Chapter 102
"Kalian benar-benar berhadapan dengan aku yang masih hidup!"
"Tapi berita di luar itu...." Dua panglima itu melompat bangun, terbelalak. "Bukankah kau tewas di tangan Hu Beng Kui?"
"Inilah kesalahan berita mulut ke mulut, Ciangkun. Kalau saja kalian percaya bahwa sejak semula aku tak mencuri Sam-kong-kiam dan bahwa benar-benar aku tak tahu-menahu urusan pedang itu, tentu kalian tak akan bingung. Duduklah. Bu-ciangkun dapat menceritakannya kepada kalian!"
Kim-mou-eng menjura, lalu duduk ditemani Bu-ciangkun yang tersenyum lebar. Dua panglima itu duduk dengan kening berkerut, bertanya dan dijawab sesuai apa yang diketahui Bu-ciangkun. Panglima tinggi besar ini memberi keterangan seperti yang diminta, kadang-kadang disusul penjelasan Kim-mou-eng jika ada yang kurang jelas. Ketika dua panglima itu terhenyak mendengar bahwa Kim-mou-eng yang terbunuh sebelumnya adalah orang palsu, mereka segera bangkit berdiri dan melipat punggung.
"Kim-taihiap, maafkan kami berdua. Kiranya kami benar-benar telah menuduh secara buta dan tidak melihat orang!"
"Ah, tak perlu begitu, Ciangkun. Kalian tak bersalah karena semua itu memang cobaan bagiku. Sudahlah, kalian duduk kembali dan tak perlu menyesal."
"Dan betul kalau begitu kata-kata Kim-taijin. Dia mempertahankan dirimu dan berani membantah Sri Baginda!"
"Aku akan menemuinya," Kim-mou-eng tersenyum. "Apa saja yang dia bilang?"
"Dia bilang kau tak bersalah, Taihiap. Kami berdua pernah ngotot berdebat dengannya. Kim-taijin yakin bahwa kau orang baik-baik dan tak mungkin seorang pendekar mau melakukan perbuatan hina!"
Kim-mou-eng tertawa. Bu-ciangkun menukas, "Dan Kim-taihiap datang mau membantu kita, rekan Cu. Dia datang untuk menemui Sri Baginda dan akan merampas Sam-kong-kiam dari tangan Hu-taihiap!"
"Begitukah?" Cu-ciangkun girang. "Bagus sekali, Taihiap. Kalau begitu kami patut berterima kasih!"
"Ah, nanti dulu. Bu-ciangkun terlalu cepat," Kim-mou-eng tertawa kecut. "Aku belum yakin kemampuanku menghadapi jago pedang itu, Ji-wi Ciangkun. Harap jangan terlalu menaruh harapan agar tidak kecewa belakangan."
"Ah, kami percaya!" Bu-ciangkun gagah menyambung. "Dan Kim-mou-eng menyelesaikan pula masalah Bi Nio, Cu-ciangkun. Anak itu benar ditukar dan diculik sepasang nenek sakti!"
Setelah panglima itu menceritakan persoalan tersebut, Bu-ciangkun mengakhiri dengan ketukan di atas meja, "Sekarang Sri Baginda pun tak perlu mencurigai Kim-taihiap. Kim-taihiap telah melihat sendiri anak itu tapi sayang tak dapat membawanya kemari. Nenek itu terlalu sakti."
Dua panglima itu mendelong. "Sedemikian hebatkah mereka itu, Taihiap?"
Kim-mou-eng mengangguk dengan senyum kecut. "Ya, aku tak mampu mengalahkannya. Tapi urusan itu tak perlu dipikir sekarang. Sekarang yang perlu diselesaikan adalah masalah Sam-kong-kiam. Aku akan membersihkan namaku, dan aku ingin meminta bantuan istana agar semuanya jelas."
Ketika pendekar itu menyatakan ingin segera menghadap kaisar dan Kim-taijin, Cu-ciangkun bangkit berdiri dengan kagum. Kim-mou-eng kembali menyelesaikan masalah yang seharusnya menjadi tanggung jawab mereka. Mereka ingin tahu apa maksud pendekar itu menemui kaisar. Kim-mou-eng menjawab bahwa hal itu nanti dapat mereka dengar langsung di hadapan kaisar. Dua panglima itu mengangguk paham, lalu memandang Bu-ciangkun. Tanpa banyak cakap, ia melompat dan mengajak pendekar itu menuju istana.
Malam itu juga, Pendekar Rambut Emas "dikawal" tiga panglima tersebut menghadap kaisar. Para pengawal dan perwira gempar melihat kemunculan Kim-mou-eng yang dikabarkan telah tewas. Berita itu menyebar cepat di seluruh kota raja. Ketika mereka tiba di hadapan kaisar yang didampingi Menteri Kim, kaisar tampak ternganga.
"Ah, ini siapa? Kim-mou-eng?"
"Ya, maafkan kami, Sri Baginda. Malam-malam mengganggu Paduka karena Kim-taihiap ingin bertemu."
"Tapi orang bilang dia sudah tewas! Bukankah Hu Beng Kui membunuhnya? Dan pedang Sam-kong-kiam itu...?"
"Maaf, hamba dapat menceritakannya, Sri Baginda. Ternyata Kim-taihiap memang tidak bersalah. Kim-taijin betul, kami yang ceroboh," ujar Bu-ciangkun yang kemudian menceritakan semuanya dari awal hingga akhir. Ia menutup ceritanya, "Dan Kim-taihiap menyelesaikan pula masalah Bi Nio, Sri Baginda. Putera selir itu benar ditukar, dan kebetulan Kim-taihiap mengetahuinya. Sekarang, tidak ada lagi rasa curiga di antara kita!"
Kaisar kagum. "Begitukah, Kim-mou-eng?"
"Ya, benar, Sri Baginda. Tapi sayang sekali hamba tak dapat membawa penculiknya karena mereka lihai sekali."
"Siapa mereka?"
"Sepasang Dewi Naga, dua orang nenek yang sudah berusia dua ratus tahun!"
"Dua ratus tahun?" Kaisar mendecak tak percaya.
"Ya, begitu menurut yang hamba ketahui, Sri Baginda. Sekarang persoalan di antara kita sudah beres."
"Ah, maafkan aku. Aku ingin menyatakan penyesalanku secara pribadi, harap kau tidak kecewa," kaisar terkejut. "Dan sekarang, apa maumu menghadap?"
"Hamba ingin ke Ce-bu, Sri Baginda, menjadi penantang Hu Beng Kui dan merampas Sam-kong-kiam!"
"Untukmu pribadi?"
Kim-mou-eng tersenyum. "Sri Baginda, harap tidak menyangka yang bukan-bukan. Hamba bukan orang tamak yang menginginkan barang orang lain. Hamba tidak bermaksud menguasai pedang pusaka itu, melainkan semata-mata mempergunakan arena pibu untuk membersihkan nama hamba agar tuntas!"
"Maksudmu?"
"Hamba ingin restu Paduka di kamar abu. Hamba mendapat petunjuk bahwa merampas kembali pedang itu harus dimintakan restunya dari nenek moyang Paduka, melalui Paduka. Tanpa itu, sukar bagi hamba mendapatkan kembali pedang tersebut."
"Hmm...!" Kaisar terbelalak. "Begitukah, Kim-mou-eng? Dari mana kau tahu?"
"Guru hamba yang memberi tahu."
"Ah, si manusia dewa, Bu-beng Sian-su itu?"
"Ya, benar, Sri Baginda. Dan hamba kira Kim-taijin di sini tahu!"
Kaisar menoleh pada pembantunya. "Benarkah begitu, Taijin?"
Kim-taijin tertawa. Ia mendekati Kim-mou-eng dan melipat punggung penuh hormat. "Kim-taihiap, agaknya gurumulah yang menyuruhmu ke sini. Sebelumya, aku mengucapkan selamat bahwa kau ternyata sehat walafiat. Aku sungguh girang sekali. Aku percaya bukan kau orangnya yang mencuri Sam-kong-kiam. Baiklah, apa kata Sian-su tentang Pedang Tiga Dimensi ini?"
"Aku diminta menghadap Sri Baginda untuk mendapat restunya, dan katanya kau tahu tentang cara meminta restu dari abu leluhur!"
"Benar. Dan apalagi katanya?"
"Aku harus ke Ce-bu, Taijin, mengambil pedang itu dan mengembalikannya ke istana!"
"Bagus, terima kasih, Taihiap. Dan kalau semuanya ini berhasil, sungguh kami pihak istana mendapat budi yang luar biasa besar!" Kim-taijin kemudian membungkuk di depan kaisar. "Sri Baginda, apa yang dikatakan Taihiap memang betul. Merampas Sam-kong-kiam harus meminta restu dari leluhur Paduka, kita harus ke ruang abu!"
Kaisar tertegun. Kim-taijin menghadapi Bu-ciangkun dan Cu-ciangkun, "Maaf, kalian bertiga tak dapat ikut. Hanya aku, Sri Baginda, serta Kim-taihiap yang boleh masuk. Kalian harap menunggu di sini."
Bu-ciangkun dan dua rekannya mengangguk. Mereka tidak berani membantah karena pedang keramat itu memiliki aspek yang sakral. Sejam kemudian, ketiganya kembali dengan kaisar yang tampak berseri-seri.
"Bu-ciangkun, kau boleh ikut ke Ce-bu!"
"Terima kasih," Bu-ciangkun girang. "Hamba siap, Sri Baginda. Dan kalau boleh, dua rekan Cu juga diperkenankan bersama!"
"Ha-ha, tanyakan Kim-mou-eng saja, Ciangkun. Boleh atau tidak!"
Kim-mou-eng tersenyum. "Ciangkun, di dalam tadi kami telah membicarakan kalian semua. Kalau Cu-ciangkun mau turut, boleh saja. Tapi terus terang kukatakan di sini bahwa aku berangkat duluan. Hu-taihiap kabarnya beberapa hari lagi siap menutup arena pertandingan itu!"
"Ah, kami mengerti, Taihiap. Dan kami juga mengaku bahwa ilmu lari cepat kami masih kalah olehmu. Silakan, kau boleh duluan dan kami menyusul. Tapi, kalau boleh, kami minta sudilah kau mengatur agar pertandinganmu dengan Hu-taihiap dilaksanakan pada hari terakhir saja. Kami ingin menonton!"
"Benar," Bu-ciangkun menyambung. "Dan kami akan mengumumkan pembersihan namamu di arena pibu itu, Taihiap. Kami pihak istana akan secara resmi menarik semua tuduhan terhadapmu hingga semua orang tahu!"
"Terima kasih," Kim-mou-eng tersenyum. "Kalau begitu rupanya cukup pertemuan kita, Ciangkun. Dan sekali lagi, terima kasih atas restu Sri Baginda. Semoga hamba berhasil di Ce-bu!"
Setelah memberi hormat di depan kaisar, tiba-tiba Kim-mou-eng berkelebat lenyap, menghilang dan tidak kelihatan lagi. Kaisar dan para pembantunya kagum; memang kehadiran dan lenyapnya Pendekar Rambut Emas itu sungguh seperti siluman saja.