Chapter 101
Tetapi bagaimana dengan pedang di tangan Hu Beng Kui itu? Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa Sam-kong-kiam berada di tangan jago pedang itu! Itulah kebodohanmu tak mempercayai aku, Ciangkun.
Kalau aku tak dianggap pencuri Sam-kong-kiam dan dikejar-kejar seperti ini, tak akan terjadi semuanya itu.
Sudahlah, sekarang kau lihat aku masih hidup. Yang mati itu bukan aku, melainkan orang lain. Siapa? Pencuri Sam-kong-kiam. Kim-mou-eng palsu!
Lalu, sementara orang tertegun dan semakin bengong, tiba-tiba Pendekar Rambut Emas ini mengebutkan lengan, mengusir pengawal.
Kalian bengong mau melihat apalagi? Aku, Kim-mou-eng, masih hidup. Sekarang dapat kalian kabarkan pada orang sekota raja bahwa Kim-mou-eng bukan pencuri Sam-kong-kiam. Aku mau berbicara dengan panglima kalian, pergilah!
Bu-ciangkun mengangguk. Sekarang dia sadar dan percaya betul bahwa yang ini adalah Kim-mou-eng sungguhan. Dia terheran-heran tapi segera menyuruh pengawalnya pergi. Ia terkejut memandang Pendekar Rambut Emas itu dan segera merasa malu karena selama ini dia mengejar-ngejar pendekar tersebut, bahkan menemuinya hingga ke suku bangsa Tartar yang menyebabkan permusuhan hebat. Muka panglima ini segera menjadi merah.
Ketika Kim-mou-eng memandangnya dan tersenyum lebar, Bu-ciangkun mempersilakan duduk dan membawa tamunya ke dalam.
Taihiap, kau ada persoalan apa datang ingin menemuiku? Apa yang kaubawa?
Tidak seperti biasanya di mana Bu-ciangkun suka bicara keras dan lantang, kali ini panglima brewok itu bicara lirih. Ada dua hal yang membuat dia begitu. Pertama, karena tuduhan keliru dan kedua, karena dia ingin membetulkan sikap. Biasanya panglima ini tergolong pemberang dan suka bicara membentak-bentak. Namun, begitu Kim-mou-eng muncul dan kemunculannya ini sekaligus mematahkan semua tuduhan bahwa dia pencuri Sam-kong-kiam, panglima ini merasa salah dan merendah. Lagi pula, dia tahu kepandaian Kim-mou-eng; tak mungkin dia menang kalau orang hendak mencelakainya. Karena menyadari semuanya itu dan ingin mengubah sikap, panglima ini segera bersikap hormat dan asor.
Kaukira apa? Kim-mou-eng tersenyum, balas bertanya. Adakah sesuatu yang tidak penting yang harus kubawa?
Tidak, kau pasti memiliki kepentingan yang serius, Taihiap. Aku sekarang tak ragu akan semua tindakanmu, coba katakan apa keperluanmu.
Aku datang karena Sam-kong-kiam.
Sudah kuduga, pasti itu! Bu-ciangkun memotong girang. Kau sudah tahu akan pibu yang dibuka di Ce-bu, Taihiap?
Ya, dan aku akan ke sana.
Bagus, kalau begitu kau dapat mewakili istana, Taihiap. Rebut dan rampas kembali pedang keramat itu untuk Sri Baginda!
Setelah kalian mengejar-ngejarku sedemikian rupa? Kim-mou-eng tertawa. Aha, bagus sekali, Ciangkun. Gagasanmu ini sungguh cemerlang dan enak disodorkan!
Maaf! Bu-ciangkun terkejut, sadar akan kesalahannya. Aku tak sengaja, Taihiap. Aku mengkal dan geram benar pada Hu-taihiap yang sombong itu. Dia berkepandaian tinggi, aku telah pecundang dan terus terang tak ada muka untuk menghadapinya!
Aku tahu, Kim-mou-eng kagum akan kejujuran orang. Aku telah mendengar kekalahanmu, Ciangkun, dan juga kekalahan rekanmu, Cu-hengte bersaudara.
Ah, kami memang orang-orang tolol, Taihiap. Andai saja di istana ini ada orang macam dirimu! panglima itu mengeluh, pandangannya serasa kosong.
