Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 103

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 103

Ketika kaisar berbicara sejenak dengan ketiga panglima itu dan memberi petunjuk agar membersihkan nama Kim-mou-eng secara resmi di arena pibu, malam itu juga Bu Ciangkun dan Cu Ciangkun berangkat. Mereka memacu kuda ke selatan karena merasa terlalu lelah jika harus berlari cepat seperti Kim-mou-eng; mereka bukanlah Kim-mou-eng.

Begitu ketiga orang tersebut menyusul dan menuju Ce-bu, istana pun tenang kembali, meskipun di sana-sini para pengawal masih membicarakan Kim-mou-eng yang ternyata masih hidup.

Kembali di Ce-bu.

Sebagaimana dituturkan sebelumnya, saat itu Hu Beng Kui menerima tantangan dari tiga ketua Hwa-i-pang dan lainnya, di samping akan munculnya Sai-mo-ong dan kawan-kawan pada dua hari mendatang. Karena saat itu Hwa-i-paicu, Pek-tung Lo-kai, serta Koang-san Tojin sudah bersiap menghadapi jago pedang itu, Hwa-i-paicu berseru nyaring agar ia maju duluan.

"Hu Taihiap, aku ingin mencoba kepandaianmu. Majulah dan mari kita bermain!" Wanita cantik itu sudah mencabut pedang; dengan suara mendesing, ia telah berada di atas panggung.

Mata yang berapi-api dan beringas saat memandang sang jago pedang membuat Hu Beng Kui heran. Ia menangkap semacam dendam di hati ketua Hwa-i-pang tersebut, padahal seingatnya ia tidak pernah bermusuhan dengan perkumpulan wanita berbaju kembang itu. Mereka bahkan baru kali itu bertemu. Namun, Hu Beng Kui yang tersenyum mendengar tantangan itu berkata kalem, "Pangcu, aku tidak dapat maju sebelum kau berhadapan dengan anak-anak dan para muridku dulu. Ini peraturan yang sudah kubuat. Kalau kau dapat merobohkan mereka, barulah kau berhak menantangku dan aku tentu akan menghadapimu."

"Baik, majukan mereka. Biar kuhadapi dan kutabas dengan pedangku!"

Hu Beng Kui mengerutkan kening. Mendengar kata-kata kaku dan ketus itu, ia tidak senang melihat sikap permusuhan yang terpancar di wajah ketua Hwa-i-pang tersebut. Namun, sebelum ia sempat menjawab, murid termudanya, Kao Sin, sudah maju dan membungkuk di depannya.

"Suhu, teecu siap menjalankan tugas. Mohon Suhu menunjuk teecu seperti biasa untuk menutup kesombongan ketua Hwa-i-pang ini."

Rupanya Kao Sin pun marah melihat sikap dan tutur kata wanita cantik itu. Sebenarnya, bukan hanya Kao Sin yang tidak suka, saudara-saudaranya yang lain, termasuk Swat Lian dan Beng An, juga tidak senang melihat nada bicara wanita berbaju kembang ini. Namun, karena lawan adalah tamu, mereka tidak dapat bertindak sembarangan dan menunggu keputusan sang ayah yang merupakan pucuk pimpinan. Swat Lian pun sudah gatal ingin maju dan merobohkan wanita itu.

Hu Beng Kui yang melihat majunya murid termuda ini tiba-tiba tertegun, karena sebenarnya bukan Kao Sin yang ia inginkan. "Kau sebaiknya beristirahat dulu, Kao Sin. Kau telah sebulan penuh melayani penantang dan sudah lelah, kupikir bukan kau yang harus maju."

Jawaban ini tidak membuat Kao Sin mundur. "Tidak, teecu masih kuat, Suhu. Teecu sanggup bertempur sehari dua hari lagi, teecu belum capai!"

"Hmm, bagaimana ini?" Hu Beng Kui memandang putra-putrinya. "Apakah kalian dapat mempercayainya?"

Swat Lian menggeleng. "Sebaiknya Gi Lun Suheng saja. Kasihan jika Kao Sin Suheng bertanding terus-menerus. Dia mulai tampak kelelahan."

"Tidak!" Kao Sin bangkit berdiri. "Aku masih kuat, Sumoi. Kalaupun roboh, masih ada suheng-suheng yang lain dan kau sendiri. Mengapa takut? Kau dan Suhu tidak perlu khawatir. Lagi pula, aku sudah maju ke sini, pantang bagi murid Giam-lo-kiam Hu Beng Kui untuk mundur setelah ditantang!"

Hu Beng Kui kalah suara dan terdesak. "Baiklah," katanya dengan khawatir namun kagum. "Kau boleh maju, Kao Sin. Tapi hati-hatilah, dan cepat menyerahlah jika kau merasa tidak kuat!"

Kao Sin girang. "Mengapa menyerah? Teecu siap mati, Suhu. Membela namamu sampai titik darah terakhir adalah kehormatan besar bagi teecu. Terima kasih!"

