun membuat semua penantang roboh tanpa ada yang menang.
Ketika penantang mulai menipis dan seminggu lagi pibu akan ditutup, mendadak pada hari itu Hwa-i-paicu dan teman-temannya datang. Teman-teman yang dimaksud adalah Koang-san Tojin dan Hek-tung Lo-kai. Dua orang ini adalah rekan sejawat Hwa-i-paicu. Mereka serombongan karena masing-masing ingin mendapatkan Sam-kong-kiam, meskipun mereka tahu akan terjadi perebutan lagi jika pedang itu sudah didapat.
Ketika mereka mendengar bahwa Sam-kong-kiam kini ada di tangan Hu-taihiap dan sang jago pedang itu telah membunuh Kim-mou-eng, tiga ketua ini datang untuk mencoba peruntungan. Sebenarnya, di antara tiga ketua itu, hanya Hwa-i-paicu yang memiliki alasan pribadi untuk menemui Hu-taihiap; bukan semata-mata untuk merebut Sam-kong-kiam, tapi juga ingin membalas dendam atas kematian Kim-mou-eng. Wanita cantik yang sebenarnya telah jatuh hati pada Kim-mou-eng itu merasa terkejut dan sakit hati mendengar pria pujaannya dibunuh. Selama seminggu ketua Hwa-i-pang ini menggigil dan nyaris jatuh sakit. Maka ketika hari itu ia datang ke rumah Hu Beng Kui, selain untuk mengadu kepandaian, ia juga berniat diam-diam membunuh pendekar itu. Tentu saja dua temannya tidak tahu; ini adalah rahasia pribadi ketua Hwa-i-pang.
Pagi itu, tiga ketua ini muncul dan meminta agar Hu-taihiap menyambut mereka. Seperempat jam kemudian, jago pedang itu muncul. Mata Hwa-i-paicu menyala, ia menatap laki-laki gagah itu dengan beringas. Hu-taihiap muncul diapit putra-putrinya. Hek-tung Lo-kai dan Koang-san Tojin juga sudah mengarahkan perhatian ke sana. Jarang Hu Beng Kui melayani tamu jika yang datang bukan ketua-ketua partai atau perkumpulan yang punya nama.
Ketika Hu Beng Kui mendekat dan mereka sudah berhadapan, tuan rumah menegur tamu-tamunya sementara para tamu juga menyatakan maksudnya. Terang-terangan saja mereka bicara tanpa perlu menyembunyikan maksud hati, toh mereka memang ingin merampas pedang. Namun, sebelum pertandingan dibicarakan lebih lanjut, mari kita tengok keadaan di istana.
Malam itu di gedung Bu-ciangkun, seorang siucai (mahasiswa) dengan kopiah tinggi meminta pengawal agar diperkenankan menghadap Bu-ciangkun. Ia memperkenalkan diri sebagai Kim-siucai dan mengaku memiliki keperluan penting. Pengawal menahan dan tidak mengizinkan, katanya Bu-ciangkun sedang tidak ada di rumah. Siucai itu tidak percaya karena ia baru saja melihat Bu-ciangkun mondar-mandir di dalam. Ribut-ribut pun terjadi.
Sementara pengawal bersitegang dengan siucai yang dianggap mengganggu itu, tiba-tiba siucai ini ngeloyor masuk dengan marah, "Kalau begitu, aku akan membuktikannya di dalam. Aku tak minta izin kalian lagi!"
"Hei!" Pengawal terkejut dan tentu saja memburu. "Kau berani lancang!"
"Tunggu!" Namun, si pelajar yang terus berjalan dan tidak memedulikan pengawal itu mendadak mempercepat langkahnya, melalui pos penjagaan, dan dalam sekejap lenyap di dalam. Pengawal berteriak dan mengejar, namun langkahnya kalah panjang. Ketika siucai itu menghilang di dalam, pengawal yang kaget serta marah itu memukul tanda bahaya hingga pengawal-pengawal lain bermunculan.
"Ada siucai nyelonong masuk! Awas, tangkap dia!"
Rumah Bu-ciangkun geger. Sungguh aneh seorang pelajar lemah dapat membuat keributan dengan pengawal yang memiliki kepandaian cukup. Saat siucai itu diburu sampai ke dalam, Bu-ciangkun muncul karena mendengar keributan dan membentak, "Ada apa? Kenapa malam-malam ribut?"
"Maaf, Ciangkun. Seorang tamu masuk, hamba sudah melarangnya!"
"Siapa? Kenapa?"
"Orang tak dikenal, siucai lemah!"
Bu-ciangkun melotot. Tiba-tiba siucai yang dimaksud muncul. Pengawal pertama tertegun karena siucai ini sudah masuk begitu jauh dan kini telah berhadapan dengan Bu-ciangkun. Ketika Bu-ciangkun berbalik dan siucai itu tertawa, ia langsung berseru, "Ciangkun, pengawal-pengawalmu sungguh keterlaluan. Bohong semuanya!"
Bu-ciangkun terbelalak, "Kau siapa?"
"Aku, he-he... aku Kim-siucai, Ciangkun. Selamat bertemu!"
Sambil melipat tubuh dalam-dalam di depan panglima itu, tiba-tiba kopiah tinggi yang dipakai siucai itu jatuh. Seakan tanpa sengaja, namun Bu-ciangkun dan semua pengawalnya terkesiap. Bersamaan dengan jatuhnya kopiah itu, tampaklah wajah siucai tersebut, seorang pemuda yang rambutnya tiba-tiba terurai panjang; rambut berwarna keemasan yang tidak tersimpan lagi di balik kopiah.
Begitu semua orang melihat siapa "siucai" ini, sekonyong-konyong seruan serentak meluncur dari mulut Bu-ciangkun dan para pengawalnya, "Pendekar Rambut Emas!"
Siucai itu tertawa, "Kalian mengenal aku?"
Bu-ciangkun mundur dengan muka berubah pucat dan gemetar, "Kau... kau Kim-mou-eng? Kau hantu atau rohnya?"
"Ha-ha, aku bukan hantu atau roh Kim-mou-eng, Ciangkun. Melainkan Kim-mou-eng yang sebenarnya. Coba kau raba lenganku, hangat. Pegang tubuhku, hangat. Aku bukan setan atau hantu, melainkan manusia hidup!"
"Tapi kau sudah tewas! Hu Beng Kui membunuhmu!"
"Itu kabar orang, Ciangkun. Sebaiknya jangan percaya. Lihat saja tubuhku, peganglah, rabalah..."
Siucai yang ternyata Kim-mou-eng itu tiba-tiba mendekatkan dirinya pada panglima tinggi besar tersebut dan menyuruhnya memegang serta meraba denyut nadinya. Bu-ciangkun mencengkeram. Panglima itu mengira bertemu hantu atau roh dan kini ingin membuktikan. Kulit tubuh itu diremas-remas, bahkan dipelintir—orang lain tentu sudah roboh diperlakukan seperti itu. Namun, ketika lawan hanya tertawa dan tidak ada rasa kesakitan di wajah tampannya, akhirnya Bu-ciangkun mundur sambil menelan ludah. Ia terheran-heran bagaimana orang yang dikabarkan mati bisa hidup kembali.
"Kim-mou-eng... kau benar adanya. Kau masih hidup!"