Sudahlah, aku datang bukan untuk menciptakan kemurungan, Ciangkun. Aku datang justru untuk membersihkan namaku. Sekarang semua orang tahu bahwa Kim-mou-eng telah mau terbunuh, pedang curiannya telah berpindah tangan ke Hu Beng Kui. Bagus, ini tak apa. Aku akan muncul dan tak lama lagi orang akan tahu bahwa Kim-mou-eng bukan seorang hina yang suka mencuri milik orang lain!
Ya, ya, maafkan kami, Taihiap. Ini semuanya bersumber dari istana. Kalau saja istana tak mengatakan kau pencurinya, tentu namamu tak jadi jelek!
Aku tak menyalahkan istana, barangkali ini memang sudah suratan hidupku. Sudahlah, tak perlu menyalahkan diri, Ciangkun. Aku datang untuk membereskan semuanya ini dan ingin minta bantuanmu.
Taihiap ingin minta bantuan apa? Bu-ciangkun girang, merasa mendapat kesempatan. Apakah ada sesuatu yang dapat kulakukan?
Ya, kau pertemukan diriku dengan Sri Baginda, juga Kim-taijin!
Ah, gampang, Taihiap. Sekarang juga dapat kulakukan!
Eh, nanti dulu. Tunggu! Kim-mou-eng tertawa. Aku belum habis bicara, Ciangkun. Dengarkan dulu apa yang hendak kukatakan ini!
Lalu ketika orang duduk kembali dan bersinar-sinar memandangnya, Kim-mou-eng bertanya, Adakah yang dapat diketahui istana tentang anak Bi Nio itu? Kalian sudah mendapat petunjuk?
Muka yang bersinar-sinar itu mendadak gelap. Hm, kami lagi-lagi mengakui kegagalan kami, Taihiap. Apa yang kauminta belum berhasil kami laksanakan.
Sri Baginda belum mendapatkan petunjuk?
Belum.
Tak ada yang tahu bagaimana sebenarnya masalah anak itu?
Bu-ciangkun menghela napas. Taihiap, barangkali sesuatu harus kukatakan di sini. Bi Nio, selir yang melahirkan itu telah tiada lagi. Dia meninggal beberapa minggu yang lalu, karena sakit.
Meninggal?
Ya, wanita ini setengah gila pula, Taihiap. Bi Nio terpukul benar melihat anaknya tertukar. Dia jatuh sakit dan akhirnya meninggal.
Kim-mou-eng tertegun. Berita meninggalnya selir cantik ini mengejutkan juga, Bi Nio adalah selir mendiang suhengnya. Tapi karena dia tak memiliki hubungan mendalam dan kematian itu diterimanya dengan biasa, akhirnya Kim-mou-eng menghela napas dan berkata, Kalau begitu kebetulan, ibu anak itu tak usah menderita lagi di dunia. Aku telah mendapatkan jejak anaknya!
Bu-ciangkun terkejut. Kau tahu, Taihiap?
Ya, aku bertemu dengan penculiknya, seorang tokoh luar biasa. Tapi aku tak dapat membawa ke sini karena kepandaianku masih kalah jauh dengannya!
Bu-ciangkun terbelalak. Siapa itu, Taihiap? dia hampir tak percaya.
Dua nenek tua, Sepasang Dewi Naga. Nenek ini menyembunyikan diri dan hidup sejak dua ratus tahun yang lalu!
Ah! Bu-ciangkun bengong. Zaman dinasti Han?
Ya, begitu.
Ketika Kim-mou-eng menceritakan pertemuannya dengan dua nenek amat sakti itu, Bu-ciangkun semakin celangap dan terbengong-bengong. Ia mendengar kisah bahwa Pendekar Rambut Emas itu kalah jauh dan hampir mati di tangan seorang dari dua nenek ini. Kepandaian mereka begitu tinggi hingga layaknya hanya dewi saja yang mampu mengatasi; tak ada manusia di dunia ini yang mampu menandingi kesaktiannya, kecuali Bu-beng Sian-su, guru pendekar itu. Ketika Kim-mou-eng menyatakan bahwa anak yang dibawa nenek itu diakui sebagai anak yang diambil dari Bi Nio, Kim-mou-eng mengakhiri ceritanya, Karena itu, aku pun sekarang percaya bahwa Sri Baginda tak bohong, bahwa Bi Nio betul mengandung dari keturunan mendiang suhengku. Dan karena sekarang persoalan-persoalan di antara kita sudah sama-sama terbuka jelas, maka tak ada lagi ganjalan di antara kita. Semua curiga-mencurigai atau permusuhan ini harus berakhir.
Betul, Bu-ciangkun mengangguk, menelan ludah, masih terkesan oleh kehebatan sepasang nenek sakti itu. Tapi.... tapi apakah nenek itu tak melupakan ancaman baru bagi kita, Taihiap?
Maksudmu?
Aku khawatir setelah mendengar ceritamu. Aku takut nenek ini akan menurunkan bencana lewat anak Bi Nio itu!
Hm, bisa jadi, Ciangkun. Tapi urusan itu biarlah dihadapi belakangan. Yang penting sekarang ini adalah urusan Sam-kong-kiam. Aku ingin membersihkan namaku dibantu istana.
Bu-ciangkun sadar. Benar, kau benar, Taihiap. Lalu apa maumu sekarang? panglima itu menekan kekhawatirannya.
Aku ingin menghadap kaisar, juga Kim-taijin.
Baik, aku sanggup mengantarkan.
Bisakah ditemui sekarang?
Kukira bisa, Baginda baru saja mendengarkan musik di halaman belakang. Tapi Taihiap tak ada pesanan lagi?
Kukira cukup, aku hanya ingin tahu hasil istana dengan anak Bi Nio itu.
Baru ucapan ini dihentikan mendadak, dua panglima muncul mengganggu dua orang itu, berkelebat masuk dengan terburu-buru.
Bu-ciangkun, benarkah Kim-mou-eng ada di sini?
Kim-mou-eng dan tuan rumah menoleh. Bu-ciangkun tak mendengar laporan pengawal, dua panglima Cu berkelebat dan mereka itu sudah berseru dari jauh. Agaknya laporan pengawal telah didengar dua panglima kakak beradik ini. Cu Kim dan Cu Hak muncul. Begitu mereka berada di ruangan itu, sementara suara mereka belum habis gemanya, tiba-tiba dua panglima tinggi kurus itu tertegun melihat rekan mereka, Bu-ciangkun, duduk bercakap-cakap dengan orang yang mereka kenal sebagai Kim-mou-eng!
Ah, salahkah ini? dua panglima itu terkejut, langsung berhenti, dan mereka terbelalak lebar melihat Kim-mou-eng bangkit berdiri.
Kim-mou-eng tahu kekagetan orang, juga keheranan yang besar. Tapi belum dia menjawab seruan panglima itu, mendadak Bu-ciangkun sudah tertawa gembira dan bangkit berdiri.
Aha, kebetulan rekan Cu. Ini Kim-taijin. Pendekar Rambut Emas. Mari duduk!
Dua panglima itu bengong. Kami tidak salah lihat?
Tidak, Cu-ciangkun. Ayo duduk dan mendekatlah. Ada cerita untuk kalian!
Ketika Bu-ciangkun tertawa bergelak melihat dua rekannya seperti melihat hantu, akhirnya dua panglima itu berhenti, semeter saja jarak mereka. Ketika mereka masih bengong dan seolah tidak percaya, Kim-mou-eng membungkuk memberi hormat, diam-diam mengerahkan tenaganya, mendorong.
Cu-ciangkun, selamat bertemu. Kebetulan kalian kemari!
Dua panglima itu terkejut. Dari depan meluncur kesiur angin pukulan yang kuat, segera mereka tahu bahwa lawan menyerang. Serentak mereka mengibas dan bertahan. Tapi ketika angin pukulan itu tetap mendorong mereka dan dua panglima ini terangkat kakinya, mendadak tanpa dapat dicegah lagi, dua panglima itu terdorong dan jatuh bergulingan!
Aah, benar-benar Kim-mou-eng....!
Kim-mou-eng tertawa. Mana, sekarang kalian percaya bahwa kalian sedang berhadapan dengan setan atau rohnya Kim-mou-eng, Ji-wi Ciangkun?