Kao Sin kemudian memutar tubuh menghadapi ketua Hwa-i-pang itu dan berkata dengan gagah, "Paicu, silakan mulai. Aku mewakili Suhu menjaga nama besarnya. Majulah dan seranglah aku!"

Mata Hwa-i-paicu bersinar-sinar. Sebenarnya ia marah kepada Hu Taihiap bukan karena hal lain, melainkan masalah Kim-mou-eng. Tentu saja ia tidak tahu bahwa yang tewas adalah Bu-hiong yang menyamar menjadi Kim-mou-eng. Ia merasa tersinggung karena setiap penantang harus berhadapan dulu dengan murid-murid Hu Beng Kui sebelum menghadapi sang jago pedang sendiri. Hu Beng Kui dianggapnya terlalu sombong dan memandang harga diri setinggi langit.

Maka, ketika Kao Sin maju, wanita cantik itu mendengus sambil memainkan pedangnya. "Kau tidak bersenjata?"

"Aku akan mencabutnya kalau diperlukan!"

"Bagus, kalau begitu jangan salahkan aku. Aku mulai, awas...!"

Hwa-i-paicu yang tidak banyak bicara segera membentak dan berkelebat menyerang. Ia melancarkan tujuh tikaman berturut-turut dengan sangat hebat. Kao Sin yang tidak menduga kelihaian lawan sempat terkecoh karena pedang yang tadinya membabat tiba-tiba berubah arah menjadi tusukan ke arah ulu hati.

"Bret!"

Kao Sin terkejut dan segera melempar tubuhnya dengan bergulingan. Namun, pedang Hwa-i-paicu terus mengejarnya dengan tusukan dan bacokan bertubi-tubi yang ganas. Ketua Hwa-i-pang itu memang ingin menghabisi Kao Sin dengan cepat agar bisa segera menghadapi Hu Beng Kui.

Gerakan pedangnya sangat cepat. Kao Sin tampak payah dan pucat; lawan terus memburu ke mana pun ia berguling. Ketika pedang kembali membabat dan gerakannya berubah menjadi tusukan, kulit lengan Kao Sin tergores.

"Creet!"

Kini Kao Sin terluka. Nyata bahwa pemuda ini tidak segesit hari-hari pertama. Mata Hu Beng Kui awas; murid termudanya itu sebenarnya sudah lelah dan perlu istirahat. Kao Sin yang membandel kini harus menerima akibatnya. Ketika serangan semakin gencar, Kao Sin tidak mampu melindungi diri dengan sin-kang yang mulai melemah. Dua tiga tusukan lagi mengenai pemuda itu, membuatnya gemetar dan gugup.

Kao Sin sempat berpikir untuk mencabut pedang, namun serangan lawan tidak memberinya kesempatan sedikit pun.

"Suheng, cabut pedangmu itu. Cabut!" seru Swat Lian dengan khawatir.

Namun, seruan itu sia-sia. Ayahnya berkata sudah terlambat, dan memang benar; jangankan mencabut pedang, untuk mengelak dari serangan Hwa-i-paicu yang demikian gencar saja sudah sangat sulit. Ketika jurus demi jurus dilancarkan, pinggang Kao Sin kembali terluka oleh sabetan pedang.

Swat Lian terus berteriak agar suhengnya menyerah dan melompat turun dari panggung. Namun, Kao Sin yang nekat tetap bertahan hingga satu bacokan pedang mengenai pangkal lengannya. Pemuda itu mulai bersimbah darah. Hwa-i-paicu sempat menyuruh pemuda itu menyatakan kalah, namun Kao Sin hanya melotot diam.

Ketika satu serangan menukik menuju leher dan Kao Sin tidak dapat menghindar, pemuda itu melakukan gerakan nekat dengan mendekatkan tubuhnya ke arah lawan sambil menggelinding dari bawah. Saat ia berhasil menerkam kaki lawannya, Hwa-i-paicu menjerit dan membalas dengan tendangan yang disusul sabetan pedang miring ke arah pundak.

"Plak-dess!"

Pertandingan berakhir. Kao Sin terlempar keluar panggung dan jatuh pingsan. Dengan sisa tenaga yang ada, ia sempat membuat Hwa-i-paicu pucat dan terhuyung, namun karena kondisi yang sudah terlalu lelah, ia tetap kalah.

Siu Loan segera berlari menubruk kekasihnya, sementara Hu Beng Kui memandang ketua baju kembang itu dengan tatapan tajam. "Pangcu, kau menang!"

Hwa-i-paicu mendengus dingin. Wanita cantik itu menatap Hu Beng Kui dengan beringas saat sang jago pedang mendekatinya. Ketika Hu Beng Kui berhenti di depannya dan menjura menyatakan kemenangan, tiba-tiba wanita itu memalangkan pedang di depan dada.

"Kau mau menghadapi aku?"

Hu Beng Kui tersenyum tenang. "Belum, Paicu. Karena kau masih harus menghadapi murid-murid dan dua anakku yang lain. Tapi sebelum dilanjutkan, bolehkah aku bertanya sesuatu?"

"Apa yang ingin kautanyakan?"

"Tentang sikap dan sepak terjangmu ini."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment